Ketika Eucalyptus Terhunus “Menampar” Scopus

Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si. (Koordinator LENTERA)

MuslimahNews.com, OPINI — Eucalyptus mendadak populer belakangan ini. Diketahui, eucalyptus disebut dapat mengobati penyakit akibat virus corona. Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan sedang mengembangkan kalung antivirus yang diklaim mampu membunuh virus, termasuk virus corona Covid-19.

Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo (SYL) menyampaikan pihaknya telah meracik ramuan antivirus menggunakan bahan baku dalam negeri, salah satunya daun eucalyptus.

Kalung ‘Anti-Virus Corona Eucalyptus’ tersebut dibuat Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian. Mentan SYL mengklaim kalung ini dapat mematikan virus Corona dengan kontak, dengan cara dihirup.

Kontak 15 menit bisa membunuh 42% Corona, semakin lama maka lebih banyak yang tereliminasi. Dalam jangka waktu setengah jam, bisa membunuh hingga 80%. Direncanakan produk kalung eucalyptus tersebut diproduksi massal Agustus mendatang.

Selain kalung, ada empat bentuk produk berbahan eucalyptus lainnya, yakni roll on, inhaler, balsem, dan oil diffuser. Namun yang sudah lolos uji dari Badan Pengendali Obat dan Minuman (BPOM) baru bentuk roll on dan inhaler.

Klaim soal eucalyptus bisa mencegah virus corona ini ternyata sudah beredar viral di media maya dan mendapat respons global. Klaim itu pertama kali muncul dari riset seorang dokter di Havana University di Kuba, meski tidak jelas disebutkan siapa dokter tersebut.

Pada informasi yang viral itu, dikatakan bahwa berdasar hasil “riset”, Coronavirus Disease (Covid-19) tidak berkembang di lingkungan di mana senyawa 1,8 Epoxy-p-Metana digunakan, senyawa yang diklaim sebagai komponen antivirucidal, antiseptik, dan bakterisida, dan kandungannya banyak didapati dalam eucalyptus.

Klaim tersebut lantas dibantah Direktur McGill University’s Office for Science and Society (McGill OSS), Profesor Joe Schwarcz, seorang profesor bidang kimia yang telah menerima berbagai penghargaan internasional di bidang tersebut.

Schwarcz mengatakan, tidak ada senyawa bernama 1,8 Epoxy-p-Metana yang diklaim banyak terkandung di eucalyptus. Ia menegaskan bahwa siapa pun yang berlatar belakang kimia, pasti tahu itu.

Senyawa aktual dalam minyak esensial eucalyptus adalah 1,8-Epoxy-p-Menthane, juga dikenal sebagai 1,8-cineol. “Metana” dan “Menthane” adalah dua hal yang sangat berbeda.

Schwarcz juga menyatakan, jika semua orang harus menghirup eucalyptus untuk mencegah virus SARS-CoV-2 menginfeksi saluran pernapasan, kekhawatiran kita soal Covid-19 tentu akan berakhir.

Seolah mengamini pernyataan Schwarcz, setelah isu telanjur bergulir dan mendapat kritik banyak pihak, Kementan akhirnya melakukan klarifikasi. Itu pun dilakukan Kepala Balitbangtan Kementan Fadjry Djufry, bukan oleh Mentan sendiri. yang segera mengakui dirinya tidak boleh lagi bicara soal “Antivirus Corona” berbentuk kalung tersebut.

Dalam klarifikasinya, Fadjry mengatakan bahwasanya izin BPOM tidak menyebut antivirus, melainkan hanya sebagai jamu dan bukan vaksin. Namun jika memang ini tidak punya manfaat untuk antivirus, menurut Fadjry paling tidak bisa memperbaiki pernapasan dan minimal mengurangi gejala dari Covid-19.

Fadjry memang mengatakan Balitbang Kementan telah meriset senyawa eucalyptol dan khasiatnya dalam penanganan virus corona sejak pandemi masuk ke Indonesia Maret lalu. Di mana pihaknya melihat efektivitas dari kalung tersebut hanya untuk meredakan pernapasan dan gejala corona saja.

Namun, Fadjry tidak mengklaim kalung tersebut dapat mematikan virus corona penyebab Covid-19 karena instansinya tidak menguji kepada Covid-19. Instansi Fadjry hanya menguji pada corona model.

Corona model sendiri ada beberapa macam, di antaranya adalah alfa corona, beta corona, gamma corona, juga delta corona. Covid-19 sendiri adalah bagian dari beta corona.

Fadjry menambahkan, kalung yang mengandung senyawa eucalyptus tersebut adalah kalung aromaterapi dan merupakan aksesoris kesehatan. Oleh karenanya, produk kalung ini bisa dihirup dan di skala laboratorium bisa membunuh virus corona.

Balitbang Kementan memang baru meneliti senyawa kandungan eucalyptus tersebut di laboratorium, atau in vitro. Namun, pihaknya belum melakukan uji praklinis dan uji klinis terhadap produk kalung ini.

Uji praklinis dan uji klinis ini sendiri paling sedikit butuh waktu 18 bulan. Setelah itu, barulah suatu produk dapat dikategorikan sebagai obat yang efektif.

Sementara itu, pakar farmakologi klinis dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dr. Nafrialdi mengatakan, klaim kalung bisa menangkal penyebaran virus corona berpotensi menyesatkan masyarakat.

Kalung “antivirus” corona ini pun menambah deretan obat-obatan herbal, tradisional, dan aksesoris kesehatan yang belum terbukti secara klinis mampu menangkal penyebaran atau mengobati Covid-19.

Telaah Kritis Indeksasi Riset

Mungkin memang terlalu dini menyebutkan bahwa senyawa kandungan eucalyptus mampu mengobati Covid-19. Namun demikian, tentu perlu kita cermati telaah kritis tentang indeksasi sebuah riset.

Bukan soal apakah jurnal ilmiah sudah terindeks Scopus –sebuah database literatur ilmiah– atau belum. Namun lebih kepada kritik bahwa di dunia pendidikan sekuler yang termasuk di dalamnya menjunjung tinggi indeks Scopus, ternyata ada hasil riset yang “lolos” bahkan terlalu dini tidak terindeks Scopus.

Namun akibat ketidakpahaman seorang politisi yang menjadi pejabat publik, hasil riset yang masih dini tersebut overclaimed hingga telanjur booming di tengah masyarakat. Inilah yang terjadi perihal kalung eucalyptus antivirus corona.

Bagi seorang intelektual yang ingin memublikasikan artikel ilmiah ke dalam jurnal internasional, ada hal-hal yang harus diperhatikan terlebih dahulu sebelum artikelnya di-submit. Jangan sampai artikel yang disiapkan malah terpublikasi di jurnal internasional predator atau jurnal abal-abal yang tidak menjunjung tinggi sisi ilmiahnya. Oleh karenanya, harus bisa memilih jurnal internasional mana yang bereputasi dan bagaimana cara aksesnya.

Jurnal bereputasi itu pastinya telah terindeks dalam mesin pencari atau database seperti DOAJ, Scopus, Thomson, Elsevier, SAGE, Oxford, dan lain sebagainya.

Bagi para ilmuwan yang berkiblat ke Barat, laporan riset yang telah terindeks Scopus adalah segala-galanya. Dan ternyata, insiden eucalyptus dalam kasus Covid-19 ini mau tidak mau justru telah menampar kehormatan indeks Scopus tersebut.

Perlu diketahui, Scopus adalah salah satu database (pusat data) sitasi atau literatur ilmiah yang dimiliki penerbit terkemuka dunia, Elsevier. Scopus mulai diperkenalkan ke masyarakat luas pada 2004. Scopus biasanya bersaing ketat dengan Web of Science (WoS) yang diterbitkan Thomson Reuters yang juga menjadi pusat data terbesar di dunia.

Ketatnya persaingan supaya mendapatkan lisensi dari Scopus membuat seorang intelektual atau penulis jurnal harus benar-benar memperhatikan detail penelitian yang ditulis. Jadi, memosisikan status antivirus eucalyptus untuk mengobati corona terkhusus Covid-19 tadi, tak ubahnya sebuah overclaim tanpa landasan ilmiah yang detail dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kemudian, jika disandingkan dengan kehormatan indeks Scopus, bagaimana tidak menampar Scopus itu sendiri? Padahal antara overclaim tersebut dengan Scopus, keduanya sama-sama hasil output pendidikan sekuler, tapi ternyata saling menghancurkan satu sama lain.

Komoditas Ekonomi bagi Kapitalisme

Ini telak menunjukkan bahwa sistem pendidikan maupun indeks Scopus benar-benar hanya komoditas ekonomi berikut tambang uang bagi kapitalisme. Dan ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan di alam sekuler telah tercabut ruhnya.

Terbukti, sistem pendidikan sekuler sama sekali tidak menampilkan hasil keberkahan keilmuan bagi kepentingan masyarakat luas.

Sebagaimana menurut World Bank, pendidikan adalah salah satu dari empat pilar yang sangat penting agar suatu negara dapat berpartisipasi sepenuhnya dalam knowledge economy. Dibalut oleh kapitalisme sebagai sebuah ideologi, tentu menjadikan pendidikan tak lepas dari napas kapitalisme itu sendiri.

Tak ayal, keberadaan KBE (Knowledge Based Economy, Ekonomi Berbasis Pengetahuan) ini telah menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi kehilangan maknanya sebagai instrumen penting pewujud kesejahteraan masyarakat.

Padahal, di dalamnya melibatkan sejumlah intelektual, yang sejatinya memiliki kontribusi untuk umat. Namun, capaian indeks Scopus sejatinya juga memalingkan intelektual dari peran keumatannya. Ini jelas mengancam fungsi sistem pendidikan yang ada.

Terlebih, Indonesia sebagai salah satu negeri muslim yang menjadikan KBE sebagai arah pembangunan nasional sebagaimana tercantum dalam RPJPN 2005-2025:

“Pengembangan iptek untuk ekonomi diarahkan pada peningkatan kualitas dan kemanfaatan iptek nasional dalam rangka mendukung daya saing secara global. Hal itu dilakukan melalui peningkatan, penguasaan, dan penerapan iptek secara luas dalam sistem produksi barang/jasa, pembangunan pusat-pusat keunggulan iptek, pengembangan lembaga penelitian yang handal, perwujudan sistem pengakuan terhadap hasil pertemuan dan hak atas kekayaan intelektual (HAKI).”

Jadi asal tahu saja, ini justru bukti nyata komersialisasi dan neoliberalisasi intelektual. Apalagi di era pandemi begini, kapitalisme juga masih membutuhkan napas untuk menyambung hidup. Jadilah berbagai celah terupayakan demi menambah recehan APBN negara-negara pengusungnya.

Tak terkecuali kalung antivirus corona berbahan dasar eucalyptus ini, yang meski sempat overclaim, pada kenyataannya memang sudah ada para kapitalis swasta asing yang bersedia bekerja sama untuk pengadaannya.

Yang padahal, toh kalung eucalyptius ini tak jua manjur untuk menjadi obat Covid-19. Dan andai kata benar kebijakan kalung eucalyptus dilanjutkan, bayangkan dampak kesia-siaannya di masa Covid-19 ini. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

2 tanggapan untuk “Ketika Eucalyptus Terhunus “Menampar” Scopus

  • 18 Juli 2020 pada 09:27
    Permalink

    Hrs segera cari vaksin krn sdh banyak yg meninggal

    Balas
  • 13 Juli 2020 pada 13:04
    Permalink

    Smua jd bukti nyata komersialisasi n neoliberalisasi intelektual. Terlebih di era pandemi begini, demi menambah recehan APBN negara-negara pengusungnya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *