Kita Butuh “New System”, Bukan “New Normal”

Oleh: Ummu Naira (Forum Muslimah Indonesia/ ForMind)

MuslimahNews.com, OPINI – Kurva pandemi Covid-19 di Indonesia belum melandai, namun tampaknya penguasa di negeri ini akan memaksakan status kondisi “new normal“.

Apakah “new normal” itu? Dikatakan bahwa new normal adalah kebijakan membuka kembali aktivitas ekonomi, sosial, dan kegiatan publik secara terbatas dengan menggunakan standar (protokol) kesehatan yang sebelumnya tidak ada sebelum pandemi.

New normal” menjadi istilah yang khas, yang dimaknai dengan kembalinya orang-orang pada kerumunan (meskipun teorinya adalah menghindari kerumunan) dengan memakai masker dan menjaga jarak.

Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmita memberikan penjelasan lengkap mengenai kebijakan baru itu.

New normal adalah bentuk adaptasi tetap beraktivitas dengan mengurangi kontak fisik dan menghindari kerumunan. Semua aktivitas masyarakat akan kembali diizinkan, mulai dari bekerja, sekolah hingga ke tempat wisata. Namun, semua aktivitas tersebut harus dijalani dengan mematuhi protokol kesehatan guna mencegah penularan virus corona.

Beberapa standar protokol kesehatan yang wajib dijalankan oleh masyarakat dalam era new normal, antara lain menggunakan masker saat bepergian dan menjaga jarak minimal satu meter dari orang lain.

Wiku menjelaskan, new normal bertujuan untuk menata kehidupan dan perilaku baru ketika pandemi Covid-19 terjadi. Transformasi ini akan terus berlangsung hingga vaksin untuk Covid-19 ditemukan (suara.com, 28/05/2020).

Belajar dari Penerapan New Normal Korea Selatan

Korea Selatan pada 6 Mei 2020 lalu mencabut pembatasan sosial dan menerapkan konsep new normal ini. Namun, kebijakan new normal yang diterapkan Korea Selatan setelah kurva infeksi Covid-19 menurun nyatanya tidak bisa bertahan lama.

Kebijakan itu terbukti gagal di mana lonjakan infeksi virus covid-19 terbesar terjadi pada Kamis (29/5/2020). Kondisi itu memaksa pemerintah memberlakukan kembali pembatasan sosial di beberapa wilayah.

Menyadur The Guardian, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC) melaporkan 79 infeksi baru dengan 67 di antaranya berasal dari daerah ibukota Seoul dan lebih dari 250 kasus baru yang ditelusuri bersumber dari klub malam dan bar di distrik Itaewon Seoul.

Baca juga:  Mesin Penyedot Uang (Kapitalis) Bag. 2/2

Para pejabat mengatakan otoritas kesehatan semakin sulit untuk menelusuri jejak penularan infeksi baru. Karenanya, pembatasan sosial akan kembali berlaku mulai Jumat (29/5/2020) hingga 14 Juni mendatang.

Museum, taman, dan galeri seni semuanya akan ditutup kembali. Perusahaan juga didesak untuk menerapkan kembali jam kerja yang fleksibel demi mendukung langkah-langkah pemerintah (suara.com, 29 Mei 2020).

Korea Selatan yang notabene memiliki mekanisme penanganan pandemi Covid-19 yang lebih baik dari Indonesia terbukti gagal menjalankan konsep new normal. Apakah kita akan tetap memaksakan untuk menerapkan konsep ini juga?

Krisis Kesehatan, Ekonomi, dan Sosial-Politik Akibat Covid-19

Selain menimbulkan krisis kesehatan secara global, pandemi virus corona (COVID-19) juga menimbulkan krisis ekonomi. Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati membenarkan hal tersebut.

Beliau mengungkapkan bahwa perekonomian dunia akan mengalami kontraksi yang sangat dalam tahun ini. Aktivitas pada sektor ekonomi menurun tajam akibat adanya social distancing, sehingga mobilitas manusia berkurang.

Pengangguran meningkat tajam dengan double digit growth. Resesi atau perlambatan ekonomi terjadi secara luas, termasuk pada mitra dagang utama Indonesia.

Sebagai informasi, resesi bisa diartikan sebagai kontraksi ekonomi dalam dua kuartal beruntun pada tahun yang sama. Misalnya, terjadi kontraksi di kuartal I dan kuartal II, maka sudah termasuk kategori resesi (cnbcindonesia.com, 19/04/2020).

Kepala Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva mengatakan pandemi virus corona (Covid-19) yang makin meluas membuat dunia kini tengah berada dalam resesi (cnbcindonesia.com, 04/04/2020).

Ketika krisis ekonomi sudah menyentuh masyarakat pada akar rumput, maka krisis sosial bisa saja terjadi karena masalah keamanan sangat mungkin disebabkan oleh masalah perut (lapar, rakyat kecil butuh makan, red).

Ekonom Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira membenarkan ancaman gejolak sosial tersebut. Ia menambahkan indikator lain yang mungkin menyebabkan keresahan sosial (social unrest), yakni tingkat kemiskinan karena ada 115 juta masyarakat kelas menengah yang rentan miskin.

Baca juga:  Kapitalisme Sistem Merusak, “Get Out” dari Indonesia

Bhima merujuk pada laporan Bank Dunia berjudul Aspiring Indonesia-Expanding the Middle Class, yang menyatakan masyarakat Indonesia yang sudah keluar dari garis kemiskinan masih rentan untuk kembali miskin (detiknews.com, 04/05/2020).

Butuh New System, Bukan New Normal

Sistem kapitalisme global sudah menunjukkan tanda-tanda nyata akan ambruk. Berbagai upaya untuk mengatasi kolapsnya sistem kapitalisme saat ini sejatinya hanya upaya tambal sulam yang menipu mata.

Kepercayaan masyarakat dunia terhadap sistem kapitalisme sudah semakin berkurang. Pahitnya hidup karena kesenjangan ekonomi-sosial yang besar di tengah masyarakat akibat penerapan sistem kapitalisme sudah jamak dirasakan. Apalagi saat pandemi, semua kerusakan ini semakin parah.

Rakyat kecil semakin menjerit, yang miskin semakin miskin. Rakyat ekonomi menengah ke atas juga merasakan dampak buruknya penerapan sistem kapitalisme. Semua pihak terdampak.

Lalu apakah sistem new normal akan mengeluarkan kita dari semua kesulitan ini? Korea Selatan sudah terbukti gagal menerapkan new normal. Indonesia harus segera meninjau ulang kebijakan ini. Kita tidak ingin, nantinya krisis ekonomi-sosial-politik semakin melebar ke dimensi yang lain.

Ini semua sebenarnya menunjukkan kegagalan ideologi kapitalisme mengatur kehidupan kita. Mau bagaimana pun kebijakan tambal sulam untuk mengatasi krisis, keruntuhan kapitalisme sepertinya sudah tak bisa dihentikan.

Kapitalisme semakin terpuruk. Indonesia yang menerapkannya semakin tak berdaya mengurusi rakyatnya secara mandiri. Cengkeraman asing semakin nampak nyata.

Maka kita perlu gebrakan baru dalam mengatur negeri ini. Kita perlu new system, sebuah sistem baru kehidupan, ideologi baru yang menggantikan kapitalisme. Di dunia ini ada tiga ideologi yaitu kapitalisme, sosialisme, dan Islam.

Sosialisme dengan ikon negara adidaya Uni Soviet telah lama runtuh. Kapitalisme dengan ikon negara adidaya Amerika Serikat dan sekutunya sudah menunjukkan keambrukannya. Sekarang, tinggal bagaimana peluang Islam menunjukkan kedigdayaannya kembali.

Selama 1.300 tahun ideologi Islam dalam sejarahnya mampu mengurusi umat hampir di dua pertiga dunia. Akankah pascapandemi ini Islam bangkit kembali dan menunjukkan kepada dunia sisi rahmatan lil ‘alaminnya?

Baca juga:  Saat Perbankan Terguncang Isu “Rush”

Allah SWT berfirman dalam Alquran surah An-nuur ayat 55 yang artinya: “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.”

Kita masih ingat peristiwa penaklukan Konstantinopel terjadi pada fajar hari Selasa 20 Jumadil Ula 857 H. Itu adalah bukti dari bisyarah Rasulullah SAW: “Sungguh Konstantinopel pasti ditaklukkan, maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin penaklukan itu dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan itu.”

Saat penaklukan itu, Eropa baru kena wabah Maut Hitam atau Black Death. Maut Hitam, juga disebut sebagai Pestilence atau Wabah Bubonic Besar adalah salah satu pandemi yang paling menghancurkan dalam sejarah manusia, mengakibatkan kematian diperkirakan 75 hingga 200 juta orang di Eurasia.

Disebut Maut Hitam karena ciri khas wabah itu adalah menghitam atau membirunya bagian-bagian tubuh yang terserang. Maut Hitam memuncak di Eropa dari tahun 1347 hingga 1351.

Wilayah Byzantium yang kerap disinggahi kapal dagang dari Genoa dan Italia tak lepas dari serangan wabah. Bahkan ibu kotanya Konstantinopel pun terkena. Selama periode 1347-1453, total 61 laporan wabah dicatat di Byzantium. Terjadi dalam 9 gelombang epidemi utama, 11 wabah lokal, dan 16 periode bebas penyakit (kiblat.net, 22/03/2020).

Sekarang, setelah janji Rasulullah direalisasikan oleh Muhammad Al Fatih. Masih ada tiga kabar gembira Rasulullah Saw yang akan terealisasi, sebagaimana yang pertama. Setelah penaklukan Konstantinopel, Roma pun akan ditaklukkan, kemudian kembalinya al-Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah, perang terhadap Yahudi dan kekalahan mereka secara telak.

Rasul Saw tidak berbicara dari hawa nafsunya, melainkan dari wahyu yang datang kepada beliau. Tiga kabar gembira yang tersisa akan terealisasi dengan izin Allah Swt, insya Allah. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

9 tanggapan untuk “Kita Butuh “New System”, Bukan “New Normal”

  • 1 Juni 2020 pada 09:51
    Permalink

    Sangat butuh sekali new system islam di negara ini

    Balas
    • 1 Juni 2020 pada 17:47
      Permalink

      New sistem memang yg benar bkn new normal.mngapa tdk bljr dr kejadian d korsel.

      Balas
    • 6 Juni 2020 pada 15:59
      Permalink

      Se moga ini tanda kebangkitan islam semakin dekat

      Balas
  • 1 Juni 2020 pada 05:53
    Permalink

    sepakat dg tulisan ini. New normal membunuh rakyat. new sistem mengembalikan manusia pada kodratnya.

    Balas
    • 1 Juni 2020 pada 08:54
      Permalink

      Sepakat. Yang urgent adalah new system bukan new normal.

      Balas
  • 31 Mei 2020 pada 19:31
    Permalink

    Begitu banyak istilah y dikeluarkan oleh pemerintah saat ini, salah satunya “New Normal” yang sebelumya berdamai dgn corona atau yang bru di nyatakan oleh salah satu menteri corona=istri, klau sistem skrang ini tdak di ganti segera, maka akn muncul lgi kata/istilah y lbih ngakak lagi dari ini

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *