LGBT Buah Liberalisme, Hanya Tuntas dengan Islam dan Syariatnya

Oleh: Wiwing Noeraini

MuslimahNews.com, FOKUS – Seolah tak pernah habis berita tentang LGBT dengan semua problemnya. Dan yang teranyar adalah riuhnya kecaman di dunia maya terhadap Unilever karena dukungannya kepada gerakan ini.

Tak sedikit seruan untuk memboikot produk Unilever, di antaranya disampaikan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ketua Komisi Ekonomi MUI, Azrul Tanjung menyatakan akan memboikot Unilever, dan mengajak masyarakat untuk beralih pada produk lain, Republika, Ahad (28/6/2020).

Mampukah boikot menghentikan gerakan LGBT ini?

Mungkin boikot akan membuat Unilever berpikir sejenak untuk menarik dukungannya. Tapi sama sekali tak membuat gerakan ini berhenti. Selain Unilever, masih banyak sekali pendukung gerakan ini.

Di dunia internasional yang mengadopsi liberalisme hingga mendewakan kebebasan dalam konsep hak asasi manusia, LGBT memang mendapat dukungan kuat. Termasuk di Indonesia.

Dan pemerintah Indonesia, tak mampu mengatasi semua dampak buruk perilaku ini. Tak mampu mengerem, apalagi menghentikan korban-korban berjatuhan. Bahkan LGBT telah berkembang menjadi gaya hidup.

Pesta gay sering digerebek, namun para pelakunya dilepas kembali karena tak ada pasal pidana yang bisa menjerat mereka. Upaya menjerat mereka dengan hukum legal kandas di tangan MK yang menolak pemidanaan pelaku LGBT.

Meluruskan Pandangan tentang LGBT

Menurut kaum liberal, menjadi lesbian, gay, biseks maupun transgender adalah sebuah pilihan sebagai bagian dari hak asasi. Kalau pun kemudian muncul masalah, maka itu dianggap karena kurangnya pengaturan baik dari masyarakat maupun negara, bukan karena salahnya pilihan mereka.

Ini jelas pandangan yang salah. LGBT bukan pilihan bagi orang normal, tapi pilihan bagi orang abnormal. LGBT adalah sebuah penyimpangan dari fitrah manusia.

Di dalam Kitab an Nizham al Ijtima’iy, Syekh Taqiyuddin An Nabhani memberikan penjelasan bahwa Allah SWT memberikan kepada manusia berbagai naluri (gharaa’iz) yang di antaranya adalah naluri melestarikan keturunan (gharizah nau’).

Naluri ini bisa dipuaskan oleh manusia dengan berbagai macam cara. Bisa juga dengan hubungan sesama jenis (homoseksual atau lesbian) atau bahkan bisa dipuaskan dengan binatang atau sarana lainnya.

Tetapi, dari berbagai cara dan sarana tersebut, tidak mungkin mewujudkan tujuan diciptakannya naluri tersebut oleh Allah SWT kecuali dalam satu kondisi, yaitu pemuasan naluri tersebut oleh seorang laki-laki dengan seorang perempuan atau sebaliknya.

Dan tentu saja itu dalam ikatan pernikahan syar’i, bukan zina. Dengan itulah bisa tercapai tujuan penciptaan laki laki dan perempuan yaitu demi untuk kelangsungan jenis manusia dengan segenap martabatnya sebagaimana firman Allah SWT:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS an Nisa [4] : 1).

Cara pemuasan gharizah nau’ yang dibebaskan tanpa bimbingan dan petunjuk wahyu, sangatlah berbahaya. Kerusakan generasi, terputusnya keturunan, penyebaran penyakit menular, dan berbagai keburukan menjadi dampaknya.

Oleh karena itu, perilaku LGBT adalah haram dalam pandangan Islam. Pelakunya dilaknat dan layak mendapat sanksi sesuai syariat Islam. Rasul SAW bersabda, “Dilaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth (homoseksual).” (HR at-Tirmidzi dan Ahmad dari Ibnu Abbas).

Alquran juga menyebutkan perilaku homoseksual yang dipresentasikan kaum nabi Luth ‘alaihissalam di beberapa ayat. Allah SWT berfirman,

إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِ ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ

Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini kaum yang melampaui batas. (QS Al A’raaf ayat 81).

Pakar ilmu tafsir, Al-Baghawi rahimahullah, menjelaskan makna “musyrifiin (melampui batas) dalam ayat ini,

مجاوزون الحلال إلى الحرام

Melampui batasan yang halal (beralih) kepada perkara yang haram. (Tafsir Al-Baghawi)

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah berkata,

متجاوزون لما حده اللّه متجرئون على محارمه

Melampui batasan yang telah Allah tetapkan lagi berani melanggar larangan-Nya yang haram dikerjakan.” (Tafsir As-Sa’di)

Allah Ta’ala berfirman,

{وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ}

Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kriminal itu. [Al-A’raaf: 80].

Dalam ayat di atas, Allah SWT sebut kaum Nabi Luth ‘alaihis salam yang melakukan perbuatan sodomi tersebut dengan sebutan “para pelaku kriminal”!

Dengan demikian, mereka ini sesungguhnya layak untuk disebut “penjahat seksual”, karena telah melakukan kejahatan (kriminal) dalam menyalurkan hasrat seksual mereka ditempat yang terlarang

Bisakah LGBT ini dicegah dan diberantas?

Sangat bisa. Hanya saja mustahil berharap pelaku bisa sadar sendiri sehingga meninggalkan perilaku menyimpang ini. Dan tidak mungkin berharap penyadaran berlangsung secara massal jika hanya dilakukan oleh para ustaz dan dai.

Tak mungkin juga membebankan hanya kepada para orang tua untuk membentengi anak-anak mereka dari perilaku ini sementara pelaku dan pemicunyanya bebas berseliweran di sekeliling mereka.

Problem LGBT adalah problem sistemis, menyangkut banyak faktor yang saling terkait satu sama lain, butuh solusi sistemis. Di sinilah, peran negara menjadi sangat penting. Negara harus mengganti sistem ideologi Kapitalisme yang diadopsinya saat ini.

Sebab, LGBT adalah buah liberalisme yang dihasilkan oleh ideologi Kapitalisme. Selama ideologi Kapitalisme masih dipakai dalam sistem kehidupan bermasyarakat maupun bernegara, mustahil problem LGBT ini bisa selesai dan tak muncul kembali.

Sebagai gantinya, Negara seharusnya mengadopsi sistem ideologi Islam yang akan menerapkan syariat Islam secara sempurna, syariat yang berasal dari Allah SWT, Sang Pencipta manusia. Selanjutnya Negara akan melakukan beberapa langkah sebagai berikut :

Pertama, Negara menanamkan iman dan takwa kepada seluruh anggota masyarakat agar menjauhi semua perilaku menyimpang dan maksiat. Negara juga menanamkan dan memahamkan nilai-nilai norma, moral, budaya, pemikiran dan sistem Islam dengan melalui semua sistem, terutama sistem pendidikan baik formal maupun non formal dengan beragam institusi, saluran dan sarana.

Dengan begitu, rakyat akan memiliki kendali internal yang menghalanginya dari perilaku LGBT. Rakyat bisa menyaring informasi, pemikiran dan budaya yang merusak. Rakyat tidak didominasi oleh sikap hedonis serta mengutamakan kepuasan hawa nafsu.

Kedua, Negara akan menyetop penyebaran segala bentuk pornografi dan pornoaksi baik yang dilakukan sesama jenis maupun berbeda jenis. Negara akan menyensor semua media yang mengajarkan dan menyebarkan pemikiran dan budaya rusak semisal LGBT.

Masyarakat akan diajarkan bagaimana menyalurkan gharizah nau’ dengan benar, yaitu dengan pernikahan syar’i. Negara pun akan memudahkan dan memfasilitasi siapapun yang ingin menikah dengan pernikahan syar’i.

Ketiga, Negara akan menerapkan sistem ekonomi Islam yang menjamin keadilan dan kesejahteraan ekonomi rakyat, sehingga tak akan ada pelaku LGBT yang menjadikan alasan ekonomi (karena miskin, lapar, kekurangan dll) untuk melegalkan perilaku menyimpangnya.

Keempat, Jika masih ada yang melakukan, maka sistem ‘uqubat (sanksi) Islam akan menjadi benteng yang bisa melindungi masyarakat dari semua itu. Hal itu untuk memberikan efek jera bagi pelaku kriminal dan mencegah orang lain melakukan kejahatan serupa.

Di dalam Kitabnya Fiqh Sunnah jilid 9, Sayyid Sabiq menyatakan bahwa para Ulama fiqh telah sepakat atas keharaman homoseksual dan penghukuman terhadap pelakunya dengan hukuman berat. Hanya para ulama berbeda pendapat dalam menentukan ukuran hukuman yang ditetapkan. Dalam hal ini dijumpai tiga pendapat. 1. Pelakunya harus dibunuh secara mutlak. 2. Pelaku dikenai had zina. 3. Pelaku diberikan sanksi berat lainnya.

Pendapat yang pertama, berdasarkan pada pendapat para shahabat Rasulullah Saw, Nashir, Qashim bin Ibrahim dan Imam Syafi’i (dalam satu pendapat). Pelaku harus dibunuh berdasarkan hadist yang diriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata, Rasulullah Saw bersabda“Barang siapa yang mengetahui ada yang melakukan perbuatan liwath (sebagaimana yang dilakukan kaum Luth), maka bunuhlah ke dua pasangan liwath tersebut”(HR Al Khamsah kecual Nasa’i). Liwath atau sodomi, yaitu senggama melalui dubur atau anus.

Para shahabat Rasulullah Saw berbeda pendapat tentang cara membunuh pelakunya. Menurut Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma, pelakunya harus dibunuh dengan pedang. Setelah itu dibakar dengan api, mengingat besarnya dosa yang dilakukan. S

edangkan Umar bin Khaththab dan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhuma berpendapat bahwa pelakunya dijatuhi benda benda keras sampai mati. Ibnu Abbas berpendapat bahwa pelakunya dijatuhkan dari atas bangunan paling tinggi.

Al Baghawi menceritakan dari Zuhri, Malik, Ahmad dan Ishak, mengatakan pelakunya harus dirajam. Hukum serupa juga diceritakan oleh Tirmidzi dari Malik, Syafi’i, Ahmad dan Ishak (Sayyid Sabiq, Fqih Sunnah jilid 9).

Sedangkan pendapat ke dua, menurut Sa’id bin Musayyab, Atha’ bin Abi Rabah, Hasan, Qatadah, Nakha’i, Tsauri, Auza’i, Abu Thalib, Imam Yahya dan Imam Syafi’i (dalam satu pendapat) mengatakan bahwa pelakunya dikenai had sebagaimana had zina. Jika pelakunya masih perjaka maka dikenai had dera dan dibuang. Sedangkan jika pelakunya sudah menikah maka dijatuhi hukum rajam.

Dan terakhir, pendapat ke tiga, pelakunya mendapat sanksi berat, tapi tdk seperti zina karena perbuatan tersebut bukanlah hakekat zina. Disampaikan oleh Abu Hanifah, Muayyad, Billah, Murtadha dan Imam Syafi’i (dalam satu pendapat) (Sayyid sabiq, Fiqh Sunnah jilid 9)

Dengan hukuman (sanksi) yang demikian berat kepada para pelaku liwath, maka akan membuat siapapun berpikir berkali kali untuk melakukan hal tersebut.

Di samping Negara yang berperan besar dalam pemberantasan LGBT, Islam juga menetapkan tugas kepada kaum muslimin secara umum untuk menjalankan syariat Islam di keluarganya masing-masing.

Para orang tua harus terus berusaha membentengi anak anak mereka dari perilaku LGBT dengan penanaman akidah dan pembelajaran syariat Islam di keluarga.

Islam juga memerintahkan kepda masyarakat untuk berkontribusi dalam pemberantasan LGBT ini dengan cara ikut terlibat secara aktif dalam dakwah, melakukan amar makruf nahi mungkar ke masyarakat yang ada di sekitarnya agar taat kepada perintah juga larangan Allah dan Rasul-Nya.

etika ada kemunkaran (pelanggaran hukum syariat) oleh para pelaku LGBT ini, maka semua anggota masyarakat harus berusaha mencegah, mengingatkan, menegurnya bahkan ikut memberi sanksi sosial , tidak mendiamkannya.

Negara yang sanggup melakukan semua tugas dan tanggung jawab tersebut tak lain adalah Negara Khilafah. LGBT akan bisa dicegah dan dihentikan hanya oleh Khilafah. Di dalam naungan Khilafah, umat akan dibangun ketakwaannya, diawasi perilakunya oleh masyarakat agar tetap terjaga, dan dijatuhi sanksi bagi mereka yang melanggarnya sesuai syariah Islam. Maka, Islam akan mewujud sebagaimana yang telah Allah tetapkan yaitu sebagai rahmatan lil ‘alamin. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

50 tanggapan untuk “LGBT Buah Liberalisme, Hanya Tuntas dengan Islam dan Syariatnya

  • 11 Juli 2020 pada 20:58
    Permalink

    Astagfirullah, jelas2 perilaku tersebut adalah perilaku nenympang dan dianggap perbuatan keji oleh Islam dan itu merupakan penyakit bukan takdir dan bisa diobati….

    Balas
  • 10 Juli 2020 pada 20:05
    Permalink

    Mustahil masalah lgbt ini tuntas jika islam tidak diterapkan dengan sempurna.

    Balas
  • 10 Juli 2020 pada 10:13
    Permalink

    Penerapan Islam Kaffah Solusi tuntas semua permasalahan

    Balas
  • 9 Juli 2020 pada 20:09
    Permalink

    LGBT akan bisa dicegah dan dihentikan hanya oleh Khilafah.

    Balas
  • 9 Juli 2020 pada 11:21
    Permalink

    Rindu khilafah yang tetakhir yg akan membuat sistemnliberal kapitalis ini berakhir

    Balas
  • 9 Juli 2020 pada 10:15
    Permalink

    Astaghfirullah bebas yg kebablasan yg d usung sekuler kapitalisme, masalah semakin komplit.
    RINDU KHILAFAH

    Balas
    • 11 Juli 2020 pada 15:16
      Permalink

      Harus diberi sanksi

      Balas
  • 8 Juli 2020 pada 23:58
    Permalink

    KHILAFAH solusi Negara.

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 20:12
    Permalink

    Tidak diterapkannya islam sebagai sistem hidup bernegara secara langsung memaksa manusia hidup dalam abnormalitas

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 19:17
    Permalink

    Negara yang sanggup melakukan semua tugas dan tanggung jawab tersebut tak lain adalah Negara Khilafah. LGBT akan bisa dicegah dan dihentikan hanya oleh Khilafah. Di dalam naungan Khilafah, umat akan dibangun ketakwaannya, diawasi perilakunya oleh masyarakat agar tetap terjaga, dan dijatuhi sanksi bagi mereka yang melanggarnya sesuai syariah Islam. Maka, Islam akan mewujud sebagaimana yang telah Allah tetapkan yaitu sebagai rahmatan lil ‘alamin.

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 18:56
    Permalink

    Hindari laknat Allah dengan menerapkan Islam Kaffah ✨

    Balas
    • 8 Juli 2020 pada 20:01
      Permalink

      Berantas LGBT tak ckp boikot, hanya sistem Islam dlm naungan khilafah yg dpt menghentikan prilaku menyimpang tsb

      Balas
      • 11 Juli 2020 pada 22:18
        Permalink

        Ya Allah semoga Khilafah segera tegak mengatasi perilaku menyimpang dan melampaui batas tersebut

        Balas
    • 9 Juli 2020 pada 10:06
      Permalink

      LGBT adalah komunitas yg tidak bisa dibiarkan terlalu lama. Dan lgbt akan terus subur di sistem kapitalis hanya islam yg mampu menyelesaikan masalah ini

      Balas
  • 8 Juli 2020 pada 10:45
    Permalink

    LGBT adakah penyakit yg sdh lama menjamirmbahkan samapi sekrg pun.. makin banyak, dan makin parahnya lg mereka di lindungi. Nauzubillah.. g takut sm Azab allah, Innalillah
    Segerahlah sistem di ganti, bact to Islam

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 10:24
    Permalink

    Untuk menuntaskan akar permasalahan lgbt kembali lg ke islam

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 09:21
    Permalink

    Hanya syariah kaaffah yg bs menuntaskan LGBT

    Balas
    • 8 Juli 2020 pada 23:59
      Permalink

      Islam sebagai jawabir dan jawazir (penebus dan pencegah)

      Balas
  • 8 Juli 2020 pada 08:52
    Permalink

    LGBT lahir di siatem kapitalisme..utk menghentikannya dg cara ganti sistem yaitu sistem khilafah

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 07:14
    Permalink

    Hanya Islam yang mampu mengentaskan semua problem sampai ke akar2nya karena dia berasal dari Sang Maha Pencipta Segalanya.

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 06:27
    Permalink

    Islam memerintahkan kepda masyarakat untuk berkontribusi dalam pemberantasan LGBT ini dengan cara ikut terlibat secara aktif dalam dakwah, melakukan amar makruf nahi mungkar ke masyarakat yang ada di sekitarnya agar taat kepada perintah juga larangan Allah dan Rasul-Nya.
    Ketika ada kemunkaran (pelanggaran hukum syariat) oleh para pelaku LGBT ini, maka semua anggota masyarakat harus berusaha mencegah, mengingatkan, menegurnya bahkan ikut memberi sanksi sosial , tidak mendiamkannya.

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 05:06
    Permalink

    Ya Allah. Hancurkanlah para LGBT laknat itu…

    Balas
  • 7 Juli 2020 pada 21:49
    Permalink

    Lgbt itu merusak

    Balas
  • 7 Juli 2020 pada 21:47
    Permalink

    Lgbt ini memang tersistem

    Balas
  • 7 Juli 2020 pada 21:40
    Permalink

    Hany islm yng mmpu menanganinya.

    Balas
  • 7 Juli 2020 pada 21:09
    Permalink

    Musuh terbesar adalah hawa nafsu..
    Kalahkan nafsu, kuatkan iman.

    Balas
  • 7 Juli 2020 pada 21:08
    Permalink

    Negara yang sanggup melakukan semua tugas dan tanggung jawab tersebut tak lain adalah Negara Khilafah.
    KHILAFAH adalah sistem yg paling sempurna dan paripurna.

    Balas
  • 7 Juli 2020 pada 20:55
    Permalink

    Solusi tuntas dari masalah LGBT adalah dengan sistem islam kaffah…selama dalam sistem kapitalisme maka LGBT dipelihara dan itu adalah agenda Barat untuk menusak generasi

    Balas
  • 7 Juli 2020 pada 20:50
    Permalink

    Maka hanya dengan menegakkan khilaf4h masalah eljibiti ini bisa selesai dengan tuntas.

    Balas
  • 7 Juli 2020 pada 20:47
    Permalink

    Butuh Islam politik sebagai solusi utk menuntaskan kaus LGBT

    Balas
    • 9 Juli 2020 pada 06:09
      Permalink

      LGBT…buah dari penerapa. Ideologi kapitalisme…

      Balas
  • 7 Juli 2020 pada 20:46
    Permalink

    LGBT merupakan masalah sistemik yang tidak mampu dituntaskan oleh individu-individu saja namun juga sistem yang mengatur kehidupan manusia. Sistem Islam

    Balas
  • 7 Juli 2020 pada 20:45
    Permalink

    LBGT buah liberalisme, LGBT akan bisa dicegah dan dihentikan hanya oleh Khilafah. Di dalam naungan Khilafah, umat akan dibangun ketakwaannya, diawasi perilakunya oleh masyarakat agar tetap terjaga, dan dijatuhi sanksi bagi mereka yang melanggarnya sesuai syariah Islam.

    Balas
  • 7 Juli 2020 pada 20:35
    Permalink

    Iya sepakat dengan tulisan ini, LGBT kt harus melihatnya sbg problem sistemik. Lgbt kt fokusi pd akar mslhnya.. krn yg mmbuat lgbt eksis it past karena ad dukungan sistemik bukan hnya pd produk2 sponsor semisal unilever tp besar dr it yakni adanya dukungan dr ideologi kapitalisme sekuler.

    Balas
  • 7 Juli 2020 pada 20:09
    Permalink

    Hanya Islam yg mampu memberi solusi yang tuntas buat manusia dan pastinya yg terbaik…

    Balas
  • 7 Juli 2020 pada 20:06
    Permalink

    Hanya Islam yg mampu memberi solusi yang tuntas buat manusia

    Balas
  • 7 Juli 2020 pada 20:05
    Permalink

    LGBT lagi gembor gembornya dakwah, dan ingin menyebarkan pahamnya. Dan kita pun jangan mau kalah dalam menyiarkan islam. Dan juga kita sudah punya pegangan yaitu janji Allah pasti terealisasikan^_^
    Insyaa Allah secepatnya
    #UdahKhilafahAja

    Balas
  • 7 Juli 2020 pada 19:20
    Permalink

    Kan waktu zaman nabi Luth as. Udah jelas kaumnya itu di azab oleh Allah swt. Karena LGBT. Emangnya sejarahnya belum cukup buat di jadiin pembelajaran? Kok masih ngelakuin hal yg sama? Enggak takut emang kalau sewaktu-waktu Allah mengasah kita juga karena kasus yang sama?.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *