Pasca-Ramadan: Ketaatan yang Memuliakan

Oleh: Sulistiawati Ummu Salamah

MuslimahNews.com, TSAQAFAH — Ramadan adalah bulan dengan banyak penyebutan. Bulan Puasa, Bulan Alquran, atau Bulan Ampunan. Para Ulama menamakan bulan Ramadan dengan nama nama baik.

Yang tak kalah populer adalah Bulan Takwa. Karena takwa adalah tujuan dari disyariatkannya puasa. Allah SWT berfirman,

لعلكم تتقون

Artinya: “… agar kalian bertakwa.” (QS Al Baqarah: 183)

Dalam kitab tafsir Al Muyassar, ditafsirkan:

لعلكم تتقون ريكم، فتجعلون بينكم و بين المعاصي وقاية، بطاعته و عبادته وحده

“Agar kamu bertakwa kepada Rabb kalian, maka kamu menjadikan pembatas antara dirimu dengan maksiat, dengan cara taat kepada-Nya dan hanya beribadah kepada-Nya saja.”

Inilah alasan mengapa selepas Ramadan, orang yang beriman layak berbahagia. Karena Alquran yang telah turun dengan seluruh aturannya berhasil mengajaknya kepada hidayah. Mengeluarkannya dari kegelapan menuju pada cahaya. Lafaz takbir hari raya menunjukkan wujud syukur kepada Allah SWT atas hidayah ini. Sebagai tanda telah menjadi pribadi yang bertakwa.

Takwa yang Memuliakan

Bukti takwa adalah wujud ketaatan terhadap Allah. Membuktikan keterikatan pada seluruh perintah dan larangan-Nya. Inilah yang akan membuka keberkahan dari langit dan bumi.

Allah SWT berfirman,

Baca juga:  Mewujudkan Kehidupan Baru Pasca Ramadan

ولو أن أهل القرى آمنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض ولكن كذبوا فأخذناهم بما كانوا يكسبون

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka atas perbuatannya.”

Inilah ketaatan yang senantiasa membawa kemuliaan. Seorang muslim akan selalu terdorong untuk mengaplikasikan aturan Allah SWT. Karena jaminan kemuliaan manusia di muka bumi ini sesungguhnya ada dalam pelaksanaan syariat secara total.

Tidak heran jika para Khulafaur Rasyidin sangat memperhatikan keberlangsungan setiap hukum. Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, sangat kuatir dengan permintaan untuk tidak membayar zakat, namun tetap melaksanakan salat.

Sang Khalifah berjanji akan memerangi siapa pun yang menolak kewajiban zakat. Karena zakat adalah hak atas harta. Sehingga walau hanya seutas tali unta saja seseorang menolak membayar zakat, Khalifah Abu Bakar mengecam perbuatan itu dengan perang.

Ini adalah kesadaran tertinggi akan makna taat kepada seluruh aturan Allah SWT. Sehingga manakala satu saja terlalaikan, akan berakibat fatal bagi kemuliaan semua manusia.

Pada saat ini, ketaatan totalitas sudah hilang. Umat Islam saat ini dengan mudahnya melepaskan ketaatan. Ini karena institusi penjaga ketaatan sudah tiada. Inilah yang dinamakan institusi kekuasaan.

Baca juga:  Ramadan Beranjak Pergi, Idul Fitri Momentum Raih Kemenangan Hakiki

Imam Al Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin:

والملك والدين توأمان فالدين أصل والسلطان حارس وما لا أصل له فمهدوم وما لا حارس له فضائع

“Maka kekuasaan dan agama adalah saudara kembar. Agama adalah fondasi/pokok-nya (ushul) sedangkan penguasa adalah penjaganya. Dan apa-apa yang tidak ada fondasinya, maka dia akan runtuh. Sedangkan apa-apa yang tidak memiliki penjaga, maka dia akan lenyap.”

Kekuasaan inilah yang dikenal dengan Khilafah Islamiyah. Yang keberadaannya telah dilenyapkan oleh Inggris lewat kaki tangannya Mustafa Kamal di Turki 1924.

Sejak saat itu kemuliaan umat Islam diinjak-injak. Nyawa umat Islam tidak ada harganya. Lebih mulia kematian seekor hewan langka, dibanding terbunuhnya 370.000 Muslim di Suriah .

Karenanya, Ramadan demi Ramadan berlalu, pelajaran penting akan ketakwaan adalah wujud ketaatan kita yang belum mampu memberikan kemuliaan bagi umat ini.

Tugas besar kita untuk membuktikan ketaatan yang hakiki adalah memberikan kontribusi terbaik kita dalam menyadarkan umat Islam akan pentingnya Khilafah.

Membangunkan kesadaran umat Islam akan potensi terbaik yang ada dalam genggamannya, agar membangunkan kembali Sang Khalifah. Agar ia diberikan kembali tugas dan wewenang menjalankan seluruh syariat yang akan membawa kemuliaan bagi dunia dan seisinya. Jangan biarkan pasca-Ramadan kita berlalu tanpa kemuliaan yang hakiki. [MNews]

Baca juga:  Ramadan Bulan Turunnya Alquran Petunjuk Kehidupan

Bagaimana menurut Anda?

7 tanggapan untuk “Pasca-Ramadan: Ketaatan yang Memuliakan

  • 7 Juni 2020 pada 18:07
    Permalink

    Hanya Khilafah Islamiyah yang bisa mewujudkan ketakwaan hakiki dan totalitas

    Balas
  • 6 Juni 2020 pada 07:08
    Permalink

    Bismillah jangan biarkan kholifah tertidur kalau kita ingin mendapatkan kemuliaan Alloh SWT
    Barokalloh

    Balas
  • 2 Juni 2020 pada 09:34
    Permalink

    Ketaatan hy kpd sang Khaliq adl ketaatan haqiqi bg umat islam.insya Allah…bisa istiqomah ditengah kegersangan moral .dan ditengah sistim buruk kapitalisme.

    Balas
  • 1 Juni 2020 pada 06:28
    Permalink

    Masya Allah

    Allahu Akbar..!!

    Tetaplah dalam ketaatan!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *