Tolak Komunisme, Tolak Semua Sistem Kufur

Oleh: Ummu Naira (Forum Muslimah Indonesia / ForMind)

Muslimahnews.com, OPINI – Sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) yang tergabung dalam Aliansi Nasional Antikomunis menggelar aksi “Apel Siaga Ganyang Komunis Jabodetabek” di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan pada Minggu (5/7/2020).

Aksi ini diikuti Front Pembela Islam (FPI), PA 212, hingga Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama. (cirebon.pikiran-rakyat.com, 05/07/2020). Turut hadir sejumlah pimpinan FPI, seperti Ketua Umum FPI Sobri Lubis dan Sekjen FPI Munarman serta Ketua PA 212 Slamet Ma’arif.

Saat apel, para peserta diminta berikrar untuk siap jihad qital memerangi kaum komunis dan pihak yang ingin mengubah Pancasila menjadi Trisila atau Ekasila (nasional.tempo.co, 05/07/2020). Ketua Umum FPI Sobri Lubis juga mengajak massa yang hadir tidak gentar membela bangsa dan agama. Ia juga meminta DPR dan pemerintah tidak melanjutkan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Haluan Ideologi Pancasila (HIP).

Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif mengatakan apel siaga merupakan tindak lanjut dari upaya untuk menuntut dicabutnya RUU HIP dari Program Legislasi Nasional (Prolegnas) yang dianggap memecah belah bangsa Indonesia (medcom.id, 05/07/2020).

Sebelumnya, muatan mengenai trisila dan ekasila dalam RUU HIP yang merupakan usulan DPR itu menjadi polemik. Dalam drafnya, muatan soal trisila dan ekasila ada di Pasal 7 (news.detik.com, 05/07/2020).

Baca juga:  Nasib Ekonomi Indonesia Dalam Cengkeraman Neoliberalisme

Pasal 7 menjelaskan mengenai ciri pokok Pancasila. Berikut bunyinya:

Pasal 7

(1) Ciri pokok Pancasila adalah keadilan dan kesejahteraan sosial dengan semangat kekeluargaan yang merupakan perpaduan prinsip ketuhanan, kemanusiaan, kesatuan, kerakyatan/demokrasi politik, dan ekonomi dalam satu kesatuan.

(2) Ciri Pokok Pancasila berupa trisila, yaitu: sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, serta ketuhanan yang berkebudayaan.

(3) Trisila sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terkristalisasi dalam ekasila, yaitu gotong-royong.

Ada sejumlah poin yang dibacakan Laskar Aliansi Antikomunis pada aksi tersebut, yakni akan menjadi pembela agama, bangsa, dan negara; Siap siaga dan menyiapkan diri untuk jihad; Mempertahankan akidah Islam dan melawan kaum komunis di bawah komando ulama; Siap siaga dan menyiapkan diri untuk menjaga para ulama dari serangan kaum komunis; Kemudian siap siaga dan menyiapkan diri untuk menghadapi gerombolan trisila dan ekasila yang akan mengganti Pancasila, serta siap siaga dan menyiapkan diri dari serangan operasi intelijen hitam prokomunis (medcom.id, 05/07/2020).

Di sisi pemerintah, melalui Menko Polhukam Mahfud Md, ada dua alasan pemerintah tak setuju pembahasan RUU HIP berlanjut saat ini. Pertama adalah tak dicantumkannya Tap MPRS Nomor 25 Tahun 1966, suatu ketetapan yang mengatakan bahwa Partai Komunis Indonesia itu dilarang dan dibubarkan. Kedua adalah soal isi RUU yang disebutnya memeras Pancasila menjadi trisila dan ekasila (news.detik.com, 05/07/2020).

Baca juga:  Bahaya Penghapusan Istilah Kafir, Sebuah Tinjauan Ideologis

Semangat Membela Islam, Tinggalkan Ideologi Kufur

Aksi Apel Siaga Ganyang Komunis ini adalah wujud keresahan dari sejumlah ormas Islam atas isu akan kembalinya komunisme jika RUU HIP digolkan. Kekhawatiran itu wajar karena penafsiran sejumlah pasal dalam RUU HIP yang dianggap cenderung memberikan angin segar kepada komunisme berkembang lagi di Indonesia.

Trauma atas peristiwa berdarah di tahun 1965-1966 di mana Partai Komunis Indonesia dianggap dalang atas tragedi tersebut, membangkitkan semangat juang dari sejumlah ormas Islam agar jangan sampai mimpi buruk itu kembali terjadi. Resolusi jihad qital (baca: perang) memerangi kaum komunis pun diikrarkan.

Betul bahwa aksi umat menolak komunis hingga resolusi jihad qital ini adalah wujud semangat memperjuangkan al-Haq (Islam) dengan jiwa raga hingga nyawa. Namun harusnya tidak berhenti sampai di sini saja.

Semestinya gerakan ini dilanjutkan dengan menolak semua pemikiran dan sistem kufur yang bertentangan dengan Islam, seperti kapitalisme-sekuler yang juga telah membuat rakyat menderita.

Jurang kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin menganga lebar akibat penerapan ideologi kapitalisme di negeri ini. Ini justru fakta di depan mata kita yang harus kita hadapi bersama, bukan sekadar kekhawatiran terhadap bangkitnya komunisme.

Baca juga:  Harga-Harga Naik, Kado Pemerintah untuk Rakyatnya

Perjuangan umat Islam memang masih panjang. Jangan sampai kita bersikap pragmatis dan mengejar keadilan dan kebahagiaan yang semu. Keadilan dan kesejahteraan yang diimpikan dan diperjuangkan umat Islam saat ini sejatinya hanya bisa terwujud jika kita meninggalkan semua ideologi kufur (komunisme dan kapitalisme) dan menerapkan sistem Islam yang kaffah, berasal dari wahyu, sesuai fitrah manusia dalam bingkai Khilafah.[]

 

Bagaimana menurut Anda?

4 tanggapan untuk “Tolak Komunisme, Tolak Semua Sistem Kufur

  • 18 Juli 2020 pada 09:18
    Permalink

    Ruu hip agenda global barat digantu uu bpip

    Balas
  • 13 Juli 2020 pada 12:50
    Permalink

    tetap kejayaan islam yg akan menang.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *