Tolak Semua Kekufuran, Baik Ideologi maupun Sistemnya!

Oleh: Endiyah Puji Tristanti, S.Si. (Pemerhati Politik Islam)

MuslimahNews.com, OPINI – Jateng-DIY, (10/7/2020) menggelar apel menolak Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP). Apel dipusatkan di depan gedung DPRD. Sebelumnya Organisasi Perempuan Muslim Sumatera Utara (30/6/2020) melakukan deklarasi menuntut pencabutan dan pembatalan RUU HIP. Pun Apel Siaga Ganyang Komunis Jabodetabek di lapangan Ahmad Yani, Jalan Praja, Kebayoran Lama, Jakarta, Minggu (5/7/2020)

Aksi-aksi lain sejenis yang kembali marak menegaskan umat Islam di Indonesia sampai hari ini belum bisa tenang hidupnya, terus dihantui bahaya laten komunisme. Bukan tanpa alasan tentunya. Pasalnya RUU HIP yang telah di-drop pembahasannya oleh pemerintah dan DPR dianggap ingin mencabut Tap MPRS Nomor XXV Tahun 1966 tentang larangan ajaran Komunisme, Marxisme, dan Leninisme serta ingin mengganti Pancasila dengan trisila dan ekasila. Dalam historis masyarakat Indonesia, komunisme adalah musuh hakiki Islam dan umat Islam.

Sikap akomodatif dewan untuk menunda pembahasan tidak membatalkan RUU HIP adalah sinyal kuat adanya kepentingan politik di balik penundaannya.

Pernyataan sejumlah anggota dewan untuk mencabut pembahasan RUU HIP dengan alasan agar fokus pada penanganan Covid-19 terlebih dahulu juga menunjukkan ketidaktegasan penolakan anggota dewan terhadap komunisme itu sendiri.

Seharusnya penolakan terhadap RUU HIP cukup hanya dengan mengemukakan satu alasan: karena RUU HIP membuka peluang bagi legitimasi penerapan ideologi kufur komunisme dan segala -isme turunannya. Sebagaimana kaidah “Setiap perkara yang mengantarkan pada keharaman maka haram pula hukumnya”.

Untuk apa ada partai Islam di parlemen bila anggotanya melempem tidak berani bersuara mengusung Islam secara lugas? Anggota dewan dari partai Islam tentu tidak mau dituduh menjadikan partai politik sebagai kendaraan kekuasaan semata.

Baca juga:  Mengaku Muslim, Tapi Alergi Syariah dan Khilafah (?)

Umat Islam diwajibkan menerapkan Islam secara kaffah dan diharamkan menerapkan Islam sebagian saja serta mencampuradukkan Islam dengan selainnya, baik mencampuradukkan Islam dengan komunisme maupun Islam dengan kapitalisme.

Islam tidak menerima hallul wasthi, kaidah kompromistis, jalan tengah. Yang hak itu jelas, yang batil itu jelas.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَلۡبِسُواْ ٱلۡحَقَّ بِٱلۡبَـٰطِلِ وَتَكۡتُمُواْ ٱلۡحَقَّ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

“Janganlah kalian campur-adukkan antara kebenaran dan kebatilan, dan kalian sembunyikan yang benar padahal kamu mengetahuinya.” (TQS Al-Baqarah [2]: 42)

Penolakan umat terhadap RUU HIP tidak bisa semata bertujuan untuk membela Pancasila, apalagi untuk mengukuhkan Pancasila sebagai ideologi negara. Pancasila realitasnya telah digunakan rezim berkuasa sebagai alat pukul lawan politik rezim.

Pada masa Orde Lama, Pancasila digunakan sebagai alat politik bagi rezim memaksakan Nasakom. Pada masa Orde Baru, Pancasila digunakan rezim Soeharto yang berhaluan kapitalisme-liberal untuk menggebuk lawan politik yang berhaluan Komunisme.

Dan pada setiap masanya Pancasila selalu digunakan untuk menjegal upaya penerapan syariat Islam, termasuk rezim “Cinaisme” hari ini.

Sadar politik harus dimiliki umat Islam di Indonesia. Selama umat Islam tidak tegas mengusung Islam baik asas berpikirnya (ideologinya) maupun sistem hidup yang dilahirkan oleh asas berpikirnya, maka selama itu pula umat Islam hanya akan menjadi bulan-bulanan rezim-rezim pengkhianat umat.

Oleh karena itu, menolak RUU HIP harus dengan semangat hanya untuk membela Islam dan tujuan menjadikan kedaulatan di tangan Asy-Syari’, Allah SWT dan hukum-hukum-Nya.

Sadar ideologi juga harus dimiliki umat Islam di Indonesia. Karakter ideologi dunia yang tak bisa dikompromikan, selalu berbenturan satu sama lain memustahilkan gagasan mengambil sisi positif berbagai ideologi, mengonstruksinya menjadi ideologi turunan yang baru.

Baca juga:  [Editorial] Haluan Indonesia, Hendak ke Mana?

Menjadikan Pancasila sebagai bentuk baru kolaborasi komunisme, kapitalisme, dan Islam untuk masyarakat Indonesia yang pluralistik, hanyalah asa sia-sia. Pancasila akan selalu ditunggangi sehingga condong pada kepentingan hegemoni ideologi dunia yang kufur untuk menjajah dan menjarah kekayaan alam Indonesia.

Portugis pergi, datang Belanda. Belanda pergi, datang Jepang. Jepang pergi, datang Amerika Serikat. Amerika Serikat tak mau pergi, kini berebut dengan Cina. Terus demikian umat Islam hanya menjadi korban, dimanfaatkan oleh beragam wajah penjajahan.

Umat Wajib Menetapkan Agenda Sendiri

Ajaran Islam yang sahih, Khilafah, telah direndahkan musuh-musuh Islam. Mereka menyejajarkan Khilafah yang agung dengan komunisme yang kufur, hina, dan rendah.

Mereka juga menipu umat untuk tetap menerima kapitalisme yang kufur, hipokrit dan nista. Maka umat wajib menolak dan membersihkan kehidupannya dari segala bentuk kekufuran, baik ideologi maupun sistem hidupnya.

Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya.” (Al-Baqarah: 208)

Dalam Alquran al-Maidah ayat 50:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”

Umat Islam hanya mampu benar-benar menyucikan penghambaan kepada Allah SWT, Rabb alam semesta raya bila umat Islam hidup dalam sistem Islam yang hakiki, yakni sistem Khilafah. Sistem pemerintahan Islam warisan Rasulullah Saw..

Umat Islam hanya bisa merasakan persaudaraan hakiki dengan seluruh muslim di dunia, bila memiliki institusi pemersatu umat yakni negara Khilafah. Tidak akan ada yang bisa mengadu-domba antarumat Islam, sebab kaum munafik dan kafir akan berputus asa bila umat di bawah naungan Khilafah.

Baca juga:  Khilafah adalah Berkah, Bukan Bencana

Umat Islam akan bisa menjadi memberikan perlindungan, memberikan dzimmah kepada umat lain bila Khilafah menerapkan hukum-hukum terhadap ahlu dzimmah (nonmuslim).

Pada saat yang sama umat Islam akan mampu berdiri dengan gagah perkasa di hadapan kafir harbi yang melecehkan ajaran Islam, dan simbol-simbol Islam, menyatakan perang di bawah seruan jihad seorang Khalifah.

Umat Islam akan mampu melanjutkan tanggung jawab menyebarkan risalah Islam ke seluruh dunia, sebagaimana telah dilakukan Rasulullah Saw. dan Para Sahabat, serta generasi setelahnya secara turun-temurun. Sehingga ujung dunia Timur dan Baratnya seluruhnya hanya menasbihkan tauhid “Laa Ilaha Illallah, Muhammad Rasulullah”.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai (Islam). Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS An-Nur [24]: 55). [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

5 tanggapan untuk “Tolak Semua Kekufuran, Baik Ideologi maupun Sistemnya!

  • 18 Juli 2020 pada 09:55
    Permalink

    Tolak semua sistem kufur

    Balas
  • Pingback:Link faedah – elkhanza note

  • 14 Juli 2020 pada 14:19
    Permalink

    Ruu Hip, wajib di tolak. sdh jauh dari syariat islam, Pemimpinya pun harus segera lengser dri kedudukannya. denganmu Negara ini akan hancur berlahan lahan.

    Balas
  • 13 Juli 2020 pada 22:28
    Permalink

    RUU HIP wajib ditolak oleh umat Islam sebab akan melemahkan kaum muslimin, menghancurkan ideologi kaum muslimin . seharusnya ideologi kaum muslimin (Islam)diterapkan dinegri ini supaya TDK ada lg ancaman yg akan meresahkan kaum muslimin

    Balas
  • 13 Juli 2020 pada 17:19
    Permalink

    Saatnya umat Islam sadar bahwa melek politik itu penting dalam kehidupan.Agar tidak diombang-ambingkan dg jargon-jargon yg diusung oleh pembebek idiologi kekufuran.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *