Bagaimana Keluarga Muslim Mengelola Keuangan di Tengah Pandemi?

Oleh: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, KELUARGA – Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung lebih kurang empat bulan di negeri ini telah memberikan dampak luar biasa bagi masyarakat. Tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan, tetapi juga berpengaruh pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Tidak sedikit rakyat kehilangan pekerjaan dan mata pencahariannya, akibat terkena PHK, tempat kerja mereka tutup, atau tempat usahanya berhenti beroperasi untuk sementara waktu.

Bahkan tidak sedikit akhirnya dalam pengeluaran sehari-hari mengandalkan tabungan yang semakin menipis. Terlebih lagi adanya kebijakan lockdown dan selanjutnya PSBB, praktis segala sesuatunya dilakukan di rumah.

Anak-anak sekolah dari rumah, para bapak pun bekerja dari rumah. Dan saat bekerja dan belajar di rumah, ternyata banyak pengeluaran ekstra yang harus dikeluarkan. Misalnya kuota internet untuk anak-anak belajar dan suami bekerja dari rumah, listrik, camilan anak, masker, hand sanitizer, sabun cuci tangan, dan sebagainya.

Apalagi kita hidup dalam sistem kapitalis sekuler, di mana negara memang berlepas tangan terhadap permasalahan rakyatnya. Rakyat dibiarkan menyelesaikan sendiri permasalahan yang menimpanya. Wajar jika akhirnya sebagian rakyat menanggung beban yang cukup berat terdampak Covid-19 ini.

Bagaimana pun, kita harus menyadari bahwa terjadinya pandemi ini adalah dengan izin Allah, sebagai musibah, ujian, dan teguran sayangnya Allah untuk kita semua.

Yakin bahwa ini adalah ketetapan Allah yang akan menjadikan kita bersabar menghadapi pandemi ini, sambil terus berupaya keras dan maksimal menjalani semua aktivitas-aktivitas kita, melaksanakan peran-peran kita dengan baik sebagai suami, ayah, ibu, istri, anak, ataupun bagian dari masyarakat, meski saat ini sebagian besar aktivitas kita lakukan di rumah dengan tetap memperhatikan kesehatan diri dan keluarga kita. Kita yakin, bahwa banyak sekali hikmah yang Allah berikan bagi kita atas kejadian ini.

Tidak mudah memang, menghadapi pandemi ini, tapi sesungguhnya Islam dengan aturan-aturannya yang terperinci telah memberikan rambu-rambu kepada kita bagaimana seharusnya kita menyikapi pandemi ini, sehingga kita tetap bisa maksimal menjalankan peran kita dengan baik.

Berusaha keras pada hal-hal yang memang ada dalam kuasa kita untuk mencapainya dan di sisi lain pun kita tetap berserah diri pada Allah jika itu berada di luar kuasa kita.

Dengan demikian, kita akan tetap optimis mengarungi ombak bahkan gelombang yang menghadang di hadapan kita, in syaa Allah. Termasuk ketika kita menghadapi masalah keuangan di saat pandemi ini.

Berikut ini beberapa tuntunan Islam yang bisa kita amalkan ketika kita dihadapkan dengan masalah keuangan di masa pandemi Covid-19:

Baca juga:  Kasus Covid Naik, Prestasi atau Kontroversi?

1) Memahami dan meyakini bahwa rezeki adalah ketetapan Allah SWT.

Manajemen keuangan keluarga islami harus dilandasi prinsip keyakinan bahwa penentu dan pemberi rezeki adalah Allah SWT, tugas manusia adalah berusaha dengan niat memenuhi kebutuhan keluarga agar dapat melaksanakan semua kewajiban.

Sehingga, memiliki komitmen dan prioritas penghasilan halal yang membawa berkah dan menghindari penghasilan haram yang membawa petaka. Allah telah mengatur rezeki untuk hamba-Nya, dan juga sudah dibagi dengan adil, tidak akan pernah tertukar.

Allah SWT berfirman,

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS Asy Syuraa: 27)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Allah memberi rezeki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.”

2) Membicarakan kondisi keuangan dengan anggota keluarga.

Sebaiknya kita menyampaikan kondisi keuangan kita kepada seluruh anggota keluarga, agar mereka tidak kaget ketika terjadi perubahan pola konsumsi dalam keluarga.

Kita juga harus mengenalkan kepada anak-anak untuk mengetahui perencanaan keuangan keluarga, agar si kecil memahami bahwa di masa Covid-19 ini, mereka pun juga turut andil untuk berhemat. Misalnya dengan mengurangi pengeluaran yang tidak terlalu penting.

Dengan demikian seluruh anggota keluarga bisa memahami kondisi ini, lebih baik lagi jika seluruh anggota keluarga bisa bekerja sama dan melakukan aktivitas bersama, misalnya memasak makanan kesukaan keluarga yang biasanya dibeli, sehingga bisa menghemat pengeluaran keluarga.

Atau berkebun sayuran bersama walaupun sederhana sehingga disamping bisa mempererat hubungan keluarga, bisa juga mengurangi uang belanja.

3) Prioritaskan kebutuhan pokok.

Islam mengajarkan agar pengeluaran rumah tangga muslim lebih mengutamakan pembelian kebutuhan-kebutuhan pokok sehingga sesuai dengan tujuan syariat, yaitu memelihara jiwa, akal, agama, keturunan, dan kehormatan.

Karenanya, kita memprioritaskan dulu untuk membeli kebutuhan-kebutuhan yang penting dan pokok, misalnya pangan untuk kebutuhan sehari-hari, lalu baru memikirkan kebutuhan lainnya.

Kita penuhi kebutuhan makanan untuk seluruh anggota keluarga kita, walaupun dengan menu-menu yang lebih sederhana. Tentu saja dituntut kreativitas dari seorang ibu untuk menyediakan menu-menu makanan yang bergizi tapi dengan harga yang dapat dijangkau keuangan keluarga.

Baca juga:  Pandemi Covid-19, “New Normal”, dan Kebutuhan Dunia terhadap Peradaban Islam

4) Mengutamakan penunaian kewajiban.

Dalam sistem kapitalis sekuler, tidak ada yang cuma-cuma. Kebutuhan-kebutuhan pokok seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan yang seharusnya menjadi kewajiban negara untuk memenuhinya, dibebankan kepada rakyat.

Rakyat dibebankan biaya-biaya yang tidak sedikit, setiap bulannya kita dituntut untuk membayar listrik, air, uang sekolah anak, bahkan ada sebagian kita yang harus membayar jasa keamanan karena negara tidak menjaminnya.

Demikian halnya dengan pemenuhan akad-akad yang sudah kita lakukan, mau tidak mau kita harus penuhi. Karena ini pun merupakan kewajiban kita memenuhi akad, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Maaidah ayat 1 : “Yaa ayyuhalladziina aamanu aufuu bil ‘uquud. (Hai orang-orang beriman penuhilah akad-akad kalian.) Maka menjadi kewajiban kita untuk menunaikannya.

Contoh yang paling dekat adalah biaya anak kita menuntut ilmu, apakah di sekolah, boarding school, ataupun di pondok.

Jika keuangan kita dalam keadaan tidak mencukupi, maka kita harus memperbaharui akad tersebut dengan meminta keridaan dari pihak sekolah atau pondok. Misalnya, kita tidak membayar penuh biaya pendidikan dengan hanya membayar SPP anak kita saja, karena mereka tidak di pondok saat pandemi. Sehingga kita pun tidak membebani pondok ataupun sekolah karena merekapun harus menggaji para guru dan ustaz atau ustazahnya.

Jika kita tidak mampu menunaikannya pada saat ini harus dikomunikasikan dengan pihak pondok dan sekolah, apakah posisinya menjadi utang atau dibebaskan. Sebaliknya, pihak sekolah ataupun pondok juga bisa memberikan keringanan kepada para orang tua sehingga tidak saling membebani yang satu dengan yang lain.

5) Tidak besar pasak daripada tiang.

Islam telah memberikan bertanggung jawab kepada ayah atau suami untuk mencari nafkah yang halal bagi istri dan anak-anaknya, sedangkan istri bertugas membantu suami mengatur pendapatan suaminya dan tidak boleh membebani suami dengan beban kebutuhan dana di luar kemampuannya.

Terlebih di masa pandemi –yang kita belum tahu kapan akan berakhir–, seorang istri harus dapat mengatur pengeluaran rumah tangganya seefisien mungkin menurut skala prioritas sesuai dengan penghasilan dan pendapatan suami, jika bisa menyisihkan untuk ditabung atau bersedekah tentu lebih baik.

Abu bakar pernah berkata, “Aku membenci penghuni rumah tangga yang membelanjakan atau menghabiskan bekal untuk beberapa hari dalam satu hari saja.”

Dalam berumah tangga, suami-istri hendaknya memiliki konsep bahwa pembelanjaan hartanya akan berpahala jika dilakukan untuk hal-hal yang baik dan sesuai dengan perintah Allah.

Baca juga:  6 Tips Merukunkan Kakak dan Adik

Sabda Nabi (Saw.), “Sesungguhnya tidaklah kamu menafkahkan suatu nafkah dengan ikhlas karena Allah kecuali kamu mendapat pahala darinya.” (Muttafaq ‘Alaih).

6) Berhemat dan sederhana.

Di masa pandemi saat ini, mau tidak mau kita dituntut untuk bijaksana dalam membelanjakan harta, apalagi jika kita tidak memiliki pendapatan tetap atau bisa jadi saat ini kita mengandalkan tabungan.

Sudah seharusnya kita berhemat dan menerapkan pola hidup sederhana. Kita membelanjakan sesuai dengan kebutuhan, menahan diri dari membelanjakan harta untuk hal-hal yang kurang penting, semata hanya memenuhi keinginan kita.

Rasulullah (Saw.) bersabda, “Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakan dengan pertengahan dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga pada hari ia miskin dan membutuhkannya.” (HR Ahmad) “Tidak akan miskin orang yang berhemat dalam pengeluaran.” (HR Ahmad).

7) Membantu pendapatan keluarga.

Tidak dapat dipungkiri, pada faktanya banyak para ayah yang penghasilannya berkurang, bahkan kehilangan pekerjaan di masa pandemi Covid-19 ini. Maka sesungguhnya Islam tidak melarang para istri bekerja, berdagang, atau melakukan aktivitas lainnya yang mendatangkan rezeki untuk membantu suami, asalkan suaminya mengizinkan dan tidak melalaikan kewajiban utamanya sebagai ummu wa rabbatul bait (ibu dan pengelola rumah suaminya) serta kewajiban-kewajiban lainnya.

Hanya saja ia tetap berkewajiban mendorong dan memotivasi suaminya untuk mencari nafkah atau berusaha bersama-sama saling bahu membahu untuk mendatangkan rezeki, misalnya kerja sama dalam berdagang dan sebagainya.

8) Menyisihkan sebagian harta untuk bersedekah.

Pada saat pandemi, banyak sekali kaum muslimin lainnya yang terkena dampaknya, maka alangkah baiknya kita menyisihkan harta kita walaupun sedikit untuk membantu saudara kita yang membutuhkan, apakah berupa makanan ataupun uang.

Bersedekahlah kalian, karena sesungguhnya sedekah dapat menambah harta yang banyak. Maka bersedekahlah kalian, niscaya Allah menyayangi kalian. (Al-Wasail 6: 255, hadis ke-11).

Allah juga menjanjikan untuk menambah harta yang didapat dengan bersedekah. Lewat bersedekah berarti Anda bersyukur atas nikmat yang diperoleh.

Demikianlah tuntunan Islam dalam pengelolaan pendapatan yang kita miliki. Di tengah pandemi Covid-19 sekarang ini, sudah seharusnya kita lebih hati-hati dan bijaksana dalam mengatur dan mengelola harta yang kita miliki, dan tetap dengan keyakinan bahwa Allah Ar-Razaaq, Yang Maha Pemberi Rezeki, yang Maha Mencukupkan Rezeki untuk kita semua.

Semoga Allah senantiasa melapangkan rezeki untuk kita semua serta memberikan kecukupan dengan rezeki yang diberikan-Nya untuk kita. Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

37 tanggapan untuk “Bagaimana Keluarga Muslim Mengelola Keuangan di Tengah Pandemi?

  • 9 Juli 2020 pada 07:08
    Permalink

    Maa syaa Allah. Sungguh solusi Islam selalu mendatangkan ketentraman dan kenyamanan.

    Balas
  • 3 Juli 2020 pada 20:54
    Permalink

    Semoga Allah senantiasa melapangkan rezeki untuk kita semua serta memberikan kecukupan dengan rezeki yang diberikan-Nya untuk kita.
    Aamin…..

    Balas
  • 28 Juni 2020 pada 05:04
    Permalink

    Yakin. Rizki itu datangnya dari Allah

    Balas
  • 27 Juni 2020 pada 22:20
    Permalink

    Islam sungguh agama yang sempurna mengatur seluruh aspek kehidupan mulai dari pemerintahan hingga keluarga dan individu.

    Balas
  • 27 Juni 2020 pada 20:34
    Permalink

    Semoga Allah mudahkan kita mengelola rezeki di masa pandemi ini, aamiin

    Balas
  • 27 Juni 2020 pada 19:14
    Permalink

    Islam telah mengatur segalanya dengan sempurna.

    Balas
    • 29 Juni 2020 pada 08:11
      Permalink

      Sangat terasa sekali dampak ekonomi dr pandemi ini, lebih kasihan lg yg hidup di bwh garis kemiskinan. Semoga Allah limpahkan rizki yg halal dan barokah

      Balas
  • 27 Juni 2020 pada 18:12
    Permalink

    Islam solusi sesuai fitrah

    Balas
  • 27 Juni 2020 pada 16:31
    Permalink

    Jazaakillah khoir atas ilmunya

    Balas
  • 27 Juni 2020 pada 08:44
    Permalink

    MasyaAllah memang hanya sistem islam yg sempurna bagi manusia…

    Balas
  • 27 Juni 2020 pada 06:47
    Permalink

    MasyaAllah lengkap sekali tuntunan Islam dalam kehidupan kita. Islam Kaffah solusi problema umat. Semoga Daulah Kilafah ‘ala manhaj nubuwah segera bisa tegak kembali, utk mewujudkan kehidupan Islam yg rahmatan lil alami. Allahu Akbar!!

    Balas
    • 29 Juni 2020 pada 04:26
      Permalink

      Maa Syaa Allah tuntutan yg sempurna

      Balas
  • 26 Juni 2020 pada 23:13
    Permalink

    Aamiin yaa Robbal Aalamiin

    Balas
  • 26 Juni 2020 pada 21:18
    Permalink

    Masya Allah.. Indahnya aturan Islam ✨

    Balas
  • 26 Juni 2020 pada 18:36
    Permalink

    Islam memiliki aturan yang sempurna dan menyeluruh…

    Balas
    • 27 Juni 2020 pada 18:39
      Permalink

      MasyaaAllah, di musim. Pandemi saat ini kita harus pintar2 dalam mengelola keuangan keluarga

      Balas
    • 26 Juni 2020 pada 18:55
      Permalink

      Maa syaa Allah..

      Balas
      • 27 Juni 2020 pada 16:34
        Permalink

        Aamiin ya robbal’alaamiin

        Balas
  • 26 Juni 2020 pada 17:41
    Permalink

    Ma syaa-a Allah.. Jazaakillaah khairan katsiiran Ustadzah

    Balas
  • 26 Juni 2020 pada 16:58
    Permalink

    Yakin akan qodho Allah.
    Berharap agar syariah dan khilafah segera tegak.

    Balas
    • 26 Juni 2020 pada 20:41
      Permalink

      Islam mengatur kehidupan dg sangat sempurna,tapi terkadang hambanya TDK mau mengikuti aturan tsb, Alhamdulillah Allah berikan hidayah KPD mereka yg berusaha mendapatkan nya,dg mengkaji Islam dg intensif sehingga memahami aturan Islam ini, terutama peran seorang ibu dituntut untuk serba bisa disamping peran utamanya sbg ummun warobbatul bait TDK boleh diabaikan..

      Balas
  • 26 Juni 2020 pada 16:23
    Permalink

    Jazakillah khoir ilmunya ustadzhah

    Balas
    • 28 Juni 2020 pada 22:25
      Permalink

      MasyaAllah islam begitu sempurna

      Balas
  • 26 Juni 2020 pada 15:51
    Permalink

    Semoga kita semua dilindungi oleh Allah
    Aamiin

    Balas
  • 26 Juni 2020 pada 15:20
    Permalink

    Subhanallah, Islam aturan sempurna..

    Balas
  • 26 Juni 2020 pada 12:19
    Permalink

    Semoga covid ini segera berakhir

    Balas
    • 26 Juni 2020 pada 18:44
      Permalink

      Ya Allah, semoga pandemi ini segera berakhir,lindungilah bangsa ini dari penguasa yg dzolim dan segerakan tegakkan khilafah

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *