[Editorial] Ketika Pendidikan Kian Sesat Arah

MuslimahNews.com, EDITORIAL — Wabah corona benar-benar telah menampakkan wajah buruk sistem sekuler kapitalisme neoliberal. Selain berdampak parah terhadap aspek kesehatan dan ekonomi, wabah juga menambah karut-marut di aspek kehidupan lainnya, termasuk bidang pendidikan.

Penerapan sistem pembelajaran daring di masa wabah misalnya, ternyata menyisakan begitu banyak persoalan. Begitu pun kebijakan Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), ternyata masih terus menuai protes karena dianggap tak adil dan memberatkan.

Baca: https://www.muslimahnews.com/2020/03/31/editorial-home-learningl0-pusing/
Baca juga: https://www.muslimahnews.com/?s=Adu+tawar+UKT+

Namun kekisruhan ternyata bukan hanya terjadi di masa wabah ini saja. Sejak jauh sebelumnya, dunia pendidikan di negeri ini memang sudah nampak begitu bermasalah. Visi yang tak jelas, membuat pendidikan kian sesat arah.

Kita lihat saja. Sejak orde lama, kurikulum pendidikan sudah 11 kali mengalami perubahan. Dan perubahan-perubahan ini bukan hanya membuat para pendidik kelabakan. Para siswa pun seolah selalu dikorbankan, karena posisi mereka tak lebih dari kelinci percobaan.

Di sisi lain, kesenjangan pun masih menjadi persoalan. Buruknya politik anggaran untuk pendidikan membuat gap antara pusat dan daerah selalu dalam kondisi memprihatinkan. Baik soal aksesibilitas, ketersediaan sarana prasarana pendidikan, maupun ketersediaan tenaga pendidik yang berkualitas.

Hal ini niscaya. Negara memang sudah lama berlepas diri dari posisinya sebagai penyelenggara pendidikan. Malah dengan sadar, menyerahkan urusan pendidikan kepada mekanisme pasar. Hingga pendidikan pun, berubah menjadi barang mahal yang diperjualbelikan.

Wajar jika apa yang disebut dengan “merdeka belajar” dan “pendidikan untuk semua” nyatanya hanya ada dalam wacana. Idealisme soal keadilan, benar-benar telah terkubur oleh arus kapitalisasi dan liberalisasi yang meracuni peradaban manusia. Termasuk memandulkan fungsi mulia negara sebagai pengatur urusan rakyatnya.

Namun tak hanya itu saja. Buruknya sistem pendidikan diperparah dengan massifnya proses sekulerisasi kurikulum melalui proses marginalisasi agama. Karena dalam doktrin sekulerisme, agama adalah lokus pribadi. Haram turut campur dalam segala urusan kehidupan, termasuk urusan pendidikan.

Wajar jika hari ini, tak sedikit generasi terdidik yang mumpuni dalam pengetahuan, namun minus dalam adab dan kesopanan. Bahkan laku alay, hedonisme, pergaulan bebas, penyimpangan seksual, narkoba, kekerasan, plagiarism, dan semacamnya, seolah lekat dengan kehidupan sebagian milenial.

Baca juga:  Reorientasi Pendidikan Bervisi Besar

Maka, bagaimana bisa generasi seperti mereka diharapkan mampu menjadi motor kebangkitan dan membawa bangsa ini keluar dari keterpurukan? Sementara hari ini, mereka malah enjoy menjadi kaum pembebek, yang terbiasa berpikir pendek. Tak peduli dengan nasib umat di masa depan.

Generasi seperti ini jelas tak memiliki ketahanan ideologis. Mereka kehilangan jati diri dan justru bangga jika bisa tampil sebagai kacung asing yang jelas-jelas telah merampok milik bangsanya sendiri. Itulah kenapa kekayaan alam yang melimpah ruah tak bisa membawa berkah. Karena pengelolaannya dengan rela diserahkan kepada asing.

Jika dicermati lebih dalam, negara yang berparadigma sistem sekuler kapitalis neoliberal memang tak mungkin serius menjadikan pendidikan sebagai jalan kemuliaan mewujudkan peradaban cemerlang. Karena dalam sistem rusak ini, pendidikan justru harus menjadi salah satu instrumen pengokoh hegemoni kapitalisme global, yang bersembunyi di balik kata investasi korporasi dan revolusi industri.

Dan faktanya, kebijakan pendidikan hari ini nampak selalu kental dengan hitung-hitungan ekonomi. Seperti demi peningkatan kemampuan produksi. Demi mendorong investasi dan industrialisasi. Dan semacamnya. Padahal, berbicara proses produksi, investasi dan industrialisasi pada hari ini, sejatinya berbicara tentang hegemoni kaum kapitalis yang tampil dalam bentuk korporasi.

Inilah yang sekarang kita lihat. Negara begitu concern mendorong tumbuhnya institusi-institusi pendidikan vokasi. Atau gencar menggagas pendidikan berbasis link and match dengan industri. Begitu pula, negara nampak begitu bersemangat memfasilitasi berbagai kerjasama penelitian antara institusi pendidikan dan korporasi.

Bahkan upaya-upaya negara mendorong perguruan tinggi untuk mengejar target world class university, serta wacana Revolusi Industri 4.0 di tengah wacana kampus merdeka, nyatanya sejalan dengan proses kapitalisasi dan liberalisasi ekonomi. Dimana rezim penguasa berparadigma sekuler kapitalis liberal, lazim berkolaborasi dengan kekuatan korporasi.

Walhasil arah pendidikan dalam sistem berparadigma rusak yang diterapkan hari ini, memang tak lebih dari mesin pensuplai kebutuhan pasar tenaga kerja bagi industri raksasa milik negara-negara adidaya. Bukan sebagai pilar membangun peradaban cemerlang. Dan dampaknya akan terus membuat negeri ini terposisi sebagai objek penjajahan. Tak berdaulat dan jauh dari kemandirian.

Persoalannya, hingga kapan kondisi ini dipertahankan?

Yang pasti, sepanjang bangsa ini mengukuhi paradigma pendidikan sekuler yang disupport oleh negara yang juga berparadigma sekuler, maka negeri ini akan terus dalam posisi demikian. Terjajah dan terhina dina.

Baca juga:  Sekolah Rusak dan Kebutuhan terhadap Khilafah

Sehingga satu-satunya jalan untuk mengubahnya adalah dengan mencampakkan sistem pendidikan sekuler berikut sistem politik yang menerapkannya. Dan di saat sama, menerapkan sistem pendidikan Islam berikut sistem politik yang menaunginya. Yakni sistem khilafah Islam.

Sistem pendidikan Islam ini tegak di atas asas akidah Islam yang sahih lagi kokoh. Yakni berupa keyakinan bahwa manusia, kehidupan dan alam semesta adalah ciptaan Allah Ta’ala. Dan bahwa apa yang ada sebelum kehidupan dunia, serta apa yang ada setelahnya, berkaitan dengan apa yang dilakukan manusia di dunia. Yakni dalam bentuk hubungan penciptaan dan pertanggungjawaban (hisab).

Akidah inilah yang menjadikan kehidupan ini tak hanya bersifat profan. Tapi punya dua dimensi yang satu sama lain saling menguatkan. Yakni dimensi keduniawian dan keakhiratan.

Maka dalam konteks sistem pendidikan, akidah ini mengarahkan visi pendidikan Islam sebagai washilah untuk melahirkan profil generasi terbaik yang paham tujuan penciptaan. Yakni sebagai hamba Allah yang berkepribadian Islam dan sebagai khalifah yang punya skill dan kecerdasan untuk pembangun peradaban cemerlang.

Visi inilah yang kemudian diturunkan dalam kurikulum pendidikan Islam di setiap tingkatannya, berikut metoda pembelajarannya. Yang dalam penerapannya di-support penuh oleh negara dengan berbagai sarana dan prasarana penunjang. Termasuk para pendidik yang punya kapasitas dan kapabilitas mumpuni.

Bahkan support negara sedemikian maksimal. Hingga para guru, para ilmuwan dan peneliti diapresiasi dengan gaji dan insentif yang tinggi. Begitupun dengan para siswanya. Merekapun diberi fasilitas serba gratis, yang membuat mereka benar-benar fokus dalam tugasnya masing-masing. Baik sebagai pendidik dan arsitek generasi, maupun sebagai pembelajar yang siap berkhidmat untuk umat saatnya nanti.

Kondisi ideal ini sangat niscaya. Karena sistem pendidikan Islam didukung oleh sistem-sistem lain yang menjamin tercapainya visi pendidikan.

Yang terutama adalah penerapan sistem politik Islam, yang menetapkan bahwa negara atau penguasa adalah pengurus dan penjaga umat. Negara Islam seperti inilah yang akan menerapkan seluruh aturan Islam, yang dipastikan akan mensupport penuh sistem pendidikan Islam.

Misalnya sistem ekonomi dan keuangan Islam, yang salah satunya mengatur soal kepemilikan. Bahwa sumberdaya alam yang ada merupakan milik umat. Dan negara wajib mengelolanya untuk kepemaslahatan umat.

Baca juga:  Khilafah Solusi Tuntas Persoalan Pendidikan Vokasi

Bahkan ada sumber-sumber keuangan lain yang ditetapkan oleh syariat, yang membuat negara memiliki dana nyaris tak berbatas untuk mensejahterakan rakyatnya. Termasuk mensupport sistem pendidikan gratis lagi berkualitas bagi seluruh rakyat tanpa kecuali.

Support system pun datang dari penerapan sistem lainnya, seperti sistem sosial islam, sistem informasi dan kemedia-masaan islam, serta sistem sanksi islam yang menjamin tujuan pendidikan terealisasi dengan maksimal.

Sehingga institusi pendidikan, negara, keluarga, dan masyarakat berjalan beriringan dalam mewujudkan dan menjaga generasi cemerlang. Bukan malah saling merobohkan sebagaimana terjadi dalam sistem sekarang.

Inilah rahasia di balik tegaknya peradaban Islam yang demikian gemilang. Belasan abad, umat Islam mampu tampil sebagai umat terbaik dan menjadi trensetter dalam segala aspek kehidupan. Mulai dari aspek pemikiran, sains, teknologi, seni, budaya dan sebagainya.

Bahkan saat itu, sistem pendidikan Islam yang disupport oleh penerapan syariah kaffah oleh institusi khilafah, mampu tampil sebagai mercusuar kebangkitan pemikiran di dunia Barat. Padahal kala itu Barat sedang diliputi kejahiliyahan akibat dominasi kejumudan dan doktrinasi agama yang menjauhkan umat dari tradisi berpikir cemerlang.

Justru saat umat Islam terlepas dari sistem pendidikan Islam, sejalan dengan lepasnya umat dari sistem khilafah Islam sebagai penerap aturan Islam kaffah, pelan tapi pasti umat terjauhkan dari kemuliaannya. Bahkan hari ini, umat tengah jatuh hingga level terendah sebagai bangsa-bangsa terjajah.

Maka, agar bisa bangkit kembali, sudah saatnya umat kembali ke pangkuan Islam. Lalu menerapkan seluruh aturannya yang memuliakan, termasuk sistem pendidikan Islam dalam naungan khilafah Islam.

Caranya adalah dengan berjuang bersama jamaah dakwah yang ikhlas dan bersungguh-sungguh memperjuangkan kembalinya sistem Islam dalam kehidupan.

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: “Inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku menyeru kepada Allah dengan keterangan yang nyata. Mahasuci ALLAH dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS Yusuf: 108) [MNews][SNA]

 

Bagaimana menurut Anda?

61 tanggapan untuk “[Editorial] Ketika Pendidikan Kian Sesat Arah

  • 23 Juli 2020 pada 04:31
    Permalink

    Teranglah bahwa begitu Mulianya sistem pendidikan Islam dibawah Naungan Khilafah Islamiyyah

    Balas
  • Pingback:Link faedah – elkhanza note

  • 12 Juli 2020 pada 12:07
    Permalink

    Semoga kita senantiasa Istiqomah dijalan dakwah ini

    Balas
  • 11 Juli 2020 pada 22:03
    Permalink

    Ya hanya Khilafah yang bisa mendidik generasi menjadi generasi bertakwa dan aturan Islam diterapkan secara kafah

    Balas
  • 11 Juli 2020 pada 21:03
    Permalink

    Pendidikan di masa Daulah Islam mampu mencetak generasi2 emas, tidak seperti saat inikurikulum sangat sering direvisi sehingha membingungkan para pengajar maupun muridnya

    Balas
  • 11 Juli 2020 pada 13:57
    Permalink

    masya Allah, sistem islam memberikan jaminan pendidikan gratis dengan kualitas fantastis

    Balas
  • 10 Juli 2020 pada 10:08
    Permalink

    Selama masih menggunakan sistem yang salah maka apapun yang dihasilkan akan rusak. Ibarat pohon jka akarnya busuk mk buah yang dihasilan akan busuk bahkan bisa jd tdk menghasilkan buah sama sekali. Begitulah sistem kapitalis yang diterapkan saat ini.

    Berbeda dengan Islam. Islam adalah sistem yang shohih yang datang dr Dzat Maha Pencipta. Sudah pasti penerapannya secara kaffah akan membawa kerberkahan di dunia dan akherat.

    Balas
  • 9 Juli 2020 pada 22:19
    Permalink

    Telah nampak kerusakan yg dimunculkan dari sistem kapitalis..msh berharap dg nya?
    Back to Islam Kaffah, solusi segala masalah..

    Balas
  • 9 Juli 2020 pada 21:46
    Permalink

    Pendidikan disistem sekuler semakin menambah kebodohan dan kehancuran

    Balas
  • 9 Juli 2020 pada 20:42
    Permalink

    Astaghfirullah

    Balas
  • 9 Juli 2020 pada 19:12
    Permalink

    Sistem pendidikan Islam menyiapan generasi penerus dan pemelihara peradaban islam.. 🥰kembali tegakan islam Kaffah..!!!💪

    Balas
  • 9 Juli 2020 pada 11:38
    Permalink

    Tidak ada yang lebih baik dari ajaran Islam

    Balas
  • 9 Juli 2020 pada 11:22
    Permalink

    Rindu khilafah yg akan membuat pendidikan memiliki arah

    Balas
    • 9 Juli 2020 pada 13:10
      Permalink

      Allahu akbar.hanya dg menerapkan sistem pendidikan islam dibawah naungan Daulah Khilafah islamiyah ‘ ala manhaj nubuwwah lah yg akan mampu mencetak generasi cemerlang.

      Balas
    • 9 Juli 2020 pada 17:50
      Permalink

      Ruwet ruwet .. di sistem kapitalis smua serba ruwet dan mnyengsarakan manusia

      Balas
  • 9 Juli 2020 pada 11:06
    Permalink

    Semoga mampu istikomah bersama jamaah dakwah yang ikhlas dan bersungguh-sungguh memperjuangkan kembalinya sistem Islam dalam kehidupan.

    Balas
    • 11 Juli 2020 pada 15:06
      Permalink

      Pendidikan sekuler membuat kacau balau

      Balas
  • 9 Juli 2020 pada 11:05
    Permalink

    Pendidikan sekulerisme kapitalisme hanya membuat arah pendidikan materialis

    Balas
  • 9 Juli 2020 pada 09:51
    Permalink

    Semoga islam segera memimpin dunia

    Balas
  • 9 Juli 2020 pada 06:50
    Permalink

    Allahu Akbar. Makin rindu dengan Khilafah Ya Allah. Semoga kita semua Allah beri kesempatan untuk bisa merasakan bagaimana buah manis dari Sistem-Nya.

    Balas
  • 9 Juli 2020 pada 05:27
    Permalink

    Islam adalah sistem terbaik dan solusi tuntas semua permasalahan

    Balas
  • 9 Juli 2020 pada 05:13
    Permalink

    Arah pendidikan sekuler yg tak punya tujuan hidup yg hakiki dan pasti

    Balas
    • 9 Juli 2020 pada 14:52
      Permalink

      Kegagalan sistem kapitalisme dalam bidang pendidikan semakin nampak saatnya kita berganti ke sistem islam kaffah

      Balas
  • 8 Juli 2020 pada 23:12
    Permalink

    Hanya dengan sistem Islam manusia bisa kembali mulia. Manusia harus berjuang mewujudkannya.

    Balas
    • 9 Juli 2020 pada 20:38
      Permalink

      agar bisa bangkit kembali, sudah saatnya umat kembali ke pangkuan Islam. Lalu menerapkan seluruh aturannya yang memuliakan, termasuk sistem pendidikan Islam dalam naungan khilafah Islam.

      Balas
  • 8 Juli 2020 pada 22:06
    Permalink

    Kekisruhan ternyata bukan hanya terjadi di masa wabah ini saja. Sejak jauh sebelumnya, dunia pendidikan di negeri ini memang sudah nampak begitu bermasalah. Visi yang tak jelas, membuat pendidikan kian sesat arah.

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 21:43
    Permalink

    Sudah banyk rakyat sengsara akibat sistem kapitalis sekuler yg dimna pendidikan tdk jelas dengn kurikulum yg sering digonta ganti kesehatan bpjs naik listrik jg naik ini benar rakyat dipalak habis” maka saatnya kita membuka mata bahwa sistem islamlah yg dapat mesejahterahkn rakyat..diberipelayan bebas tanpa utang riba dll

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 21:34
    Permalink

    Sesat hanya bisa selesai diluruskan dengan Islam

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 21:34
    Permalink

    MasyaAllah.. Saatnya kembali kpd aturan Allah..

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 21:23
    Permalink

    Butuh sistem pendidikan islam

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 21:05
    Permalink

    Sudah saatnya ada revolusi dalam sistem pendidikan, yaitu menggantinya dengan sistem pendidikan Islam

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 20:53
    Permalink

    Cepatlah runtuh sistem kufur. Memang aistem islam adalah jawaban!

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 20:44
    Permalink

    Pendidikan hak setiap warga negara. Negara memiliki kewajiban untuk menyediakan sarana dan prasarana pendidikan bagi seluruh rakyat dengan adil dan merata dan cuma cuma. Negara wajib menerapkan sistem pendidikan Islam yang melindungi akal manusia dan meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 20:37
    Permalink

    Rindu khilafah… Semoga segera tegak kembali.. Aamiin

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 20:32
    Permalink

    Allohu Akbar, umat butuh Khilafah

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 20:07
    Permalink

    Arah pendidikan hari ini mengarah ke Barat yang terbukti cacat dan gagal mengatasi permasalahan pendidikan dinegeri sendiri

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 20:01
    Permalink

    Agar bisa bangkit kembali, sudah saatnya umat kembali ke pangkuan Islam. Lalu menerapkan seluruh aturannya yang memuliakan, termasuk sistem pendidikan Islam dalam naungan khilafah Islam. Caranya adalah dengan berjuang bersama jamaah dakwah yang ikhlas dan bersungguh-sungguh memperjuangkan kembalinya sistem Islam dalam kehidupan.

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 19:43
    Permalink

    Masya Allah…rindu kami akan tegaknya kembali khilafah Islam yg akan menjaga generasi penerus…

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 19:36
    Permalink

    Miris, pendidikan karut marut butuh solusi sistemik. Yakni penerapan sistem pendidikan Islam yg didukung penerapan sistem ekonomi, politik dll secara Kaffah

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 19:27
    Permalink

    Tidak ada yang bisa diharapkan dalam sistem sekuler.kecuali kesengsaraan dlm hal apapun.termasuk dalam hal pendidikan.Beda jauh dg sistem Islam yang memulyakan ummatnya.So, yuk kita berjuang betsama-sama agar penerapan Islam dalam kehidupan dapat terwujud.Aamin.

    Balas
    • 11 Juli 2020 pada 06:27
      Permalink

      Visi dan misi pendidikan pada saat ini sudah salah arah dan sengaja disalaharahkan

      Balas
  • 8 Juli 2020 pada 19:23
    Permalink

    Semoga sistem Islam segera terwujud kembali agr umat Islam kembali mulia. Allahu Akbar

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 19:02
    Permalink

    Masya Allah.. Makin rindu hidup dalam naungan Islam 😭

    Balas
    • 8 Juli 2020 pada 23:14
      Permalink

      Hanya dengan sistem Islam manusia bisa kembali mulia. Manusia harus berjuang mewujudkannya.

      Balas
    • 9 Juli 2020 pada 03:02
      Permalink

      Kapitalis adalah akar semua masalah, sehingga solusi yg tepat adalah ganti dengan Islam

      Balas
  • 8 Juli 2020 pada 18:58
    Permalink

    Sistem yg dipakai adalah sistem yang cacat yaitu kapitalisme buatan manusia sehingga segala kebijakanny pun akan cacat..

    Balas
    • 8 Juli 2020 pada 19:28
      Permalink

      Dari tulisan ini.. membuat sy bhkan ummat scra keseluruhan rindu akan kepemimpinan islam untuk mencetak generasi gemilang non hedonis, pragmatis, alay dll

      Balas
    • 8 Juli 2020 pada 22:14
      Permalink

      Tujuan sekuler kapitalis adalah memasukkan tsaqofahnya kepada seluruh kaum muslim, khususnya dunia pendidikan,karena ini akan menghilangkan tsaqofah islam dari benak kaum muslim khususnya generasi muda pembawa perubahan.

      Balas
  • 8 Juli 2020 pada 18:52
    Permalink

    Subhanallah..saatnya Islam diterapkan dalam kehidupan

    Balas
    • 9 Juli 2020 pada 07:00
      Permalink

      MasyaAllah
      Sungguh tak ada sistem yang Haq dan juga sempurna seperti islam

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *