[Editorial] Era “New Normal”, Arah Pendidikan (Kok) Makin Kacau (?)

MuslimahNews.com, EDITORIAL – Hingga saat ini, Tampaknya rakyat masih harus bersabar menunggu keputusan pemerintah soal kebijakan sekolah di era new normal. Apakah jadi dibuka atau ditunda?

Kabar yang santer, pembukaan sekolah hanya akan diberlakukan di wilayah zona hijau. Itu pun dengan berbagai syarat dan panduan, yang (katanya) sedang disiapkan dengan penuh kehati-hatian.

Sebelumnya, dalam acara dengar pendapat dengan anggota DPR (20/5/2020), Mendikbud Nadiem Makarim memang sempat menyebut bahwa pemerintah sedang menyiapkan skenario kebijakan membuka sekolah di era new normal pada Juli mendatang.

Pernyataan ini sontak menuai perdebatan. Banyak pihak yang menilai bahwa pemberlakuan new normal –khususnya di dunia pendidikan– sangat berbahaya dan terkesan menjadikan siswa didik dan para guru sebagai kelinci percobaan. Apalagi faktanya, situasi wabah belum benar-benar selesai dan kurva kasusnya pun tak kunjung melandai.

Atas kontroversi ini, pemerintah pun lantas memberi penjelasan. Bahwa yang dimaksud adalah membuka tahun ajaran, bukan membuka sekolah sebagaimana ramai dibicarakan.

Menurut pemerintah, memasuki new normal, pembukaan tahun ajaran baru tetap harus dilakukan. Namun opsi pembelajarannya bisa dengan tatap muka di sekolah atau secara daring alias belajar dari rumah (BDR).

Beberapa daerah pun menyambut rencana ini dengan beragam. Daerah-daerah yang kondisinya dinilai sudah hijau menyatakan siap membuka kembali pembelajaran di sekolah. Sementara daerah yang masih terkategori kuning atau merah, tegas menyatakan penundaan dan memilih opsi pembelajaran jarak jauh alias daring.

Namun, adanya pendekatan zonasi ini, tetap saja tak menghentikan kontroversi. Banyak masyarakat yang ragu bahwa kebijakan new normal di dunia pendidikan ini akan benar-benar aman, sekalipun di zona hijau.

Terlebih faktanya, penetapan suatu daerah sebagai zona hijau tak serta-merta menunjukkan bahwa daerah tersebut benar-benar bebas dari virus Covid-19. Karena secara nasional kondisi wabah masih belum menampakkan tanda-tanda akan selesai. Sehingga potensi penyebarannya pun masih terbuka lebar.

Hal ini diperparah dengan banyaknya kebijakan kontraproduktif pemerintah yang tak menjamin virus unik ini bisa terlokalisasi di satu wilayah. Saat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan misalnya, ternyata tak didukung kebijakan jaring pengaman sosial yang kuat serta edukasi yang masif. Sehingga wajar, jika saat itu sebagian masyarakat terkesan abai terhadap berbagai hal yang membahayakan.

Dan saat ini, ketika new normal digembar-gemborkan, masyarakat menangkapnya sebagai “kembali normal”. Sehingga pelonggaran PSBB yang menandai pemberlakuan new normal dan sejatinya ditujukan untuk menggenjot kegiatan ekonomi, otomatis membuat kehidupan seolah kembali seperti sebelum wabah.

Inilah yang membuat sebagian masyarakat lain ketar ketir dengan ancaman wabah gelombang ke dua. Terlebih fakta ini sudah terbukti di negara-negara yang lebih dulu menerapkan new normal, sebagaimana negara Cina, Korea Selatan, Finlandia, Australia, Perancis, Inggris, dan beberapa negara lainnya.

Tak sedikit masyarakat di sana, termasuk anak-anak di sana yang positif terpapar corona sesaat setelah pusat-pusat kegiatan ekonomi dan sekolah-sekolah mereka dibuka. Hingga akhirnya mereka pun kembali memberlakukan pembatasan-pembatasan.

Lantas, bagaimana Indonesia bisa percaya diri akan lolos dari ujian gelombang kedua wabah corona, sementara penanganan bencana di negara-negara yang disebutkan tadi jauh lebih baik dari Indonesia? Akankah pemberlakuan new normal termasuk di bidang pendidikan membawa kebaikan bagi semua?

Selain berdampak buruk pada sektor ekonomi, wabah yang memakan banyak korban jiwa ini memang telah berpengaruh signifikan pada dunia pendidikan. Sejak wabah merebak, dunia pendidikan dipaksa menyesuaikan diri dengan pola interaksi sosial yang tiba-tiba harus berubah dan diperparah perekonomian yang kolaps.

Ndilalahnya, sistem pendidikan yang diterapkan benar-benar gagap dalam menghadapi keadaan. Terbukti, opsi belajar dari rumah –yang faktanya saat itu menjadi satu-satunya pilihan– malah lebih menyingkap kebobrokan sistem pendidikan yang selama ini diterapkan, sekaligus memunculkan begitu banyak persoalan.

Visi pendidikan yang sekuler kapitalistik, kurikulum yang tak jelas arah, metode pembelajaran yang kaku, dukungan sarana dan prasarana yang sangat minim, membuat penyelenggaraan “pendidikan” di tengah wabah menjadi hal yang terasa begitu memberatkan. Baik bagi para siswa, orang tua, maupun pihak pendidik dan sekolah.

Banyak dari mereka yang stres karena tuntutan sistem yang tak jelas. Sekolah daring menjadi tambahan beban tersendiri bagi para orang tua. Baik secara ekonomi maupun mental.

Mereka yang kadung berpikir mendidik adalah kewajiban sekolah, tiba-tiba harus bertanggung jawab penuh terhadap sekolah anaknya. Tak hanya soal pendidikan agama dan moral, tapi dengan berbagai mata ajar yang mereka pun tak mengerti bagaimana dan apa manfaat riilnya.

Adapun para siswa, bersekolah di tengah wabah menjadi penderitaan tersendiri bagi mereka. Karena selain dipaksa melahap begitu banyak target pembelajaran di rumah, juga harus berhadapan dengan “guru” baru yang tak paham bagaimana mendidik dan mengajar. Baik dari sisi mental maupun kemampuan.

Sementara bagi pihak pendidik dan sekolah, situasi wabah juga tak serta-merta meringankan beban mereka. Bahkan situasi ini membuat mereka harus berpikir keras, karena dukungan fasilitas sangat minim, sementara pembelajaran harus tetap dijalankan.

‘Alaa kulli haalin, kondisi wabah memang betul-betul membongkar kebobrokan sistem hidup yang sedang diterapkan, tak terkecuali sistem pendidikan. Jangankan saat terjadi wabah, saat normal saja, sistem pendidikan yang diterapkan memang tampak rapuh dan tak jelas arah.

Bahkan dalam penerapan sistem secara keseluruhan, pendidikan telah kehilangan sisi strategis sebagai salah satu pilar pembangun peradaban. Dalam sistem sekuler kapitalistik ini, pendidikan hanya ditempatkan sekadar sebagai pengukuh penjajahan kapitalisme global. Yakni sekadar sebagai pencetak mesin pemutar roda industri belaka. Alias hanya untuk memenuhi pasar industri milik para kapitalis.

Itulah kenapa, kurikulum yang dibuat melulu berorientasi pada sistem vokasi. Di perguruan tinggi hal ini tampak dari konsep-konsep seperti triple helix atau yang sebelumnya dikenal dengan konsep link and match. Di mana output pendidikan harus match dengan kebutuhan pasar perindustrian. Dan negara bahkan berperan besar dalam mendorong terjadinya kapitalisasi dan sekularisasi di bidang pendidikan ini.

Apa yang disebut dengan “mencetak sosok berkepribadian Islam” atau “mencetak generasi arsitek peradaban cemerlang”, sudah lama hilang dari ingatan. Bahkan visi seperti itu dianggap sebagai khayalan belaka.

Hingga wajar, jika sistem pendidikan zaman sekarang cenderung hanya mampu mencetak output dengan skill yang itu pun sangat minimal, namun minus adab sebagai hiasan. Tak lebih dari robot yang siap dipekerjakan. Sementara urusan moral tak penting untuk diperhatikan.

Berbeda jauh dengan pendidikan dalam sistem Islam. Pendidikan dalam sistem Islam diposisikan dalam level yang sangat tinggi sebagaimana Islam menempatkan kedudukan ilmu dan orang yang berilmu pada level yang juga sangat tinggi.

Paradigma inilah yang mendorong negara yang menerapkan sistem Islam atau disebut khilafah, menempatkan sistem pendidikan sebagai salah satu pilar peradaban cemerlang yang harus mendapat perhatian serius oleh negara, baik dalam menjaga kemurnian visi, kurikulum, metode pembelajaran, hingga dukungan sarana dan prasarananya.

Negara atau kepemimpinan -yang dalam Islam memiliki fungsi sebagai pengurus dan penjaga umat- bahkan akan memastikan agar sistem pendidikan ini berjalan sempurna, dengan turut menciptakan suasana kondusif melalui penerapan sistem-sistem hidup lainnya.

Misalnya, menerapkan sistem ekonomi dan moneter Islam yang kuat dan menjamin kesejahteraan seluruh warga negara. Orang per orangnya. Termasuk dukungan anggaran yang lebih dari memadai bagi terselenggaranya pendidikan dengan kualitas mumpuni. Seperti sarana dan prasarana pendidikan, gaji dan fasilitas guru yang sangat tinggi, insentif dan fasilitas bagi para siswa yang menggiurkan, biaya riset yang sangat memadai serta hal-hal lain, yang membuat pendidikan menjadi hal yang agung dan menyenangkan.

Juga dukungan sistem politik Islam yang mandiri dan berdaulat bebas dari intervensi asing. Sistem sosial Islam yang menjaga kebersihan moral masyarakat dan menjamin ta’awun serta tradisi amar makruf nahi mungkar berjalan sebagaimana semestinya.

Sistem sanksi Islam yang tegas dan memberi rasa aman bagi semua. Serta sistem-sistem pendukung lain yang menjamin arah pendidikan dan kultur belajar dan beramal demi kepentingan umat benar-benar terjaga dengan sempurna.

Wajar jika dari sistem pendidikan Islam yang didukung sistem-sistem Islam lainnya ini lahir sosok-sosok yang berkepribadian Islam dengan skill yang mumpuni. Yang berhasil membawa umat ini pada level kehidupan jauh di atas level umat-umat lainnya, sebagai khairu ummah dalam masa yang sangat panjang.

Visi dan aturan-aturan Islam yang komprehensif inilah yang terus dipegang teguh para penguasa Islam dari satu generasi ke generasi lainnya. Sehingga setiap situasi yang dihadapi –termasuk saat situasi wabah terjadi– mampu dilewati dengan sebaik-baiknya.

Hingga sepanjang sejarahnya, umat Islam yang hidup di bawah naungan sistem kepemimpinan Islam tetap dikenal sebagai pionir peradaban. Di mana peradaban barat modern pun begitu berutang pada Islam.

Sebagai gambaran keagungan sistem pendidikan Islam dalam peradaban emas khilafah, cukuplah surat yang disampaikan George II Raja Inggris, Swedia, dan Norwegia kepada Khalifah Islam, pemimpin kaum Muslimin negeri Andalusia ini sebagai buktinya:

”Dari George II raja Inggris, Swedia dan Norwegia kepada Khalifah Islam, pemimpin kaum Muslimin negeri Andalusia, pemilik keagungan, Khalifah Hisyam III, yang berkedudukan tinggi dan mulia.

Setelah takzim (pengagungan) dan tawqir (penghormatan) Kami memberitahukan kepada Anda bahwa kami telah mendengar tentang kemajuan pesat “mata air yang jernih” berupa universitas-universitas ilmu pengetahuan dan industri-industri yang maju di negeri Anda yang makmur dan sejahtera.

Maka kami ingin mengirim putra-putra kami (bangsa Eropa) agar bisa mengambil contoh dari keutamaan-keutamaan kalian, dan agar hal ini menjadi awal yang baik dalam meneladani jejak-jejak kalian, untuk menyebarkan cahaya ilmu pengetahuan di negeri kami yang diliputi kebodohan dari empat penjurunya.

Kami jadikan keponakan kami, Princess Dubant sebagai pemimpin delegasi dari para putri pembesar kerajaan Inggris untuk mendapat kehormatan dengan bisa “mengecup bulu mata singgasanamu” dan mengais kasih sayangmu.

Hal itu agar dia dan teman-teman wanitanya menjadi pusat perhatian keagungan Anda. Dan kami bekali putri mungil kami, dengan hadiah kecil lagi sederhana untuk kedudukan anda yang tinggi lagi mulia. Kami memohon kemuliaan Anda untuk menerimanya dengan kami haturkan penghormatan dan cinta yang tulus.

Dari pelayanmu yang patuh, George II Raja Inggris, Swedia dan Norwegia. (Sumber : https://binbaz.or.id/)

Wallahu a’lam bishawwab. [MNews – SNA]

Bagaimana menurut Anda?

63 tanggapan untuk “[Editorial] Era “New Normal”, Arah Pendidikan (Kok) Makin Kacau (?)

  • 8 Juli 2020 pada 07:45
    Permalink

    Allahu Akbar. Sungguh sudah banyak bukti bahwa hanya Islam lah seagung2nya sistem

    Balas
  • 8 Juli 2020 pada 07:43
    Permalink

    Maa syaa Allah tak henti2nya Mentakzimkan Islam. Sungguh tiada sistem sesempurna paripurna Islam

    Balas
  • Pingback:[Editorial] Adu Tawar UKT di Musim Wabah. Kok, Keterlaluan?! – Muslimah News

  • 23 Juni 2020 pada 20:36
    Permalink

    Terlebih faktanya, penetapan suatu daerah sebagai zona hijau tak serta-merta menunjukkan bahwa daerah tersebut benar-benar bebas dari virus Covid-19. Karena secara nasional kondisi wabah masih belum menampakkan tanda-tanda akan selesai. Sehingga potensi penyebarannya pun masih terbuka lebar.
    Segeralah meminta perlindungan sahabat ku perlindungan yg amat sangat ketat yaitu perlindungan dr Allah Swt.

    Balas
  • 14 Juni 2020 pada 21:34
    Permalink

    Islamlah yang terbaik sepanjang masa

    Balas
  • 14 Juni 2020 pada 18:29
    Permalink

    Agungnya peradaban Islam, sungguh merindu kembalinya ada di tengah2 umat..

    Balas
  • 13 Juni 2020 pada 17:02
    Permalink

    Itulah bobroknya pendidikan kapitalis. Sangat jauh dengan pendidikan Islam.

    Balas
  • 12 Juni 2020 pada 21:20
    Permalink

    Hanya Islam solusi segala problematika umat

    Balas
  • 12 Juni 2020 pada 21:05
    Permalink

    MasyaAllah Islam begitu mulia

    Balas
  • 12 Juni 2020 pada 10:25
    Permalink

    Kondisi wabah memang betul-betul membongkar kebobrokan sistem hidup yang sedang diterapkan, tak terkecuali sistem pendidikan. Jangankan saat terjadi wabah, saat normal saja, sistem pendidikan yang diterapkan memang tampak rapuh dan tak jelas arah.

    Balas
  • 12 Juni 2020 pada 04:15
    Permalink

    Kondisi yg membuat was was rakyat.Tinggal.rakyatnya yg harus waspada ….Lindungi kami ya Allah

    Balas
  • 11 Juni 2020 pada 21:19
    Permalink

    Kembalilah ke sistem islam, hanya islam yang akan memberikan solusi tuntas atas setiap masalah yg dihadapi umat

    Balas
  • 11 Juni 2020 pada 18:17
    Permalink

    Indahnya islam dalam mengatasi masalah

    Balas
  • 11 Juni 2020 pada 15:55
    Permalink

    Pendidikan islam mcetak generasi mulia & unggul..

    Balas
  • 11 Juni 2020 pada 09:57
    Permalink

    Beginilah repot dan semrawutnya pengaturan jika diserahkan kepada manusia untuk mengatur urusan kehidupan. Tidak akan menghasilkan pertentangan satu dengan yang lainnya. seharusnya aturan diserahkan kepada Dzat yang Maha Mengatur yaitu Allah SWT.

    Balas
    • 13 Juni 2020 pada 06:36
      Permalink

      Jika sistem sekuker kapitalisme terbukti gagal semoga ummat tak berfikir dangkal
      Untuk segera menggantinya denga sistem berakal
      Yakni Sistem Khilafah dengan niat liLlah

      Balas
    • 14 Juni 2020 pada 04:47
      Permalink

      Pendidikan islam mencetak generasi cemerlang

      Balas
    • 16 Juni 2020 pada 12:22
      Permalink

      MasyaaLlah begitu sempurna aturan yg Allah ciptakn, tp msh sj ada yg menganggap bhw kesempurnaan islam hanya sebuah hayalan. Semoga umat semakin sadar. Aamiin

      Balas
  • 11 Juni 2020 pada 06:18
    Permalink

    Hanya dengan syariah dan khilafah hidup menjadi berkah.

    Balas
  • 11 Juni 2020 pada 05:55
    Permalink

    New Normal dipaksa berjalan demi para cukong kapitalis. Realitas kondisi di lapangan smakin buruk. Dan Indonesia memiliki jumlah kasus covid anak yg sangat tinggi dbanding negara2 d dunia. Inilah akibat penerapan sistem kapitalisme

    Balas
  • 11 Juni 2020 pada 05:37
    Permalink

    Masyaallah, semoga daulah islam tegak kembali!

    Balas
  • 11 Juni 2020 pada 05:25
    Permalink

    New normal sudah pasti kacau karena sumbernya dari kapitalis sekuler

    Balas
  • 11 Juni 2020 pada 04:46
    Permalink

    Begitu indahnya dan tentram apabila islam yang mengatur permasalah kehidupan hari ini. Tak sabar lagi hati ini tuk mewujudkan islam menguasai dunia. MasyaAllah, Allahuakbar!

    Balas
  • 11 Juni 2020 pada 04:13
    Permalink

    Masha allah.. Islam kaffah adalah solusinya

    Balas
  • 10 Juni 2020 pada 22:56
    Permalink

    MasyaAllah…. Hanya sistem islam solusi terbaik bagi kehidupan…. Smoga Khilafah Segera tegak kembali atas izin Allah…. Aamiin

    Balas
  • 10 Juni 2020 pada 21:49
    Permalink

    Pendidilan islam memang terbaik

    Balas
  • 10 Juni 2020 pada 20:34
    Permalink

    Sumber kekacauan saat ini adalah undang” buatan manusia yg diterapkan dlm sistem demokrasi.
    Saatnya buang demokrasi terapkan Khilafah Rosyidah alaa minhajinnabi.

    Balas
    • 11 Juni 2020 pada 10:04
      Permalink

      Ini akibat negara salah kelola

      Balas
  • 10 Juni 2020 pada 20:29
    Permalink

    Ma syaa Allah.. ingin Islam segera memimpin dunia 😢😇

    Balas
    • 10 Juni 2020 pada 21:22
      Permalink

      Maasyaaallah. Kapitalisme tidak akan berpihak kepada rakyat

      Balas
  • 10 Juni 2020 pada 20:25
    Permalink

    Sudahlah masyarakat minim literasi, ditambah lagi penerapan new normal di tengah pandemi. Rakyat seakan mau dijadikan kelinci percobaan

    Balas
  • 10 Juni 2020 pada 19:48
    Permalink

    Jazaakillaah khairan katsiiran Ustadzah ilmunya sangat bermanfaat..

    Balas
    • 12 Juni 2020 pada 18:14
      Permalink

      Ini masalah nyawa, bukan permainan. semoga kebijakan yg d buat bisa memanusiakan masyarakat

      Balas
  • 10 Juni 2020 pada 18:30
    Permalink

    Sistem Islam memang tdk diragukan lg, Islam solusi hakiki mengatasi berbagai mcm permasalahan termasuk dlm hal pendidikan.

    Balas
  • 10 Juni 2020 pada 17:45
    Permalink

    Maa syaa ALLAH.
    Sudah saatnya kita sadar bahwa kapitalisme hanya menjadi sarang masalah dari setiap masalah yang bukan hanya di Negera ini melainkan meliputi seluruh dunia.
    Dan sudah waktunya kita tinggalkan dan mengambil sistem yang terbaik yakni khilafah Islamiyyah yang sudh diakui oleh dunia dunia barat dan pemimpin pemimpin barat bahwa khilafah lah sebuah sistem pemerintahan yang agung dan mulia yang bisa memajukan dunia dari berbagai aspek kehidupan.

    Balas
  • 10 Juni 2020 pada 17:04
    Permalink

    Hanya Islam solusi tuntas
    Pasien covid-19 bertambah seribu lebih perhari tapi tetap bahas new normal.
    #KapitalismeGagalAtasiPandemi
    #IslamSolusiAtasiPandemi

    Balas
  • 10 Juni 2020 pada 16:36
    Permalink

    Bidang pendidikan pun tidak luput dr proses kapitalisasi dan bisnis oriented..hanya dg sistem pendidikan Islam lah..tujuan pendidikan agung dan mulia akan tercapai.

    Balas
    • 13 Juni 2020 pada 20:56
      Permalink

      Astaghfirullah…

      Balas
  • 10 Juni 2020 pada 16:27
    Permalink

    Islam adalah satu-satunya solusi untuk semua masalah

    Balas
    • 10 Juni 2020 pada 21:27
      Permalink

      Kapitalisme sistem rusak !!!

      Balas
    • 11 Juni 2020 pada 21:19
      Permalink

      Kembalilah ke sistem islam, hanya islam yang akan memberikan solusi tuntas atas setiap masalah yg dihadapi umat

      Balas
  • 10 Juni 2020 pada 16:26
    Permalink

    Hanya Islam yg bsa menuntaskan smua permasalahan hidup

    Balas
  • 10 Juni 2020 pada 15:53
    Permalink

    Sistem pendidikan islam yg bagus

    Balas
    • 10 Juni 2020 pada 22:25
      Permalink

      Memang hanya dengan islam segala masalah umat bisa diselesaikan

      Balas
      • 13 Juni 2020 pada 05:43
        Permalink

        Balada pendidikan di kapitalisme

        Balas
  • 10 Juni 2020 pada 15:23
    Permalink

    MasyaAlloh….islam solusi dari tiap permasalahn

    Balas
  • 10 Juni 2020 pada 15:22
    Permalink

    Arah pendidikan sekarng ini makin tidak jelas , terbukti banyak sekolah2 yg gagal faham bahkan tidak mengerti bagaimana cara mengajar secara online di samping itu karena tidak adanya fasiilitas yg mendukung dr pemerintah…..

    Miris sebenarnya …..

    Balas
  • 10 Juni 2020 pada 15:21
    Permalink

    Masya Allah,, sudah terbukti pendidikan Islam lah yang terbaiqq..

    Balas
  • 10 Juni 2020 pada 15:06
    Permalink

    Sistem rusak = solusi rusak
    Sistem mulia = solusi memuliakan

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *