Bersama Umat Tolak Komunisme, Perjuangkan Islam Kaffah

Oleh: Rindyanti Septiana, S.Hi.

MuslimahNews.com, OPINI – Publik masih mengingat dengan jelas pernyataan salah satu Jenderal yang merupakan mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo. Ia secara jelas dan tegas menyebut bahwa Islamlah yang akan menjadi benteng terakhir menghadapi ancaman di negeri ini.

Saat itu ia merespons aksi umat 411 pada 2017. Ia mengungkapkan bahwa umat Islam merupakan bagian integral dari seluruh komponen kekuatan bangsa. Dan dalam skema pertahanan nasional masa depan yang ia konstruksi, Islam dan kaum muslim ia letakkan sebagai “benteng terakhir” NKRI. (rilis.id, 14/2/2017)

Kini umat Islam kembali menolak hadirnya RUU Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) yang ditengarai berpotensi memunculkan paham komunisme. MUI juga turut mengancam jika pembahasan RUU terus dilangsungkan, MUI akan mengawal masyarakat Indonesia untuk menolak RUU ini.

Adalah Aksi Apel Siaga Ganyang Komunis Jabodetabek di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan (5/7/2020), yang merupakan salah satu bentuk sikap umat Islam menghadapi siapa pun di negeri ini yang berupaya untuk menghidupkan kembali paham komunis.

Ribuan orang memenuhi Lapangan Ahmad Yani, diikuti sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam seperti Front Pembela Islam (FPI), PA 212, hingga Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama. (cirebon.pikiran-rakyat.com, 5/7/2020)

Para tokoh umat Islam yang hadir dalam apel di antaranya Ahmad Sobri Lubis (Ketua Umum FPI), sejumlah tokoh GNPF Ulama seperti Slamet Ma’arif, Gatot Saptono alias Muhammad Al-Khaththath, Sekretaris Umum FPI Munarman, dan lainnya.

Dalam apel tersebut para peserta diminta berikrar untuk siap jihad qital memerangi kaum komunis dan pihak yang ingin mengubah Pancasila menjadi Trisila atau Ekasila. Telihat jelas Aksi umat Tolak komunis hingga resolusi jihad qital adalah wujud semangat memperjuangkan al-Haq (Islam) dengan jiwa raga hingga nyawa.

Namun, apakah semangat berjuang membela Islam dengan jiwa raga hanya sebatas memerangi paham komunis saja? Bagaimana isme-isme yang lain yang juga bertentangan dengan Islam seperti sekularisme, kapitalisme, liberalisme, sinkretisme, dan pluralisme? Apakah tidak turut diperangi oleh umat Islam?

Baca juga:  RUU KUHP: Ditunda atau Tidak, Akar Persoalan Tetap Sama "Pseudo-Ideologi"

Peserta apel juga diminta untuk membaca dua kalimat syahadat dan berucap: “Kami Laskar Aliansi Nasional Anti-Komunis berikrar dan bertekad, satu, bahwa kami akan menjadi pembela agama, bangsa dan negara. Dua, siap siaga dan menyiapkan diri untuk jihad qital mempertahankan akidah Islam dan melawan kaum komunis di bawah komando ulama. Tiga, para laskar siap siaga untuk menjaga para ulama dari serangan kaum komunis. Empat, mereka menyiapkan diri dari serangan operasi intelijen hitam yang prokomunis.” (nasional.tempo.co, 5/7/2020)

Di sisi lain, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) justru menyoroti acara apel siaga juga diikuti anak-anak sebagai peserta. KPAI menganggap apel tersebut diisi dengan kata-kata bernada benci selama aksi.

Seperti kata “menghalalkan sembelih orang”, “sembelih komunis” yang dinyatakan oleh Komisioner KPAI, Jasra sebagai paparan kekerasan dalam bentuk verbal. Hal itu berdampak buruk kepada perkembangan jiwa anak-anak ke depan.

Tapi KPAI seolah tutup mata dengan berbagai situs pornografi dan pornoaksi, juga berbagai games dan aplikasi media sosial yang tidak mengedukasi anak-anak. Bukankah fakta di lapangan menunjukkan berbagai hal tersebut lebih banyak mengakibatkan anak-anak menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual?

Mengapa tiap kali ada aksi umat Islam selalu disoroti peserta anak-anak? Apakah hal ini dilakukan guna membangun opini negatif terhadap aksi umat yang dilakukan? Atau memang tulus bersuara untuk kepentingan perkembangan jiwa anak-anak?

Patut dicermati setiap lontaran kesalahan yang dialamatkan pada aksi umat Islam. Agar kita jeli menilai bahwa opini salah akan ditujukan bagi mereka yang bersuara untuk Islam.

Tolak Komunis, Tolak Sistem Kufur

Sudah seharusnya semangat juang menolak paham komunis juga dilanjutkan dengan penolakan terhadap semua pemikiran dan sistem yang bertentangan dengan Islam.

Sekularisme yang diterapkan di negeri ini telah menjauhkan Indonesia dari seluruh aturan Islam yang seharusnya diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan. Bukan malah mencampakkannya.

Baca juga:  Bahaya Komunisme dan Kapitalisme

Sekularisme di bidang pemerintahan berupa sistem demokrasi yang telah melahirkan politik permisif dan pragmatis, serta politik transaksional yang berlangsung pada setiap pilpres dan pilkada.

Sekularisme di bidang hukum melahirkan para mafia-mafia peradilan. Sementara keadilan hanya sebuah jargon saja.

Sekularisme dalam kehidupan sosial, melahirkan masyarakat individualistis, hedonis, juga paham pluralisme menjadi corak kehidupan yang dirawat sebagai alasan modal kemajuan bangsa.

Sekularisme dalam ekonomi yaitu diterapkannya kapitalisme dengan asas ekonomi neoliberalismenya. Sehingga muncul konsep privatisasi atas sumber daya alam yang membuat rakyat kehilangan aset dan tak bisa menikmati kekayaan alamnya.

Sementara sekularisme dalam aspek budaya telah menghancurkan sendi-sendi moral bangsa terutama bagi generasi-generasinya. Di satu sisi melestarikan budaya lewat berbagai busana daerah di Nusantara, tapi di sisi lain, budaya asing dan aseng dengan mudahnya menggerus kepribadian generasi lewat musik, tontonan televisi yang berisi kebebasan berbusana (semi telanjang), bebas berperilaku (peluk, cium, bahkan tidur bersama).

Sekularisme yang merambat dalam aspek budaya, telah menghancurkan sendi-sendi moral bangsa terutama bagi generasi-generasinya. Hal-hal ini merupakan ancaman serius bangsa ini.

Maka, sudah seharusnya umat Islam tidak hanya menggaungkan ganyang paham komunis, tetapi juga ganyang semua sistem kufur serta isme-isme yang lahir darinya karena bertentangan dengan Islam.

Umat Islam harus bersatu memperjuangkan sistem Islam sebagai ganti sistem kufur yang masih diterapkan di negeri kaum muslimin. Sistem Islam yang dimaksud tidak lain ialah Khilafah.

Jika kita mendapatkan banyak kerusakan akibat sekularisme yang diterapkan di negeri ini, maka seharusnya kita kembali pada jalan yang lurus. Sebagaimana firman Allah SWT:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”  (TQS Ar-Rum: 41)

Baca juga:  [Editorial] Mencari Pancasila di Balik Kebijakan Pangan Indonesia

Kita juga diingatkan Allah SWT:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (TQS Al A’raf [7]: 96)

Kata “berkah” jauh dari penyelenggaraan pemerintah saat ini. Satu-satunya jalan untuk mendapatkan keberkahan hanya jika Allah rida. Sehingga tidak mungkin kita mendapatkan berkah kecuali dengan Islam yaitu dengan penerapan Islam secara kaffah.

Perjuangkan Islam Kaffah dengan Tegaknya Khilafah

Aksi umat yang siap menjadi pembela agama dan bangsa seharusnya jangan sampai terbelokkan pada sikap pragmatis memperjuangkan Pancasila sementara melalaikan kewajiban memperjuangkan tegaknya sistem Islam (Khilafah).

Perlu diingat kembali bahwa kemunduran peradaban Islam, termasuk negeri ini, terjadi karena umat ini meninggalkan agamanya, meninggalkan syariat-Nya. Maka dapat dipastikan kerusakan akan semakin parah.

Kalau saat ini paham komunis disinyalir akan bangkit kembali, hal itu disebabkan sistem demokrasi-sekuler yang memberikan ruang bagi paham kufur apa pun untuk masuk ke negeri kaum muslimin.

Keberadaan agama seharusnya menjadi fondasi bernegara. Itulah yang dicontohkan Nabi Saw. dan Para Sahabat. Begitu Nabi Saw. wafat, khulafaur rasyiddin melanjutkan kepemimpinan Rasulullah tersebut sekaligus sistem yang telah dibangun. Bukan mengambil sistem yang ada sebelumnya seperti yang diberlakukan di Romawi atau Persia, demokrasi atau kerajaan.

Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali menguatkan fondasi yang dibangun Rasulullah Saw. dan tidak meninggalkan sama sekali syariat Allah SWT dalam mengatur urusan umat. Inilah yang semestinya diikuti.

Berani berjihad untuk memberangus paham komunis, juga seharusnya diikuti dengan memberangus sistem kufur yang melestarikan berbagai pemikiran kufur pula. Arah perjuangan umat harus dituju untuk perjuangan Islam Kaffah dengan tegaknya Khilafah, bukan membela Pancasila semata. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

4 tanggapan untuk “Bersama Umat Tolak Komunisme, Perjuangkan Islam Kaffah

  • 12 Juli 2020 pada 15:14
    Permalink

    Allahu Akbar!

    Balas
  • 11 Juli 2020 pada 05:47
    Permalink

    Masya Allah…
    Hapuskan semua sistem kufur..! Tegakkan sistem Islam..!!

    Allohu Akbar..!!!

    Balas
  • 10 Juli 2020 pada 22:58
    Permalink

    Setuju !!
    Brangus sistem kufur. Fokus arah perjuangan umat harus dituju untuk perjuangan Islam Kaffah dengan tegaknya Khilafah, bukan membela Pancasila semata.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *