Amankah Pembukaan Pariwisata di Era “New Normal Life”?

Oleh: Henyk Nur Widaryanti, S.Si., M.Si.

MuslimahNews.com, OPINI – Mulai berlakunya era New Normal Life telah membuka kesempatan bagi seluruh aktivitas berjalan seperti biasa. Termasuk bidang pariwisata. Menyambut era New Normal Life, Jokowi meminta Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama untuk menyiapkan promosi pariwisata dalam negeri yang bebas dari ancaman virus corona. (Detik, 5/6/20)

Menanggapi hal tersebut, akhirnya beberapa pariwisata di Indonesia mulai dibuka pertengahan Juni ini. Termasuk dipilih wilayah wisata sebagai percontohan wisata. Sebagai contoh Taman Safari Indonesia Bogor, yang rencana mulai dibuka tanggal 15 Juni.

Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat (Jabar) Inspektur Jenderal Rudy Sufahriadi yang telah meninjau persiapan pembukaan Taman Safari ini menyampaikan, dalam pengelolaan Taman Safari ini akan diberlakukan protokol kesehatan. Sehingga bisa menekan penyebaran virus Corona. (Liputan6, 11/6/20)

Begitu pula Candi Borobudur yang telah dibuka 8 Juni 2020 yang lalu. Pembukaan wisata ini dengan menerapkan program Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif, yaitu CHS (cleanliness, health, and safety). (PortalJember, 8/6/20). Termasuk daerah Bali dan NTT akan membuka pariwisatanya dalam menyambut era new normal ini. Bahkan kedua daerah itu akan menjadi daerah pariwisata percontohan.

Baca juga:  New Normal, Jangan Sampai Menjadi “Tsunami” Baru

Tidak ketinggalan Jawa Timur yang merupakan penyumbang pasien covid tertinggi kini juga mulai ancang-ancang membuka pariwisata. Banyuwangi dijadikan tempat percontohan pariwisata di provinsi ini. Bahkan Pacitan (Pantai Teleng Ria) dibuka per tanggal 18 Juni ini (Pacitanku, 11/6/20). Sedangkan Telaga Ngebel Ponorogo telah lebih dahulu ramai dikunjungi wisatawan setelah pemberlakuan new normal pada 2 Juni 2020. (PortalJember, 10/6/20)

Berisiko Besar

Pembukaan tempat wisata di masa pandemi memang memiliki risiko besar. Yakni adanya penyebaran covid di daerah wisata atau tempat wisata justru menjadi klaster baru penyebaran Covid-19. Apalagi jika tidak ada pengamanan khusus, pengunjung bisa membludak. Secara otomatis aktivitas seperti social distancing tidak akan terealisasi.

Maka, sebelum membuka pariwisata, seharusnya pemerintah atau pengelola benar-benar yakin bahwa kondisi sudah bebas Covid-19. Karena ini masalah nyawa rakyat yang pertaruhkan. Jangan sampai hanya karena mengejar keuntungan demi menaikkan ekonomi, justru rakyat yang menjadi korban.

Jiwa Kapitalis Selalu Materialistis

Jika diperhatikan pembukaan tempat wisata ketika pandemi belum usai saat ini cenderung terburu-buru. Jika mengikuti standar WHO, era “new normal” baru bisa dijalankan jika tidak ada penambahan kasus.

Nah, terbalik dengan negeri +62 ini, di mana penambahan kasus saat ini masih mencapai seribu lebih. Malah telah memutuskan untuk new normal dengan alasan demi pertumbuhan ekonomi. Termasuk pembukaan sektor wisata, yang digadang-gadang akan menambah pendapatan. Sehingga pertumbuhan ekonomi akan semakin membaik.

Baca juga:  Kebijakan Sebelah Mata, Mampukah Meraih Pilar Ketakwaan?

Wajar saja wisata menjadi salah satu aspek penyokong ekonomi, karena sektor ini termasuk penyumbang APBN setelah pajak. Karena sektor pengelolaan SDA tak mungkin bisa diharapkan secara penuh, maka pariwisatalah yang digenjot.

Selain itu saat ini pariwisata banyak yang dikelola oleh swasta. Tentulah jika pariwisata tidak segera dibuka, para pengelola akan minus pendapatan. Dalam kaca mata materialistis, hal seperti ini justru sangat merugikan. Maka dari itu, ketika era new normal dipersiapkan. Pengusaha langsung menyambut dengan tangan terbuka. Mereka akan segera mengeruk untung dari pembukaan wisata tersebut.

Wisata bukan Sekadar Bersenang-senang

Berbeda sekali dengan Islam. Islam memandang berwisata adalah sarana untuk mendekatkan diri pada Rabnya. Sekaligus sarana membangun keakraban keluarga. Tentunya dengan tetap berlandaskan hukum syara. Dan hal ini akan dilakukan jika kondisi tidak membahayakan masyarakat.

Adapun jika situasi pandemi seperti saat ini, Islam akan lebih mengutamakan rakyat terpenuhi kebutuhan primer dan sekundernya. Mengingat berwisata termasuk kebutuhan tersier, maka tidak terlalu diprioritaskan. Hal ini dikarenakan tugas seorang pemimpin dalam Islam jelas, yaitu mengurusi urusan rakyat.

Di samping itu, kegiatan berwisata di daerah umum menimbulkan berkumpulnya banyak orang. Jika itu terjadi, ada kemungkinan mudah tersebarnya virus corona. Maka, karena banyak mengandung bahaya, lebih baik ditutup dahulu.

Baca juga:  Kronik Gradasi Warna Zona Pandemi

Yang lebih penting lagi, Islam tidak menjadikan pariwisata sebagai sumber pendapatan utama. Karena Islam memiliki sumber pendapatan lain dengan memaksimalkan pengelolaan SDA. Selain itu ada kharaj, jizyah, dan yang lainnya yang dapat dijadikan sebagai pemasukan APBN.

Dengan demikian kita dapat memahami lebih banyak bahayanya dari pada keuntungan bagi masyarakat. Masihkah kita senang jika pariwisata dibuka di era pandemi? [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

6 tanggapan untuk “Amankah Pembukaan Pariwisata di Era “New Normal Life”?

  • 17 Juni 2020 pada 05:11
    Permalink

    Perbaikan ekonomi lbh penting dr penyelamatan rakyat. Itu prinsip rezim kapitalis saat ini

    Balas
  • 16 Juni 2020 pada 21:31
    Permalink

    Dibukanya pariwisata menunjukkan kalo negara sudah tidak punya pendapatan lain utk mendongkrak terpuruknya ekonomi negara akibat wabah ini.mau gak mau negara harus membuka sektor pariwisata sebagai salah satu sumber pendapatan negara.padahal taruhannya adalah nyawa dan kesehatan rakyatnya sendiri..namun Krn sistem kapitalisme sekuler yang tidak pernah membela rakyat..ya hal ini tidak pernah diperhatikan negara..yang penting negara untung..rakyat terserah saja…
    saatnya kembali ke sistem Islam yang mengayomi rakyatnya …

    Balas
  • 16 Juni 2020 pada 06:39
    Permalink

    Astaghfirulllah, di era kapitalis yah hanya mengarah kepada duittt . Dmna sistem ekonomi ingin dipulihkan sdngkn masyarakat melarat.

    Balas
  • 16 Juni 2020 pada 04:57
    Permalink

    Bgitu pentingnya material dibandingkan nyawa😭

    Balas
  • 16 Juni 2020 pada 03:54
    Permalink

    Karena kebutuhan setiap keluarga harus dipenuhi.. Sedangkan dalam pandemi masyarakat serba susah… Sehingga memicu KDRT

    Balas
  • 15 Juni 2020 pada 21:40
    Permalink

    Karenana penguasa menghitung untung dan ruginya perekonomian bukan keslamatan masyarakat

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *