“SOS” Muslim Rohingya, Isyarat Dunia Butuh Khilafah

Oleh: Ummu Naira (Forum Muslimah Indonesia ForMind)

MuslimahNews.com, OPINI – Sebanyak 94 orang pengungsi etnis Rohingya, terdiri dari 15 orang laki-laki, 49 orang perempuan, dan 30 orang anak-anak ditemukan terdampar sekitar empat mil dari pesisir Pantai Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, pada Rabu (24/06/2020).

Kapal yang ditumpangi warga Rohingya itu “nyaris tenggelam”. Kemudian mereka dibawa ke bekas kantor imigrasi di Punteut, Kota Lhokseumawe pada Kamis sore.

Gelombang kekerasan pada tahun 2012 terhadap warga Rohingya membuat sebagian besar dari mereka keluar dari Myanmar. Kebanyakan menggunakan jalur laut.

Pada 2015 diperkirakan ada sebanyak 25 ribu orang Rohingya yang menyeberangi Laut Andaman untuk mencapai Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Banyak warga Rohingya yang akhirnya tenggelam karena menggunakan kapal yang tidak aman (republika.co.id, 13/06/2019).

Sejak kekerasan marak di negara bagian Rakhine, Agustus 2017 lalu, diperkirakan 700.000 Rohingya mengungsi dan sebagian besar melintasi perbatasan darat ke Bangladesh. Pemerintah Myanmar dikecam dunia internasional karena dituduh menyerang warga sipil muslim Rohingya (bbc.com, 25/06/2020).

Upaya Repatriasi Pengungsi Rohingya

Akhir tahun lalu, para pemimpin ASEAN telah sepakat untuk membentuk satuan tugas ad hoc guna membantu repatriasi pengungsi Rohingya dari Bangladesh ke Myanmar.

Yang dimaksud repatriasi adalah kembalinya suatu warga negara dari negara asing yang pernah menjadi tempat tinggal (Bangladesh) menuju tanah asal kewarganegaraannya yaitu Myanmar (id.wikipedia.org).

Satgas tersebut akan bekerja di bawah Sekretariat ASEAN untuk mengawasi pelaksanaan rekomendasi penilaian kebutuhan awal (preliminary needs assessment/PNA) berdasarkan laporan tim Pusat Koordinasi ASEAN untuk Bantuan Kemanusiaan (AHA Centre) bersama Tim Tanggap Darurat dan Penilaian ASEAN (ERAT). Namun warga Rohingya menolak kembali ke Rakhine karena khawatir akan dipersekusi dan status kewarganegaraan mereka tidak diakui menurut undang-undang Myanmar.

Baca juga:  Genosida Muslim Myanmar, Dunia Hanya Mengutuk, Tidak Lebih!

Alih-alih direpatriasi, banyak pengungsi Rohingya justru menjadi korban penggelapan dan perdagangan manusia saat berupaya mencari penghidupan yang lebih baik ke negara-negara lain, melalui jalur laut (bbc.com, 25/06/2020).

Pada Juni 2019, kasus perdagangan manusia atas pengungsi Rohingya ini ditemukan di Thailand. Waktu itu, sebanyak 65 orang Rohingya yang terdiri dari laki-laki, perempuan dan anak-anak ditemukan di pulau Rawi yang berada di sebelah selatan provinsi Satun, Thailand.

Kapal mereka terpaksa melempar jangkar setelah mesin kapal bermasalah saat sedang berusaha menuju Malaysia. Polisi setempat memiliki bukti atas dakwaan perdagangan manusia terhadap kapten yang berasal dari Thailand dan lima orang krunya yang berasal dari Myanmar (republika.co.id, 13/06/2019).

Masalah Pengungsi Rohingya yang Tak Kunjung Usai

Myanmar menganggap warga Rohingya sebagai imigran ilegal dari anak benua India. Mereka mengurung warga Rohingya di puluhan ribu kamp konsentrasi yang tersebar di negara bagian Rakhine untuk memisahkan warga minoritas muslim ini dari populasi Buddha di sana (republika.co.id, 13/06/2019).

Penindasan yang dialami oleh Etnis Rohingya terjadi dalam rentang waktu yang sangat lama. Mereka sering disebut sebagai “etnis paling teraniaya di dunia”. Rohingya diduga berada di Rakhine sejak zaman pendudukan Inggris, namun ada juga yang menyebut mereka sebagai suku asli Rakhine.

Sekitar 800 ribu hingga 1,1 juta etnis Rohingya tinggal di Rakhine, 500 ribu di Bangladesh. Pada insiden tahun 1982, Rohingya tidak termasuk dalam 135 etnis yang diakui di Myanmar.

Baca juga:  Krisis Rohingya: Apa yang Dipergoki Wartawan BBC di Desa-desa yang Terbakar Itu?

Akibatnya, mereka disebut sebagai imigran ilegal dari Bangladesh, tidak bisa mencari pekerjaan, menikah dan sekolah, tidak punya akta lahir dan surat kematian, serta menjadi korban perkosaan, pembunuhan, dan diskriminasi.

Tahun 2012 insiden kembali terjadi. Etnis Rohingya bentrok dengan etnis Buddha Radikal dan mengakibatkan 200 orang tewas dan 140.000 orang kehilangan tempat tinggal.

Lanjut tahun 2015, sebanyak 25.000 etnis Rohingya mengungsi dari Rakhine menggunakan perahu melalui Teluk Bengal. 370 orang tewas di laut dan 3.500 orang terdampar di Indonesia, Malaysia dan Thailand.

Pada 2016 yaitu sekitar bulan Oktober-November terjadi insiden yang diawali ditudingnya warga Rohingya menjadi dalang tiga serangan ke pos penjagaan aparat Myanmar yang mengakibatkan sembilan aparat tewas. Namun, tidak ada bukti konkret.

Dalam insiden ini setidaknya 86 etnis Rohingya tewas, 1.250 rumah hancur. Sebanyak 30.000 orang mencoba melarikan diri ke Bangladesh, namun dicegat. 72 orang tewas di sungai Naaf yang berbatasan dengan Bangladesh (cnnidonesia.com, 25/06/2020).

Hanya Khilafah yang Bisa Melindungi Muslim Rohingya

Berpuluh-puluh tahun teriakan “SOS” (Save Our Souls) dari warga muslim Rohingya telah nyata-nyata terdengar ke seluruh dunia, sampai-sampai mereka harus menjadi “manusia perahu”, tak tahu harus mencari pertolongan kepada siapa lagi.

Konsep “nation state” (negara bangsa) semakin mempersulit negara-negara lain untuk menolong warga muslim Rohingya, padahal kondisi mereka saat ini sudah sangat memprihatinkan.

Masalah Rohingya tidak bisa diselesaikan hanya dengan upaya repatriasi dari ASEAN. Sudah saatnya seruan “Khilafah untuk Rohingya!” kita gaungkan ke seluruh penjuru dunia karena hanya Khilafah yang akan bisa menolong warga muslim Rohingya dari ketertindasan selama ini.

Baca juga:  Lagi, Arab Saudi akan Deportasi Muslim Rohingya

Negara Khilafahlah yang bisa menerapkan secara nyata konsep bahwa muslim yang satu dengan muslim yang lain bagaikan satu tubuh karena tidak ada lagi sekat-sekat kebangsaan, sebagaimana sabda Rasulullah Saw.:

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang dengan sesama mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan baik (sakit) demam dan tidak bisa tidur.” (HR Bukhari-Muslim).

Dengan demikian Khilafah akan melindungi darah seluruh kaum muslimin, melindungi mereka dari segala bentuk penindasan terutama dari kaum kafir.

“[Imam/Khalifah itu tak lain] laksana perisai. Dia akan dijadikan perisai, di mana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng.” (HR Bukhari-Muslim)

Makna, al-Imâm Junnat[un] [Imam/Khalifah itu laksana perisai] dijelaskan Imam an-Nawawi:

أَيْ: كَالسَّتْرِ؛ لأَنَّهُ يَمْنَعُ اْلعَدُوَّ مِنْ أَذَى المُسْلِمِيْنَ، وَيَمْنَعُ النَّاسَ بَعْضَهُمْ مِنْ بَعْضٍ، وَيَحْمِي بَيْضَةَ الإِسْلاَمَ، وَيَتَّقِيْهِ النَّاسُ وَيَخَافُوْنَ سَطْوَتَهُ.

“Maksudnya, ibarat tameng. Karena dia mencegah musuh menyerang [menyakiti] kaum Muslim. Mencegah masyarakat, satu dengan yang lain dari serangan. Melindungi keutuhan Islam, dia disegani masyarakat, dan mereka pun takut terhadap kekuatannya.” (mediaumat.news, 20/11/2017).

Di bawah naungan Khilafah, 1,8 miliar umat Islam bisa bersatu dan menjadi kuat, sehingga perlindungan terhadap harkat dan martabat umat Islam di berbagai wilayah termasuk muslim Rohingya dapat diwujudkan secara nyata. Ini semua bukan utopia! [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

10 tanggapan untuk ““SOS” Muslim Rohingya, Isyarat Dunia Butuh Khilafah

  • 29 Juni 2020 pada 19:49
    Permalink

    Khilafah solusi dari semua permasalahan

    Balas
  • 29 Juni 2020 pada 09:41
    Permalink

    Innalilahi wa innailaihi rojiun.. kami belum bisa berbuat banyak dalam membantu saudara se aqidah, hanya sistem Islam yang mampu mengatasi permasalahan-permasalahan dunia saat ini

    Balas
  • 29 Juni 2020 pada 02:26
    Permalink

    Ya Allah…rrinndu khiafah

    Balas
  • 28 Juni 2020 pada 20:44
    Permalink

    hanya islam sebagai sistem aturan kehidupan yang mampu menyelesaikan masalah pokok ummat manusia, menghilangkan konsep “keserakahan antar golongan” dan mengembalikan manusia pada fitrahnya.

    Balas
  • 28 Juni 2020 pada 19:27
    Permalink

    Astaghfirullah….dalam Demokrasi sebagai umat muslim ,kita tidak berdaya untuk menolong mereka ya Allah
    #ReturKhilafah

    Balas
  • 28 Juni 2020 pada 15:44
    Permalink

    Hanya khilafah yang mampu menjaga jiwa manusia

    Balas
  • 28 Juni 2020 pada 15:39
    Permalink

    Ya Allah, lindungilah saudara kami..Muslim Rohingya…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *