Klaster Baru di Pasar, Penjual dan Pembeli Semakin Gusar

Oleh: Henyk Nur Widaryanti, S.Si., M.Si.

MuslimahNews.com, OPINI – Masih berbicara masalah pandemi Covid-19. Kini persebarannya semakin susah dikendalikan. Setelah berakhirnya masa PSBB yang digadang-gadang sebagai upaya mencegah penyebaran corona, muncul klaster-klaster baru. Salah satunya adalah klaster pasar. Hingga saat ini, ada 529 pedagang pasar seluruh Indonesia terpapar corona. Dengan 29 di antaranya meninggal. (okezone, 13/6/2020)

Sebenarnya, usaha mencegah dan mengendalikan virus ini telah dilakukan. Di antaranya menyiapkan tempat cuci tangan, imbauan memakai masker, physical distancing, hingga pengadaan rapid test (meski yang lebih direkomendasikan adalah PCR akibat tingkat akurasi rapid test yang lebih rendah).

Sayangnya, tak semua penjual dan pembeli di pasar melakukannya. Kita sendiri tentu mengalami, andaikan tanpa kesadaran pribadi akan susah melakukan “menjaga jarak” dengan pembeli lainnya. Apalagi di pasar tradisional dengan penjagaan atau pengaturan yang tidak ketat.

Penolakan Akibat Paranoid

Sebagaimana yang terjadi di Pasar Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pasar ini telah menjadi klaster baru penyebaran virus. Hingga (7/6/2020) ada 20 pedagang di pasar ini terpapar corona.

Untuk menanggulanginya sebagaimana di pasar lainnya, petugas kesehatan mengadakan rapid test. Namun, sayangnya kedatangan para petugas ini malah dianggap mengganggu. Para pedagang dan pembeli malah ramai-ramai mengusir mereka. Hingga berujung keributan dan TNI turun tangan.

Baca juga:  Memakai “Hand Sanitizer” yang Mengandung Alkohol, Apa Hukumnya?

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Mike Kaltarin, pengusiran yang dilakukan masyarakat ini adalah bukti belum bagusnya edukasi. Seharusnya masyarakat memahami bahwa rapid test merupakan metode deteksi dini penyebaran Covid-19 (kumparan, 11/6/2020).

Hal senada disampaikan Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat, Hermawan Saputra. Menurutnya, adanya penolakan pedagang tentang rapid test karena kurangnya pendekatan persuasif. Para pedagang merasa takut jika ternyata positif corona atau mereka justru cuek. Karena tak ada jaminan pemenuhan bagi hidup mereka. (okezone, 11/6/20)

Memaksimalkan Peran Periayah

Kondisi semacam ini memperlihatkan betapa tidak efektifnya kebijakan penguasa dalam menanggulangi sebaran Covid-19. Tidak adanya pendekatan person to person, membuat para pedagang tidak memahami makna protokol kesehatan dan rapid test.

Mereka cenderung hidup dalam ketakutannya bahwa jika terkena Covid-19 akan dikarantina dan tidak bisa berjualan lagi. Alhasil penolakan rapid test adalah solusi praktis yang mereka ambil.

Andaikan ada pendekatan personal, secara halus, dan tidak terkesan sidak, pasti para pedagang mengikuti aturan. Misalnya, dengan mengadakan tes covid door to door, datang ke rumah pedagang satu per satu, serta memberikan penyuluhan dan pemahaman akan bahaya virus corona dan pentingnya menerapkan protokol kesehatan.

Baca juga:  Rezim Tergagap Corona, Fungsi Negara ke Mana?

Di samping itu perlu juga adanya jaminan terpenuhinya kebutuhan masyarakat. Tak terkecuali para pedagang. Agar mereka tak bimbang memikirkan cara memenuhi kebutuhannya, terutama kebutuhan pokok.

Sehingga, para pedagang tak lagi nekat berjualan di masa pandemi. Kalaupun ada yang berjualan, mereka akan memperhatikan penjagaan protokol kesehatan. Ini adalah tanggung jawab utama pemerintah, selaku pengurus urusan rakyat.

Jika penyuluhan, aturan, dan kebijakan telah diterapkan, maka untuk menjamin semua itu bisa terlaksana harusnya dengan penerapan sanksi. Sanksi yang tegas diperlukan bagi pelanggar yang memang tidak memenuhi aturan. Agar mereka memiliki efek jera, sehingga tidak mengulangi kesalahan lagi. Tentunya hal ini dilakukan setelah edukasi yang memadai.

Dengan pemaksimalan peran dari pemerintah, diharapkan para pedagang dan pembeli tak lagi gusar. Mereka akan fokus pada penerapan protokol kesehatan dan mematuhi setiap aturan yang ditetapkan. Tentu semua ini hanya bisa ideal ketika berlangsung dalam sistem Islam. Wallahu a’lam bishawwab. [MNews]

2 thoughts on “Klaster Baru di Pasar, Penjual dan Pembeli Semakin Gusar

Tinggalkan Balasan