New Normal, Jangan Sampai Menjadi “Tsunami” Baru

Oleh: Ummu Naira (Forum Muslimah Indonesia/ForMind)

MuslimahNews.com, OPINI – Penambahan jumlah kasus positif Covid-19 sampai dengan 13 Juni 2020 masih sangat tinggi, yaitu 1.014 kasus baru, sehingga total menjadi 37.420 kasus yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia.

Ada empat provinsi dengan penambahan kasus di atas 100 yaitu Jawa Timur (tertinggi, 176 kasus baru), DKI Jakarta, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. [@BNPB_Indonesia]

Kasus covid-19 di sejumlah provinsi pun belum sampai pada tahap aman. Para ahli epidemiologi mengkritik keras kebijakan new normal atau kenormalan baru yang digembar-gemborkan pemerintah karena tingkat risiko penularan sebenarnya masih sangat tinggi. Kurva pertumbuhan kasus Covid-19 di Indonesia belum mencapai puncak. Dengan demikian, Indonesia masih jauh dari akhir pandemi.

Menurut Tifauzia Tyassuma, Direktur Eksekutif Clinical Epidemiology and Evidence Based Medicine Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), peningkatan kasus Covid-19 yang terjadi saat ini adalah akibat dari sejumlah sebab.

Pertama, imbas dari melonggarnya pergerakan orang yang pulang kampung atau mudik. Kedua, konsekuensi logis dari peningkatan jumlah tes PCR yang dilakukan pemerintah. Ketiga, adalah dampak kampanye new normal (kumparan, 13/06/2020).

Kriteria New Normal menurut WHO

Menurut WHO, ada tindakan-tindakan yang tidak bisa ditawar untuk menentukan new normal, yaitu isolasi cepat dari semua kasus yang diduga dan dikonfirmasi; perawatan klinis yang sesuai untuk mereka yang terkena Covid-19; pelacakan kontak ekstensif dan karantina semua kontak setidaknya 80% kasus baru dilacak dan kontaknya dikarantina; dalam 72 jam setelah konfirmasi setidaknya 80% kontak kasus baru dipantau selama 14 hari; memastikan bahwa orang sering mencuci tangan, memakai masker di tempat umum dan tempat kerja; serta menjaga jarak fisik minimal semeter dari yang lain (kompas.com, 13/06/2020)

Baca juga:  Tahun Ajaran Baru, Beban Maksimal dengan Bekal Abnormal

Meski demikian, skenario New Normal Life telah dirilis oleh Pemerintah untuk para pekerja, seperti ASN, BUMN, dan perusahaan.

Di antara skema tersebut adalah pertama, akan diterapkan sistem kerja yang fleksibel, sehingga para ASN bisa bekerja di kantor, rumah atau tempat lain.

Kedua, mewajibkan protokol kesehatan seperti jaga jarak, cuci tangan, menggunakan masker untuk mencegah penularan virus selama bekerja.

Dan ketiga, percepatan dan perluasan penerapan teknologi informasi dan komunikasi juga harus dilakukan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik, misalnya melalui e-office, digital signature, dan rapat lewat video conference (cbncIndonesia.com, 25/5/2020).

Bahaya Berkurangnya Kewaspadaan Publik

Tingkat kewaspadaan publik berkurang akibat gaung kebijakan penerapan new normal atau disebut dengan istilah Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Padahal, tatanan normal baru harus juga disertai kedisiplinan masyarakat dalam menjaga jarak dan menggunakan masker sebab berkontribusi besar menghentikan rantai penularan dan mengendalikan Covid-19.

Fakta di lapangan selama beberapa hari ini yang diamati penulis, masyarakat masih terlihat kurang disiplin, sudah tidak terlalu memperhatikan aturan social distancing, dan sebagian masyarakat sudah tidak memakai masker ketika keluar rumah.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, sebagian masyarakat iliterasi. Mereka kurang paham soal virus Covid-19, tidak melek fakta, tidak paham bagaimana hal ihwal kasus Covid-19 itu sebenarnya seperti apa.

Baca juga:  Pandemi Covid-19, “New Normal”, dan Kebutuhan Dunia terhadap Peradaban Islam

Kedua, banyaknya hoaks atau rumor yang menyangsikan apakah benar Covid-19 ini adalah virus berbahaya. Akibatnya sebagian masyarakat tidak bisa membedakan mana informasi yang benar dan mana yang salah.

Ketiga, euforia. Masyarakat yang sudah merasa “terkekang” di dalam rumah karena kebijakan pembatasan sosial atau social distancing merasa sangat jenuh. Kebijakan new normal ini dianggap angin segar dan menjadi momen “kemerdekaan beraktivitas” bagi sebagian orang.

Semua faktor ini jika tidak dibarengi dengan kewaspadaan tinggi dan masyarakat yang semakin abai, dampaknya akan sangat berbahaya. Kita pun perlu berkaca dari pengalaman negara lain seperti Korea Selatan yang terpaksa menutup sekolah setelah satu pekan dibuka, kasus positif covid-19 meningkat lagi.

Jangan sampai akibat kebijakan new normal ini seperti kasus bencana “tsunami” (meskipun hanya perumpamaan). Ketika air laut surut dan ikan-ikan kemudian bermunculan di sekitaran pantai, orang-orang berduyun-duyun dan mendekat ke pantai mengambil ikan-ikan dengan perasaan sangat gembira. Tak memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya dan tanpa dibarengi dengan pemahaman yang baik tentang tanda-tanda tsunami. Akhirnya, beberapa menit kemudian air yang tinggi datang seketika melumat orang-orang itu dan juga semua yang ada tak pandang bulu.

Baca juga:  Lupakan “New Normal”, Saatnya Khilafah Hadir Kembali (1/2)

Demikian juga dengan bahaya Covid-19 ini. Jangan sampai kebijakan new normal (yang sebenarnya abnormal) ini menjadi pintu baru ancaman meluasnya penularan Covid-19 karena ketidakdisiplinan masyarakat Indonesia masih menjadi pekerjaan berat kita.

Kita tentu tak menginginkan Indonesia “panen corona” akibat new normal. Atau justru kurva penularan Covid-19 mencapai puncaknya setelah kebijakan ini. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

8 tanggapan untuk “New Normal, Jangan Sampai Menjadi “Tsunami” Baru

  • 19 Juni 2020 pada 22:55
    Permalink

    Semoga kita slalu dalam lindungan allah. Amin ya allah

    Balas
  • 16 Juni 2020 pada 05:48
    Permalink

    Astagfirullah….
    Masyarakat begitu abai ditambah peraturan pemerintah yang selalu saja berdampak buruk bagi masyarakat….
    Lantas mau jadi apa negeri ini kalau seperti itu??
    Sudah khilafah aja.
    Dalam sistem khilafah sudah terbukti telah mampu menjadikan rakyat lebih baik.
    Dimana dalam sistem khilafah untuk masalah kesehatan menjadi kebutuhan dasar masyarakat yang wajib di penuhi oleh negara khilafah.
    Lihat dalam buku the leader Umar bin Khattab maka banyak sekali kita menemukan bagaimana Khalifah Umar mengurus urusan umat tidak terkecuali dalam masalah kesehatan dengan siatem Islam..
    Sungguh hanya dengan sistem khilafahlah umat akan sejahtera…

    Balas
  • 15 Juni 2020 pada 20:41
    Permalink

    Semoga Allah melindungi kita semua..Amiin

    Balas
  • 15 Juni 2020 pada 20:25
    Permalink

    Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran nya.

    Balas
  • 15 Juni 2020 pada 10:19
    Permalink

    saatnya kembali kesistem islam

    Balas
  • 15 Juni 2020 pada 08:00
    Permalink

    Betul… New Normal hanya utk membang kitkan perekonomian Kapitalis tp.tidak membangkitkan perekonomian rakyat. Maka solusinya adl diterapkankannya Sistem Islam yg Kaffah(Khilafah Islamiysh)

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *