Mencukupi Ekonomi Rumah Tangga di Masa Pandemi

Oleh: Arum Harjanti

MuslimahNews.com, FOKUS – Salah satu sektor yang mengalami dampak besar akibat pandemi Covid-19 adalah ekonomi rumah tangga. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan sektor rumah tangga mengalami tekanan dari sisi konsumsi.

Selain karena masyarakat sudah tidak beraktivitas di luar rumah sehingga daya beli pun menurun, juga karena kehilangan pendapatan terutama bagi keluarga miskin dan rentan di sektor informal.[1]

Bank Indonesia pun melaporkan adanya penurunan konsumsi rumah tangga.[2] Peneliti dari Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) Zainul Hidayat memperkirakan ada 17,5 juta rumah tangga terancam termiskinkan karena adanya penurunan upah dan tanpa pendapatan sebagai akibat pandemi ini.

Selain itu, diperkirakan ada 7 juta rumah tangga kelompok buruh/karyawan yang termiskinkan, sehingga pengangguran akan bertambah 25 juta orang akibat kegiatan usaha terhenti dan tidak ada pekerjaan untuk pekerja bebas. Sementara pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja diperkirakan mencapai 8 juta, dan pengangguran pada pelaku usaha mencapai 8 juta.[3]

Dalam survei online yang dilakukan Komnas Perempuan tentang Perubahan Dinamika Rumah Tangga dalam Masa Pandemi Covid-19 yang berlangsung pada April hingga Mei 2020, didapatkan bahwa perempuan adalah salah satu kelompok rentan.

Yang paling rentan adalah perempuan berlatar belakang kelompok berpenghasilan kurang dari 5 juta rupiah per bulan, pekerja sektor informal, berusia antara 31-40 tahun, berstatus perkawinan menikah, memiliki anak lebih dari 3 orang, dan menetap di 10 provinsi dengan paparan tertinggi Covid-19.

Mereka merupakan kelompok paling terdampak baik dari segi kesehatan fisik dan psikis, sosial dan ekonomi dalam rumah tangga, dan rentan mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)[4]

Pandemi Covid-19 ini ternyata tidak hanya mengancam rumah tangga Indonesia saja. Berbagai negara di dunia juga mengalami hal serupa, baik negara kaya maupun miskin[5]. Bank Dunia bahkan memperkirakan ekonomi global akan kontraksi hingga 5,2 persen tahun ini.[6]

PDB UE diperkirakan akan berkontraksi sebesar 7,5% selama tahun 2020.[7] Channel News Asia melansir laporan Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve Bank bahwa Wabah Covid-19 menimbulkan risiko parah terhadap bisnis di semua lini dan juga jutaan rumah tangga.[8] Tingkat pengangguran AS telah naik menjadi 14,7%.[9]

Baca juga:  Saat Amerika "Tak Bisa Bernapas"

Sebuah survei yang dilakukan RAND Education and Labor, salah satu divisi RAND Corporation di Amerika yang bertajuk “How are Americans Paying Their Bills during the Covid-19 Pandemic?” menemukan bahwa pandemi Covid-19 telah membuat sepertiga keluarga Amerika kehilangan pendapatan sejak dimulainya lockdown, terutama pada rumah tangga berpenghasilan rendah.

Mereka juga menemukan meningkatnya kerawanan pangan di antara rumah tangga berpenghasilan rendah.[10] Perbedaan kemampuan dalam menghadapi krisis ekonomi ini akan meningkatkan kesenjangan ekonomi antara rumah tangga penghasilan rendah dengan penghasilan tinggi[11]

Demikian nyata pandemi telah membuat rumah tangga menderita. Keadaan makin parah ketika negara tidak memberikan perlindungan sosial, seperti yang terjadi di Asia Pasifik, di mana para perempuan tidak mendapatkan paket bantuan dan paket stimulus.[12] Atau kalaupun ada, jumlahnya tidak memadai.

Indonesia misalnya. Melalui Peraturan Pemerintah Pengganti UU (Perppu) tentang Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan, hanya mengalokasikan Rp110 triliun untuk perlindungan sosial, dari total dana penanganan Covid-19 sebesar Rp405,1 triliun.[13]

Sedikitnya dana itu dianggap Bhima Yudhistira Adhinegara, ekonom dari Institute for Development of Economics & Finance (INDEF), hanyalah gimmick.[14] Padahal dalam kondisi krisis seperti ini, tentu saja kebutuhan akan perlindungan social lebih besar.

Krisis Covid-19 telah mengungkap konsekuensi buruk dari kesenjangan perlindungan sosial di banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah. Bahkan sebelum pandemi Covid-19, negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah menghadapi kesenjangan perlindungan sosial yang sangat besar.

Berdasarkan data ILO, 55 persen populasi dunia –sebanyak 4 miliar orang– tidak dilindungi skema asuransi sosial atau program bantuan sosial. Sebelum krisis saat ini, hanya 20 persen orang-orang yang menganggur di seluruh dunia dilindungi tunjangan pengangguran, menyisakan 152 juta pekerja menganggur tanpa perlindungan.[15]

Baca juga:  Tudingan Minim Empati, Terawan Lebih Baik Introspeksi dan Evaluasi

Menurut Ippei Tsuruga, Penasihat Teknis untuk Perlindungan Sosial, Kantor ILO Jakarta, sedikitnya dana perlindungan sosial itu tentu saja tidak dapat membantu rumah tangga untuk dapat hidup layak di tengah pandemi ini. Apalagi banyak rumah tangga yang hanya dapat bertahan dengan dana perlindungan sosial dari negara.

Perlindungan sosial berperan vital dalam memberikan penggantian pendapatan sementara dan sebagian, serta menstabilkan dunia ketenagakerjaan.[16] Oleh karena itu mesti ada langkah nyata yang harus segera dilakukan untuk menolong rumah tangga agar dapat terus bertahan meski pandemi masih terus berlangsung.

Dan ketika sistem perlindungan sosial nasional tidak memadai, intervensi kemanusiaan mungkin diperlukan untuk mengisi kesenjangan yang mendesak selama krisis Covid-19[17]

Memang benar, dunia membutuhkan solusi yang tidak meningkatkan kesenjangan. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya komitmen yang tak tergoyahkan untuk mendukung pekerja apalagi setelah krisis berlalu situasinya akan berbeda.[18]

Wakil Presiden Equitable Growth, Finance and Institutions (EFI) Ceyla Pazarbasioglu mengatakan komunitas global harus bersatu untuk menemukan cara membangun kembali pemulihan sekuat mungkin untuk mencegah lebih banyak orang jatuh ke dalam kemiskinan dan pengangguran[19].

Sayangnya, harapan itu tidak mungkin terpenuhi ketika kapitalisme masih menjadi pandangan hidup saat ini. Lihatlah, ketika pandemi Covid-19 mengakibatkan krisis yang jauh lebih berat dibandingkan dengan guncangan ekonomi global tahun 2008, dan bahkan lebih buruk dari The Great Depression yang terjadi pada tahun 1930an,[20] utang sebagai bentuk bantuan dari IMF masih diberlakukan, bahkan kepada negara-negara termiskin.

Meskipun memang ada penundaan pembayaran utang[21], membebani negara termiskin dengan utang adalah tindakan kejam. Bahkan ada juga negara yang ditolak permohonannya utangnya oleh IMF karena alasan legalitas kepala negaranya[22]

Kapitalisme “tega” membiarkan negara dan rakyat miskin hidup menderita, padahal sesungguhnya mereka mampu membantu. Maka, pantaslah jika hampir 140 kelompok dan badan amal sosial berkampanye mendesak IMF dan World Bank serta pemerintah negara G20 dan kreditor swasta untuk membantu negara-negara termiskin di dunia[23].

Baca juga:  Cara Islam Menyejahterakan Dunia

Inilah bukti perlindungan hakiki dalam sistem kapitalisme bahkan di masa pandemi hanya mimpi. Kapitalis menginginkan kemakmuran dan kesejahteraan menjadi miliknya sendiri, dan abai pada pihak lain, lebih-lebih bila dipandang tidak ada manfaat timbal balik yang akan didapatkannya.

Perlindungan sosial terbaik bagi setiap rumah tangga hanya bisa diwujudkan bila Islam diterapkan. Islam mengharuskan negara untuk mengurus rakyat dan memastikan setiap individu rakyat terpenuhi kebutuhan dasarnya secara layak setiap saat, lebih-lebih pada masa pandemi.

Islam mewajibkan negara untuk mengelola semua sumber daya alam yang dimilikinya untuk kesejahteraan rakyat. Islam memiliki berbagai sistem terbaik yang mampu mengatasi krisis dengan berbagai mekanisme yang sudah ditetapkan Allah SWT.

Bahkan dalam kondisi negara memiliki kemampuan, Islam mendorong negara untuk membantu penderitaan bangsa dan negara lain. Keselamatan nyawa manusia menjadi hal pokok yang diperhatikan Islam, apalagi dalam masa bencana, bahkan meski ia bukan muslim dan bukan warga negaranya.

Sejarah mencatat bagaimana Khilafah Ustmani memberikan bantuan beberapa kali kepada Amerika Serikat, di antaranya ketika AS dilanda bencana alam Johnstown pada 1889 dan kebakaran hutan pada 1894.[24]

Semua itu bisa terjadi karena kemanusiaan dan keadilan adalah bagian mendasar dalam syariat Islam, tanpa berutang ataupun menjadi miskin. Bahkan bantuan Khilafah menembus batas wilayah dan agama. “Free for everything, not just lunch”.

Inilah sistem yang bakal menyelamatkan semua kehidupan, tak hanya kehidupan rumah tangga semata. Wallahu a’lam. [MNews]

[1] https://republika.co.id/berita/q83llp409/empat-sektor-ekonomi-yang-paling-tertekan-pandemi-covid19

[2] https://bisnis.tempo.co/read/1339205/bank-indonesia-konsumsi-rumah-tangga-dan-investasi-turun

[3] https://www.beritasatu.com/nasional/635485-pandemi-covid19-sekitar-175-juta-rumah-tangga-terancam-miskin

[4] https://www.komnasperempuan.go.id/read-news-siaran-pers-hasil-kajian-komnas-perempuan-tentang-perubahan-dinamika-rumah-tangga-dalam-masa-pandemi-covid-19-3-juni-2020

[5] https://www.reuters.com/article/us-health-coronavirus-imf/imf-chief-says-pandemic-will-unleash-worst-recession-since-great-depression-idUSKCN21R1SM

[6] https://republika.co.id/berita/qbmz3j409/potensi-resesi-terdalam-ekonomi-dunia-akibat-pandemi-corona

[7] https://www.weforum.org/agenda/2020/02/coronavirus-economic-effects-global-economy-trade-travel

[8] https://dunia.tempo.co/read/1343002/the-fed-sebut-pandemi-corona-ancam-rumah-tangga-dan-bisnis

[9] https://www.weforum.org/agenda/2020/02/coronavirus-economic-effects-global-economy-trade-travel

[10] https://www.rand.org/pubs/research_reports/RRA308-3.html

[11]https://www.rand.org/blog/2020/06/the-wealth-gap-widens.html

[12] https://asiapacific.unwomen.org/en/news-and-events/stories/2020/06/womens-unpaid-and-underpaid-work-in-the-times-of-covid-19

[13] ttps://republika.co.id/berita/q83llp409/empat-sektor-ekonomi-yang-paling-tertekan-pandemi-covid19

[14] https://tirto.id/program-jaring-pengaman-sosial-jokowi-cuma-gimik-di-tengah-covid-19-eLNr

[15] https://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/—ed_protect/ soc_sec/documents/publication/wcms_744612.pdf

[16] https://www.ilo.org/jakarta/info/public/pr/WCMS_742032/lang–en/index.htm

[17] https://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/—ed_protect/ soc_sec/documents/publication/wcms_744612.pdf

[18] https://www.rand.org/blog/2020/06/the-wealth-gap-widens.html

[19] https://republika.co.id/berita/qbmz3j409/potensi-resesi-terdalam-ekonomi-dunia-akibat-pandemi-corona

[20] https://www.weforum.org/agenda/2020/04/depression-global-economy-coronavirus/

[21] https://blogs.imf.org/2020/06/10/strengthening-economic-institutions-for-a-resilient-recovery/

[22] https://finance.detik.com/moneter/d-4943812/imf-tolak-beri-pinjaman-venezuela-buat-atasi-corona

[23] https://bisnis.tempo.co/read/1328856/corona-imf-dan-bank-dunia-didesak-hapus-utang-negara-termiskin

[24] Al Wa’iEdisi Syawal 1441 H, 1-30 Juni 2020

33 thoughts on “Mencukupi Ekonomi Rumah Tangga di Masa Pandemi

Tinggalkan Balasan