[Editorial] Adu Tawar UKT di Musim Wabah. Kok, Keterlaluan?!

MuslimahNews.com, EDITORIAL – #MendikbudDicariMahasiswa. Tagar ini sempat viral di media sosial di awal Juni lalu, menyusul bungkamnya Mendikbud menyikapi gelombang aksi protes mahasiswa menyangkut Uang Kuliah Tunggal (UKT).

Saat itu, mahasiswa memang benar-benar marah, karena di situasi wabah, mereka tetap dibebani uang kuliah. Bahkan mahasiswa baru harus membayar UKT yang besarannya dinaikkan.

Padahal, sebagaimana masyarakat lainnya, kalangan mahasiswa pun termasuk kelompok yang terdampak wabah. Kuliah daring, alih-alih meringankan beban finansial mereka, malah membuat beban pendidikan dan beban hidup lainnya bertambah berat.

Hal ini terutama sangat dirasakan oleh mereka yang berasal dari kelas ekonomi menengah ke bawah. Karena dengan situasi wabah, banyak orang tua mereka yang tiba-tiba kehilangan pekerjaan, atau merasakan kian sulitnya mencari penghidupan.

Jangankan untuk membayar uang kuliah, untuk makan sehari-hari saja, mereka sangat kesulitan. Sementara di saat sama, mereka harus berusaha agar kuliah bisa tetap jalan, meski harus merogoh kantong lebih dalam untuk sekadar membeli kuota paketan yang besarannya cukup mahal.

Akan tetapi, kisruh soal UKT ini memang tak hanya terjadi di saat wabah ini saja. Sejak pemerintah menetapkan kebijakan UKT melalui Permendikbud No. 55 tahun 2013, telah muncul keberatan-keberatan di tengah masyarakat.

Maklum, aturan yang katanya ditujukan untuk mewujudkan pendidikan berkeadilan ini faktanya tak semanis teorinya. Bagi kalangan tertentu UKT tetap saja dirasa mahal. Apalagi jurusan-jurusan tertentu. Biaya UKT-nya jauh lebih mahal.

Otomatis kelompok yang terkategori miskin makin kecil kesempatan mengenyam pendidikan tinggi serta kehilangan kesempatan mengakses jurusan yang mereka idamkan. Apalagi faktanya, dari tahun ke tahun UKT mengalami penyesuaian alias kenaikan. Sehingga kebijakan ini memang terasa sangat memberatkan.

Pada kasus UKT di era wabah, pemerintah melalui Kemendikbud akhirnya memang memberi penjelasan. Pertama, bahwa UKT tak ada kenaikan. Kedua, bahwa Majelis Rektor PTN sudah menyepakati empat skema keringanan beban biaya perkuliahan. Ketiga, bahwa mahasiswa yang orang tuanya terdampak akan diberi bantuan sebesar Rp400.000 melalui program Kartu Indonesia Pintar.

Adapun 4 (empat) skema keringanan yang ditawarkan terdiri dari: (1) kebolehan mengajukan penundaan pembayaran, (2) kebolehan menyicil pembayaran, (3) mengajukan penyesuaian UKT pada level yang faktual, (4) mengajukan beasiswa jika orang tua mengalami kebangkrutan.

Namun rupanya, kebijakan tersebut dianggap masih belum memuaskan. Apalagi sejalan dengan kebijakan otonomi kampus, implementasinya diserahkan kepada masing-masing institusi pendidikan. Padahal faktanya, kondisi dan kesiapan setiap institusi kampus berbeda tingkatan.

Maka kita melihat, hingga minggu ini, mahasiswa di beberapa perguruan tinggi masih terus melakukan perlawanan. Bahkan di dunia maya, masih viral beberapa tagar. Di antaranya #UnpadKokGitu, #UntirtaKokPelit dan #UniversitasPancenNdlogok sebagai bentuk protes atas kebijakan rektorat yang dipandang sangat tak bijak dan menyulitkan.

Baca juga:  Hakteknas dan Kemandirian Bangsa

Di Unpad misalnya, mahasiswa protes karena rektorat mensyaratkan lampiran foto rumah dan kendaraan untuk pengajuan keringanan. Padahal survei BEM menunjukkan, 90 persen mahasiswa Unpad terdampak wabah corona. Termasuk yang sejak sebelum pandemi rumahnya memang sudah besar.

Sementara di UPN, mahasiswa protes karena waktu ajuan ditetapkan pas musim ujian, sehingga banyak mahasiswa tak sempat mengajukan. Wajar jika akhirnya mereka berpikir bahwa kebijakan tersebut dibuat dengan unsur kesengajaan.

Walhasil, apa yang disebut skema keringanan faktanya tak bisa benar-benar dirasakan mahasiswa. Karena semua tergantung kondisi lapang.

Dalam negara yang menerapkan sistem sekuler kapitalis neoliberal, hal seperti ini memang sangat niscaya. Kemurahan penguasa tampaknya selalu harus disertai syarat dan ketentuan.

Faktanya kita lihat, dalam segala hal penguasa selalu saja berhitung rugi laba. Karena mereka ada memang bukan untuk mengurus rakyatnya. Melainkan mendudukkan diri hanya sebagai penjual jasa atau regulator saja.

Jasa layanan publik, termasuk sebagian kecil di antaranya. Maka tak heran jika layanan kesehatan, pendidikan dan keamanan harus dibeli rakyat dengan harga mahal. Yang tidak punya uang, jangan harap bisa mendapatkan.

Dalam hal pendidikan, kapitalisasi pun demikian telanjang. Salah satunya nampak ketika atas nama otonomi kampus, negara berlepas tangan dari penyelenggaraan pendidikan tinggi (PT) dengan mengubah bentuk pengelolaan PT dalam bentuk badan usaha yang berbadan hukum, baik dalam hal pembiayaan maupun dalam hal visi pendidikan.

Bahkan yang lebih miris, pendidikan dasar hingga tinggi menjadi salah satu bidang usaha jasa yang diliberalisasi. Yang membuat aroma komersialisasi makin terasa kental di dunia pendidikan.

Hal ini misal terlihat dari diterbitkannya Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 77 tahun 2007 tentang daftar bidang usaha yang tertutup dan bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan di bidang penanaman modal. Di mana jasa pendidikan termasuk salah satu bidang usaha yang ditetapkan.

Namun yang harus diwaspadai bukan hanya soal biaya pendidikan yang makin mahal. Pendidikan dalam sistem ini faktanya juga kian jauh dari kedudukannya yang mulia sebagai pilar peradaban. Yakni saat visinya hanya melulu berorientasi memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja. Seperti nampak dari konsep link and match, triple ABC, atau maraknya pendidikan vokasi.

Baca juga:  Mesin Penyedot Uang (Kapitalis) Bag. 2/2

Sehingga alih-alih mendatangkan berkah, pendidikan akhirnya hanya jadi alat investasi sekaligus alat produksi untuk memutar industri dan kapital. Bukan sebagai wasilah membentuk kepribadian, apalagi sebagai pilar untuk membangun peradaban cemerlang.

Wajar jika output pendidikan sekuler banyak melahirkan manusia-manusia pintar dan berorientasi mengejar material, tapi minus nilai-nilai moral. Bahkan yang fatal, pendidikan menjadi sarana melanggengkan hegemoni kapitalisme global.

Berbeda jauh dengan sistem Islam. Dalam Islam, pendidikan, kesehatan dan keamanan merupakan bagian dari ikhtiar membentuk manusia dan umat berkualitas purna sesuai dengan misi penciptaan.

Sehingga salah satu hukum turunannya, Islam juga menetapkan bahwa ketiga hal tersebut merupakan hak seluruh rakyat yang wajib dipenuhi negara sebaik-baiknya, sebagaimana hak dasar seperti pangan, sandang dan papan.

Hal ini sejalan dengan ketetapan syariat, bahwa fungsi negara atau penguasa adalah mengurus dan menjaga rakyatnya. Dan atas hal ini, kelak mereka akan dimintai pertanggungjawaban.

Dalam potongan Hadis Sahih Riwayat al-Bukhari no 4789 disebutkan, dari Abdillah, bersabda Nabi (Saw.):

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ. فَالإمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ

“Setiap kalian adalah pemimpin (pengurus) dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban. Maka seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban.”

Dengan demikian, sisi ruhiyah dalam sistem Islam begitu kental. Dimana para penguasa akan merasa takut jika abai dalam memenuhi hak-hak rakyatnya. Karena mereka paham bahwa amanah kepemimpinan kelak bisa jadi sesalan.

Maka tak heran, jika support negara dalam sistem pendidikan begitu maksimal. Termasuk dalam mewujudkan layanan pendidikan gratis dan berkelas bagi seluruh rakyatnya. Hingga terbukti, sepanjang belasan abad, pendidikan Islam bisa benar-benar menjadi salah satu pilar peradaban cemerlang.

Dalam praktiknya, supporting system itu terwujud dalam penerapan Islam kaffah oleh institusi khilafah. Karena tak dipungkiri bahwa visi pendidikan Islam yang mulia itu tak mungkin terwujud kecuali ada dukungan sistem Islam yang lainnya.

Seperti sistem pemerintahan Islam yang berbentuk khilafah, yang menjadikan akidah dan syariah sebagai landasan dan tuntunan, bukan sistem sekuler yang tak kenal halal haram.

Juga butuh sistem ekonomi yang kuat, yang membuat negara khilafah memiliki sistem keuangan yang kuat sebagai modal menyejahterakan rakyatnya. Termasuk menggratiskan semua layanan publik dengan layanan yang optimal. Bahkan memberi gaji dan fasilitas pendidik, jaminan fasilitas, dan uang saku pelajar, fasilitas maksimal untuk perpustakaan, support penuh untuk penelitian yang semuanya serba mencengangkan.

Jadi, bukan seperti sistem ekonomi liberal yang justru membuat anggaran negara selalu defisit atau terbelit utang berbunga. Sementara sumber daya milik umat yang begitu melimpah diserahkan kepada swasta dan asing. Dan negara, alih-alih meringankan beban rakyatnya, tapi justru hobi memalak rakyatnya dengan berbagai kebijakan pajak.

Baca juga:  Setelah Demo UKT, Kapan Mahasiswa Berjuang untuk Kuliah Bebas Biaya?

Selain itu, keberhasilan sistem pendidikan Islam pun di-support oleh sistem sosial Islam dan sistem sanksi yang menjaga masyarakat dari kerusakan. Sehingga kerja keras orang tua di rumah dan para penyelenggara pendidikan di kampus dan sekolah, akan diperkuat oleh lingkungan dan masyarakat yang bersih dimana amar makruf nahi mungkar dan hukum Islam yang tegas ditegakkan.

Walhasil, siapa pun tak bisa menafikan, bahwa output pendidikan Islam benar-benar ideal. Ini tampak dari lahirnya generasi terbaik yang kontribusinya pada peradaban dunia tak perlu lagi dipertanyakan.

Sekolah-sekolah dan universitas-universitas Islam di masa itu betul-betul menjadi pabrik sumber daya manusia yang cemerlang. Yang tinggi dalam level kepribadian, sekaligus inovatif dalam menyelesaikan berbagai problem kehidupan. Hingga perkembangan teknologi pun terbukti dipimpin dunia Islam.

Bahkan mereka yang jujur akan mengakui bahwa dunia barat berhutang pada Islam. Karena faktanya sebagian warga negara mereka menjadikan negeri-negeri Islam sebagai pusat orientasi pendidikan. Hingga banyak para bangsawan mereka berbondong-bondong belajar di negeri-negeri Islam. (Silakan baca: https://www.muslimahnews.com/2020/06/10/editorial-era-new-normal-arah-pendidikan-kok-makin-kacau/)

Sehingga, sudah selayaknya bagi umat Islam agar bersegera mencampakkan sistem pendidikan yang jelas-jelas rusak dan hanya melahirkan kerusakan. Dengan cara berjuang mewujudkan sistem yang akan menegakkannya, yakni khilafah Islam.

Adapun langkah praktisnya adalah serius mengupayakan prasyarat bagi tegaknya khilafah. Berupa menggencarkan dakwah secara berjamaah untuk mewujudkan umat yang terbina dengan akidah yang lurus yang melahirkan kesiapan untuk menerapkan Islam kaffah.

Dan tentunya, di saat sama, mendakwahkan Islam kaffah dengan detail dan jelas sehingga tergambar posisinya sebagai pemecah berbagai persoalan yang dihadapi. Sehingga harapannya, umat akan merasa berdosa ketika hidup dengan aturan sekuler dan rindu untuk hidup di bawah naungan sistem Islam.

Hanya saja, dakwah Islam kaffah ini tentu harus merambah pada seluruh kalangan. Termasuk para pemilik kekuatan yang akan memimpin perubahan dan menyokong kekuasaan yang siap menegakkan sistem khilafah Islam.

Dan semua ini adalah jalan alami yang sudah dicontohkan baginda Nabi saw. Saat beliau bersama kelompoknya sungguh-sungguh menapaki jalan dakwah dan memimpin perubahan dari masyarakat jahiliah menuju masyarakat Islam. Hingga akhirnya berhasil membangun negara Islam yang kuat dan berdaulat, yang diakui menjadi pionir peradaban cemerlang. [MNews – SNA]

Bagaimana menurut Anda?

58 tanggapan untuk “[Editorial] Adu Tawar UKT di Musim Wabah. Kok, Keterlaluan?!

  • 5 Juli 2020 pada 20:57
    Permalink

    KHILAFAH solusi yang tepat dan terbaik👍👍

    Balas
  • 4 Juli 2020 pada 22:41
    Permalink

    MaasyaaAllah.. hanya islam mmang yg dpt mensejahterakan semua..

    Jelas keterlaluan hari ini krn dasar sistemnya pun memang sgt keterlaluan krn mengabaikan perintah Allah hingga tdk ad ruh dlm pelaksanaannya

    Balas
  • 4 Juli 2020 pada 22:29
    Permalink

    Semoga semakin banyak kaum muslimin yang memperjuangkan Khilafah. Aamiin

    Balas
  • 4 Juli 2020 pada 22:11
    Permalink

    Astaghfirullah, emang kapitalisme tidak akan pernah bisa membuat bahagia

    Balas
  • 4 Juli 2020 pada 13:22
    Permalink

    Kuliah barang mahal

    Balas
    • 5 Juli 2020 pada 02:59
      Permalink

      Semua ini terjadi diakibatkan support negara yg hilang dalam dunia pendidikan

      Balas
  • 3 Juli 2020 pada 21:51
    Permalink

    Astagfirullah semoga umat segera sadar akan pentingnya Islam diterapkan

    Balas
    • 4 Juli 2020 pada 21:56
      Permalink

      Di saat pandemi, ditambah kuliah yg semakin memberatkan

      Balas
  • 1 Juli 2020 pada 20:42
    Permalink

    Beginilah potret tata kelola sistem kapitalis semua sektor dikmersialisasi termasuk di dunia pendidikan. yang miskin tdk layak pintar. Berbeda dengan pengaturan dalam sistme Islam. Pendidikan adl hak setiap warga negara sehingga negara wajib menyediakannya untuk semua orang tdk terkecuali dengan kualitas yang layak.

    Balas
  • 1 Juli 2020 pada 15:32
    Permalink

    pendidikan dikapitalisasi menghasilkan output pelajar yang hanya berorientasi pada materi

    Balas
  • 1 Juli 2020 pada 13:58
    Permalink

    Pendidikan dalam sistem kapitalis pada faktanya juga kian jauh dari kedudukannya yang mulia sebagai pilar peradaban. Outputnya tdk sbgm yg diidamkan umat

    Balas
  • 1 Juli 2020 pada 08:46
    Permalink

    Astaghfirullaah..sistem pendidikan yg berlandaskan sekuleris kapitalisme telah menjadikan permasalahan pendidikan tidak kunjung usai

    Balas
  • 1 Juli 2020 pada 08:36
    Permalink

    Minim edukasi ttg bgmn sistem pendidikan dlm Islam…

    Balas
  • 1 Juli 2020 pada 08:18
    Permalink

    Sistem Islam mampu mengatasi semua problematika umat,termasuk masalah pendidikan. Dengan penerapan sistem Islam secara keseluruhan (Kaffah)

    Balas
  • 1 Juli 2020 pada 05:13
    Permalink

    Astaghfirullah
    Dholimnya pemerintah

    Balas
  • 1 Juli 2020 pada 03:09
    Permalink

    Pemberlakuan UKT disaat pandemi akan semakin memberatkn siswa didik masy,yg semestinya pendidikan adl Tanggungjawab pemerintah

    Balas
  • 1 Juli 2020 pada 00:46
    Permalink

    Sungguh luar biasa jika Islam menjadi sistem yg mengatur urusan manusia..

    Balas
  • 30 Juni 2020 pada 22:57
    Permalink

    Astaghfirullah….sunnguh dzalim sistem
    Kapitalisme,yang anakaannya liberal, sekuler,neoliberal, (SiPiLis) yang diterapkan di negeri2 muslim khususnya +62. Generasi muda saatnya bangkitkan pemikiran dari keterpurukan sistem ini..saatnya kalian menyuarakan ganti sistem bathil dg sistem Islam…yang pastinya menciptakan keadilan disegala aspek kehidupan.

    Balas
  • 30 Juni 2020 pada 22:24
    Permalink

    Ukt menaik. Tingkat depresi meningkat dikalangan mahasiswa. Sungguh borok sistem demokrasi begitu tampak jelas saat ini. Tidak ada alternatif kecuali kembali pada islam kaffah dibawah naungan khilafah islam. Allahu akbar

    Balas
  • 30 Juni 2020 pada 21:56
    Permalink

    Saatvmenerapkan sistem pendidikan islam dalam khilafah

    Balas
  • 30 Juni 2020 pada 21:45
    Permalink

    Bagaimana Para Generasi muda bisa semakin pintar, belajar sambil Mikir’in bayar UKT Terus gitu….

    Balas
  • 30 Juni 2020 pada 21:34
    Permalink

    Maasyaallah, Islam Rahmatan Lil’Alamin solusi tuntas sesuai fitrah manusia

    Balas
  • 30 Juni 2020 pada 21:06
    Permalink

    Masyaa Allah…
    Sistemnya saja sudah salah, maka seluruhnya pun ikut salah

    Balas
  • 30 Juni 2020 pada 20:54
    Permalink

    masyAllah pendidikan dalam islam T.T

    Balas
  • 30 Juni 2020 pada 20:41
    Permalink

    Rindu sistem islam kaffah❤ Ya Allah lindungilan kami semua dari sistem sekuler yg merajalela

    Balas
    • 5 Juli 2020 pada 18:34
      Permalink

      Astagfirullah
      Dzolim bngt ini

      Balas
  • 30 Juni 2020 pada 20:00
    Permalink

    Sektor pendidikan malah dikomersialisasi utk kepentingan pemodal (kapitalis).
    Saatnya memperjuangkan sistem pendidikan Islam melaui dukungan sistem lain secar kaffah

    Balas
  • 30 Juni 2020 pada 19:58
    Permalink

    MaaSyaaAllah… Hanya Islam sebaik2 sistem dan solusi atas setiap problematika

    Balas
  • 30 Juni 2020 pada 19:55
    Permalink

    MasyaAllah…
    Luar biasaa…
    AllahuAkbar!
    Hanya Islam satu-satunya solusi atas berbagai masalah yang kita hadapi…

    Balas
  • 30 Juni 2020 pada 19:41
    Permalink

    Selama yg diterapkan bukan sistem Islam maka permasalahan akn trs ada, kapitalisme biang dr sgl permasalahan

    Balas
  • 30 Juni 2020 pada 19:32
    Permalink

    MasyaAllah..
    Hanya Islam satu-satunya solusi atas berbagai masalah yang kita hadapi..
    AllahuAkbar!

    Balas
  • 30 Juni 2020 pada 19:14
    Permalink

    Salah satunya agar kehidupan rakyat tdk sengsara lgi akibat para penguasa kapitalis maka saatnya kifa tegaknya Khilafah dan menerapkan syariat islam secara kaffah…

    Balas
  • 30 Juni 2020 pada 18:56
    Permalink

    mencontoh Rasulullah SAW. menjamin pendidikan setiap umatnya.

    Balas
  • 30 Juni 2020 pada 18:53
    Permalink

    membangun negara dengan tauladan Rasulullah SAW.

    Balas
  • 30 Juni 2020 pada 18:07
    Permalink

    Ayo terapkan sistem pendidikan Islam… Makin rindu khilafah….

    Balas
  • 30 Juni 2020 pada 17:43
    Permalink

    Mahasiswa harus bergerak melakukan perubahan hakiki yaitu berjuang utk tegakkanya Khilafah

    Balas
  • 30 Juni 2020 pada 17:39
    Permalink

    Astaghfirullah, sulitnya hidup dalam sistem Kapitalis..

    Balas
  • 30 Juni 2020 pada 16:34
    Permalink

    Ukt mahal, bukti Adanya komersialisasi lembaga pendidikan

    Balas
  • 30 Juni 2020 pada 16:23
    Permalink

    Inilah susahnya hidup di sistem kapitalis. Pendidikan mahal, output nya juga diragukan kualitasnya

    Balas
  • 30 Juni 2020 pada 15:51
    Permalink

    Lagi lagi kapitalisme menunjukkan watak aslinya semua lini dikapitalisasi termasuk pendidikan yang merupakan kebutuhan dasar. Ini menunjukkan kapitalisme hanya berpihak pada para pemilik modal yang punya modal yang bisa menikmati pendidikan. Berbeda dengan sistem Islam. Islam menjamin kkebutuhan dasse rakyatnya termasuk bidang pendidikan. Sudah saatnycampakkan kapitalisme kita kembali pada sistem Islam. Allahu Akbar.

    Balas
  • 30 Juni 2020 pada 14:05
    Permalink

    Astaghfirullah,memang peraturan yg diambil rezim kapitalis ini berdasarkan satu golongan,saatnya ganti sist yaitu sistim Islam

    Balas
  • 30 Juni 2020 pada 13:16
    Permalink

    Yang harus diwaspadai bukan hanya soal biaya pendidikan yang makin mahal. Pendidikan dalam sistem ini faktanya juga kian jauh dari kedudukannya yang mulia sebagai pilar peradaban.

    Balas
    • 30 Juni 2020 pada 15:45
      Permalink

      Islam solusi dari semua masalah.. apalagi pendidikan.. Islam lah yg mencetak generasi2 yang cemerlang

      Balas
    • 30 Juni 2020 pada 16:59
      Permalink

      Allahu Akbar…islam solusi kehidupan

      Balas
    • 1 Juli 2020 pada 06:23
      Permalink

      Udh nyata adanya bhwa islam mengatur semua aspek kehidupan

      Balas
    • 2 Juli 2020 pada 14:31
      Permalink

      Sekarang udah ga bisa dibedain mana swasta mana negeri. Negara hanya bisa berlepas tangan dari aktivitas politik yang benar sesuai Islam, yaitu mengurusi urusan ummat.

      Balas
    • 3 Juli 2020 pada 11:15
      Permalink

      Hemm…pendidikan era kapitalis, rasa komoditas…

      Balas
    • 3 Juli 2020 pada 12:12
      Permalink

      Astaghfirullah.. Makin melek dgn sitem saat ini.. Smg ummat cepet sadar dan kembali pada khilafah..

      Balas
      • 7 Juli 2020 pada 01:04
        Permalink

        Industrialisasi pendidikan akan hilang jika khilafah ditegakkan.

        Balas
    • 4 Juli 2020 pada 17:04
      Permalink

      Khilafah melahirkan pemimpin takut pada Allah.. poin ini sy suka 😍 semoga khilafah segera terwujud sehingga seluruh lini kehidupan tunduk pd syariat islam. Aamiin

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *