Ada Korporasi di Balik Arus Pelangi

Oleh: Chusnatul Jannah

MuslimahNews.com, OPINI – Dukungan korporasi multinasional makin mengukuhkan posisi kaum pelangi. Mengatasnamakan hak asasi menjadikan perilaku elgebete sebagai pembenar diri.

Didukung lembaga internasional seperti PBB, UNDP, dan USAID misalnya, membuat kelompok pro-elgebete makin besar kepala.

Kehebohan perusahaan multinasional yang mendukung elgebete bukanlah kali pertama. Pada 2017, ada Starbucks yang mendukung elgebete secara terang-terangan. Akibat deklarasi itu, perusahaan tersebut menghadapi boikot dari komunitas Kristen di Amerika. Kini, giliran Unilever yang terancam diboikot setelah secara resmi mendukung gerakan elgebete.

Dalam upaya mendukung kampanye tersebut, mereka bahkan sudah menandatangani deklarasi Amsterdam, bergabung dengan Open for Business untuk menunjukkan bahwa Unilever dengan inklusi LGB TQI + serta meminta Stonewall mengaudit kebijakan dan mengukur tindakan Unilever dalam bidang ini. Stonewall adalah lembaga amal untuk kaum elgebete.

Dukungan Unilever atas kaum LGB TQ ini langsung memantik komentar dan kritikan dari warganet, terutama dari Indonesia. Dari komentar-komentar yang disampaikan, ada resistensi dan tidak mendukung langkah yang diambil Unilever tersebut. Bahkan beberapa dari mereka menyatakan untuk memboikot produk dari Unilever, termasuk di Indonesia. (cnbcindonesia.com, 25/6/2020)

Sebenarnya bukan hanya Unilever yang mendukung gerakan elgebete. Ada banyak 20 perusahaan yang turut serta berkomitmen mendukung kampanye pro-elgebete di kancah global.

Di antaranya Apple Inc, Microsoft Corp, Google, Walt Disney, Yahoo, Facebook, Youtube, Chevron, Nike, Symantec, Mastercard, dan lainnya. Menyusul Unilever, ada Instagram yang juga mendukung gerakan elgebete.

Apa alasan korporasi multinasional itu memberikan dukungannya terhadap kaum pelangi ini? Tidak lain karena kaum pelangi adalah ceruk pasar yang menggiurkan untuk mereka.

Dikutip dari Tirto.id, 3/7/2017, Witeck Communications menyebut kemampuan membeli komunitas elgebete di Amerika senilai $830 miliar pada 2013.

Data terbaru yang dirilis Witeck pada 2016 menunjukkan bahwa kemampuan membeli komunitas elgebete di pasar Amerika Serikat meningkat menjadi 917 miliar dolar. Angka yang cukup besar inilah yang menjadi incaran dari perusahaan-perusahaan yang berbasis di Amerika.

Laporan dari University of Georgia’s Selig Center for Economic Growth menyebutkan bahwa kemampuan membeli kelompok elgebete merupakan nomor tiga di antara kelompok minoritas Amerika Serikat lainnya.

Boikot Produk Pro-Elgebete Bukanlah Solusi

Seruan boikot produk Unilever menggema di jagat maya. MUI juga menyerukan hal yang sama. Ketua Komisi Ekonomi MUI, Azrul Tanjung, menegaskan akan mengajak masyarakat untuk beralih pada produk lain.

Baca juga:  Sosok Asing di Balik Ibu Kota Baru, Pengamat: Menguatkan Posisi Indonesia sebagai Negara Korporatokrasi

“Saya selaku ketua komisi ekonomi MUI akan mengajak masyarakat berhenti menggunakan produk Unilever dan memboikot Unilever,” kata Azrul saat dihubungi Republika, Ahad (28/6/2020).

Menurut Azrul, kampanye pro-elgebete yang tengah gencar dilakukan Unilever sudah keterlaluan dan sangat keliru. Azrul juga menyayangkan keputusan Unilever untuk mendukung kaum elgebete. (Republika, 29/6/2020)

Sebagai anak induk perusahaan di Belanda, Unilever Indonesia secara eksplisit tidak secara terang-terangan mendukung gerakan elgebete. Mereka menggunakan bahasa diplomatis untuk mencegah sentimen lebih besar rakyat Indonesia.

Governance and Corporate Affairs Director Unilever Indonesia Sancoyo Antarikso mengatakan Unilever telah beroperasi di lebih dari 180 negara dengan budaya yang berbeda.

“Secara global dan di Indonesia, Unilever percaya pada keberagaman dan lingkungan yang inklusif. Kami telah berada di Indonesia selama 86 tahun, dan kami selalu menghormati dan memahami budaya, norma, dan nilai-nilai setempat. Oleh karena itu, kami akan selalu bertindak dan menyampaikan pesan-pesan yang sesuai dengan budaya, norma dan nilai-nilai yang berlaku di Indonesia,” terangnya seperti dilansir cnbcindonesia, 25/6/2020.

Beberapa perusahaan pendukung eljibiti.

Memboikot sebuah produk pro elgebete memang salah satu upaya melawan kemungkaran di depan mata. Hanya saja, boikot itu tidak sepenuhnya menghilangkan bibit penyakit kaum pelangi yang sudah terlalu mengakar kuat.

Meski sentimen pemboikotan Unilever berpengaruh pada turunnya saham mereka sebesar 2,71% di pasar modal, hal itu tak banyak berpengaruh pada performa mereka sebagai perusahaan multinasional yang merajai produk-produk di dalam maupun luar negeri.

Tatkala kita belanja di pasar atau supermarket, nyaris semua produk dari makanan, sabun, produk rumah tangga, berlabel Unilever. Bagaimana mungkin boikot itu akan menurunkan derajat mereka sebagai raksasa dunia?

Tanpa menurunkan apresiasi sikap masyarakat Indonesia yang mengancam pemboikotan produk, kita pun harus mengakui, boikot itu tak akan meruntuhkan dukungan mereka (para korporasi, red.) pada kaum pelangi. Mereka tak akan rugi. Dukungan terhadap elgebete pun terus dilakoni.

Arus Pelangi, Penyakit Akut di Negara Sekuler Kapitalis

Kaum pelangi bak menari-nari. Perjuangannya agar diakui masyarakat internasional membuahkan hasil. Bahkan didukung lembaga dunia dan perusahaan raksasa.

Dukungan ini bukanlah aji mumpung. Mereka gigih memperjuangkan hak-hak elgebete sejak lama. Di dunia, komunitas ini berawal dari waktu terawal fenomena tersebut ditemukan yaitu sekitar abad ke-19.

Pada abad ke-19, American Psychiatric Assosiation (APA) masih menganggap homoseksualitas sebagai mental disorder.

Pada 1951, Donald Webster Cory menerbitkan The Homoseksual di Amerika (Cory, 1951), yang menyatakan bahwa laki-laki gay dan lesbian adalah kelompok minoritas yang sah.

Baca juga:  [Editorial] Saat Negara Korporasi Sibuk Berbisnis Hajat Publik

Pada 2008, PBB secara resmi mengakui hak-hak elgebete dalam Declaration on Sexual Orientation and Gender Identity, Resolusi yang menjadi cikal bakal melesatnya komunitas menyimpang ini.

Di Indonesia, perjuangan kaum pelangi ini bermula pada 1969. Berdirilah organisasi transgender pertama Himpunan Wadam Djakarta (HIWAD) yang difasilitasi Gubernur Jakarta pada saat itu, Ali Sadikin, pada 1969. Wadam adalah singkatan “Wanita Adam” yang kemudian berganti nama menjadi “Waria”.

Menurut survei CIA pada 2015 yang dilansir di topikmalaysia.com, jumlah populasi elgebete di Indonesia adalah ke-5 terbesar di dunia setelah Cina, India, Eropa, dan Amerika.

Selain itu, beberapa lembaga survei independen dalam maupun luar negeri menyebutkan bahwa Indonesia memiliki 3% penduduk elgebete, ini berarti dari 250 juta penduduk 7,5 jutanya adalah elgebete.

Atau lebih sederhananya, dari 100 orang yang berkumpul di suatu tempat, 3 di antaranya adalah elgebete. (Social Work Jurnal, L G B T dalam Perspektif Hak Asasi Manusia, Meilanny Budiarti Santoso)

Isu perjuangan gerakan elgebete sama, yakni isu hak asasi manusia (HAM). Isu ini selalu dikampanyekan ke mana-mana demi mendapat pengakuan internasional.

Terdapat dua prinsip yang melatarbelakangi konsep HAM:

Pertama, prinsip kebebasan. Prinsip kebebasan ini menjadi ruh akidah sekularisme. Kebebasan berperilaku, berpendapat, dan berekspresi tak boleh dihalangi norma agama. Dasar sekularisme adalah pemisahan agama dari kehidupan. Realisasi dari akidah itu adalah kebebasan. Termasuk bebas menjadi kaum pelangi.

Kedua, prinsip kesamaan. Dalam hal ini, elgebete merasa sebagai kelompok marginal. Mereka merasa didiskriminasi lantaran dianggap abnormal. Hal ini sangatlah wajar. Mengingat perilaku menyimpang mereka yang melawan fitrah.

Bagaimana mungkin kehidupan manusia akan berlangsung sementara hubungan sosial yang terjadi adalah homo dan lesbian?

Perilaku kaum elgebete adalah reaksi dari sistem sekuler yang memuja kebebasan. Mereka mengingkari hakikat penciptaan laki-laki dan perempuan.

Bila kaum pelangi mengaruskan ide hak asasi manusia, apakah manusia normal selain mereka juga tidak berhak mendapat hak asasi menjalani kehidupan normal juga? Sebagaimana prinsip aksi dan reaksi.

Ada aksi perilaku menyimpang yang bertentangan dengan agama. Maka ada reaksi pula dari umat beragama, terutama umat Islam. Bagi orang beriman, elgebete adalah perbuatan laknat dan dosa berat.

Baca juga:  Kisruh Program Organisasi Penggerak, KGMI: Negara Abaikan Sistem Pendidikan Nasional Demi Korporasi

Bagi pemuja kebebasan, elgebete adalah hak yang harus dihormati. Tanpa mengaitkannya dengan agama sekalipun, elgebete tetaplah menyimpang. Sudah keluar jalur dari kodrat manusia secara umum.

Apalagi fakta membuktikan, angka penderita HIV/AIDs makin meningkat bersama menyuburnya gerakan elgebete di dunia. Artinya, perilaku ini memang menimbulkan masalah cabang yang mengancam keberlangsungan manusia.

Barat sangat vokal bicara HAM bila menyangkut elgebete. Namun, mereka bungkam manakala berkaitan dengan isu keumatan.

Adakah HAM untuk Rohingya, Uyghur, Palestina, Kashmir, dan kaum muslim lainnya yang masih terjajah? Di mana HAM? Ke mana HAM saat umat Islam menjadi korban islamofobia? Jadi, HAM hanya alat propaganda Barat untuk mengaruskan kampanye elgebete atas nama kebebasan.

Boikot Sistem Kapitalis-Sekuler!

Memboikot sebuah produk yang mendukung gerakan elgebete tidaklah salah. Namun, juga tidak pas jika bertujuan untuk menekan suatu perusahaan besar. Mereka mendukung karena ada manfaat yang diambil. Persis watak kapitalis.

Sebagai ideologi global, melawan hegemoni kapitalisme global berikut turunannya tidak bisa dengan skala lokal. Harus dengan ide global dan gerakan global pula. Bukan sekadar boikot produk ataupun perusahaan, namun gerakan hingga sistem yang mendasari juga harus diboikot.

Islam, bukan hanya agama. Namun ia adalah sistem hidup. Sistem hidup yang memiliki pandangan khas tentang kehidupan. Dari pandangan ini lahir aturan-aturan cabang.

Inilah konsep Islam sebagai ideologi. Memiliki ide dan metode yang sahih. Mirisnya, hingga detik ini belum ada satu pun negara yang mengemban ideologi Islam. Tanpa diemban negara, sebuah ideologi hanya akan dikenal pemikirannya saja.

Mengemban Islam sebagai ideologi negara adalah cara melawan kekuatan ideologi kapitalisme. Elgebete menyubur karena sistem sekuler. Mereka didukung korporasi karena ada untung yang dituju.

Akan tetapi, virus elgebete bisa dihilangkan dengan penerapan kehidupan Islam secara menyeluruh. Kampanye global elgebete bisa dilawan dengan kekuatan negara yang menerapkan Islam.

Maka dari itu, meninggalkan ideologi kapitalisme-sekularisme adalah cara tepat memboikot penyakit elgebete. Bukan hanya boikot, tapi virus menyimpang ini harus dihilangkan dengan penerapan sistem Islam.

Hanya dengan penerapan ideologi Islam dalam Khilafah, perilaku menyimpang elgebete bisa dihilangkan dari muka bumi. Selamatkan generasi kita dari bahaya elgebete.

Lindungi kelestarian manusia dari perilaku kaum sodom. Agar bumi ini tak diazab. Sistem Islam sebagai juru selamat. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

8 tanggapan untuk “Ada Korporasi di Balik Arus Pelangi

  • 4 Juli 2020 pada 23:27
    Permalink

    Setuju boikot dan tinggal kan sistem rusak ini

    Balas
  • 4 Juli 2020 pada 19:49
    Permalink

    Astaghfirullah

    Balas
  • 4 Juli 2020 pada 15:39
    Permalink

    Setuju kaum pelangi harus diberangus dikembalikan kepada kodratnya

    Balas
  • 4 Juli 2020 pada 14:40
    Permalink

    Setuju..boikot sistem kapitalis sekuleris. Hanya dengan penerapan Islam Ideologis, perilaku menyimpang elgebete bisa dihilangkan dari muka bumi. Selamatkan generasi kita dari bahaya elgebete.

    Balas
    • 4 Juli 2020 pada 17:08
      Permalink

      Saya setuju dengan pendapat saudara mengenai ideologi Islam.. tapi pemaparan sebelumnya tidak menguatkan sisi boikot.. ingat kisah Daud dan Jalut? Bukan hal yang tidak mungkin ketika kita mengurangi bahkan bisa sama sekali tidak menggunakan produk mereka, bisa terus menerus mengikis keuntungan mereka. Saya khawatir yang membaca tulisan Anda jadi menyerah duluan (tidak boikot) karena merasa “iya ya, apalah kita dibandingkan raksasa dunia”. Ingat, kita berusaha dan tanggung jawab kita adalah berusaha sebisa kita menolak dukungan itu lalu Allah SWT yang menyempurnakan hasilnya. Semoga berkah semuanya..

      Balas
    • 4 Juli 2020 pada 19:11
      Permalink

      gerakan individu gak beres beres, sistem yg harusnya memback up hal tersebut, karena sistem membuat kekuatan yg memaksa untuk taat

      Balas
    • 4 Juli 2020 pada 19:12
      Permalink

      selama masih di bawa kepemimpinan skrg ini.. elgebe tetap eksis. krn msh di duking oleh org org yg G paham Agama. Innalillah, Nauzubillah

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *