Hati Seorang Muslim bagai Burung Bersayapkan Khauf (Cemas) dan Raja’ (Harap)

Oleh: Zeinah As-Samit

MuslimahNews.com, NAFSIYAH – Tidaklah aneh bagi seseorang yang tidak beriman untuk hidup di dunia ini, di mana ia melupakan kehidupan di akhirat, tidak takut dengan apa yang akan terjadi padanya. Dia telah mencela rahmat Allah yang menciptakannya, menyangkal keberadaan Allah, dan menuhankan hawa nafsunya sendiri dan menyerahkan dirinya kepada setan, menjadikan dunia dan segala kesenangannya menarik baginya, dan menggodanya dengan keinginan untuk memuaskan naluri dan kebutuhannya tanpa batasan atau ketakutan.

Tetapi jika ini terjadi pada seorang muslim, mengikuti jalan orang-orang kafir, lalai akan akhirat dan takdirnya di sana, maka itu adalah hal yang aneh sebagai keanehan hidupnya di kehidupan duniawi ini, di mana hukum Rabnya dan aturan-Nya telah hilang darinya.

Bagaimana bisa seorang Muslim –yang percaya bahwa Allah sebagai Tuhannya, Nabi Muhammad (saw) sebagai Rasul-Nya, dan Alquran sebagai kitab dan pedoman hidup– bisa hidup serta menghilangkan Islam dari hidupnya, kecuali beberapa peribadatan yang menjadi kebiasaan mirip dengan apa yang dilakukan orang-orang Kristen di gereja?!

Bagaimana bisa dia hidup di bawah sistem kapitalis syirik yang memaksanya hidup jauh dari Allah, dari bimbingan dan cahaya-Nya? Sebuah kehidupan di mana dia berpacu tanpa pertimbangan, di mana semua urusannya hanyalah untuk memenuhi kebutuhannya, sehingga hatinya mati dan tidak takut kepada Allah, kecuali mereka yang dirahmati oleh-Nya.

Mengapa begitu banyak muslim yang berpaling dari “jual-beli” yang baik dan berpegang teguh pada “jual-beli” yang mematikan? Mengapa mereka kehilangan pandangannya akan akhirat dan malah terperangkap dalam dunia fana?

Mengapa banyak orang hatinya mengeras, sehingga mereka tidak takut akan konsekuensi dosa-dosa yang mereka lakukan, dan Anda melihat mereka sombong atas nasihat yang diberikan kepada mereka, dan kesombongan dalam dosa menguasainya; atau mereka bergantung pada ampunan Allah, sehingga mereka tidak peduli akan dosa, baik besar atau kecil, dan mereka berkata “Allah Maha Pengampun dan Penyayang”?!

Diceritakan oleh Abu Hurairah (ra) bahwa Nabi (saw) bersabda bahwa Allah (SWT) berfirman (hadis qudsi),

Demi kemulian-Ku, Aku tidak akan menghimpun dua rasa takut dan dua rasa aman pada diri seorang hamba. Jika ia takut kepada-Ku di dunia, maka Aku akan memberikannya rasa aman di Hari Kiamat. Jika ia merasa aman dari-Ku di dunia, maka Aku akan memberikan rasa takut kepadanya di Hari Kiamat.” (HR Ibnu Hibban dalam kitab sahihnya)

Tidakkah mereka memahami hadis Ilahi ini? Tidakkah mereka merenungkan kata-katanya? Tidakkah sumpah Tuhan mereka dengan kemuliaan-Nya mengguncang mereka?

Bagaimana mereka menjalani kehidupan dunia mereka dengan aman sementara mereka yakin bahwa apa yang mereka lakukan adalah baik, dan kemudian berharap hidup aman di akhirat? Sudahkah dua rasa aman dihimpun untuk mereka?

Bagaimana soal itu?! Tentu saja, hal ini tidak dapat terjadi, dan Allah Yang Mahakuasa telah bersumpah demi kemuliaan-Nya untuk tidak menyatukan mereka bersama hamba-hamba-Nya!

Karena itu, seorang muslim harus mengharapkan kebaikan dari Allah, sebagaimana ia harus takut akan hukuman-Nya. Agar ia lancar mengarungi kehidupannya di dunia, ia harus menggabungkan kedua hal itu hingga ia bertemu dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kelak.

Ia harus berjalan di muka bumi ini, senantiasa mencari yang halal dalam setiap aktivitasnya, dan menghindari segala keharaman, takut pada-Nya, mencari pahala; tidak terkecoh dengan pekerjaannya, berpikir bahwa (pekerjaannya) adalah penyelamatnya dan justru melupakan rahmat dan ampunan Allah (SWT).

Diriwayatkan dari Anas bin Malik (ra.) bahwa Rasulullah (Saw.) menemui seorang pemuda yang sedang sekarat dan berkata,

“Bagaimana keadaanmu?” Pemuda itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku mengharap pada Allah, tetapi aku juga takut akan dosa-dosaku.” Rasulullah (Saw.) menjawab, “Dua hal ini (khauf dan raja’) tidak terhimpun dalam hati seseorang dalam kondisi seperti ini, melainkan Allah akan memberi apa yang ia harapkan dan menjauhkannya dari apa yang ia takutkan.”

Beginilah seharusnya sikap muslim: khauf (merasa cemas) dan raja’ (berharap). Sebagaimana rasa cemas dan harap pada Allah Yang Mahakuasa mendorong seseorang melakukan kebaikan dan berharap kebaikan dari Allah (SWT) beserta ampunan-Nya, di mana itulah jalan untuk menjauhkannya dari api neraka dan (kemudian) memasuki surga.

Inilah yang disabdakan Rasulullah (Saw.) kepada umatnya dan inilah apa yang beliau tanamkan ke dalam hati para Sahabat dan seluruh kaum muslim. Beliau meyakinkan mereka bahwa mereka harus takut kepada Allah dan tidak merasa aman dari keterasingan dan jarak mereka dari petunjuk Tuhan mereka.

Mereka harus memohon kepada-Nya, meminta-Nya untuk menjaga mereka tetap seperti yang biasa dilakukan Nabi (saw). Beliau selalu meminta pada Sang Khalik untuk menjaga hatinya agar teguh pada agama-Nya dan menaati-Nya!

Ini Rasulullah (Saw.), Utusan Allah dan Kekasih-Nya, yang Allah telah mengampuni baginya apa yang mendahului dosanya dan apa yang akan terjadi selanjutnya, dan dijanjikan surga. Lantas bagaimana dengan kita?!

Di mana kita berasal dari Mustafa yang terkasih, yang memadukan rasa cemas dan harap, hasrat dan ketakutan, dan sadar akan kebesaran urusan ini, sehingga ia ke dunia ini dan menyembah Allah sebagaimana Dia harus disembah, hingga ia bertemu dengan-Nya dan dia menerima pahala dari Allah dan rida-Nya dan mencapai surga-Nya?

Seorang muslim layak bersedih jika dia melakukan dosa, mengabaikan kewajiban atau mengabaikan urusan agamanya, dan dia harus takut sepanjang hidupnya akan murka dan pembalasan Allah dan takut akan siksaan api neraka.

Rasa takut ini adalah lampu yang menerangi hatinya, jadi jika itu terpisah darinya, hatinya akan hancur, pemiliknya akan tersesat, dan tindakannya akan rusak.

Bagaimana bisa seorang muslim hari ini menjamin rida Tuhannya dan hidup di dunia ini tanpa takut akan nasibnya di akhirat, seolah-olah dia yakin dia akan memperolehnya?! Bagaimana bisa dia menjalani kehidupan di dunia ini sementara dia mengabaikan hal besar yang melindungi dia dari kejahatan melakukan dosa dan mencegahnya dari mengikuti hawa nafsu, sehingga ia terhindar jatuh ke dalam dosa dan melakukan tindakan terlarang?

Allah (SWT) berfirman, “… Sungguh, azab Tuhanmu itu sesuatu yang (harus) ditakuti.” (QS Al-Isra’: 57). Rasa takut mendorongnya untuk berbuat yang benar dan meninggalkan segala larangan, tanpa berbalik menjadi ketakutan yang mengarah pada keputusasaan dan kesedihan akan rahmat dari ampunan Allah.

Ketakutan mendesaknya untuk melakukan perbuatan yang benar dan meninggalkan larangan, tetapi tanpa berubah menjadi ketakutan yang dikutuk yang mengarah pada keputusasaan dan kesedihan dari rahmat Allah, dan “… Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang kafir.” (QS Yusuf: 87)

Seorang muslim bercita-cita untuk mendapatkan rida, cinta, dan pahala dari Allah, dan dari orang-orang di surga untuk mendapatkan keberkahan-Nya.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Al-Baqarah: 218)

Cita-cita seorang muslim ialah harapannya akan pemberian Tuhannya, yang memotivasinya untuk terus melakukan kebaikan, sehingga dia bersaing dalam perbuatan baik dan berusaha meningkatkan ketaatan, dan hatinya senantiasa melekat pada surga dan rahmat-Nya.

Dia berjuang dengan jiwanya (nafs), menginginkannya dengan apa yang Allah janjikan berupa kebaikan di akhirat, menggunakan waktunya untuk segala sesuatu yang baik baginya dan bermanfaat di dalamnya. Dia harus memiliki hati yang hidup dengan cinta Allah, dan terbang seperti burung dengan sayapnya!

Ibn al-Qayyim mengatakan,

“Hati yang berada di jalan-Nya menuju Allah (SWT) bagaikan burung, di mana cinta adalah kepalanya, dan rasa cemas serta harap adalah sayapnya.”

Cemas dan harap adalah sayap hati seorang muslim, dan dia tidak bisa terbang atau melayang untuk mencapai tujuannya jika dia kehilangan salah satunya. Ketika seorang Muslim memegang kitabullah dan membaca ayat-ayat-Nya, ia takut dan cemas pada ayat-ayat di mana Allah menjanjikan orang-orang kafir dan munafik, dan khawatir karena takut menjadi salah satu dari mereka.

Dan ketika ia membaca ayat-ayat di mana Ia menjanjikan orang-orang yang beriman bahagia dan ditemani oleh Rasulullah (saw), seorang muslim akan senang dengan hal itu dan ingin mencapai derajat mereka dan meminta Sang Khalik untuk tidak menolaknya dan menjadi salah satu dari mereka.

Dengan demikian, pengetahuan orang mukmin tentang siksaan pedih itu membuatnya takut, dan pengetahuannya tentang kapasitas dan kemurahan Allah membuatnya bercita-cita dan berharap untuk Rabnya.

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Seandainya orang mukmin mengetahui siksaan yang disediakan Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang merasa bisa masuk surga-Nya. Andaikan orang kafir mengetahui rahmat yang dikaruniakan Allah, pasti tidak akan ada seorang pun yang berputus asa dari surga-Nya.” 

Oleh karena itu, seorang muslim harus berada di antara dua status: status cemas dan status harap, dan untuk diseimbangkan karena ia tidak membuat salah satu dari keduanya menang atas yang lain.

Jika jiwanya mengalahkannya dan memanggilnya untuk berbuat dosa, ia harus mengingat rasa takut kepada Allah dan hukuman-Nya. Dan jika jiwanya mengundangnya untuk menjauh dari perbuatan baik, dia harus kembali untuk mengingat Allah dan untuk membangkitkan rahmat dan pengampunan-Nya.

Allah (SWT) berfirman,

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sungguh, azab Tuhanmu itu sesuatu yang (harus) ditakuti.” (QS Al-Isra’: 57)

Dia mengikuti bimbingan Nabi-Nya, damai dan berkah besertanya, dan semua nabi lain yang menyembah Tuhan mereka dalam ketakutan dan cita-cita.

“… Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdoa kepada kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada kami.” (QS Al-Anbiya: 90)

Saat ini, umat Islam hidup di bawah sistem kapitalis yang memisahkan agama dari kehidupan! Sistem kufur yang tidak takut kepada Allah, juga tidak berharap akan rahmat-Nya. Sistem yang tidak adil dengki kepada agama ini [Islam] dan orang-orangnya [Muslim], jadi bagaimana bisa seorang muslim menerima ini?

Bagaimana bisa dia menerima hidup tanpa aturan dari Tuhannya diterapkan padanya? Bagaimana bisa dia tetap tanpa adanya seorang imam yang menerapkan ketentuan Islam dan melindunginya dari kejahatan jatuh ke keinginan dunia?

Bagaimana dia bisa merasa aman dari hukuman Rabnya ketika dia puas dengan kepalsuan ini? Bagaimana mungkin dia tidak takut akan murka Tuhannya, ketika aturan-Nya diabaikan dan umat manusia kembali ke kegelapan dan kebodohan?!

Hati seorang mukmin harus berdenyut dengan cinta Allah dan terbang seperti burung mengepakkan sayapnya, karena takut kepada Allah dan berharap akan rahmat-Nya, sehingga ia akan mencapai langit dan menjalani kehidupan yang telah diterima Rabnya untuknya.

Dengan demikian ia akan menjadi, insya Allah, pemenang. Dia harus bersegera menyebarkan kebaikan dan mengembalikan cahaya Allah dan berjuang dengan para pejuang yang tulus untuk mendukung Din Allah dan mengangkat tinggi panji-panji al-‘Uqab karena takut bahwa Rabnya tidak akan menyalahkan dia atas apa yang dilakukan oleh orang-orang jahil lakukan, dan berharap mendapatkan kegembiraannya dan mencatatnya di antara orang-orang yang benar dan pembuat perubahan. [MNews – Gz] Sumber: https://s.id/iTCJr

Bagaimana menurut Anda?

9 tanggapan untuk “Hati Seorang Muslim bagai Burung Bersayapkan Khauf (Cemas) dan Raja’ (Harap)

  • 7 Juni 2020 pada 18:02
    Permalink

    “Demi kemulian-Ku, Aku tidak akan menghimpun dua rasa takut dan dua rasa aman pada diri seorang hamba. Jika ia takut kepada-Ku di dunia, maka Aku akan memberikannya rasa aman di Hari Kiamat. Jika ia merasa aman dari-Ku di dunia, maka Aku akan memberikan rasa takut kepadanya di Hari Kiamat.” (HR Ibnu Hibban dalam kitab sahihnya)

    Balas
  • 4 Juni 2020 pada 15:45
    Permalink

    Subhanallah perumpamaan yang indah, sungguh berilmu ulama-ulama terdahulu

    Balas
  • 4 Juni 2020 pada 06:08
    Permalink

    Ma syaa Allah, selfreminder 😭

    Balas
  • 3 Juni 2020 pada 16:14
    Permalink

    Semoga ada 2 sayap ini pd kita.. aamiin

    Balas
  • 3 Juni 2020 pada 08:36
    Permalink

    MasyaAllah….mennggetarkan hati…semoga Allah senantiasa menuntun kita di jalanNya..aamiin

    Balas
  • 3 Juni 2020 pada 06:18
    Permalink

    Masya Allah..smoga kita tergolong orang-orang yg berkumpul di hati kita rasa khauf dan roja’..aamiin

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *