Mempermainkan Agama

Oleh: Retno Sukmaningrum

MuslimahNews.com, FOKUS – Kembali aksi Presiden AS Donald Trump menuai kritik dan kecaman. Menyikapi aksi demonstran sebagai reaksi kematian George Floyd –warga Afro-Amerika yang tewas di tangan polisi kulit putih–, Trump menampilkan sosok yang “religius”.

Dia berfoto dengan memegang Alkitab di depan Gereja Episkopal St. John, Washington. Keuskupan Agung Washington, DC mengkritik keras aksi Trump yang menggunakan tameng agama, seiring dengan kekacauan sipil yang terus berlanjut di negara tersebut.

Uskup Agung tersebut menyebut kunjungan itu sebagai penyalahgunaan” dan manipulasi atas Kuil Nasional Saint Paul II. Dia pun menyebut aksi presiden tersebut “membingungkan” dan “tercela”.

Presiden Iran Hassan Rouhani pun menyebut pose Presiden Donald Trump yang membawa Alkitab di tengah aksi protes kematian George Floyd sebagai hal memalukan.[1]

Bukan kali ini saja Trump menunjukkan sikap hipokrit. Sebelumnya, di tengah keputusasaan menangani wabah Covid-19, Trump menyerukan kepada seluruh gubernur untuk segera membuka kembali rumah-rumah ibadah, menggambarkan rumah ibadah sebagai hal yang “esensial” pada masa pandemi ini. Bahkan ia mengancam akan membatalkan perintah gubernur mana pun yang masih terus menutup rumah-rumah ibadah

Apakah Kapitalisme Mulai Butuh Tuhan?

Seruan dan sikap Trump sebagai pioner Kapitalisme cukup mengejutkan. Sejak kapan kapitalisme butuh doa dan peduli pada agama (Tuhan)? Apakah AS sudah menyerah dengan serangan yang bertubi-tubi hari ini, baik Covid-19 maupun kasus Floyd membuatnya menyadari butuhnya “kekuatan Tuhan”?

Jika ya, nyatanya hal tersebut tidak mengubah kebijakan apa pun di AS dan tidak memberikan pengaruh apa pun bagi dunia.

Trump sendiri bukanlah pribadi yang religius dan adil. Rekam jejaknya saat sebelum dan selama kampanye yang penuh kontroversi dan rasisme berpotensi dapat merugikan siapa pun di luar ras kulit putih.

Melalui Laporan Tahunan FBI pada 2017, terbukti bahwa kasus kriminal di AS yang disebabkan kebencian terhadap ras, agama, dan orientasi seksual meningkat 17% pascapelantikan Trump sebagai tuan rumah The White House.

Baca juga:  Bowo Tik Tok dan Fans, Generasi Rapuh Korban Sistem Kapitalisme Sekuler

Jadi, yang dilakukan Trump hari ini, hanyalah menjadikan agama sebagai tameng untuk menyelamatkan posisinya. Agama tak ubahnya barang dagangan, jika menguntungkan akan dia jual atau pakai. Jika tidak, maka akan diabaikan.

Dalam sistem kapitalisme, agama sekadar kekuatan besar untuk memanipulasi kesadaran massa rakyat, menjinakkan mereka, dan mengungkung mereka di bawah penindasan dan penghisapan.

Selama sistem yang berlaku dalam sebuah negara adalah sistem kapitalis, maka agama sekadar “dimanfaatkan”. Bahkan untuk sebuah negeri yang mayoritas penduduknya muslim, seperti Indonesia.

Satu fakta yang menguatkan hal tersebut, bahwa baru-baru ini Pemerintah mengumumkan membatalkan keberangkatan Haji tahun 2020 dikarenakan wabah Covid-19.

Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) memastikan, akan memanfaatkan dana simpanan yang dimiliki untuk membiayai penyelenggaraan ibadah haji 2020 untuk kepentingan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Kepala BPKH, Anggito Abimanyu mengatakan, saat ini BPKH memiliki simpanan dalam bentuk dolar Amerika Serikat sebanyak US$600 juta atau setara Rp8,7 triliun kurs Rp14.500 per dolar AS.

Dengan begitu, dana itu akan dimanfaatkan untuk membantu Bank Indonesia dalam penguatan kurs rupiah. Seakan-akan rezim begitu tergiur dengan uang zakat untuk memperbaiki ekonomi yang sudah kolaps. Padahal di waktu yang sama, mereka begitu membenci ajaran Islam yang terkait dengan dakwah, jihad, dan khilafah.

Sangat tampak jelas, satu ajaran diambil karena manfaat untuk mereka, sebagian dibuang karena alasan keselamatan bangsa.

Perlakuan terhadap agama dengan mempermainkannya, bahkan mengarah untuk menihilkannya dalam kehidupan berbangsa tampak dengan menjadikan Pancasila sebagai alatnya.

Nisfari, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kemenag saat menjadi pembicara dalam webinar kebangsaan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2020 menyampaikan bahwa  Pancasila sebagai dasar negara Indonesia merupakan “Rumah Bersama” bagi umat beragama.

Baca juga:  'Deliberalisasi' Islam (Kritik atas Liberalisasi Islam)

Artinya, semua umat beragama akan menjalankan praktik sosial keagamaannya dalam visi kebangsaan. Jadi, Pancasila adalah “Rumah Bersama” atau “Rumah Besar” bagi umat beragama.

Dengan menjadikan Pancasila rumah besar, bisa dimaknai semua agama harus mengikuti apa yang dimau Pancasila. Padahal Pancasila sendiri dalam praktiknya, dimaknai berbeda di setiap rezim yang berkuasa.

Artinya ajaran agama juga suka-suka rezim mana yang dipakai dan mana yang dibuang. Bahkan atas dasar penafsiran tersebut, Pancasila menjadi alat gebuk yang efektif bagi pihak yang berseberangan dengan rezim. Berikutnya bisa berlanjut, jika sudah ada payungnya lalu untuk apa beragama.

Pengarusan semacam ini makin gencar seiring dengan akan disahkannya RUU HIP (Haluan ideologi Pancasila). Bila dicermati. RUU HIP ini menjadi langkah yang sistematis untuk menihilkan agama.

Prof. Suteki dalam acara FGD yang digagas Pusat Kajian Analisis Data mengusung tema “Ancaman Kebangkitan Komunis dan Arogansi Oligarki di Balik RUU Haluan Ideologi Pancasila”, menegaskan bahwa ada potensi besar RUU HIP akan membangkitkan ideologi komunisme yang jelas terlarang dalam NKRI.

Beliau menyatakan bagaimana RUU ini dibuat dengan culas dan serampangan. Berupaya mengganti sendi keagamaan dalam Pancasila dengan kemanusiaan. Ini adalah upaya sekularisasi Indonesia lebih dalam lagi.

Hancurnya Pemadam Agama

Dalam sejarah beragama (Islam), senantiasa akan muncul di setiap masa para pendengki dan pembenci risalah Allah. Sebagaimana firman Allah (SWT):

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ [التوبة: 32]

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (QS At-Taubah [9]: 32)

Baca juga:  Perempuan, Price, Value dan Islam

Sungguh Allah telah mencap mereka yang tidak mau mengikuti risalah Islam sebagai kaafirun, dzaalimuin, dan faasiqun, sebagaimana dalam firman Allah:

وَمَنۡ لَّمۡ يَحۡكُمۡ بِمَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡكٰفِرُوۡنَ

Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS Al Maidah: 44)

وَمَنۡ لَّمۡ يَحۡكُمۡ بِمَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوۡنَ

Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (QS Al Maidah: 45)

وَمَنۡ لَّمۡ يَحۡكُمۡ بِمَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ

Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (QS Al Maidah: 47)

Kalaulah Islam datangnya bukan dari Allah SWT, niscaya sudah hilang sejak lama. Namun Allah berkehendak menjadikan Islam sebagai cahaya yang menerangi kegelapan kehidupan jahiliah. Sejak masa Rasulullah yang berhadapan dengan kehidupan jahiliah paganisme, hingga kehidupan hari ini berhadapan dengan jahiliah modern yang dimotori kapitalisme dan sosialisme (yang membonceng).

Dan tidak pernah pula, para penjahat yang mempermainkan agama dan berupaya menghapuskannya dari kehidupan, hidup berkekalan. Justru mereka gelisah dengan makar-makar jahatnya dan berakhir dalam kematian yang mengenaskan, sebagaimana Namrudz, Fir’aun, Kemal Attaturk, dll.

Hari ini pun, kejatuhan sistem dan para penggeraknya nampak nyata. Setiap langkah untuk menyelesaikan masalah kehidupan, justru makin mendekatkan kapitalisme pada jurang kehancuran.

Agama yang mereka remehkan dan jadikan permainan serta tambal sulam, justru makin kuat cahayanya menerangi jiwa-jiwa umat yang terzalimi. Cahaya Islam semakin dirindukan kehadirannya sebagai solusi kehidupan yang sempurna dan paripurna. [MNews]

[1] https://www.cnnindonesia.com/internasional/20200605084509-113-510105/presiden-iran-soal-trump-bawa-alkitab-saat-demo-memalukan

Bagaimana menurut Anda?

62 thoughts on “Mempermainkan Agama

  • 9 Juli 2020 pada 07:24
    Permalink

    Begitulah kaum munaafiquun berlindung di balik topeng so agamis. Padahal semua aturan dan sistem yang di terapkannya amatlah busuk. Semoga Allah segera menurunkan Nasrullah

    Balas
  • 25 Juni 2020 pada 21:29
    Permalink

    Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya–Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS At-Taubah [9]: 32)

    Balas
  • 25 Juni 2020 pada 21:18
    Permalink

    Dalam sistem kapitalisme, agama sekadar kekuatan besar untuk memanipulasi kesadaran massa rakyat, menjinakkan mereka, dan mengungkung mereka di bawah penindasan dan penghisapan

    Balas
  • 24 Juni 2020 pada 21:55
    Permalink

    Agam tdk bisa dibuat hanya sekedar mainan belaka tp agama harus menjadi dasar kita melakukan sesuatu.
    Saatnya kembali Pada KHILAFAH Islamiyah.

    Balas
  • 21 Juni 2020 pada 10:53
    Permalink

    Hmm, mereka tidak akan pernah lelah mempermainkan agama. Hanya Khilafah lah yang mampu menempatkan kehormatan setiap agama.

    Balas
  • 20 Juni 2020 pada 22:24
    Permalink

    Jadikan Islam sebagai ideologi dalam kehidupan kita

    Balas
  • 20 Juni 2020 pada 20:28
    Permalink

    Sedikit demi sedikit kapitalisme mulai runtuh

    Balas
  • 20 Juni 2020 pada 11:09
    Permalink

    Agama dijadikan tameng oleh kapitalisme di saat mereka diprotes ataa kebijakan dzalimnya, tapi agama tak dijadikan pegangan dalam bernegara. Memang hanya islam sistem yang sempurna

    Balas
  • 20 Juni 2020 pada 04:13
    Permalink

    Dengan kekuatan apa mereka mempermainkan agama? Terhadap makhluk sekecil virus sj mereka kelabakan

    Balas
  • 18 Juni 2020 pada 17:51
    Permalink

    Kapitalisme tidak akan segan membawa2 agama jika itu dirasa menguntungkan mrk. Tp jgn berharap lebih krn bagi kapitalis, agama adalah aksesori yg bisa dgunakan sesuai kpentingannya

    Balas
  • 17 Juni 2020 pada 20:33
    Permalink

    Agama dalam sistem Kapitalis hanya diambil yang mendatangkan manfaatnya saja.(keuntungan duniawi).tetapi meninggalkan hukum2yang mereka anggap memberatkan.(merugikan) dalam pandangan mereka.
    Sehingga agama hanya dipermainkan.Na”udzubillahimindzalik.

    Balas
  • 17 Juni 2020 pada 19:16
    Permalink

    Na’udzubillah

    Balas
  • 17 Juni 2020 pada 16:08
    Permalink

    Hanya Islam yang mampu menyelesaikan segala permasalahan..

    Balas
  • 17 Juni 2020 pada 08:57
    Permalink

    Allooh akan sll menjaga agama ini

    Balas
    • 17 Juni 2020 pada 16:03
      Permalink

      Watak kapitalis ttp sm hanya mengambil sbagian ajaran agama ktka itu memberi manfaat scr materi…. Disisi lain mencampakkan ajaran agama yg lain…

      Balas
  • 16 Juni 2020 pada 23:00
    Permalink

    Sekuler, memisahkan agama dari kehidupan. Maka dalam praktiknya…agama akan dijauhkan dari pengaturan kehidupan sehari².

    Hanya Islam, yg memberikan pengaturan kehidupan sehari². Mulai dari level individu, masy sampai Negara…

    Balas
    • 17 Juni 2020 pada 21:53
      Permalink

      Mantap…Islam aadalah solusi tuntas atas berbagai persoalan negri

      Balas
      • 20 Juni 2020 pada 20:30
        Permalink

        Sejatinya manusia memiliki naluri tunduk pada sesuatu yang lebih, hanya dia mau memanfaatkan potensi akalnya apa tdk termasuk mau menjemput hidayah atau tidak. Dalam sistem kesulitan memilih yang benar bagaikan ilusi maka tdk heran jika akan bermunculan semakin banyak orang munafik

        Balas
  • 16 Juni 2020 pada 21:24
    Permalink

    Selamatkan dunia dgn islam

    Balas
  • 16 Juni 2020 pada 20:53
    Permalink

    Begitulah sistem kapitalusme yg aqidah sekuler dan asasnya adalah manfaat jd menhalalkan segala macam cara utk melanggengkan kekuasaannya

    Balas
  • 16 Juni 2020 pada 17:39
    Permalink

    Sistem buruk ini akan selalu mempermainkan agama

    Balas
  • 16 Juni 2020 pada 17:37
    Permalink

    Sistem rusak akan terus merusak apa pun dalam kondisi apa pun

    Balas
  • 16 Juni 2020 pada 16:10
    Permalink

    Semakin nampak kebobrokan sistem hr ini..

    Balas
  • 16 Juni 2020 pada 15:06
    Permalink

    Hari ini pun, kejatuhan sistem kapitalisme dan para penggeraknya nampak nyata. Setiap langkah untuk menyelesaikan masalah kehidupan, justru makin mendekatkan kapitalisme pada jurang kehancuran.
    Saatnya Islam diterapkan sebagai pemecah dari segala masalah kehidupan saat ini.. AllohuAkbar

    Balas
  • 16 Juni 2020 pada 15:06
    Permalink

    Astaghfirullah

    Balas
  • 16 Juni 2020 pada 14:14
    Permalink

    Hanya islam solusi hakiki

    Balas
  • 16 Juni 2020 pada 14:13
    Permalink

    Betul. Cahaya Islam semakin dirindukan kehadirannya sebagai solusi kehidupan yang sempurna dan paripurna.

    Balas
  • 16 Juni 2020 pada 09:28
    Permalink

    Naudzubillah min dzalik…model pemimpin dalam sistem Kapitalis, agama diperjual belikan.

    Balas
  • 16 Juni 2020 pada 09:10
    Permalink

    Cahaya Islam yang paling terbaik dan yang kami rindukan, untuk segera tegaknya Daulah Islamiyah. Allahu Akbar

    Balas
  • 16 Juni 2020 pada 06:34
    Permalink

    Astaghfirullah,,
    Sungguh banyaknya kekacauan di muka bumi ini ,itu karena kita tdk berhukum kpd hukum Allah yg maha mengatur.

    Menanti kebangkitan Islam yg sebentar lagi!!!

    Balas
  • 16 Juni 2020 pada 05:49
    Permalink

    Agama bukan permainan

    Balas
    • 17 Juni 2020 pada 23:18
      Permalink

      Setuju..Agama SGT menentukan hidup seorang manusia

      Balas
  • 16 Juni 2020 pada 05:11
    Permalink

    Mereka Di ambang kehancuran , dan terbitnya fajar semakin dekat insha Allah

    Balas
  • 15 Juni 2020 pada 22:03
    Permalink

    Semakin rindu Khilafah…. Smoga khilafah Segera tegak kembali atas izin Allah…. Aamiin

    Balas
  • 15 Juni 2020 pada 21:44
    Permalink

    YaAllah.. Sistem kapitalis sistem yang rusak…!!!

    Balas
  • 15 Juni 2020 pada 21:30
    Permalink

    Kapitalisme tinggal menunggu kehancurannya

    Balas
  • 15 Juni 2020 pada 21:11
    Permalink

    Islam satu satunya solusi kehidupan

    Balas
  • 15 Juni 2020 pada 20:37
    Permalink

    Innalillahi wainnailaihirroji’un ketika RUU HIP disahkan, back to Islam😢

    Balas
    • 20 Juni 2020 pada 19:34
      Permalink

      Astaghfirullah…

      Balas
  • 15 Juni 2020 pada 20:22
    Permalink

    Kapitalisme menjadikan agama sebagai tameng. Azas manfaat. Ketika agama memberikan manfaat maka agama dipakai. Sekulerisme kapitalisme menjadikan agama untuk meraih keuentungan materi saja.

    Balas
  • 15 Juni 2020 pada 20:20
    Permalink

    terlalu. buat mereka yang senang mpermainkan agama smg Allah sadarkan sblm mereka bertemu ajalnya

    Balas
  • 15 Juni 2020 pada 20:15
    Permalink

    astaghfirullah…

    Balas
  • 15 Juni 2020 pada 20:13
    Permalink

    Islam solusi setiap permasalahan.. saatnya terapkan islam

    Balas
  • 15 Juni 2020 pada 20:11
    Permalink

    Semoga sistem Islam segera tegak kembali. Allahu Akbar

    Balas
  • 15 Juni 2020 pada 20:08
    Permalink

    Yakinlah bahwa semakin pekatnya malam akan datang terbitnya fajar kita sambit….takbir Allahuakbar…..

    Balas
  • 15 Juni 2020 pada 19:55
    Permalink

    ReturnTheKhilafah✊🏻

    Balas
  • 15 Juni 2020 pada 19:54
    Permalink

    Islam adalah solusi dari permasahan yg ada skrg

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *