Lupakan “New Normal”, Saatnya Khilafah Hadir Kembali (2/2)

Prinsip Islam dalam Penanggulangan Pandemi dan Pemutusan Rantai Penularan yang Efektif (Bagian Terakhir dari Dua Tulisan)

Oleh: Dr. Rini Syafri (Doktor Biomedik dan Pengamat Kebijakan Publik)

MuslimahNews.com, ANALISIS — Islam adalah diin yang sempurna, sehingga tidak satu pun persoalan kehidupan manusia kecuali ada penyelesaiannya di dalam Islam. Hal ini telah ditegaskan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang artinya, “Kami turunkan kepadamu al-Kitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu.” (TQS An-Nahl [16]:89).

Penting dicatat, penyelesaian Islam bukanlah asal, tetapi sesuai fakta persoalan, tuntas, manusiawi, dan pelestari kehidupan. Demikianlah ditegaskan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila Dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu,..” (TQS Al Anfaal [8]:24)

Termasuk di dalamnya bersifat memuliakan manusia, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menegaskan, yang artinya, “Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam.(TQS Bani Israiil [17]:70)

Terkait penyelesaian pandemi, di samping karakter tersebut, pada solusi Islam juga menyatu pandangan sahih bahwa kesehatan adalah kebutuhan pokok publik. Sebagaimana dituturkan lisan yang mulia Rasulullah ﷺ, artinya, “Siapa saja yang ketika memasuki pagi hari, sehat badannya, maka seolah-olah dunia telah menjadi miliknya.” (HR Bukhari)

Tidak hanya itu, ia juga bermuatan pandangan sahih bahwa keselamatan nyawa manusia lebih utama daripada nilai materi (ekonomi). “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingkan unuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (Terjemahan HR At Tirmidzi)

Penyelesaian Islam pun memberikan ruang seluas-luasnya bagi pemanfaatan sains dan teknologi terkini. Hal ini tampak dari pandangan Islam yang mendudukkan ilmu pengetahuan tak ubahnya air dalam kehidupan.

“Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah SWT mengutusku karenanya seperti air hujan yang menyirami bumi.(Terjemahan HR Imam Bukhari dari Abu Musa dari Rasulullah Saw.)

Semua itu meniscayakan dalam penyelesaian Islam terwujud dua tujuan pokok penanggulangan pandemi dalam waktu yang relatif singkat.

Pertama, menjamin terpeliharanya kehidupan normal di luar areal terjangkiti wabah; Kedua, memutus rantai penularan secara efektif, yakni secepatnya, sehingga setiap orang tercegah dari bahaya infeksi dan keadaan yang mengantarkan pada kematian.

Dua tujuan pokok tersebut tercermin pada lima prinsip Islam dalam memutuskan rantai penularan wabah.

Pertama, penguncian areal wabah (lockdown syar’i).[36]

Ditegaskan Rasulullah (Saw.), yang artinya, “Apabila kalian mendengarkan wabah di suatu tempat, maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu, maka janganlah keluar darinya.(HR Imam Muslim)

Artinya, tidak boleh seorang pun yang berada di areal terjangkit wabah keluar darinya. Juga tidak boleh seorang pun yang berada di luar areal wabah memasukinya.

Baca juga:  Cintailah Ajaran Islam Sepenuhnya!

Prinsip ini sangat efektif untuk pemutusan rantai penularan wabah. Sebab menutup rapat celah penularan baik sudah terinfeksi tetapi belum diketahui dengan baik karakteristik kuman dan manivestasi klinisnya, maupun dari yang terinfeksi tanpa gejala.

Prinsip ini dengan sendirinya tidak saja menjamin masyarakat di luar areal wabah tercegah dari kasus impor (imported case), namun juga mereka dapat beraktivitas seperti biasa.

Kedua, pengisolasian yang sakit.

Rasulullah (Saw.) menegaskan, yang artinya, “Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menular mendekati yang sehat.” (HR Imam Bukhari); “Hindarilah orang yang berpenyakit kusta seperti engkau menghindari singa.” (HR Abu Hurairah).

Dimplementasikan antara lain dengan testing massive yang cepat dengan hasil akurat kepada setiap orang yang berada di areal wabah. Sebab mereka semua berpotensi terinfeksi dan berisiko sebagai penular.

Selanjutnya, yang positif terinfeksi harus segera diisolasi dan diobati hingga benar-benar sembuh. Deteksi dan tracing contact dapat dilakukan untuk keberhasilan testing massive.

Ketiga, pengobatan segera hingga sembuh36 bagi setiap orang yang terinfeksi meski tanpa gejala (asymptomatic).

Hal ini karena setiap penyakit dapat disembuhkan, sebagaimana tutur lisan yang mulia Rasulullah ﷺ, yang artinya, “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan didiadakan-Nya bagi tiap-tiap penyakit obatnya, maka berobatlah kamu, tetapi janganlah berobat dengan yang haram.”

Di samping itu, kesehatan adalah kebutuhan pokok publik. Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa saja yang ketika memasuki pagi hari mendapati keadaan aman kelompoknya, sehat badannya, memiliki bahan makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah menjadi miliknya.(HR Bukhari).

Keempat, social distancing.

Yakni orang yang sehat di areal wabah hendaklah menghindari kerumunan. Hal ini sebagaimana masukan sahabat ‘Amru bin Ash (ra.), yang dibenarkan Khalifah Umar bin Khaththab (ra.).

Sebab wabah ibarat api. Kuman yang penularannya antarmanusia akan menjadikan kerumunan manusia sebagai sarana penularan, begitu juga sebaliknya.

Kelima, penguatan imunitas (daya tahan) tubuh.

Mereka yang sehat tetapi berada di areal wabah lebih berisiko terinfeksi. Kondisi kuman di areal wabah relatif tinggi, sementara ia dan kondisi imunitas adalah penentu terjadinya infeksi, di samping port de entry (portal keluar masuk kuman).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan, artinya, “Yang menetukan kadar (masing-masing) ciptaan-Nya.(TQS Al A’la [87]:3). Caranya adalah dengan menjaga pola hidup sehat sesuai syariat. Hal ini jelas membutuhkan jaminan langsung negara dalam pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat, bahkan masker yang sesuai standar kesehatan.

Pelaksanaan kelima prinsip ini secara bersamaan meniscayakan kehidupan di areal wabah berlangsung secara normal. Di saat yang bersamaan, pemutusan rantai penularan berjalan secara efektif dan secepat mungkin, sehingga setiap orang tercegah dari bahaya infeksi dan kondisi yang mengantarkan pada kematian.

Baca juga:  Kepolisian pada Zaman Khilafah Abasiyah

Pelaksanaan kelima prinsip ini akan menutup rapat semua ruang dan celah bagi terjadinya imported case, imported case local, juga penularan atau transmisi lokal.

Pelaksanaan lima prinsip tersebut niscaya dalam sistem kehidupan Islam karena didukung sepenuhnya oleh sistem kesehatan Islam. Sementara sistem kehidupan Islam sendiri adalah unsur pembentuk sistem kesehatan Islam, khususnya sistem ekonomi Islam dan sistem politik Islam.

Tujuh pilar sistem kesehatan Islam yang berperan penting dalam pelaksanaan lima prinsip sahih Islam dalam penanggulangan wabah.

Pertama, fungsi negara yang sehat, yakni, pengurus urusan kehidupan masyarakat.[37]

Ditegaskan Rasulullah ﷺ, yang artinya, “Imam/ Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya.(HR Muslim dan Ahmad).

Artinya negara adalah pihak yang bertanggung jawab langsung dan sepenuh terhadap pelaksanaan lima prinsip pemutusan rantai penularan wabah di atas.

Termasuk menjamin ketersediaan fasilitas kesehatan yang memadai secara kualitas dan kuantitas, dana yang mencukupi, laboratorium diagnostik, SDM kesehatan, lembaga riset, dan industri alat kedokteran serta farmasi. Tuntutan ini begitu selaras dengan potensi dan kapasitas yang dimiliki negara.

Kedua, model kekuasaan bersifat sentralisasi dan adminstrasi bersifat desentralisasi.37

Ditegaskan Rasulullah ﷺ, yang artinya, “Apabila dibaiat dua orang khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” (HR Muslim).

Model kekuasaan ini menjadikan negara memiliki wewenang dan kekuasaan yang memadai untuk menjalankan fungsi dan tanggung jawab pentingnya, dalam hal ini pelaksanaan lima prinsip Islam dalam penanggulangan wabah.

Ketiga, pembiayaan berbasis baitulmal dan bersifat mutlak.[38],[39]

Ini adalah kunci rahasia bagi terwujudnya kemampuan finansial negara secara memadai. Terutama untuk pelaksanaan berbagai fungsi penting dalam (penanganan) wabah, yang tentu saja membutuhkan biaya tidak sedikit.

Ini di satu sisi, di sisi lain, faktanya Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya dikaruniai Allah Subhanahu Wa Ta’ala barang tambang berlimpah, seperti batu bara, BBM, hingga emas. Yang berkedudukan sebagai harta milik umum dan salah satu sumber pembiayaan penanganan wabah berbasis baitulmal yang bersifat mutlak.

Keempat, pengadaan SDM (Sumber Daya Manusia) kesehatan berbasis sistem pendidikan Islam.[40]

Ia, khususnya tujuan dan kurikulum yang sahih serta steril dari unsur kapitalisasi, akan bekerja secara sistemis mengatasi persoalan SDM kesehatan hari ini. Di mana pendidikan tinggi adalah sandaran negara dalam pemenuhan tenaga terampil dan ahli bagi berjalannya fungsi negara, seperti dokter dan staf medis yang berkualitas dengan jumlah memadai. Olehnya, segera terwujud pelayanan kesehatan gratis berkualitas, utamanya yang terinfeksi wabah.

Kelima, fasilitas kesehatan dan unit-unit teknis lain yang dimiliki negara berfungsi sebagai perpanjangan fungsi negara.40

Artinya, harus dikelola di atas prinsip pelayanan dengan pembiayaan dan pengelolaan langsung dari negara. Tidak dibenarkan sebagai lembaga bisnis dan bersifat otonom.

Baca juga:  Editorial: Moderasi Kurikulum, Demi Siapa?

Konsep ini menemukan relevansinya dengan fungsi negara yang sehat. Setiap orang akan mudah mengakses pelayanan kesehatan gratis berkualitas kapan saja dan di mana saja di saat ia membutuhkan.

Keenam, riset pada segera terwujudnya politik dalam dan luar negeri negara Khilafah.40

Sinergi fungsi negara yang sehat dan konsep riset ini memungkinkan segera terwujudnya riset terkini untuk percepatan penanganan wabah. Seperti riset penentuan titik areal wabah, luas areal yang harus dikunci, dan lamanya penguncian.

Demikian juga riset tentang standar pengobatan, instrumen dan obat-obatan terbaik bagi kesembuhan dan keselamatan jiwa pasien.

Ketujuh, politik industri berbasis industri berat.40

Prinsip ini adalah jalan efektif bagi segera terpenuhinya berbagai teknologi terkini bagi penanganan wabah. Mulai dari alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis, hingga berbagai produk farmasi, alat kesehatan, dan obat-obatan.

Tidak saja sebagai konsep yang indah di atas kertas, namun niscaya terwujud dalam realitas, karena Islam memiliki metode pelaksanaan berbagai prinsip sahih tersebut, yakni, Negara Khilafah.

Kerja sistemis sistem kehidupan Islam seiring penerapannya secara kafah oleh Negara Khilafah meniscayakan berbagai persoalan yang juga bersifat sistemis akibat penerapan sistem kehidupan sekuler, akan segera berakhir. Rantai penularan akan terputus dengan sendirinya dan wabah segera dibasmi hingga tuntas.

Pada gilirannya, kehadiran pemimpin visioner dengan karakter yang kuat sebagai pelaksanaan syariat, di samping kesiapan umat untuk diatur dengan syariat Islam secara kafah, tidak saja mewujudkan kesejahteraan di bumi nusantara, akan tetapi ke seluruh penjuru dunia.

Dengan izin Allah, dalam waktu dekat Khilafah akan kembali hadir membawa dunia pada puncak kesejahteraan untuk kedua kalinya.

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan din yang benar agar dimenangkan-Nya atas semua din. Dan cukuplah Allah sebagai saksi …(TQS Al Fath[48]:28). Allahu A’lam. [MNews]


Bagian pertama berjudul: “Prinsip Islam dalam Penanggulangan Pandemi dan Pemutusan Rantai Penularan yang Efektif”

Pranala referensi:

[36] Akbar, A. Etika Kedokteran Dalam Islam. Bab IV. Tugas Dokter Muslim. Pustaka Antara Jakarta. 1988. Ha 94.

[37] Hizbut Tahrir. Mukadimah Dustuur. Al Asbaab Almaujibatu Lahu. Al Qismul Awwal. Darul Ummah. Beirut. 2009. Hal 160.

[38] Zalum, A.Q. Al Amwaal fi dawlatilkhilafah. Hizbut Tahrir. Darul Ummah.Beirut. 2004. Hal 15.

[39] An Nabhani, T. An Nidzomul Iqtishody fil Islam. Darul Ummah. Beirut. 2005. Hal 236,245

[40]Hizbut Tahrir. Muqaddimah Ad Dustuur aw Al Asbaab almaujibati lahu. Al Qismu Ast Staani. Beirut.

Bagaimana menurut Anda?

28 tanggapan untuk “Lupakan “New Normal”, Saatnya Khilafah Hadir Kembali (2/2)

  • 11 Juli 2020 pada 20:56
    Permalink

    Astagfirullah, padahal keselamatan manusia jauh lebih penting daripada materi

    Balas
  • 11 Juli 2020 pada 16:06
    Permalink

    Islam is kongkret lengkap

    Balas
  • 10 Juli 2020 pada 10:34
    Permalink

    Saat nya kembali ke sistem yang sempurna yaitu kembalinya KHILAFAH ‘ALA MINHAJIN NUBUWWAH
    #ReturnTheKhilafah

    Balas
  • 10 Juli 2020 pada 10:22
    Permalink

    New Normal adalah tinggalkan kapitalisme dan kembali kepada Islam Kaffah

    Balas
    • 11 Juli 2020 pada 16:03
      Permalink

      Islam is kongkret lengkap

      Balas
  • 9 Juli 2020 pada 04:51
    Permalink

    MasyaAllah islam dien sempurna dan rahmat

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 20:59
    Permalink

    Dengan izin Allah Khilafah akan tegak. Allahu Akbar💪☺

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 20:18
    Permalink

    Aturan Islam berasal dr Allah SWT yg terbaik buat umat manusia yg mampu menyelesaikan berbagai problem kehidupan. Masihkah mau berpaling dr aturan Allah SWT? tentu tdk

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 19:34
    Permalink

    Semoga setelah pandemi,khilafah bangkit. Aamiin paling serius

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 15:31
    Permalink

    MasyaAlloh.. begitu terjaganya jiwa, raga, dan harga masyarakat ketika di atur oleh islam kaffah dibawah naungan khilafah

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 11:57
    Permalink

    Maa Syaa Allah islam sangatlah paripunra. Sistem yg datang daripada Allah lah yg mampu membawa pada keselamatan

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 08:39
    Permalink

    Masyaa Allooh..betapa lengkap aturan Allooh. Mari kita tegakkn hykum2 Allooh dlm bingkai Khikafah..

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 08:12
    Permalink

    Semoga khilafah tegak kembali sesuai janji allah…

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 05:10
    Permalink

    Kondisi new normal ini, membuatvpara penguasa kebingungan mengambil suatu keputusan. Semuanya akan mudah apabila dikembalikan kepada sang penciptaan aturan ini

    Balas
  • 7 Juli 2020 pada 22:07
    Permalink

    Khilafah ditunggu

    Balas
  • 7 Juli 2020 pada 21:13
    Permalink

    Dengan izin Allah, dalam waktu dekat Khilafah akan kembali hadir membawa dunia pada puncak kesejahteraan untuk kedua kalinya.
    Aamiin3x ya Mujibassaailiin…..

    Balas
  • 7 Juli 2020 pada 21:03
    Permalink

    MasyaAllah…. Sudah dicontohkan didalam sistem khilafah cara menangani wabah penyakit tetapi malah membuat solusi yg tidak memperhatikan kesehatan rakyatnya.

    Balas
  • 7 Juli 2020 pada 20:49
    Permalink

    Semakin rindu Khilafah

    Balas
  • 7 Juli 2020 pada 20:49
    Permalink

    Saatnya New Sistem, Khilafah ‘ala minhaajinnububuwwah. Allahu Akbar!

    Balas
  • 7 Juli 2020 pada 20:39
    Permalink

    Kapitalisme diambang kehancuran.. Khilafah solusi tuntas atasi pandemi.

    Balas
  • 7 Juli 2020 pada 20:10
    Permalink

    Dengan izin Allah, dalam waktu dekat Khilafah akan kembali hadir membawa dunia pada puncak kesejahteraan untuk kedua kalinya.

    Balas
  • 7 Juli 2020 pada 19:57
    Permalink

    Maa Syaa Allah,,,
    Begitu indahnya penanggulangan dan pemutusan rantai penularan wabah di dalam Sistem Islam,.
    Di Sistem Islam menjamin dan menjaga kesehatan rakyatnya,.

    Saatnya kita menyambut tegaknya Khilafah.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *