Kasus Corona Terus Naik, New Normal Menuai Kritik

Oleh: Henyk Nur Widaryanti, S.Si., M.Si.

MuslimahNews.com, OPINI – Negeri gemah ripah loh jinawi kini menjadi sorotan dunia. Bukan karena kekayaan sumber daya alamnya. Juga bukan karena kemolekan destinasi wisatanya. Atau prestasi gemilangnya. Tapi karena kenaikan kasus corona semakin hari terus bertambah. Peningkatan pasien di atas nilai 1.000 bertengger di pemberitaan setiap hari. Bahkan sempat menembus angka 1.853 pada Rabu (8/7/20). (detik, 8/7/20)

Dengan kenaikan kasus yang kian membumbung ini, diperlukan penanganan khusus. Harus ada upaya tegas dalam usaha memutus rantai penyebaran Covid-19 ataupun upaya maksimal untuk merawat dan menyembuhkan pasien terinfeksi. Agar mereka tak merasakan putus asa dengan kondisi yang menimpa. Dan penyebaran covid dapat segera ditangani.

Dengan bertambahnya korban, tentunya penanganan tidak boleh serampangan. Perlu keseriusan. Kerja Tim. Dan langkah yang jelas. Tentunya semua itu tak membutuhkan biaya yang sedikit. Sayangnya, walaupun kasus makin hari makin naik. Penyediaan pembiayaan untuk wabah corona itu tetap. Dan tidak berubah hingga akhir tahun.

Menurut Staf Ahli Bidang Pengeluaran Negara Kementerian Keuangan Kunta Wibawa Dasa Nugraha tingginya kasus saat ini bukan karena penyebaran virusnya, tapi karena semakin intensnya tes. Sehingga kasus positif terlihat begitu tinggi. Oleh karena itu, dana penanganan Covid-19 tidak ditambah. Tetap Rp87,55 triliun. Menurutnya, anggaran tersebut sudah merupakan alokasi yang cukup dengan modeling ratusan ribu penderita hingga akhir tahun.

Logika Bolak-Balik

Pernyataan peningkatan kasus sehari lebih dari seribu adalah sebuah keberhasilan, sungguh sangat menyedihkan. Ditambah alasan tidak diputusnya rantai penularan bukan merupakan faktor penyebab peningkatan kasus juga sangat memprihatinkan. Sikap yang diambil ini, seakan-akan untuk menutupi ketidakberdayaan menangani covid yang kian menggunung.

Seorang petani aja tahu, untuk menghambat penularan hama tanaman agar tidak menjalar ya mengobati hingga pangkal masalahnya. Bahkan kalau memungkinkan harus memisahkan kontak tanaman yang sakit dengan yang sehat. Agar penyakitnya tak menjalar ke tanaman lainnya.

Begitu pula virus Covid-19 ini, ia adalah virus yang tak bisa lari-lari. Kecil, mungil, tapi sangat reaktif. Ia dapat berpindah tempat karena mengikuti inangnya. Kebetulan inangnya adalah manusia. Makhluk aktif yang berpindah ke mana saja. Jika orang yang terjangkit ini kontak  fisik/sekadar bercakap-cakap dengan orang lain. Maka, virus ini pun mampu menempel pada orang lain. Melalui droplet air liur atau benda-benda yang disentuhnya.

Bisa dibayangkan satu orang saja kena, dan dia jalan-jalan di mall atau tempat ramai lainnya. Yang kena imbasnya adalah orang-orang yang berpapasan atau yang ditemuinya. Nah, sedangkan masifnya pemeriksaan hanya merupakan faktor pendukung untuk dapat mengetahui orang tersebut menderita covid atau tidak.

Meskipun pemeriksaan masif, tapi kalau penyebab penularan tak dihentikan. Dapat dipastikan korban akan semakin banyak berjatuhan. Jadi anggapan itu adalah keberhasilan dalam tracking semata, adalah hal yang mengada-ada.

Kesalahan Penanganan Sejak Awal

Tidak bisa menutup mata, tidak akan ada asap tanpa adanya api. Kondisi saat ini tidak akan terjadi jika penanganan di awal munculnya wabah ini bisa diantisipasi. Lambatnya penanganan sejak wabah ini muncul di tengah masyarakat memperlihatkan kesemrawutan kondisi saat itu. Tidak langsung diputuskannya karantina dan mengulur-ulur kebijakan saat itu menyebabkan virus cepat menular ke daerah lainnya.

Jika kebijakan yang diambil masih sebatas perhitungan untung dan rugi, sebagai mana anggapan kapitalis, maka seluruh kebijakan saat ini akan dinilai benar. Dan hasilnya menguntungkan pihak lain tapi merugikan masyarakat.

Jadi, jika masalah ini ingin diselesaikan dengan tuntas. Kebijakan harusnya bukan berdasar untung dan rugi. Tapi demi menyelamatkan nyawa masyarakat. Dan memenuhi segala kebutuhannya. Yang didasari pada panggilan keimanan. Apalagi kalau bukan bersandarkan pada Islam?

Memutus Rantai Penularan

Hal yang harus dilakukan dalam menghadapi wabah ini adalah mencari benang merah penularannya. Berarti harus memutus terlebih dahulu rantai penularan tersebut. Kebijakan new normal life saat ini, terlihat sebagai keputusan yang dipaksakan. Daerah-daerah di negeri ini sebenarnya belum siap menghadapi new normal life. Tapi, karena tuntutan ekonomi harus mengikuti aturan itu.

Dalam masyarakat sendiri memandang bahwa new normal life adalah hidup normal seperti biasa. Mereka tak menganggap ribuan kasus setiap hari sebagai ancaman. Sehingga banyak yang tidak mengikuti protokol kesehatan.  Beraktivitas seperti biasa. Berkumpul dan  mengadakan acara-acara adalah hal biasa. Baru terasa apabila salah satu atau beberapa orang di lingkungan mereka terjangkit virus ini.

Oleh karena itu tidak bisa disalahkan jika banyak tokoh yang mengkritik kebijakan ini. Sebagai pemangku kebijakan yang arif, sudah selayaknya setiap kebijakan yang menimbulkan kontroversi dan kritikan dievaluasi. Jika memang membahayakan, lebih baik dihentikan saja. Agar tidak banyak lagi korban berjatuhan. Kasihan, mereka adalah rakyat yang tak bersalah. Mereka hanya ingin hidup aman tanpa bayang-bayang ancaman.

Kalau perlu sembari menahan aktivitas masyarakat agar virus tak cepat menyebar. Pemerintah perlu mengadakan tes massal covid gratis bagi seluruh warga. Dengan petugas yang datang ke rumah-rumah. Jika sudah  positif, maka langsung diadakan karantina dan diobati dan dilayani dengan baik.

Saat pemeriksaan ini berlangsung tentu masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Maka, sudah menjadi peran pemerintah untuk membantu memenuhi kebutuhannya. Terutama kebutuhan pokok sehari-hari. Memang, biaya yang akan dikeluarkan cukup besar. Tapi akan sebanding dengan hasil yang diperoleh. Pandemi ini insya Allah akan segera berakhir.

Bagi negara yang mengabdi untuk rakyat, uang berapa pun tidak akan masalah. Hal ini hanya akan terjadi jika pemegang kebijakannya adalah orang yang bijak dalam menyelesaikan masalah. Bijak berlandaskan aturan yang benar. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

6 tanggapan untuk “Kasus Corona Terus Naik, New Normal Menuai Kritik

  • 18 Juli 2020 pada 09:24
    Permalink

    New normal bkn solusi

    Balas
  • 14 Juli 2020 pada 04:59
    Permalink

    Untuk melaksanakan kebijakan yang dapat menyelesaikan persoalan ini selain butuh keberanian dan kemandirian dari seorang pemimpin negara juga butuh sistem yang shahih.

    Balas
  • 13 Juli 2020 pada 13:55
    Permalink

    Islam solusi tuntas

    Balas
  • 13 Juli 2020 pada 06:37
    Permalink

    Kembali ke hukum Islam..💪
    Itu satu satunya solusi

    Balas
  • 12 Juli 2020 pada 22:04
    Permalink

    Masih untung dan rugi fokus utama pemerintah. Ketika angka tidak lagi menjadi aspek penting dalam penanganan covid-19 apa yang mau diharapkan. Pemeriksaan berbayar yang membuat masyarakat smakin terjepit di tengah pandemi yang semakin menyebar luar pemerintah seolah cuci tangan dengan melongggarkan PSBB dan memilih mengorbankan rakyatnya. Tegakan islam di bumi Allah maka keselamatan dan wabah akan segera selesai atas izin-Nya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *