Waspadai Meningkatnya Perceraian di Tengah Pandemi

Oleh: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, FOKUS – Pernikahan dan perwujudannya merupakan hasrat alami manusia yang terkait erat dengan naluri untuk melestarikan keturunan. Pada dasarnya pernikahan atau kehidupan pernikahan adalah memberi ketenangan, sehingga terjadi persahabatan yang penuh kebahagiaan dan ketegangan antara pasangan suami dan istri.

Karena Allah telah menjadikan pernikahan sebagai tempat ketenangan bagi pasangan suami istri, sebagaimana firman-Nya dalam QS Ar-Rum: 21 yang artinya:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kau cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikannya di antaramu kecintaan dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

Rumah tangga yang ideal, mawaddah wa rahmah, penuh dengan ketenangan dan kasih sayang di antara anggota keluarga merupakan dambaan setiap insan. Walaupun demikian pada faktanya kadang kala keinginan ini sulit terwujud. Bahkan yang terjadi adalah rumah tangga yang berantakan, penuh dengan kebencian.

Seorang istri merasa sangat diatur suaminya, sebaliknya di sisi lain, sang suami merasa tidak dihargai istrinya. Jika keadaan seperti ini, sulit diharapkan terwujudnya kehidupan rumah tangga yang harmonis.

Fakta Perceraian di Masyarakat

Memang, perceraian bukan merupakan hal yang dilarang dalam Islam, sekalipun ia merupakan aktivitas yang dibenci oleh Allah SWT. Sabda Nabi (Saw.): “Allah tidak menjadi sesuatu yang halal, yang lebih dibenci oleh-Nya dari talak.” Dan lagi: “Perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah ialah talak.” (Riwayat Abu Dawud).

Pada masa Rasulullah pun ada seorang perempuan yang minta cerai dari suaminya dan diizinkan oleh Rasulullah.

“Istri Tsabit bin Qais bin Syammas mendatangi Nabi (Saw.) seraya berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak membenci Tsabit dalam agama dan akhlaknya. Aku hanya takut kufur.”

Maka Rasulullah (Saw.) bersabda, “Maukah kamu mengembalikan kepadanya kebunnya?” Ia menjawab, “Ya.” Maka ia mengembalikan kepadanya dan Rasulullah (Saw.) memerintahkannya dan Tsabit pun menceraikannya. (HR Al-Bukhari).

Dari nas-nas ini jelas sebenarnya bahwa perceraian bukanlah hal yang terlarang, karena memang secara fakta pun biduk rumah tangga tidak selalu tenang dan harmonis.

Kadang-kadang ada riak-riak kecil yang mengganggu biduk rumah tangga yang kadang-kadang riak-riak itu semakin membesar bahkan menjadi gelombang yang akhirnya menghancurkan biduk tersebut. Terjadilah perceraian.

Hanya saja jika kasus perceraian yang terjadi hingga 10% dari jumlah pernikahan sebagaimana yang terjadi di Indonesia saat ini, tentu saja tidak bisa dikatakan “wajar” atau biasa. Tetapi luar biasa bahkan bisa dikatakan fantastis.

Pernikahan seolah tidak lagi dianggap sesuatu yang bernilai ibadah. Angka perceraian di Indonesia memang terbilang sangat tinggi, dari tahun ke tahun semakin meningkat. Apalagi di situasi pandemi ini, di beberapa daerah di Indonesia kasus perceraian semakin meningkat.

CNN Indonesia mengungkap bahwa Pengadilan Agama Kota Semarang mencatat kenaikan drastis kasus perceraian selama masa pandemi. Kenaikan kasus hingga tiga kali lipat itu disinyalir disebabkan masalah ekonomi dalam rumah tangga.

Baca juga:  [Tanya-Jawab] Bolehkah Ayah Memaksa Putrinya Menikah dengan Pria yang Tidak Dia Sukai?

Pada Mei, ada 98 kasus sampai Juni pertengahan ada 291 perkara, sedangkan Pengadilan Agama Cianjur mencatat, ada 788 perkara, sepanjang Juni, sementara Mei ada 99 perkara, secara akumulatif periode Januari-Juni 2020 mencapai 2.049 perkara. (Wartakotalive.com).Faktor Penyebab Terjadinya Perceraian

Pejabat Pengadilan Agama menyatakan bahwa faktor ekonomi keluarga dan faktor moralitas atau akhlak cukup tinggi menjadi penyebab gugatan cerai. Suami yang berselingkuh atau sebaliknya, dan beberapa kasus berujung pada terjadinya kekerasan dalam rumah tangga.

Perkara yang dilatarbelakangi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) tetap ada, namun persentase jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding gugatan cerai karena faktor ekonomi, pertengkaran, hingga perselingkuhan. Dari jumlah kasus perceraian yang terjadi, perkara cerai gugat cukup tinggi dibandingkan cerai talak. (Wartakotalive.com).

Pergeseran tren perceraian beberapa tahun belakangan yang dominan diajukan pihak istri (cerai gugat) menimbulkan tanda tanya besar dan merupakan hal yang harus menjadi perhatian kita pula, di samping tingginya tingkat perceraian di Indonesia.

Mengapa dan ada apa? Karena selama ini, kaum perempuan malah tidak mau diceraikan, walau ia sudah babak belur akibat dari perlakuan suami yang melakukan KDRT. Ketakutan perempuan lebih disebabkan oleh ketidaksiapan secara ekonomi, sosial, dan psikologis.

Lazimnya perempuan merasa malu menyandang status janda, apalagi jika sudah memiliki anak. Belum lagi beratnya konsekuensi menjadi orang tua tunggal, karena umumnya anak-anak lebih dekat kepada ibunya. Maka bila perempuan malah lebih banyak menuntut cerai, pasti ada penyebabnya.

Melihat angka kasus perceraian yang terus meningkat, Pengadilan Agama telah berusaha melakukan serangkaian proses mediasi bagi pasangan suami istri, namun upaya itu tidak membuahkan hasil.

Beberapa pihak menilai bahwa permasalahan ini muncul karena pandemi, sehingga menyebabkan munculnya tekanan kepada para ibu. Anak-anak sekolah di rumah, suami bekerja dari rumah, bahkan ada suami yang akhirnya di-PHK sehingga mengharuskan para ibu berpikir keras mengelola keuangan, hingga ada kaum ibu yang terpaksa bekerja.

Jika kita telusuri dengan cermat, maka faktor penyebab utama tingginya angka perceraian dan sebagian besarnya karena gugat cerai adalah karena tidak diterapkannya Islam kaffah di seluruh aspek kehidupan, termasuk kehidupan berumah tangga dan berkeluarga.

Siapa pun –orang yang akan berumah tangga– ketika ditanya apa tujuan mereka menikah, maka jawabannya adalah terwujudnya rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Sayangnya, konsep berumah tangga dan berkeluarga yang Islami ini, tidak sepenuhnya dipahami dan diinternalisasikan oleh pasutri.

Lemahnya pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam kaffah, menjadikan ajaran Islam hanya dipahami sebatas ritual saja, hingga tak mampu berpengaruh dalam perilaku keseharian, baik dalam konteks individu, keluarga, masyarakat, maupun negara.

Dengan minimnya pemahaman Islam kaffah, ketika diuji kesulitan –termasuk pada situasi pandemi ini– tak sedikit individu muslim yang mengalami disorientasi hidup, hingga mereka mudah menyerah pada keadaan, bahkan terjerumus dalam kemaksiatan.

Baca juga:  Hakikat Kehidupan Suami-Istri

Dalam konteks keluarga, tak sedikit yang mengalami disharmoni bahkan disfungsi akut akibat himpitan ekonomi dan krisis, termasuk pandemi saat ini, hingga keluarga tak bisa lagi diharapkan menjadi benteng perlindungan dan tempat kembali yang paling diidamkan.

Adapun masyarakat, kian kehilangan fungsi kontrol akibat individualisme yang mengikis budaya amar makruf nahi mungkar.

Sementara negara, tak mampu menjadi pengurus dan penjaga umat akibat sibuk berkhidmat pada asing dan pengusaha, bahkan sibuk berdagang dengan rakyatnya.

Bagaimana Islam Memandang tentang Perceraian?

Tidak dapat dipungkiri jika akhirnya badai pernikahan menerpa sedemikian hebatnya sehingga masing-masing pihak tidak bisa mempertahankan rumah tangga mereka lebih lama lagi dan perpisahan menjadi kehendak Allah yang harus di jalan.

Maka sesungguhnya Islam pun telah mengaturnya dengan rinci. Syekh Taqiyyuddin An-Nabhani, dalam kitabnya An-Nizhamul Ijtima’iy menegaskan bahwa Islam telah menjadikan cerai di tangan suami.

Banyak nas-nas yang menjelaskan masalah perceraian (talak) ini, termasuk tata caranya, antara lain QS Al-Baqarah: 229 -230, At-Thalaq: 2 yang artinya: “Maka rujukilah mereka dengan cara yang baik atau ceraikanlah mereka dengan cara yang baik juga.”

Dan Islam pun memerintahkan agar para suami menempuh segala langkah untuk menyelesaikan berbagai problem sehingga terhindar dari perceraian.

Bahkan jika keduanya tidak mampu menyelesaikan, maka Islam memerintahkan agar persoalan rumah tangga mereka dibantu diselesaikan oleh keluarga mereka, dengan mengutus masing-masing wakil dari keluarga mereka dengan tujuan untuk perbaikan.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS An-Nisaa: 35.

Islam adalah ideologi yang sahih, yang darinya lahir aturan yang sempurna sebagai peraturan hidup yang menjadi sumber rahmat dan kebahagiaan bagi seluruh umat manusia agar tidak terjadi benturan dan ketidakseimbangan.

Benturan dan ketidakseimbangan ada ketika manusia mencampakan Islam sebagai aturan dalam hidupnya. Islam memiliki aturan yang menyeluruh yang mengatur seluruh aspek kehidupan, tidak terkecuali masalah pernikahan.

Pernikahan merupakan akad antara laki-laki dan wali perempuan yang karenanya hubungan mereka menjadi halal. Jika keluarga yang dibentuk dilandasi oleh pondasi yang kukuh yaitu akidah Islam, diiringi dengan niat, cara, proses pernikahan yang sesuai dengan syariat islam, maka restu akan menjadi doa dari semua yang menyaksikan ikatan tersebut.

Maka sakinah, mawaddah, wa rahmah, dengan izin Allah akan dicapai.

Hanya saja memang pernikahan tidak selalu berjalan mulus, kadang diterpa cobaan. Cobaan yang datang setelah pernikahan merupakan ujian yang harus dihadapi dengan kematangan sikap dan kematangan berpikir.

Idealnya harus dihadapi dengan hati dan pikiran yang terbuka, selalu berprasangka positif, serta dengan adanya komunikasi yang baik. Semuanya menjadi kunci utama dalam sebuah pernikahan, yang akan membebaskan pasangan dari rasa curiga, pikiran negatif, dan kecemasan lainnya.

Komunikasi merupakan jembatan pembentuk kepercayaan. Dengan komunikasi, pasangan lebih bisa menentukan langkah ke depan menuju kebahagiaan yang diinginkan.

Baca juga:  Tiga Hal yang Banyak Dilupakan Muslimah yang Sudah Menikah

Kembali kepada Islam Kaffah

Tidak dapat dipungkiri bahwa Covid-19 ini membawa dampak pada ketidakharmonisan rumah tangga yang berujung pada perceraian, akan tetapi sesungguhnya masalah ini sudah marak sebelumnya.

Semuanya berpulang pada sistem kapitalisme sekuler. Sekularisme dengan paham-paham turunannya yang batil seperti liberalisme dan materialisme memang meniscayakan kehidupan yang serba sempit dan jauh dari berkah.

Terbukti, hingga kini dunia terus dilanda krisis, terlebih adanya pandemi ini, semakin membebani mayoritas keluarga muslim dengan kehidupan yang serba sulit, sedangkan penguasa seolah masa bodoh dengan kondisi rakyatnya.

Kondisi ekonomi sulit inilah yang kerap memunculkan masalah dalam keluarga. Para bapak kesulitan mendapatkan nafkah bagi keluarganya, yang akhirnya mendorong para ibu turut bertanggung jawab menanggung beban ekonomi keluarga yang menyita energi dan waktu mendidik anak-anak mereka.

Hal inilah yang pada akhirnya memunculkan riak-riak dalam rumah tangga yang selanjutnya berdampak pada ketidakharmonisan keluarga. Kondisi ini menjadikan umat Islam kehilangan peluang untuk kembali tampil menjadi entitas terbaik dan terdepan (khairu ummah) sebagaimana fitrahnya.

Tentu saja kondisi ini tak boleh dibiarkan berlama-lama. Umat Islam harus segera bangkit dari keterpurukan dengan jalan kembali kepada Islam kaffah dalam naungan Khilafah.

Keluarga muslim, termasuk para ibu, harus kembali berfungsi sebagai benteng umat yang kukuh, yang siap melahirkan generasi terbaik dan individu-individu yang bertakwa, dengan visi hidup yang jelas sebagai hamba Allah yang mengemban misi kekhalifahan di muka bumi.

Jika saja seluruh hukum-hukum Islam diterapkan muka bumi ini, tentu saja kasus perceraian yang terus meningkat di negeri-negeri kapitalis tidak akan pernah terjadi. Seorang istri pun tidak akan teracuni oleh bisikan-bisikan atau pemikiran-pemikiran yang tidak benar dengan mengatasnamakan memandirikan perempuan.

Seorang suami akan menjalankan fungsi dan tugasnya dengan baik demikian pula seorang istri akan menjalankan kewajiban dan menuntut hak dengan baik. Sehingga pernikahan sebagai sesuatu yang bernilai ibadah merupakan hal yang niscaya.

Karenanya setiap keluarga muslim yang hidup di dalam sistem Islam akan berupaya maksimal untuk mempertahankan pernikahannya. Karena pernikahan bukan hanya berkaitan dengan dua orang yang menikah saja, akan tetapi berkaitan dengan kualitas generasi mendatang.

Keluarga adalah sebuah institusi terkecil dari pelaksana syariat islam. Dari keluargalah akan lahir generasi yang kuat akidah dan akhlaknya untuk mewujudkan kembali Islam sebagai sebuah negara.

Maka, di saat negara Islam belum terwujud, maka menjadi kewajiban setiap pasangan untuk menjaga kekukuhan keluarga tersebut. Agar Islam dalam institusi terkecil tersebut tidak mampu dihancurkan kaum kafir yang tidak pernah rida dengan kekuatan Islam sampai Islam tegak kembali menjadi negara.

Untuk itu, menjadi kewajiban untuk melanggengkan sebuah ikatan pernikahan dan kehidupan keluarga yang selalu terikat dengan hukum Allah SWT. Wallahu a’lam bishawwab. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

59 tanggapan untuk “Waspadai Meningkatnya Perceraian di Tengah Pandemi

  • 11 Juli 2020 pada 15:27
    Permalink

    Butuh islam kaffah

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 17:25
    Permalink

    Keluarga tmpt yg paling penting untuk mencetak generasi yg taat

    Balas
  • 7 Juli 2020 pada 10:21
    Permalink

    Hanya sistem islam lah yg dapat menjamin kesejahteraan umat, bukan hanya dalam pernikahan tp seluruh alam.

    Balas
  • 7 Juli 2020 pada 02:12
    Permalink

    Ya Allah lindungi keluarga hamba dari semua masalah. Bimbing klg hamba dalam cinta dan ridhoMu
    Aamiin

    Balas
    • 9 Juli 2020 pada 19:08
      Permalink

      Keluarga hrs d bentengi dgn islam untuk mencetak generasi muslim yg kuat

      Balas
  • 6 Juli 2020 pada 23:26
    Permalink

    Hanya Islam solusi tuntas segala problematika umat.Allahuakbar!
    #RinduKhilafah
    #ReturnTheKhilafah

    Balas
  • 6 Juli 2020 pada 19:40
    Permalink

    Islam memiliki aturan yang menyeluruh yang mengatur seluruh aspek kehidupan, tidak terkecuali masalah pernikahan

    Balas
  • 6 Juli 2020 pada 19:34
    Permalink

    Di sistem kapitalisme begitu berat beban yg hrs ditanggung umat. Semoga khilafah sgr tegak

    Balas
    • 6 Juli 2020 pada 19:52
      Permalink

      Dlm sistem skrg keluarga yg seharusnya menjd benteng terakhir kita ketika msrkt sudh sgt rusak. Namun ap daya, kapitalisme pun perlahan menghncurkan benteng itu. Smg Pertolongan Allah segera datang sembari kita menguatkan diri masing2

      Balas
  • 6 Juli 2020 pada 09:54
    Permalink

    Semakin rindu khilafah

    Balas
  • 6 Juli 2020 pada 09:51
    Permalink

    Ketika benteng penjagaan aqidah umat lenyap maka umat akan rapuh dan mudah goyah diterjang badai. Benteng penjaga itu adalah Khilafah

    Balas
  • 6 Juli 2020 pada 07:22
    Permalink

    Tidak bisa dipungkiri sistem kapitalis sekuler menjadikan manusia mengala.i permasalahan & memjadikan mereka ftustasi

    Balas
  • 5 Juli 2020 pada 22:06
    Permalink

    Islam ada solusi dri segala masalah hari ini tak terkecuali dalam ranah keluarga

    Balas
  • 5 Juli 2020 pada 22:05
    Permalink

    Islam is the only one solution

    Balas
  • 5 Juli 2020 pada 21:38
    Permalink

    Semoga Islam segera ditegakkan, agar masalah2 teratasi dan menjadi rahmat bagi seluruh alam ✨

    Balas
  • 5 Juli 2020 pada 21:22
    Permalink

    Tanpa Islam….bangunan RT hancur

    Balas
    • 7 Juli 2020 pada 14:08
      Permalink

      Masya kembali ke islam kaffah …semoga segera datang aamiin

      Balas
  • 5 Juli 2020 pada 21:14
    Permalink

    Islam adalah ideologi yang sahih, yang darinya lahir aturan yang sempurna sebagai peraturan hidup yang menjadi sumber rahmat dan kebahagiaan bagi seluruh umat manusia agar tidak terjadi benturan dan ketidakseimbangan.

    Balas
  • 5 Juli 2020 pada 21:09
    Permalink

    Semoga Islam kaffah yang kita rindukan segera Hadir, dan menyelesaikan segala problem ummat, dan termasuk dlm hal perceraian .

    Balas
  • 5 Juli 2020 pada 20:58
    Permalink

    Umat butuh sistem Islam yang mengayomi dan mengatur kehidupan

    Balas
  • 5 Juli 2020 pada 20:49
    Permalink

    Keluarga adalah benteng terakhir umat Islam maka wajib dipertahankan. Minta kekuatan pada Allah untuk bisa mengatasi ujian dan cobaan dalam biduk rumah tangga.

    Balas
  • 5 Juli 2020 pada 20:04
    Permalink

    Seperti kita ngak ada periayah

    Balas
  • 5 Juli 2020 pada 18:44
    Permalink

    MasyaAllah…. Hanya sistem islam kaffah yg mampu menyejahterakan rakyatnya….

    Balas
  • 5 Juli 2020 pada 17:08
    Permalink

    Wajar sih menurutku karena mereka mengawali pernikahannya dengan jalan pacaran, kan udah jelas pacaran sebelum nikah itu haram hukumnya. Ujung-ujungnya kita kembali lagi liat sistem yang di terapkan sekarang sistem kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan dan pengingkaran terhadap peran agama dalam kehidupan. Coba aja sistem yang terapkan sistem khilafah Islam yang udah jelas mengatur segala aspek kehidupan dari a-z

    Balas
  • 5 Juli 2020 pada 16:56
    Permalink

    Begitu ketika bukan sistem Islam yang diterapkan. Semua persoalan dan permasalahan menjadi momok bagi seluruh masyarakat Indonesia baik dalam segi ekonomi, pendidikan tatanan sosial seperti pernikahan semuanya menjadi TDK singkron karena sistem hari ini tak berjalan sesuai apa yang Allah mau.

    Balas
  • 5 Juli 2020 pada 16:53
    Permalink

    Akar permasalahannya karena meninggalkan hukum Allah…

    Balas
    • 5 Juli 2020 pada 21:07
      Permalink

      Menjadi kewajiban untuk melanggengkan sebuah ikatan pernikahan dan kehidupan keluarga yang selalu terikat dengan hukum Allah SWT. Allahuakbar…….

      Balas
  • 5 Juli 2020 pada 15:53
    Permalink

    Ketika Islam tidak diterapkan secara kaffah maka akan menimbulkan berbagai permasalahan.

    Balas
    • 5 Juli 2020 pada 20:17
      Permalink

      Hanya Islam solisi semua permasalahan,krn Islam ternyata gk mengatur tentang kebtauhidan sj tetapi mengatur segala aspek dari,ekonomi,berbusana dll

      Balas
  • 5 Juli 2020 pada 15:53
    Permalink

    Astaghfirullah.. Inilah buah pahit dari sistem kufur kapitalisme.

    Balas
    • 6 Juli 2020 pada 08:53
      Permalink

      Angka perceraian di Indonesia memang terbilang sangat tinggi, dari tahun ke tahun semakin meningkat. Apalagi di situasi pandemi ini, di beberapa daerah di Indonesia kasus perceraian semakin meningkat. Mengapa dan ada apa?

      Balas
  • 5 Juli 2020 pada 15:37
    Permalink

    Karena sistem menjadikan tiap2 keluarga menuntut seperti itu lagi2 materialitis glamour sdgkan keadaan tdk memungkin kan , serta tdk ada kerjasama PR dirumah menjadikan istri serba sibuk sendiri agama tdk dijadikan acuan utk bercermin bagaimana Rasulullah dlm kehidupan sehari hari bagaimana semestinya suami dan istri hingga menjadikan keluarga samara

    Balas
    • 5 Juli 2020 pada 18:06
      Permalink

      Eksistensi Khilafah sangatlah dibutuhkan dan ditunggu tunggu ummat.. melihat kondisi keluarga semakin rusak dan jauh dr konsep ibadah kpd Allah subhanahu wata’ala..

      Balas
  • 5 Juli 2020 pada 15:35
    Permalink

    MasyaAllah tulisannya sangat bagus .

    Balas
    • 5 Juli 2020 pada 17:35
      Permalink

      semoga selalu di teguhkan ikatan suami istri dalam keadaan apapun

      Balas
      • 11 Juli 2020 pada 21:44
        Permalink

        Semoga Khilafah segera tegak. Aamiin

        Balas
  • 5 Juli 2020 pada 15:16
    Permalink

    Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kau cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikannya di antaramu kecintaan dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. Sistem yanh salah menjadikan semuanya salah. Ganti sistem .

    Balas
  • 5 Juli 2020 pada 14:45
    Permalink

    Perselisihan di dalam keluarga adalah biasa. Tapi yg hrs diusahakan dalam keluarga adalah ikhlas dan berserah diri kpd Allah. Hal ini ygmulsi terkikis pd keluarga muslim saat ini

    Balas
  • 5 Juli 2020 pada 14:41
    Permalink

    Krn ekonomi jg jd alasan perceraian

    Balas
    • 5 Juli 2020 pada 19:31
      Permalink

      Innalillah, perceraian menjadi hal yg lumrah dalam sistem kapitalisme. Butuh Islam solusi tuntas berbagai persoalan umat

      Balas
  • 5 Juli 2020 pada 14:20
    Permalink

    Keluarga yang saat ini jadi benteng pertahanan kaum muslimin dalam menyelamatkan akidah harus kuat karna penerapan badai sistem kapitalisme dahsyat menerpa kesulitan ekonomi, pengangguran dan kesulitan2 hidup lainnya akan selalu datang sislih berganti blm lagi pergaulan bebas ala liberalis buah dari kapitalis memicu perselingkuhan Ya Alloh… sungguh hanya dengan penerapan aturan Islam kaffah yg mampu membentuk biduk rumah tangga kaum muslimin dg kokoh sempurna
    Sejak awal..
    #IslamSolusiUntukNegeri

    Balas
  • 5 Juli 2020 pada 13:35
    Permalink

    Sistem kapitalis menjadikan bangunan rumah tangga sangat rapuh..karenanya ujian covid jd berguguran..
    Saatnya butuh sistim yg kuat..itu hanya ada dlm Islam..

    Balas
    • 6 Juli 2020 pada 19:47
      Permalink

      maraknya perceraian selalu dipicu oleh faktor ekonomi, maka kembalilah dgn islam krn islam memiliki aturan yang menyeluruh yang mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk masalah pernikahan

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *