Khilafah, Obat Mujarab untuk Dunia

Oleh: Chusnatul Jannah

MuslimahNews.com, OPINI – Hampir enam bulan virus corona telah menginfeksi lebih dari 200 negara sejak kasus pertama di Wuhan, Cina. Pandemi corona memaksa negara-negara dunia menerapkan penguncian baik secara parsial maupun menyeluruh.

Karakter virus yang sangat mudah menular membuat negara-negara dunia menerapkan dengan ketat aturan pembatasan sosial. Berbagai cara dilakukan untuk menahan laju penyebaran.

Tak jarang pula banyak negara yang membekukan kegiatan ekonomi dan sosial warganya. Kegiatan bisnis ditutup. Social dan physical distancing menjadi kebijakan yang diadopsi seluruh dunia.

Ancaman resesi di depan mata. Perekonomian mandek dan mendorong dunia ke jurang resesi yang lebih parah dari krisis ekonomi 2008. Seluruh dunia kelimpungan menghadapi corona.

Vaksin yang belum menemui titik terang, pemulihan ekonomi yang masih dicari solusi, hingga krisis lain yang ikut terdampak: krisis pangan dan oksigen.

Data yang dihimpun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut hingga 24 Juni sudah ada 9,1 juta kasus Covid-19 yang terkonfirmasi dan setiap harinya bisa bertambah lebih dari 100 ribu kasus.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan beberapa negara mulai menghadapi krisis suplai oksigen. Ini karena semakin banyak kasus Covid-19, maka semakin banyak pasien yang memerlukan bantuan oksigen untuk bisa bertahan hidup.

Menurut Tedros, kebutuhan suplai oksigen dunia saat ini meningkat menjadi sekitar 88.000 silinder besar per hari atau setara 620.000 meter kubik oksigen. (detik.com, 25/6/2020)

Menurut Kepala ekonom CIMB Niaga, Adrian Panggabean, krisis ekonomi global 2020 ini memiliki karakteristik yang berbeda jika dibandingkan krisis 1997-1998 maupun krisis ekonomi 2008. Menurutnya, dibutuhkan solusi global untuk bisa mengatasi krisis ekonomi yang terjadi saat ini. (republika, 27/4/2020)

Demi upaya pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19, Presiden Asian Development Bank (ADB) Masatsugu Asakawa meluncurkan panel tingkat tinggi beranggotakan para ahli di bidang ekonomi, keuangan, dan kesehatan untuk membantu para menteri, gubernur bank sentral, dan pejabat senior dari negara-negara Asia Tenggara.

Tujuannya untuk mengidentifikasi langkah cepat yang diambil berbagai negara dalam mengatasi dampak kesehatan, sosial, ekonomi, dan keuangan akibat pandemi Covid-19.

Baca juga:  Lupakan “New Normal”, Saatnya Khilafah Hadir Kembali (1/2)

Solusi Semu Kapitalisme

Beragam cara dilakukan untuk meredam laju penyebaran Covid-19. Amerika Serikat, sebagai negara pengemban ideologi kapitalisme pun dibuat tak berdaya karena corona. AS menjadi negara paling subur penyebarannya setelah melampau Cina dan Italia.

Hampir 60 persen negara bagian Amerika tengah menghadapi peningkatan kasus corona. Per 26 Juni 2020, Amerika memiliki 2,5 juta kasus virus corona. Sebanyak 126 ribu meninggal dan 1 juta orang dinyatakan sembuh.

Cina dan Korea Selatan juga dibayangi gelombang kedua virus corona. Setelah sukses menangani pandemi, ditemukan 17 kasus baru di Korea Selatan. Hal ini mengonfirmasi Korea Selatan bakal menghadapi gelombang kedua corona.

Cina pun sama. Setelah melewati masa kritis, kali ini Cina dibayangi gelombang kedua pandemi seiring bertambahnya kasus baru. Dalam satu bulan terakhir, ada 57 kasus baru yang dikabarkan pihak berwenang Cina.

Tampaknya virus corona tak mudah ditaklukkan. Kemunculan kasus baru di beberapa negara yang sudah berhasil menurunkan kurva, memberi pandangan suram betapa virus ini benar-benar sulit teratasi.

Tak ayal, kekukuhan ideologi kapitalisme yang diemban mayoritas negara dunia menjadi runtuh seketika. Usianya semakin menua. Ketangguhannya makin terlihat melemah.

Sebagai ideologi, kapitalisme hampir menginfeksi seluruh negara di dunia. Baik yang bercorak sekuler-liberal atau yang berpaham sosialis-komunis. Pada akhirnya, solusi yang ditawarkan kapitalisme tidaklah ampuh menekan laju virus corona yang mengganas.

Diserang satu makhluk kecil, dunia tergagap. Ekonomi megap-megap. Sistem kesehatan terperangkap. Diikuti krisis multidimensi lainnya. Krisis pangan, krisis oksigen, dan krisis keuangan. Beraneka skema diterapkan. Semisal new normal yang menemui kegagalan. New normal malah menimbulkan klaster baru penyebaran.

Pandemi corona membuka tabir bobroknya kapitalisme memimpin dunia. Sangat wajar bila ada harapan di tengah kegagalan ideologi kapitalisme. Harapan itu ada pada Islam.

Dunia membutuhkan tatanan baru. Bukan tambal sulam yang sudah tak laku. Tidakkah corona mengandung “hikmah”? Di bawah naungan kapitalisme, masalah terus bertambah. Sikap manusia yang serakah merusak keseimbangan alam. Udara dan lingkungan membaik tatkala masyarakat dipaksa berada di rumah selama pandemi corona.

Baca juga:  Keniscayaan Sejahtera di Bawah Naungan Khilafah (2/2)

Kebiasaan mengonsumsi sebarang makanan juga dipaksa berubah lantaran corona. Hidup bersih dan sehat menjadi slogan ikonis sepanjang pandemi. Padahal, semua itu sudah diajarkan dalam Islam jauh sebelum virus ada. Hal ini mengindikasikan bahwa aturan Islam memang membawa kemaslahatan untuk umat manusia.

Tak heran bila desakan untuk kembali pada syariat Islam kian menggema. Sayangnya, ada beberapa pihak yang masih nyinyir dengan seruan ini. “Ini masalah corona, bukan masalah agama, “Virus Khilafah lebih berbahaya dari virus corona”, “Orang corona solusinya dikasih obat, bukan Khilafah.”

Itulah sederet narasi sumbang terkait Khilafah dan syariat Islam. Nyanyian yang terus dibunyikan bagi kaum gagal paham. Ya, gagal memahami akar permasalahan.

Khilafah, Obat Mujarab untuk Dunia

Dunia membutuhkan solusi menyeluruh. Tatanan kehidupan memerlukan suntikan ruh. Suasana ruhiyah yang penuh takwa. Bukan sekularisme yang menjauhkan manusia dari hakikat ia diciptakan. Kekuatan ideologi dan ruhiyah yang sahih. Yaitu sistem Islam dalam negara Khilafah.

Mengapa Khilafah menjadi obat ampuh untuk atasi permasalahan global? Ini alasannya:

Pertama, khilafah adalah sistem pemerintahan yang terbukti mampu bertahan selama 13 abad. Lebih lama dari kapitalisme yang baru berjalan seabad sudah mau runtuh. Selama masa pemerintahannya, Khilafah adalah satu-satunya negara yang berhasil mengatasi wabah di masanya. Hal ini terjadi di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab.

Konsep lock down yang menjadi istilah tren hari ini sebenarnya sudah menjadi panduan Islam saat terjadi wabah. Panduan itu tercakup dalam sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam, “Apabila kalian mendengar ada suatu wabah di suatu daerah, maka janganlah kalian mendatanginya. Sebaliknya kalau wabah tersebut berjangkit di suatu daerah sedangkan kalian berada di sana, maka janganlah kalian keluar melarikan diri darinya.”

Itu baru persoalan wabah. Islam juga memiliki seperangkat aturan komprehensif. Dari sistem politik, ekonomi, pendidikan, sosial, hingga pertahanan dan keamanan.

Baca juga:  The Amazing of Khilafah: Antara Tuduhan Ilusi dan Fakta Solusi (1/2)

Inilah keunikan ideologi Islam. Hanya saja, ideologi Islam tak bisa diterapkan kecuali ada negara yang mengembannya. Negara yang dimaksud tidak lain adalah Khilafah.

Kedua, Khilafah adalah ajaran Islam. Meski memiliki landasan dalil yang kuat, masih saja ada beberapa kalangan yang mencitraburukkan Khilafah. Seruan penegakan Khilafah selalu direspons negatif oleh penguasa. Padahal, ajakan ini adalah dakwah yang mengajak pada kebaikan.

Menjelaskan pada penguasa bahwa sistem yang ada sekarang tak layak dipertahankan. Mengapa malah dimusuhi? Sebagai sebuah gagasan, bukankah Khilafah layak didiskusikan sebagai sistem dan solusi alternatif untuk dunia dan negeri ini khususnya?

Ketiga, Khilafah itu bersandar pada wahyu bukan akal manusia. Oleh karenanya, tak pantas rasanya sebagai muslim, makhluk Allah yang lemah dan terbatas, malah nyinyir.

Ide Khilafah bukanlah ide perseorangan atau kelompok. Ide Khilafah itu berakar pada wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berbeda dengan sistem hasil pikiran manusia seperti kapitalisme atau demokrasi.

Berdasarkan sumber asalnya, tentu Islam dan Khilafah lebih unggul dibanding kapitalisme dan demokrasinya. Mengapa? Karena sistem Islam tak berasas pada manfaat dan kepentingan. Atau terjebak pada intrik politik yang menipu daya. Sebagaimana penerapan demokrasi dan kapitalisme.

Jika kapitalisme sudah pasti gagal, komunisme tak layak diemban, lantas ideologi apalagi yang hendak dijadikan pengganti? Jawabannya adalah Islam. Sistemnya pernah ada. Sejarah kegemilangannya nyata, dan dasar hukumnya jelas dan terpercaya. Apalagi yang mau dicari?

Demokrasi? Dari rahimnya sudah bermasalah. Sekularisme? Ia menjadi sumber masalah kehidupan. Kapitalisme? Sistemnya tak amanah dan berkeadilan. Komunisme? Apalagi ini. Sudahlah bertentangan dengan fitrah manusia, penerapannya tak berperikemanusiaan.

Simpulannya, penerapan sistem Islam dalam bingkai Khilafahlah satu-satunya asa untuk dunia. Khilafah itu memang ancaman. Ancaman bagi ideologi kapitalisme dan komunisme.

Khilafah adalah obat mujarab. Obat yang mampu menghilangkan borok kapitalisme yang menganga. Obat yang mampu menghapus sekularisme yang merusak imun keimanan kita. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

5 tanggapan untuk “Khilafah, Obat Mujarab untuk Dunia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *