Doa Lintas Agama: Bentuk Pluralisme yang Diharamkan!

Oleh: Arini Retnaningsih

MuslimahNews.com, FOKUS – Doa lintas agama jadi fenomena di tengah kondisi pandemi covid19. Tanggal 14 Mei lalu Kementerian Agama bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar acara doa bersama lintas agama sekaligus penggalangan dana secara daring (online), dalam rangka menyikapi kondisi bangsa di tengah wabah Covid-19. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200514065816-20-503146/kemenag-gelar-doa-lintas-agama-online-dan-galang-dana-corona

Setelah itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga menginisiasi kegiatan ‘Doa Lintas Iman bagi Indonesia’ secara daring, Sabtu (23/5) malam. Acara diadakan sebagai penghormatan dan dukungan kepada tim medis yang sudah berjuang di garis depan dalam penanganan Covid-19. Selain itu, juga kepada para aparat (polisi, dishub) yang turut mengawal pencegahan Covid-19 (https://www.nu.or.id/post/read/120292/doa-lintas-iman-untuk–kemenangan–melawan-covid-19)

Makna Doa

Doa memiliki banyak arti namun makna yang diambil secara umum adalah permintaan atau permohonan sebagaimana firman Allah SWT:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS Al Mukmin (40): 60).

Prof. Dr. Hasbi Ash Shiddieqy dalam bukunya Pedoman Dzikir dan Doa (Bulan Bintang, 1993), memaknai doa kepada Allah ialah menyatakan bahwa kita sangat berhajat kepada-Nya dalam memperoleh sesuatu yang kita kehendaki, diiringi dengan ketundukan dan merendahkan diri kepada-Nya.

Bagi kaum muslimin, doa bukan sekedar menyampaikan hajat, namun juga merupakan ibadah kepada Allah. Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ مُخُّ العِبَادَةِ

Doa adalah otak (inti) ibadah.” (HR Tirmizi).

Sebagai suatu ibadah, doa adalah khas bagi masing-masing agama. Hal ini karena yang diseru dan dimintai adalah Tuhan dari masing-masing agama. Dalam Islam, doa adalah memohon kepada Allah, tidak diperbolehkan meminta kepada selain Allah karena itu adalah bentuk kesyirikan.

Firman Allah SWT:

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ [٢٧:٦٢]

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).”(QS al-Naml [27]: 62).

Status Agama di Luar Islam

Allah SWT menegaskan bahwa agama di sisi-Nya hanyalah Islam.

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama (yang diridai) disisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran: 19)

Mengambil agama selain Islam tidak akan diterima Allah sebagaimana firman-Nya:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ [٣:٨٥]

Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS Ali Imran:85).

Baca juga:  Sekularisme dalam Balutan Indeks Kota Toleran

Bahkan Alquran menegaskan kekafiran agama-agama yang lain, misalnya agama Nasrani dengan firman Allah:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ [٥:٧٢]

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putra Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al Maidah: 72)

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ [٥:٧٣]

Sesungguhnya kafirlah orangorang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (QS Al Maidah: 73)

Juga agama Yahudi, sekalipun mereka termasuk dalam kategori ahli kitab bersama Nasrani. Allah Ta’ala berfirman:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ ؛ اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Orang-orang Yahudi berkata, “’Uzair itu putra Allah.” Dan orang-orang Nasrani berkata, “Al-Masih itu putra Allah.” Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka, bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai sesembahan selain Allah. (Juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan (Allah) yang Esa, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS At-Taubah [9]: 30-31)

Selain Yahudi dan Nasrani, maka mereka adalah golongan musyrikin karena menyembah selain Allah.

Hukum Doa Lintas Agama 

Pada tanggal 28 Juli 2005, Munas VII MAJELIS ULAMA INDONESIA mengeluarkan fatwa tentang doa lintas agama yang ditandatangani ketuanya saat itu, KH Ma’ruf Amin. Dalam fatwa tersebut, MUI menetapkan hukum doa lintas agama sebagai berikut:

  1. Doa bersama yang dilakukan oleh orang Islam dan nonmuslim tidak dikenal dalam Islam. Oleh karenanya, termasuk bid’ah.
    2. Doa Bersama dalam bentuk “Setiap pemuka agama berdoa secara bergiliran” maka orang Islam HARAM mengikuti dan mengamini Doa yang dipimpin oleh non-muslim.
    3. Doa Bersama dalam bentuk “Muslim dan non-muslim berdoa secara serentak” (misalnya mereka membaca teks Doa bersama-sama) hukumnya HARAM.
    4. Doa Bersama dalam bentuk “Seorang non-Islam memimpin Doa” maka orang Islam HARAM mengikuti dan mengamininya.
    5. Doa Bersama dalam bentuk “Seorang tokoh Islam memimpin Doa” hukumnya MUBAH.
    6. Doa dalam bentuk “Setiap orang berdoa menurut agama masing-masing” hukumnya MUBAH
Baca juga:  Kontroversial, Sinta Nuriyah menyatakan Jilbab tidak Wajib. Pakar Politik Asma Amnina: Corong Liberalisasi Islam

Sekalipun sudah jelas dari fatwa MUI tersebut keharaman doa lintas agama, namun ternyata fatwa ini tidak mampu menghentikan praktik tersebut. Bahkan dengan posisinya sebagai wapres saat ini, KH Ma’ruf Amin yang menandatangani fatwa tersebut, menjadi terseret arus apa yang beliau sendiri nyatakan sebagai bid’ah.

Bila kita kembali pada pembahasan makna doa sebagai sebuah ibadah, dan status agama lain di luar Islam yang tidak diterima Allah, semestinya tidak ada lagi perbedaan pemahaman di tengah umat terkait hukum doa lintas agama.

Sebagai ibadah, kita hanya diperbolehkan melakukan ibadah kepada Allah, bukan tuhan-tuhan yang lain selain Allah. Doa kepada tuhan selain Allah adalah sia-sia sebagaimana firman-Nya:

وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ

Dan do`a orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka. (QS Ghafir [40]: 50).

Bahkan meminta kepada tuhan selain Allah, misal kepada Yesus, Budha atau Sang Hyang Widhi, Allah tegaskan sebagai sebuah kesyirikan. Allah Ta’ala berfirman,

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka beribadah kepada selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan. Dan mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” Katakanlah, “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?” Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan (itu).” (QS Yunus [10]: 18)

Buah Kesesatan Pluralisme

Bila sudah jelas keharaman doa lintas agama, mengapa masih dilaksanakan? Pertanyaan ini tentu berkecamuk dalam benak kita.

Baca juga:  Liqa’ Ulama Perempuan: Khilafah Ajaran Islam

Doa lintas agama sebenarnya hanya salah satu bentuk dari ide sesat yang kita sebut pluralisme agama. Ide ini memandang bahwa semua agama adalah sama. Kebenaran semua agama adalah relatif. Maka pemeluk agama tak boleh mengklaim hanya agamanya yang benar sedangkan agama lainnya salah.

Pluralisme lahir dari filsafat perenialisme yaitu sebuah sudut pandang dalam filsafat agama yang meyakini bahwa setiap agama di dunia memiliki suatu kebenaran yang tunggal dan universal yang merupakan dasar bagi semua pengetahuan dan doktrin religius (https://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat_perenial).

Perlu kita pahami, dalam Islam, filsafat sama sekali bukan sumber hukum. Sumber hukum hanya 4: Alquran, Sunah, ijmak, dan qiyas. Maka kita tidak boleh mengambil premis filsafat sebagai suatu kebenaran yang bertentangan dengan sumber hukum yang diakui Islam.

Menganggap semua agama sama, yakni menyembah tuhan yang sama hanya caranya yang berbeda, sama sekali tidak sesuai dengan kebenaran faktual yang kita indra. Allah yang kita sembah bukanlah Yesus, karena Yesus diperanakkan, sedangkan Allah tidak beranak dan diperanakkan.

Juga bukan Buddha, karena Allah tidak pernah menitis sebagai manusia. Juga bukan Sang Hyang Widi, yang dalam agama Hindu disebut Acintya, digambarkan dalam wujud manusia tidak berkelamin, berdiri dengan satu kaki dan kedua tangan di depan dada. Sedangkan Allah adalah gaib, tidak bisa digambarkan, dan mukhalafatu lil hawaditsi ‘berbeda dari makhluknya’.

Dengan demikian pluralisme adalah bentuk pencampuradukan agama yang selayaknya kita tolak. Otomatis, ide-ide turunannya seperti doa lintas agama, dialog antaragama, kebenaran relatif agama dan sebagainya, adalah salah dan tidak boleh diambil umat Islam. Allah SWT telah mengingatkan kita dengan firman-Nya:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (QS al-Baqarah [2]: 42).

Selayaknya, umat Islam berpegang pada apa yang sudah Allah tetapkan:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ، وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ، وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ، وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ، لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِين

Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukku, agamaku”. (QS al-Kafirun [109]: 1-6). [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

64 tanggapan untuk “Doa Lintas Agama: Bentuk Pluralisme yang Diharamkan!

  • 20 Juni 2020 pada 21:02
    Permalink

    وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

    “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS al-Baqarah [2]: 42).

    Balas
  • 17 Juni 2020 pada 19:20
    Permalink

    Ide pluralisme ini sekilas seperti benar, padahal sangat salah dan berbahay karena menyangkut aqidah seseorang

    Balas
  • 14 Juni 2020 pada 20:15
    Permalink

    Toleransi yg kebablasan hingga menerjang batas” iman. Na’udzubillah 😓

    Balas
  • 6 Juni 2020 pada 13:16
    Permalink

    Salah satu upaya menjauhkan Islam dr kehidupan yaitu menyamakan semua agama. Padahal Islam memiliki sikap tegas dlm hal ini lakum dinukum waliyadin.

    Balas
  • 5 Juni 2020 pada 06:46
    Permalink

    Astagfirullah, cuma di sistem sekuler kuta nemuin yg beginian. Dulu befatwa begini, seperti yg td ada 6 poin. Tau2 skrng hanya diem2 aja fatwa ny d langgar.

    Balas
  • 4 Juni 2020 pada 06:38
    Permalink

    Toleransinya kelewatan dong

    Balas
  • 3 Juni 2020 pada 18:30
    Permalink

    Astagfirullah :”( setuju pluralisme haram

    Balas
  • 3 Juni 2020 pada 11:46
    Permalink

    Astaghfirullah… tinggalkan pluralisme
    Toleransi antar agama yang semakin ga karuan

    Balas
    • 6 Juni 2020 pada 21:12
      Permalink

      Pluralisme tumbuh subur di sistem kapitalisme sekuler, campakkan sistem Kapitalisme! hadirkan sistem Islam sebagai aturan dalam segala aspek kehidupan

      Balas
    • 6 Juni 2020 pada 21:18
      Permalink

      اَسْتَغْفِرُ اللّهَ الْعَظِیْمَ

      Balas
  • 2 Juni 2020 pada 09:29
    Permalink

    Ini buah dari kapitalis dg liberalisme demokrasinya .sandaranya adalah sekulerisme yg menghasilkan pluralisme…naudzubillah

    Balas
    • 6 Juni 2020 pada 20:52
      Permalink

      Toleransi yang kebablasan…

      Balas
  • 2 Juni 2020 pada 07:57
    Permalink

    Astaghfirullah!!!
    Dunia semakin menjadi2, hanya islam kaffah sebagai solusi.

    Balas
  • 2 Juni 2020 pada 07:40
    Permalink

    Hanya Islam yg benar. Agama lain adalah salah. Jadi kita hanya berdoa hanya sesuai dengan keyakinan kita Islam. Tidak bisa disatukan dengan mereka

    Balas
  • 2 Juni 2020 pada 05:13
    Permalink

    Ulama sekarang berada dalam lingkaran pluralisme, tdk bisa berkata sebenar-benarnya ttg Islam, karena sdh dijanjikan materi yg begitu menggiurkan. Wahai para ulama, kembalilah kepada identitas terbaikmu sebagai pewaris para Nabi, kelak kedudukan antum mulia disisi Allah swt

    Balas
  • 1 Juni 2020 pada 22:13
    Permalink

    Astaghfirullah. Ini mah terlalu menjunjung nilai toleransi sampek ke bablasan

    Balas
    • 2 Juni 2020 pada 22:00
      Permalink

      Menurut sy, ini bentuk minimnya pemahaman thd Islam & syariahnya. Juga perlambang sdh akutnya virus ketidakpercayadirian seorg Muslim akan agamanya sendiri hingga sudi disandingkan dgn agama lain.
      Wajar sj..bentukan sistem kapialis sekuler kan, yg terus berusaha menjauhkan gambaran Islam yg sebenarnya dr benak kaum Muslim.

      Balas
  • 1 Juni 2020 pada 21:38
    Permalink

    Yaa muqollibal quluub tsabbit qolbi Aladdinik

    Balas
  • 1 Juni 2020 pada 21:31
    Permalink

    Tolak pluralisme!!! karena menyesatkan umat muslim, padahal sudah jelas di dalam al quran disebutkan bahwa hanya islam lah agama yang sempurna (benar)

    Balas
  • 1 Juni 2020 pada 21:30
    Permalink

    Pluralisme No Way!
    .
    Agama mana yg ada konsep ekonominya Misal Bank? Adanya Bank Syari’ah..ngga ada bank Kristen, bank Budha yekan..
    Agama mana yang menjelaskan sistem pidana? Sistem pidana di dalam Islam ada.. Pidana hindu ada ngga?
    Udah.

    Balas
  • 1 Juni 2020 pada 21:21
    Permalink

    Astaghfirullah Hal’azim

    Balas
  • 1 Juni 2020 pada 21:01
    Permalink

    Astagfirullah,hukum di negeri bs dipesan berdasarkan peaanan,beda dg hukum Allah gk bs ditarik ulur

    Balas
  • 1 Juni 2020 pada 20:48
    Permalink

    Untukmu agamamu, untukku agamaku

    Balas
  • 1 Juni 2020 pada 20:43
    Permalink

    Astagfirullah.. Pluralisme jelas menyesatkan

    Balas
  • 1 Juni 2020 pada 20:35
    Permalink

    Arahan penguasa yg tdk terarah semakin jauh dr ridho Allah mengundang murka Allah.Pluralisme adalah ide bathil yg sesat dan menyesatkan akan tumbuh subur dlm sistem kapitalis sekuler.

    Balas
  • 1 Juni 2020 pada 20:32
    Permalink

    Astaghfirullahal’adziim, pluralisme dalam doa lintas agama haram, jangan buat Allah tambah murka

    Balas
  • 1 Juni 2020 pada 20:20
    Permalink

    astagfirullah keblinger ini mah

    Balas
  • 1 Juni 2020 pada 19:55
    Permalink

    Tolak pluralisme ide filsafat..
    Tak ada do’a lintas agama.
    Astaghfirullah , makin menjadi2. Sdh sangat jauh tersesatnya.. Allahu yahdik

    Balas
  • 1 Juni 2020 pada 19:50
    Permalink

    Untukmulah agamamu, dan untukku agamaku

    Balas
    • 1 Juni 2020 pada 20:41
      Permalink

      Astaghfirullahal adziim.
      Tolak pluralisme agama. Karena ide itu bisa menyesatkan umat.

      Balas
      • 2 Juni 2020 pada 12:29
        Permalink

        Trik lama yg diputar kembali dengan memanfaatkan keberadaan wabah. Ide ini sdh pernah ditolak dan dinyatakan keharamannya.

        Balas
  • 1 Juni 2020 pada 19:48
    Permalink

    Pluralisme haram

    Balas
  • 1 Juni 2020 pada 19:47
    Permalink

    Astaghfirullah hal adzim

    Balas
    • 1 Juni 2020 pada 20:42
      Permalink

      Astaghfirullahal adziim.
      Tolak pluralisme agama. Karena ide itu bisa menyesatkan umat.

      Balas
  • 1 Juni 2020 pada 19:37
    Permalink

    Astagfiruloh..! Pluralisme penyesatan yang nyata.. berhati-hatilah.. !

    Balas
  • 1 Juni 2020 pada 19:09
    Permalink

    Pluralisme adalah haram dan menyesatkan… Jangan mencampuradukan antara yg haq dan yg bathil….

    Balas
  • 1 Juni 2020 pada 18:42
    Permalink

    Pluralisme agama memandang bhw semua agama adalah sama. Kebenaran semua agama adalah relatif. Maka pemeluk agama tak boleh mengklaim hanya agamanya yg benar sedangkan agama lainnya salah. Ini jelas bertentangan dg Islam. Karena bagi seorang muslim agama yg diridhoi Allah hanyalah Islam.

    Balas
    • 2 Juni 2020 pada 10:15
      Permalink

      begitulah, jika Manusia membuat aturan sendri, Tidak sesuai ajaran Islam, Innalillah… Mw sampai kapan rezim ini membuat aturan sesuai hawa nafsunnya,

      Balas
    • 3 Juni 2020 pada 23:27
      Permalink

      Banyak orang beranggapan jika Pluralisme sama dengan toleransi. Butuh dakwah untuk meluruskan pemahaman ini…

      Balas
  • 1 Juni 2020 pada 18:14
    Permalink

    Islam agama yang diridhoi Allah

    Balas
    • 1 Juni 2020 pada 20:54
      Permalink

      Astaghfirullah.. Semoga semakin baanyak org yg faham tentamg bahayanya pluralisme..

      Balas
  • 1 Juni 2020 pada 17:50
    Permalink

    Ya Allah..

    Di era sekarang semakin berani dan terang-terangan.. Khilafah solusi penjag aqidah umat

    Balas
  • 1 Juni 2020 pada 17:31
    Permalink

    Ide pluralisme ini harus kita tolak krn ini mencampur adukan agama….toleransi yg kebablasan tidak sesuai dg syariat Islam

    Balas
  • 1 Juni 2020 pada 17:22
    Permalink

    Toleransi yg kebablasan!

    Balas
  • 1 Juni 2020 pada 17:15
    Permalink

    tidak ada toleransi dalam Islam

    Balas
    • 5 Juni 2020 pada 08:05
      Permalink

      Maksudnya mungkin toleransi yang salah kaprah? 🙂

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *