Nafsiyah: Heroes of Mankind

Hero. Pahlawan.

Apa yang muncul di benak Anda ketika mendengar kata itu dalam pergaulan Anda? Jika Anda mengalami masa kanak-kanak seperti masa saya, Anda mungkin akan berpikir tentang “Spider-Man”, “Batman”, mungkin “Iron Man”, atau karakter pria dan wanita fiksi lainnya yang mungkin terpikir oleh Anda kecil.

Oleh: Ummah Voice Podcast

MuslimahNews.com, NAFSIYAH — Sebagai anak-anak, kita tumbuh dengan definisi yang ditentukan sendiri dari apa yang kita saksikan. Hero, hanya berlaku pada seseorang yang berjubah merah. Atau jika bukan pahlawan super, kita akan terpikir pada mereka yang berjuang untuk keadilan, kebebasan, juga kemerdekaan.

Kita terhipnotis dari definisi yang kita lihat pada sosok tersebut; Sosok musuh yang jahat dan sosok pria yang baik (karena ya, biasanya prialah yang selalu menang). Lalu kita pun tumbuh besar.

Beranjak dewasa, kita memulai langkah pertama kita di kehidupan. Menyadari bahwa kita hidup di dunia yang tidak sama dengan film mana pun yang kita tonton selama masa kanak-kanak. Tidak sesederhana itu…

Kita mulai menyadari dunia ini sedikit lebih “keras” dari yang kita sangka. Dan sosok “pahlawan” itu pun mulai menghilang, namun belum sepenuhnya, sebab kita baru saja belajar melangkah di dunia ini.

Kita baru saja membuka mata kita. Kita menyaksikan orang-orang dari berbagai warna dan ras. Berteman dengan mereka, menikmati hubungan dengan mereka. Sementara beberapa tidak ingin ada urusan dengan kita.

Lantas kita mulai sedikit lebih cepat melangkah di sepanjang kehidupan ini. Kita mulai melihat warna asli dari dunia yang kita tempati. Kita mulai membedakan antara hitam dan putih. “Pendek” dan “tinggi”, “kaya” dan “miskin”, “pintar” atau (bisa dikatakan) “bodoh”.

Baca juga:  Benarkah Akhlak di Atas Syariat?

Dunia ini mulai menancapkan definisinya dalam pikiran-pikiran kita. Memahat keinginannya. Kita mulai memberi label, secara tidak sadar. Kita melihat orang-orang yang berbeda diperlakukan secara berbeda, menggosipkannya dan menjelek-jelekkan penampilan mereka.

Kita pun menyadari segala hal yang tidak pernah kita pikirkan selama kita kecil: Orang-orang berbeda. Berbeda dalam hal warna, aksen, juga kepercayaan.

Kemudian semua itu mulai menampar kita, mungkin secara tidak sadar. Bahwa tidak ada yang namanya “orang baik”, “pahlawan” itu tadi. Bahwa tidak selalu orang baik menang di kehidupan ini. Karakter itu pun berakhir menjadi sekadar fantasi masa kanak-kanak.

Dunia, kehidupan, berbeda dari apa yang kita percayai. Hidup ternyata penuh dengan… kejahatan! Orang jahat sepertinya selalu menang. Makna kemerdekaan, kebebasan, dan keadilan sepertinya tidak ada di dunia ini, tidak nyata, setidaknya tidak seperti yang kita bayangkan selama ini.

Akan tetapi lihatlah, bagaimana jika istilah tadi, definisi tadi, yakni “pahlawan”… tidaklah fiktif? Bagaimana bila orang-orang baik di kehidupan itu benar-benar nyata? Bagaimana bila definisi tadi hanyalah sebagian kecil dari keadilan yang sesungguhnya? Sebagian kecil dari gambaran yang lebih besar. Bahwa bahkan sebagai anak-anak, kita tidak pernah menyadari sebenarnya apa itu keadilan, apa itu “kemerdekaan”, dan apa itu kebebasan.

Bagaimana jika semua itu sungguh nyata, namun ceritanya saja yang berantakan? Bagaimana jika kita memandangnya dengan cara yang salah?

Lihatlah sistem yang kita tinggali sekarang ini, mengontrol lingkungan kita, mengontrol segala definisi dan makna yang dipaksakan pada kita ketika kita anak-anak. Mungkin… orang jahat itu bukanlah orang jahat berkostum hijau atau musuh yang tidak terlihat, melainkan ia yang jelek, gila, dan berpakaian hitam.

Baca juga:  Mencintai Nabi Saw.

Bagaimana jika hukum buatan manusia, adalah penyebab mengapa kita menyaksikan begitu banyak ketidakadilan, mengapa kita menyaksikan banyak sikap rasisme, mengapa kita melihat banyaknya penderitaan dan kesakitan?

Memang benar, hidup adalah hidup. Kita akan menangis di dalam kehidupan ini, hal itu akan terjadi… Akan tetapi, bagaimana jika… saya ulangi, bagaimana jika… kehidupan ini ternyata jauh lebih luas dari yang kita kira? Lebih aman dari yang kita pikirkan. Lebih baik dari yang kita sangka. Dan lebih murah hati dari yang kita duga.

Bagaimana jika kita hanya memandangnya (kehidupan itu) dari sudut yang salah?

Alhamdulillah… sebagai seorang anak, saya tumbuh bersama Islam. Ayah saya selalu ada untuk mengajarkan mulai dari yang halal hingga yang haram. Ibu saya selalu menunjuki saya ke arah yang benar.

Akan tetapi, tetap saja, semua makna tadi adalah apa yang saya lihat dan tumbuh dengannya. Apa yang saya tidak percayai, tapi apa yang saya rasakan. Saya tidak pernah hidup di bawah sistem Islam. Tak satu pun dari kita.

Ketika tumbuh dewasa, saya mulai melihat Islam dengan cara yang jauh lebih luas. Saya benar-benar tercekat, kadang kala menyadari betapa detailnya dan betapa besar belas kasih yang ada dalam Islam. Sistem yang diusungnya, ideologinya, kebebasan sejati, saya merasa mengetahui bahwa di sana ada harapan ini. Bahwa ada keadilan di dunia ini. Bahwa hanya definisi yang salahlah yang membatasi dan menghalangi kita.

Lihat, sistem (sekarang ini) tidaklah bisa diperbaiki. Selalu, dan akan selalu mengandung racun. Kejahatan, kebencian, korupsi, hanyalah menggores permukaan saja. Sekuat apa pun Anda mencoba untuk melawannya, ia akan terus melawan balik.

Baca juga:  Bekerjalah, Allah SWT yang akan Menggenapi Syarat Kemenangan

Dan sebagaimana kita lihat hari ini, goresan itu tidak akan pernah hilang. Ia bagaikan pipa yang rusak, tua, dan patah, terus-terusan meneteskan air. Alih-alih menggantinya… Anda hanya terus mengepel lantai.

Sementara sistem Islam, memandang kita sebagai umat manusia, bukan berdasar ras atau warna. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّـهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّـهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ)

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kami dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kami saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS Al-Hujurat [49]: 13)

Subhanallah… Allah (SWT) memahami bagaimana manusia itu. Sebab Allah menciptakan kita dalam cara yang sama. Sebagaimana Ia menciptakan sistem yang tidak membeda-bedakan antarmanusia… semua hak adalah sama untuk semua. Tidak ada yang luput. Tak satu pun yang tidak dipedulikan.

Subhanallah, sungguh sebuah sistem yang penuh keindahan. Maka, bagaimana jika… para pahlawan ini nyata, benar-benar nyata? Bukan seperti yang kita pikirkan selama ini, namun lebih kepada kenyataan yang lebih mulia!

Mereka hanya belum ada kesempatan, untuk menjadi “penyelamat” umat manusia. Heroes of Mankind. Pahlawan umat manusia. [MNews | Gz] Sumber: https://s.id/kVCY7

Bagaimana menurut Anda?

4 thoughts on “Nafsiyah: Heroes of Mankind

  • 5 Juli 2020 pada 17:41
    Permalink

    Sedih banget tanpa 00 apalah artinya hidup..ya Allah, aq pikir juga begitu yg kaya, pintar dan cantik lah yg terhormat ternyata subhanallah..dari hukumnya lah trjdi kebenaran

    Balas
  • 28 Juni 2020 pada 08:26
    Permalink

    Masyaa Allah.Khilafah yang dirindukan 🏳🏴

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *