Saat Amerika “Tak Bisa Bernapas”

Oleh: Ragil Rahayu, SE

MuslimahNews.com, OPINI – “Amerika mungkin menjadi tanah harapan bagi banyak orang, tetapi sebagai seorang kulit hitam, saya tidak akan dipandang setara.”

Demikian tulisan Larry Madowo, wartawan Kenya, tentang rasisme yang ia alami di Amerika. Tulisan Larry ini merespons maraknya unjuk rasa di Amerika terkait pembunuhan terhadap George Floyd.

Seorang polisi bernama Chauvin membekap Floyd dan mencekik lehernya dengan lutut. Floyd berteriak kencang mengucapkan, “Tak bisa bernapas!” sebanyak 16 kali. Floyd mengeluarkan darah dari mulutnya, polisi lantas melakukan panggilan darurat.

Bantuan medis akhirnya tiba, tetapi Floyd kemudian dinyatakan tewas. Laporan otopsi menyatakan bahwa Floyd “meninggal karena sesak napas”, hasil tindakan Chauvin (bbc, 7/6/2020).

Buntut dari peristiwa ini, kerusuhan pecah di beberapa kota di Amerika. Demonstran tak hanya memohon keadilan bagi Floyd tetapi juga protes pada perlakuan diskriminatif terhadap warga kulit hitam selama ini.

Para demonstran membakar kantor polisi di Minneapolis. Di Houston, para demonstran memblokir US Highway 101 dekat San Jose. Di New York, para pengunjuk rasa dan polisi bentrok di luar Barclays Center. Di Washington DC, protes di luar Gedung Putih sempat menyebabkan gedung itu dikunci.

Lebih dari 500 personel Garda Nasional Minnesota dikerahkan ke beberapa lokasi di daerah Minneapolis. Presiden Donald Trump, melalui Twitter menyampaikan bahwa kini “Kekacauan, pelanggaran hukum, dan kehancuran mengambil alih New York”.

Amerika Gagal Pimpin Dunia

Kasus diskriminasi rasial marak di Amerika. Negeri Paman Sam terkenal sebagai negara yang rasis, utamanya pada warga kulit hitam. Pada 1870-an, warga kulit hitam sudah turun ke jalan, menolak rasisme negara.

Baca juga:  Ranah Politik Perempuan Ala Demokrasi

Data dari Statista menyebut warga Amerika kulit hitam hampir tiga kali lebih mungkin mati karena polisi dibandingkan warga kulit putih. Kemarahan warga tak lagi bisa ditahan. Para pemrotes meneriakkan “I can’t breathe!”, ‘Saya tidak bisa bernapas’.

Dikutip dari Liputan6.com (6/6/2020), Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dewi Fortuna Anwar menilai kerusuhan yang terjadi di Amerika Serikat akibat tindakan rasialisme aparat negara terhadap warga berkulit hitam menunjukkan Presiden AS Donald Trump tidak bisa mengendalikan persoalan dalam negerinya.

Padahal, AS sebagai salah satu negara adikuasa seharusnya menjadi contoh bagi negara lain. Sejak beberapa tahun terakhir ini, AS menghadapi kemunduran di dalam posisinya sebagai champion human rights, champion demokrasi.

Jika mewujudkan keadilan di dalam negeri saja AS tidak becus, apalagi dalam mengurus dunia. Terbukti, selama Amerika menahbiskan diri sebagai pemimpin dunia dan polisi global, dunia dipenuhi dengan perpecahan dan penjajahan.

Irak dan Afghanistan dibumihanguskan demi tuduhan palsu Amerika tentang senjata pemusnah massal. Palestina kehilangan tanahnya karena dukungan AS terhadap Israel. Masih banyak kasus internasional lain yang membuktikan bahwa AS gagal menjadi pemimpin yang mengayomi dunia.

Islam Menyatukan Bangsa-Bangsa

Gejolak rasialis di AS ini jauh berbeda dengan kepemimpinan Islam. Peradaban Islam pernah memimpin dunia selama ribuan tahun. Selama itu pula dunia diliputi dengan keadilan bagi seluruh manusia, tanpa melihat ras dan warna kulitnya. Hal ini karena Khilafah Islam mengacu pada hadis Nabi Muhammad (Saw.):

Baca juga:  Jelang Ajal Demokrasi, Songsong Fajar Khilafah

“Hai umat manusia! Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah satu. Ingatlah! Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang lain Arab; tidak pula ada kelebihan bagi orang lain Arab atas orang Arab; tidak juga ada kelebihan orang yang berkulit merah atas orang kulit hitam; dan tidak pula orang kulit hitam atas orang kulit merah, melainkan lantaran takwa, sebab sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu ialah yang paling bertakwa kepada Allah.” (Riwayat Baihaqi)

Bisa dikatakan bahwa Rasulullah (Saw.) adalah pioner pemimpin antirasialisme. Beliau (Saw.) tidak hanya menentang diskriminasi rasial, tapi juga menyelesaikan permasalahan rasial yang muncul di tengah masyarakat.

Pada suatu hari, Abu Dzar al-Ghifari dan Bilal bin Rabah, dua sahabat Nabi (Saw.) berselisih paham. Saat sedang bertengkar, Abu Dzar tiba-tiba keceplosan mengucapkan, “Dasar, kulit hitam!” Bilal sangat tersinggung mendengar ucapan itu. Ia datang kepada Rasulullah (Saw.) dan mengadukan kegalauannya.

Mendengar hal itu, rona wajah Rasulullah (Saw.)berubah dan bergegas menghampiri Abu Dzar. Lalu berkata, “Sungguh dalam dirimu masih terdapat Jahiliah!”

Mendengar nasihat Rasulullah, Abu Dzar menangis dan memohon kepada Allah SWT. Ia menyesali tindakan diskriminatifnya. Ia pun berjanji di hadapan Nabi untuk tidak mengulanginya dan segera memohon maaf kepada Bilal. Bilal pun memaafkannya.

Baca juga:  Membebaskan Naluri Keibuan dari Cengkeraman Kapitalisme Neoliberal

Mulia Meski Legam

Tamsil bagi keadilan Islam terhadap semua warna kulit adalah kisah Bilal bin Rabah, seorang sahabat yang dulunya budak. Namun Bilal sangat mulia, hingga Rasulullah mengabarkan bahwa Beliau SAW mendengar terompah Bilal di surga. Nabi (Saw.) bersabda kepada Bilal bin Rabah:

“Ceritakanlah kepadaku perbuatan terbaik apa yang kau lakukan di Islam karena aku mendengar suara terompahmu di surga,” Bilal menjawab, “Aku tidak melakukan apa-apa hanya saja aku tidak pernah berwudu kecuali sesudahnya aku melaksanakan salat (sunah berwudu).

Tak hanya Bilal, ada beberapa sahabat Nabi SAW yang berkulit legam. Namun mereka adalah orang-orang yang mulia karena ketakwaannya. Bahkan mereka menjadi pahlawan Islam yang menginspirasi generasi selanjutnya. Di antara mereka adalah Zaid bin Haritsah, Usamah bin Zaid, Ummu Ayman, Ammar bin Yasir, Ayman bin ‘Ubayd dan lain-lain.

Demikianlah keberhasilan Rasulullah (Saw.) dalam mewujudkan kesetaraan bagi manusia. Pascawafatnya beliau (Saw.), para khalifah juga mewujudkan kegemilangan yang sama. Selama berabad-abad, manusia dari aneka suku, bangsa, ras, warna kulit dan bahkan agama hidup rukun di bawah pengayoman khilafah. Mereka melebur menjadi masyarakat yang satu.

Keharmonisan ini hancur lebur ketika khilafah runtuh tahun 1924 dan kapitalisme memimpin dunia. Sejak itu manusia kembali terserak berdasarkan ras dan warna kulitnya. Sungguh kita butuh khilafah, kepemimpinan yang memuliakan semua manusia. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

9 thoughts on “Saat Amerika “Tak Bisa Bernapas”

  • 15 Juni 2020 pada 22:10
    Permalink

    Indahnya islam mengatur kehidupan qt

    Balas
  • 15 Juni 2020 pada 21:22
    Permalink

    Udah, khilafah aja!
    Terbukti kan, bahwa sistem demokrasi yang kufur ini tidak bisa memberikan keadilan.
    Hanya islamlah yang mampu menghapus rasisme !!!!

    Balas
  • 15 Juni 2020 pada 21:21
    Permalink

    Udah, khilafah aja!
    Terbukti kan, bahwa sistem demokrasi yang kufur ini tidak bisa memberikan keadilan.
    Hanya islamlah yang mampu menghapus rasisme

    Balas
  • 15 Juni 2020 pada 21:04
    Permalink

    Saatnya islam memimpin dunia

    Balas
  • 15 Juni 2020 pada 19:52
    Permalink

    Sangat butuh Khilafah

    Balas
  • 15 Juni 2020 pada 07:01
    Permalink

    Tegakkan kembali hukum Allah

    Balas
  • 15 Juni 2020 pada 05:17
    Permalink

    MaSyaaAllah sungguh mulianya Islam dalam menjaga satu nyawa manusia .

    Sungguh kita butuh khilafah, kepemimpinan yang memuliakan semua manusia..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *