Tangguh, Digdaya, atau Herd Immunity?

Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si. (Koordinator LENTERA)

MuslimahNews.com, OPINI – Pesantren Tangguh dan Kampung Tangguh, adalah program yang diluncurkan sebagian kepala daerah dalam rangka menyambut dan mengisi era kenormalan baru (new normal). Diketahui, sejumlah provinsi seperti Jawa Barat dan Jawa Timur mulai memberlakukan kebijakan Pesantren Tangguh.

Di samping itu, seiring menghijaunya zona di daerah-daerah terdampak Covid-19, para kepala daerah juga mulai memberlakukan program Kampung Tangguh.

Pondok Percontohan Pesantren Tangguh

Di Jawa Barat, Pondok Pesantren Shobarul Yaqien di Desa Kawunggirang, Kabupaten Majalengka, menjadi tujuan pertama untuk sosialisasi kebijakan Pesantren Tangguh Jawa Barat (wartakotalive.com, 12/06/2020).

Sementara di Jawa Timur, program Pesantren Tangguh dan Kampung Tangguh jauh lebih masif. Tercatat di beberapa kota terdapat pesantren-pesantren yang menjadi percontohan Pesantren Tangguh Jawa Timur. Pesantren-pesantren ini dipersiapkan sebagai percontohan Pesantren Tangguh Covid-19.

Di Kediri, ada Pondok Pesantren Lirboyo dan Pondok Pesantren Al Falah, Ploso. Di Jombang, ada Pondok Pesantren Tebuireng. Dan di Bondowoso, ada Pondok Pesantren Darul Falah.

Ada pula Pondok Pesantren Darul Ulum, Sampang, Madura; Pondok Pesantren Darussalam Gontor; Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras, Jombang; serta Pondok Pesantren Al-Falah, Jeblog,Talun, Blitar; dan sebagainya.

Kota/kabupaten lain yang juga melaksanakan program Pesantren Tangguh Jawa Timur di antaranya adalah Bojonegoro, Lamongan, Pacitan, Tulungagung, Malang, dan Pamekasan.

Dikutip dari Republika Online (11/06/2020), Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan perhatian pemerintah terhadap pondok pesantren dan gagasan mewujudkan pesantren tangguh itu, karena sekitar 21 persen dari total jumlah pesantren di Indonesia ada di Jawa Timur.

Bahkan, sambung Khofifah, ada pesantren yang santrinya mencapai puluhan ribu, seperti Pesantren Lirboyo dan Gontor. Oleh karenanya, pesantren perlu menyiapkan kondisi lembaga pesantrennya aman dari penyebaran Covid-19, mulai dari kebersihan, penyiapan layanan kesehatan, penerapan protokol kesehatan, hingga protokol kegiatan belajar mengajar di pesantren selama masa pandemi.

Dari Pesantren Tangguh yang sudah menjadi percontohan tadi, diharapkan juga bisa diterapkan di pondok pesantren lain di Jatim, bahkan juga kalau bisa menjadi inspirasi bagi pesantren di provinsi yang lain.

Sebagai dukungan penerapan normal baru di lingkungan pesantren, Khofifah sudah menyiapkan bantuan guna mendukung pesantren tangguh untuk bisa menegakkan protokol kesehatan. Bantuan itu, antara lain akan memberikan bantuan alat perlindungan diri (APD) ke setiap poskestren di Jawa Timur dengan total 34.650 buah.

Bantuan APD itu untuk 1.286 pondok yang di dalamnya terdapat poskestren. Selain itu Pemprov Jatim juga akan membagikan vitamin C pada santri dengan total bantuan sebanyak 92.836 blister, juga untuk untuk ustadz dan ustadzah sebanyak 52.759 blister.

Masker juga menjadi item yang akan didistribusikan pada pondok pesantren yang siap untuk menyambut santrinya untuk memulai kegiatan belajar dan mengaji. Total bantuan masker yang akan disalurkan ke pondok pesantren ada sebanyak 464.182 buah untuk santri dan juga sebanyak 52.759 buah untuk ustaz dan ustazah.

Selain itu, bantuan berupa tempat cuci tangan sebanyak 18.564 buah juga akan didistribusikan ke pondok pesantren, serta sebanyak 981.122 botol cairan pembersih tangan untuk santri dan ustadz/ustadzah yang ada di pesantren-pesantren di Jawa Timur.

Baca juga:  [Editorial] Aroma Busuk di Balik Narasi "A New Normal Life"

Kampung Tangguh

Tak hanya Pesantren Tangguh, di Jawa Timur juga tengah digalakkan program Kampung Tangguh. Sejak akhir Mei 2020, sebagaimana prediksi berakhirnya pandemi yang pernah dinyatakan Kepala BNPB, Doni Monardo, Kampung Tangguh mulai banyak diberlakukan di kota/kabupaten di Jawa Timur.

Kendati kota/kabupaten tersebut, saat itu masih zona merah. Sebutlah kota/kabupaten seperti Sidoarjo, Mojokerto, Lumajang, Malang, Surabaya, Gresik, Banyuwangi, Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Madiun, dan lain sebagainya.

Bahkan, Kampung Tangguh di Jawa Timur ini diharapkan dapat menjadi percontohan nasional. Dikutip dari beritajatim.com (16/06/2020), Kapolda Jatim Irjen Pol M. Fadil Imran dan Pangdam V Brawijaya MayJen TNI Widodo Iriansyah, berkunjung ke Kabupaten Madiun dalam rangka peninjauan KTS (Kampung Tangguh Semeru).

Kapolda berharap, desa atau kelurahan yang ada warganya terkonfirmasi positif Covid-19, supaya sudah ada kampung tangguhnya. Adanya kampung tangguh ini bisa menjadi basis untuk melawan dan menjaga warga dari virus corona.

Kapolda menyebut adanya kampung tangguh, diharapkan bukan sekadar ada penjagaan, ada cek suhu ataupun tempat lumbung pangan. Namun lebih dari itu, satgas Covid-19 desa harus benar-benar berfungsi. Jika ada warga yang memiliki gejala Covid-19, tim satgas gerak cepat untuk membawanya ke Puskesmas. Di Puskesmas dilakukan rapid test, jika hasilnya reaktif langsung dilakukan swab test.

Covid-19, menurut Fadil Imran, bukanlah aib yang harus disembunyikan. Jika terpapar harus disampaikan, agar bisa cepat ditangani, sehingga harapan sembuhnya juga cepat. Selain itu, Kampung tangguh, sebut Fadil Imran, jangan disamakan dengan halte bus.

Yang nyaris hanya menjadi tempat orang singgah, da setelah mereka pulih kampung tersebut kemudian ditinggalkan. Diharapkan, Kampung Tangguh menjadi lini terdepan untuk memberikan pertolongan kepada masyarakat. Bukan hanya kuat dan tangguh dalam sosial ekonomi, tapi juga dalam hal kesehatan terutama penanganan Covid-19.

Sementara itu Pangdam V Brawijaya MayJen TNI Widodo Iriansyah mengatakan, dengan adanya kampung tangguh, bisa membuat masyarakat tenang. Karena hingga kini belum ditemukan obat atau vaksin untuk penyelamatan Covid-19. Oleh karena itu, masyarakat harus memperhatikan pola hidup baru. Dengan menggunakan masker dan jaga jarak.

Peralihan Zona Pandemi dan Potensi Herd Immunity

Yang harus tetap disadari, hingga kini belum semua zona pandemi di daerah menghijau. Meski memang sudah ada kota/kabupaten yang telah resmi menjadi zona hijau. Untuk Jatim sendiri, saat memang sudah mulai ada kota/kabupaten yang menjadi zona hijau. Di antaranya adalah Probolinggo dan Madiun.

Gubernur Khofifah yang tak lain adalah Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Jawa Timur mencatat, wilayah dengan risiko penularan virus corona atau Covid-19 yang tinggi, tinggal tujuh kabupaten/kota. Sebelumnya ada 12 daerah. Angka ini tentu diharapkan bisa semakin turun (katadata.co.id, 21/06/2020).

Namun demikian, dikutip dari katadata.co.id (18/06/2020), ahli epidemiologi justru memperkirakan kasus positif virus corona Covid-19 di Pulau Jawa akan memasuki fase rawan penularan mulai Juli dan akan berlangsung selama tiga bulan. Ini karena pemerintah sudah mulai menerapkan tatanan normal baru.

Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, mengatakan dalam kondisi tersebut mobilitas orang diperkirakan meningkat. Belum lagi adanya pembukaan aktivitas ekonomi yang juga menjadi risiko.

Baca juga:  [Editorial] Aroma Busuk di Balik Narasi "A New Normal Life"

Hanya saja, Dicky kesulitan untuk memperkirakan kapan puncak penyebaran corona di Indonesia selama masa tersebut. Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan titik tertinggi kasus Covid-19 Tanah Air. Salah satunya karena pengujian spesimen corona yang masih terbatas.

Laporan hasil tes juga masih memakan waktu lama, sehingga kasus yang dilaporkan tidak mencerminkan kasus yang terjadi pada hari tersebut.

Senada, epidemiolog dari Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani, juga menilai prediksi atas puncak penyebaran corona di Indonesia sulit dilakukan. Menurutnya, hal tersebut akan bergantung dari konsistensi uji spesimen yang dilakukan pemerintah, agar angka kasus dapat mendekati data riil.

Laura menilai prediksi atas puncak penyebaran corona juga akan bergantung dari penerapan protokol kesehatan yang dilakukan oleh masyarakat. Jika warga bisa disiplin, maka puncak penyebaran Covid-19 bisa dicapai lebih dini.

Di samping itu, menurut Laura, puncak penyebaran corona juga masih sangat bergantung kepada surveilans kesehatan yang dijalankan nantinya. Berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, jumlah kasus corona hingga Rabu (17/6) mencapai 41.431 orang. Dari angka tersebut, 24.516 atau hampir 60% berada di pulau Jawa.

Studi lain juga menunjukkan, pasien terinfeksi Covid-19 berpotensi besar menularkan virus corona ke banyak orang pada saat pertama kali mereka merasa tidak sehat. Oleh karena itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) khawatir pelonggaran karantina wilayah (lockdown) akan mendorong penyebaran virus (katadata.co.id,10/06/2020).

Terlebih, WHO juga mengkhawatirkan fenomena OTG (Orang Tanpa Gejala), yang posisinya lebih berbahaya karena dirinya merasa tetap sehat, tak menyadari bahwa statusnya positif Covid-19 sehingga tidak dikarantina maupun isolasi diri. Akhirnya, dia malah bisa menularkan Covid-19 kepada orang lain dalam jangkauan yang lebih luas.

Tersebab hal ini, tak hanya gelombang kedua Covid-19 yang berpotensi muncul. Tapi juga peluang herd immunity.

Lihat saja Selandia Baru, setelah sempat berhasil menangani pandemi, Selandia Baru malah melaporkan ada 2 kasus baru Covid-19 (liputan6.com, 16/06/2020). Apalagi masih ada potensi bahaya lain, yakni herd immunity. Sebagai istilah yang pernah diperkenalkan oleh pemerintah di awal pandemi, bukan tidak mungkin istilah “herd immunity” dapat kembali diluncurkan.

Memahami Makna Herd Immunity

Dikutip dari tirto.id (03/04/2020), konsep herd immunity meniscayakan peperangan antara virus dengan manusia di tengah pandemi dalam soal adu cepat siapa yang lebih dulu bisa beradaptasi, yakni virus dengan mutasi genetiknya atau manusia dengan kekebalan tubuhnya. Vaksin semata-mata diciptakan agar manusia memenangkan pertempuran tersebut.

Konsep “adu cepat” terhadap adaptasi inilah yang agaknya perlu dikritisi dalam kebijakan Pesantren Tangguh dan Kampung Tangguh. Jika karantina tidak sempurna dilaksanakan, terlebih diiringi telah berlangsungnya kehidupan normal baru, maka kurva landai angka korban pandemi masih berpeluang untuk kembali menanjak.

Pesantren Tangguh dan Kampung Tangguh tidak akan berdampak signifikan jika protokol kesehatan tidak diupayakan dalam sistem tata kelola pandemi yang tegas. Kembali lagi, kerumunan dan aktivitas komunal hanya akan menjadi ladang empuk penyebaran pandemi jilid dua.

Baca juga:  [Editorial] Aroma Busuk di Balik Narasi "A New Normal Life"

Wabah penyakit akibat infeksi virus akan hilang ketika mayoritas populasi kebal, dan individu berisiko terlindungi oleh populasi umum. Dengan begitu virus akan sulit menemukan host atau inang untuk menumpang hidup dan berkembang.

Kondisi itu disebut dengan Herd Immunity atau kekebalan kelompok. Untuk mencapai kekebalan kelompok, mayoritas populasi harus sembuh dari infeksi patogen agar sel memori imun merekam ciri-ciri patogen penyebab penyakit. Caranya bisa ditempuh dengan vaksinasi atau membiarkan tubuh mendapat paparan penyakit secara alami.

Kekebalan kelompok dari infeksi alami berisiko menimbulkan sakit parah bahkan kematian. American Heart Association bahkan mengatakan pemulihan infeksinya memakan waktu lama hingga hitungan bulan bahkan tahunan. Bayangkan berapa banyak negara harus menanggung kerugian dengan menempuh cara ini.

Infeksi SARS-CoV-2 (virus penyebab Covid-19) pada satu orang diperkirakan dapat menular kepada 2-3 orang lain. Rata-rata algoritma kekebalan kelompoknya harus mencapai 50-67 persen populasi. Dengan jumlah penduduk 271 juta jiwa (proyeksi 2020), Indonesia perlu membuat 182 juta rakyatnya terinfeksi dan membentuk herd immunity.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk lansia di Indonesia berkisar 10 persen. Dengan asumsi tersebut pemodelan kelompok rentan yang harus mendapat penanganan khusus mencapai 18,2 juta jiwa.

Jumlah tersebut belum ditambah kelompok rentan lainnya yang memiliki penyakit bawaan seperti hipertensi, diabetes, kanker, HIV, dll. Sementara jika dihitung dari persentase kematian akibat Covid-19 sebesar 8,9 persen, maka Indonesia akan kehilangan sekitar 16 juta jiwa dari total 182 juta jiwa yang terinfeksi.

Ini bukan angka yang kecil. Dan inilah potensi buruk yang sangat mungkin terjadi di negeri kita. Na’udzu billaahi.

Bagaimana pun harus diingat bahwa data Covid-19 di lapangan bersifat sangat dinamis, bahkan fluktuatif. Terdapat daerah-daerah yang sebelumnya mungkin tidak terdampak, namun dapat berubah menjadi daerah-daerah dengan risiko rendah. Begitu juga ada daerah dengan risiko rendah yang dapat berpindah menjadi zona risiko sedang, ataupun sebaliknya.

Keseriusan penguasa mengurusi rakyat di era pandemi ini harus mencapai standar ikhtiar tertinggi. Agar dapat menghadang peluang buruk dengan munculnya gelombang corona jilid dua dan/atau herd immunity. Demi mencapai zona nol Covid-19 sebenar-benarnya.

Sabda Rasulullah Saw.

الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat diurusnya.” (HR Muslim dan Ahmad).

Juga sabda beliau Saw. berikut ini:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tidaklah dari seorang hamba yang diberi amanat oleh Allah untuk memimpin rakyat, lalu mati, yang pada hari ia mati ia dalam keadaan menipu rakyatnya, kecuali Allah mengharamkan baginya surga.” (HR Muslim).

Tidak selayaknya penguasa menumbalkan kemampuan adaptasi imunitas tubuh masyarakat dalam rangka ambisi menjajal kenormalan baru, namun sejatinya hanya bentuk lain keengganan berkorban yang terbaik hingga berakibat pada terjadinya herd immunity.

Pesantren Tangguh dan Kampung Tangguh seyogianya bukan untuk menguji kedigdayaan warga dengan imunitasnya, melainkan semestinya menjadi frasa motivasi optimis mengurusi urusan masyarakat dengan sebaik-baiknya demi tunainya pandemi. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Satu tanggapan untuk “Tangguh, Digdaya, atau Herd Immunity?

  • 28 Juni 2020 pada 11:02
    Permalink

    Apakah negara punya dana yang cukup untuk berlangsungnya program tersebut?untuk berapa lama….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *