Tahun Ajaran Baru, Beban Maksimal dengan Bekal Abnormal

Oleh: Ragil Rahayu

MuslimahNews.com, OPINI – Teka-teki terkait tahun ajaran baru terjawab sudah. Dikutip dari kompas.com (15/6/2020), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim telah mengumumkan bahwa tahun ajaran baru akan berjalan sesuai dengan jadwal. Tetap di bulan Juli. Jadwal itu tak berdampak kepada metode yang dilakukan baik daring atau tatap muka.

Untuk satuan pendidikan yang berada di zona kuning, zona oranye, dan zona merah dilarang melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan. Satuan pendidikan pada zona-zona tersebut, tetap melanjutkan Belajar dari Rumah (BdR). Hanya 6 persen dari populasi peserta didik yang di zona hijau. Hanya merekalah yang pemerintah daerahnya boleh mengambil keputusan sekolah dengan tatap muka.

Tidak Sinkron

Keputusan Pemerintah untuk tidak menyelenggarakan pembelajaran tatap muka di zona rawan Covid-19 memang patut diapresiasi. Namun pada tataran pelaksanaan, banyak kebijakan yang kontradiktif.

Sebagai contoh, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin mengatakan sebagian pesantren masih menyelenggarakan proses belajar mengajar dalam asrama pada masa pandemi Covid-19 (Bisnis.com, 15/6/2020).

Selain itu di daerah juga ada kebijakan yang berbeda, misalnya di Jawa Timur. Diberitakan oleh cnnindonesia.com (11/6/2020), sejumlah pondok pesantren di Jawa Timur (Jatim) bersiap memanggil para santrinya untuk kembali mondok setelah dipulangkan karena pandemi virus corona (Covid-19). Terkait hal tersebut, Pemerintah Provinsi Jatim pun mencanangkan protokol khusus dengan tajuk “Pesantren Tangguh”.

Kontradiksi kebijakan ini menunjukkan bahwa terjadi ketidaksinkronan antara elemen yang satu dengan yang lainnya dalam pemerintahan. Kondisi ini tidak akan terjadi jika pemimpin tertinggi mampu mengomando para pejabatnya untuk satu kata terkait dengan tahun ajaran baru.

Satu komando, satu kebijakan yang selaras, sehingga terwujud kesamaan sikap menghadapi pandemi. Sayangnya hal ini tidak terwujud karena kepemimpinan yang lemah.

Baca juga:  Kita Butuh “New System”, Bukan “New Normal”

Dilema BdR

Belajar dari Rumah memang lebih ramah anak dari aspek kesehatan daripada pembelajaran tatap muka. Namun BdR tetap harus dipahami sebagai sebuah metode belajar yang tidak alami, tidak normal. Akhirnya, “belajar dari rumah” hanya dimaknai “mengerjakan tugas dari rumah”.

Setiap hari murid dibebani tugas, tanpa ada bekal berupa penjelasan dari guru. Hanya sedikit guru yang kreatif menggunakan berbagai sarana untuk menjelaskan materi pada murid. Yang lebih banyak justru hanya mengirim tugas setiap hari.

Tentu ini bukan salah guru, karena memang negara tidak memberi pedoman baku untuk melakukan pembelajaran yang efektif di masa pandemi. Faktor teknis juga jadi kendala. Persoalan kuota, sinyal, hingga listrik padam masih menghiasi dunia pendidikan kita hari ini.

Akhirnya “Belajar dari Rumah” berubah menjadi “Beban di Rumah”. Murid kebanjiran tugas setiap hari. Semua harus disetor online. Biaya kuota dan listrik melonjak. Emak-emak makin pusing. Pusing mengatur anggaran rumah tangga yang makin cekak, juga pusing mendampingi anak menyelesaikan tugas. Apalagi jika jumlah anak lebih dari satu. Jumlah tugas makin berlipat.

Setelah “dihujani” tugas setiap hari, tibalah waktu ujian. Anak-anak diuji kemampuannya mengerjakan materi yang tidak pernah diajarkan gurunya. Hanya saja pernah ditugaskan. Lantas anak kita dinilai berdasarkan jawabannya saat ujian. Sungguh tak adil. Bagaimana bisa kemampuan anak dinilai secara normal, padahal proses pembelajaran berjalan tak normal?

Akhirnya, pendidikan hanya bicara tentang nilai di atas kertas. Tak ada pembentukan karakter, penanaman akhlak, penancapan akidah, apalagi ketaatan pada syariat agama. Pendidikan selama ini sudah jauh dari mendidik, tapi hanya mengajar. Di era BdR ini, pendidikan malah jadi pemberian tugas.

Baca juga:  Sekolah Rusak dan Kebutuhan terhadap Khilafah

Lantas Solusinya Bagaimana?

Pemerintah perlu mengevaluasi ulang kurikulum yang diberlakukan. Kondisi pandemi adalah kondisi abnormal. Kesehatan dan keselamatan jiwa murid adalah prioritas. Kurikulum biasa yang berdasar kondisi normal tak bisa diterapkan pada masa pandemi. Jika dipaksakan, hasilnya adalah kecemasan massal pada murid dan orang tua.

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) telah meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar membuat kurikulum baru di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Permintaan kembali diajukan lantaran sejauh ini belum ada kabar positif dari Kemendikbud mengenai hal tersebut (cnnindonesia.com, 11/6/2020).

Sementara itu, Ketua Komisi X DPR RI, Syaiful Huda, juga meminta Mendikbud Nadiem Makarim untuk merumuskan ulang kurikulum pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi virus corona yang belum diketahui kapan berakhirnya. Sebab, dalam tiga bulan terakhir, siswa-siswi yang belajar dari rumah mengeluhkan kurikulum yang padat konten, sehingga tak mendorong anak untuk belajar mandiri (kumparan.com, 15/6/2020).

Evaluasi Total

Tak hanya kurikulum pembelajaran, kondisi pandemi ini membuat kita berpikir ulang tentang sistem pendidikan di negeri ini. Para orang tua jadi tahu beratnya materi yang harus dipelajari anak-anak. Meski kurikulum 2013 yang telah direvisi diklaim menyederhanakan pelajaran, nyatanya pelajaran tidak makin ringan.

Lantas, hasil apa yang akan kita peroleh jika anak bangsa calon pemimpin masa depan dijejali materi begitu beratnya?

Kini adalah saat yang tepat untuk mengevaluasi total sistem pendidikan kita. Jika pendidikan masih fokus pada transfer materi dan bukan pembentukan kepribadian, selama itu pula pendidikan akan jadi beban berat siswa.

Kondisi pandemi yang entah sampai kapan, membuat kita merenungkan, apakah materi pelajaran yang ada di buku teks itu mendesak untuk diajarkan.

Ataukah sebenarnya momen pandemi ini merupakan kesempatan emas untuk mengedukasi generasi agar tangguh menjaga diri, disiplin pada kebersihan dan kesucian, peduli kehidupan, pandai bersyukur pada Sang Pemberi Nikmat, ringan untuk berbagi, semangat beribadah, bergairah untuk mencari solusi atas masalah yang sedang terjadi, dan aneka aspek positif lainnya?

Baca juga:  [Editorial] Home Learning, kok Bikin Pusing?!

Semua aspek tersebut ada dalam kurikulum Islam. Bahkan kebiasaan baik di masa pandemi yaitu mencuci tangan, menjaga kebersihan, dan social distancing ada dalam ajaran Islam.

Oleh sebab itu, kurikulum Islam akan menjadi bagian dari solusi terhadap pandemi, bukan perkara yang justru memperberat dampak pandemi. Ini karena Islam adalah ideologi yang memberi solusi sahih dari Sang Pencipta.

Kurikulum Islam ketika diterapkan pada masa pandemi, tidak akan menyebabkan kecemasan massal. Karena tolok ukur keberhasilan siswa bukan jawaban di atas kertas. Melainkan pemahaman siswa yang bisa diukur secara alami.

Orang tua dalam sistem Islam dididik untuk juga faqih dalam agama. Sehingga orang tua bisa menyampaikan pendidikan tsaqafah, syakhsiyah, dan life skill pada anak di rumah. Sedangkan aspek sains dan teknologi yang mutlak butuh tatap muka di sekolah bisa ditunda hingga pandemi berakhir.

Tahun ajaran baru sudah di depan mata, nasib satu generasi menjadi taruhan. Apakah akan dididik dengan benar atau malah jadi ajang percobaan. Kebijakan negara yang saling kontradiktif hanya akan menghasilkan kebingungan massal. Guru bingung, murid bingung, orang tua lebih bingung lagi.

Semua ini hanya bisa selesai dengan mengevaluasi total sistem pendidikan kita sekarang. Sistem pendidikan Islam memiliki kurikulum yang tidak hanya bisa diterapkan saat pandemi, namun juga menjadi bagian penting dari penyelesaian pandemi. Inilah sistem yang membebaskan dari kecemasan menghadapi tahun ajaran baru. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

11 thoughts on “Tahun Ajaran Baru, Beban Maksimal dengan Bekal Abnormal

  • 18 Juni 2020 pada 09:15
    Permalink

    Astaghfirullah

    Balas
  • 18 Juni 2020 pada 06:34
    Permalink

    Memang hanya sistem Islam yang menghasilkan generasi mantap

    Balas
  • 17 Juni 2020 pada 22:33
    Permalink

    Kurikulum pendidikan dlm sistem kapitalis bikin bingung orangtua, kadang membantu tp kadang bikin buntu,Krn minimnya ilmu..sebaliknya kurikulum pendidikan dlm sistem Islam lebih mudah dan simpel sehingga memudahkan para orang tua dlm membimbing anak2 nya..

    Balas
  • 17 Juni 2020 pada 21:19
    Permalink

    MasyaAllah, Islam satu2nya solusi yg tuntas

    Balas
  • 17 Juni 2020 pada 19:02
    Permalink

    Maa syaa ALLAH benar sekali apa yang di katakan oleh ustadzah…….
    Jadi rindu sistem Islam di terapkan dimuka bumi ini…..

    Balas
  • 17 Juni 2020 pada 18:56
    Permalink

    Maa syaa ALLAH benar sekali apa yang di katakan oleh ustadzah…….
    Jadi rindu sistem Islam….
    Semoga kaum muslimin segera menyadari dan mau memperjuangkan sistem Islam untuk diterapkan dalam setiap aspek kehidupan kita agar tidak ada lagi kebingungan-kebingungan serta kesengsaraan di antara masyarakat dengan kebijakan kapitalisme.

    Balas
  • 17 Juni 2020 pada 15:49
    Permalink

    Subhanallah sistem Islam yang terbaik solusinya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *