Merangkai Takwa dalam Bingkai Negara

Oleh: Chusnatul Jannah

MuslimahNews.com, OPINI – Abu Hurairah ra. menggambarkan takwa saat ia ditanya seseorang. ”Wahai Abu Hurairah, apakah yang dimaksud dengan takwa itu?’‘ Abu Hurairah tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi memberi satu analogi. ”Pernahkah engkau melewati suatu jalan dan engkau melihat jalan itu penuh dengan duri? Bagaimana tindakanmu untuk melewatinya?” Orang itu menjawab, ”Apabila aku melihat duri, maka aku menghindarinya dan berjalan di tempat yang tidak ada durinya, atau aku langkahi duri-duri itu, atau aku mundur.” Abu Hurairah cepat berkata, ”Itulah dia takwa!’‘ (HR Ibnu Abi Dunya).

Takwa menurut bahasa berasal dari kata “wiqayah” yang berarti memelihara. Maksud dari pemeliharaan itu adalah memelihara hubungan baik dengan Allah SWT., memelihara diri daripada sesuatu yang dilarang-Nya. Melaksanakan segala titah perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Ibnu Qayyim berkata, “Hakikat takwa adalah menaati Allah atas dasar iman dan ihtisab, baik terhadap perkara yang diperintahkan atau pun perkara yang dilarang. Oleh karena itu, seseorang melakukan perintah itu karena imannya, yang diperintahkan-Nya disertai dengan pembenaran terhadap janji-janji-Nya. Dengan imannya itu pula, ia meninggalkan yang dilarang Allah dan takut terhadap ancaman-Nya.”

Output bagi orang beriman setelah sebulan berpuasa adalah meraih takwa. Itulah hakikat dari kemenangan di hari raya. Yaitu menjadi beriman dan bertakwa dengan yang sebenar-benarnya.

Teringat makna takwa, teringat pula pidato wakil Presiden, KH Ma’ruf Amin dalam sambutan acara virtual Takbir Nasional dan Pesan Idulfitri dari Masjid Istiqlal pada 23 Mei 2020 lalu. Ia mengatakan, “Kalau beriman dan bertakwa pasti Allah turunkan kesuburan, kemakmuran, keamanan, keselamatan, dan dihilangkan berbagai kesulitan. Itu adalah janji Allah di dalam Alquran,” kata Ma’ruf.

Presiden Jokowi juga menyampaikan pesan virtual Idulfitri. Ia mengatakan Hari Raya Idulfitri adalah momentum yang tepat untuk menjaga keutuhan bangsa, mempererat tali persaudaraan, dan ikatan persatuan antaranak bangsa. Ia berharap masyarakat menerima kondisi saat ini, baik dalam keadaan senang maupun sedih, berlimpah atau kekurangan, sulit ataupun mudah, rumit atau sederhana.

Memaknai Takwa

Jika kita mencermati pidato Presiden dan Wakil Presiden, pesan yang disampaikan memang baik, hanya saja pesan itu tak bersesuaian dengan kebijakan yang selama ini diterapkan. Beriman dan bertakwa adalah menaati segala perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi larangan-Nya.

Sudahkah penguasa benar-benar memaknai takwa dalam kepemimpinannya? Sudahkah memelihara urusan rakyat dengan petunjuk yang sudah Allah tetapkan dalam Alquran dan Sunah?

Takwa itu bukan berada di atas selembar kertas dalam pidato atau sambutan. Takwa itu berucap iman dengan lisan, meyakini Allah dalam hati, dan mengamalkan syariat Allah dalam perbuatan. Iman tanpa amal itu hampa, sedangkan amal tanpa iman itu percuma.

Setiap muslim yang mengaku beriman, tapi lalai mengamalkan perintah Allah dan Rasul-Nya belum bisa dikatakan bertakwa. Sebab muara iman adalah takwa. Jika ia benar-benar muslim beriman, seharusnya ketaatan total kepada Allah benar-benar diamalkan.

Beriman tapi menyalahi aturan Allah, tak bisa mencapai derajat takwa. Beriman tapi menzalimi rakyat dengan kebijakan, juga tidak bisa meraih sebenar-benar takwa. Beriman harus disertai beramal. Karena itulah indikasi ketaatan total yang mengantarkan pada ketakwaan.

Ramadan memang berlalu, tapi beriman dan bertakwa bukan diseru hanya untuk momen tertentu. Umar bin Abdul Aziz pernah berkata, “Hari raya bukanlah milik orang yang memakai pakaian baru. Akan tetapi hari raya adalah milik orang yang takut dengan hari pembalasan. Tidaklah hari raya itu buat yang memiliki kendaraan mewah. Akan tetapi hari raya itu buat orang yang dosanya terampuni.”

Imam Hasan Al Bashri berkata, “Setiap hari yang di dalamnya tidak ada kedurhakaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka itu adalah hari raya, dan setiap hari di mana seorang mukmin tetap berada dalam ketaatan kepada Rabnya, serta berzikir dan bersyukur kepada-Nya, maka bagi dia hari itu adalah hari raya.”

Hari raya adalah milik mereka yang menang melawan hawa nafsu dan mampu melakukan tobat nasuha. Di tengah ujian wabah yang mendera, bukankah inilah momen untuk negeri ini melakukan tobat nasional? Terlebih kebijakan selama pandemi tak berpihak kepada kepentingan rakyat. Menyalahi syariat, menambah kezaliman berlipat-lipat.

Berbagai kesulitan yang menimpa negeri ini tidak lain karena keimanan dan ketakwaan hanya bersifat insidental. Bukan dilakukan setiap saat. Ditambah kebijakan yang tak berpijak pada syariat. Bagaimana mau mewujudkan kesuburan, kemakmuran, persatuan, dan kesejahteraan tatkala penduduk negeri tak benar-benar menaati Allah dan menjauhi maksiat?

Negeri ini membutuhkan sistem baru yang lebih beradab dan manusiawi. Bukan kapitalisme yang merusak atau komunisme yang sudah tidak layak. Kedua peradaban itu tak mampu menyelesaikan masalah dan memberi solusi jitu. Harapan dunia hanya di tangan Islam.

Merangkai Takwa dalam Bernegara

“Dan jika penduduk negeri beriman dan bertakwa (kepada Allah sesungguhnya Kami (Allah) bukakan kepada mereka (pintu-pintu) berkah dari langit dan bumi; Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka lantaran apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al-A’raf: 96)

Dalam ayat itu Allah memberi petunjuk bagaimana sebuah negeri mendapat berkah dari langit dan bumi. Kuncinya adalah iman dan takwa. Bukti iman bagi muslim adalah ketundukan total kepada syariat-Nya. Tidak pilah pilih terhadap hukum Allah. Tidak bertingkah seolah manusia yang berhak membuat aturan dalam kehidupan.

Keimanan yang sempurna akan mengantarkan seseorang pada takwa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bertakwalah dengan sebenar-benar takwa (Ittaqu ‘l-Laaha haqqa tuqaatihi), ialah hak Allah untuk ditaati, tidak dimaksiati; segala pemberian-Nya disyukuri, tidak diingkari; dan Allah selalu diingat, tidak dilupakan.” (Hadis riwayat Al-Hakim dari Abdullah Ibnu Mas’ud)

Saat iman dan takwa mewujud maka Allah berikan negeri itu berkah dan rahmat dari langit dan bumi. Indonesia dengan segala berkah berupa kekayaan alam yang luar biasa tak nampak rahmat Allah padanya.

Sebabnya, karena penduduk negeri ini belum sepenuhnya beriman dan bertakwa. Pemimpinnya ingkar, sistemnya sekuler, dan peran Allah sebagai pencipta dan pengatur terpinggirkan. Allah hanya ditempatkan sebatas ibadah ritual.

Bagaimana mungkin mendapat berkah sementara sistemnya tak berlandas pada syariat? Bagaimana bisa mendapat rahmat sementara pemimpinnya berbuat zalim dan khianat?

Maka dari itu, pandemi corona sudah semestinya menjadi ajang hijrah secara kolektif; melakukan perubahan besar terhadap sistem negara yang sudah karut marut.

Kapitalisme gagal memberi solusi. Komunisme telah usang dalam sampah peradaban. Satu-satunya jalan adalah perubahan besar dunia dengan ideologi Islam. Menyambut peradaban agung yang dinantikan: Khilafah ala minhajin nubuwwah yang telah dijanjikan. Matahari bersinar terang, bunga-bunga bermekaran. Fajar Khilafah segera datang, mari sambut kemenangan Islam. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

7 tanggapan untuk “Merangkai Takwa dalam Bingkai Negara

  • 2 Juni 2020 pada 04:04
    Permalink

    Pemimpin yg bertakwa, masyarakatnya yg bertakwa, sungguh akan menjadi negeri yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur…

    Balas
  • 1 Juni 2020 pada 06:33
    Permalink

    Semoga memenuhi derajat taqwa yang haqiqi

    Balas
  • 1 Juni 2020 pada 06:04
    Permalink

    Pemimpin yg taqwa. InshaAllah Membawa keberkahan. akankah demikian adanya. 😁Hanya Khilafah solusinya.

    Balas
  • 31 Mei 2020 pada 22:33
    Permalink

    Semoga kita termasuk orang2 yang bertaqwa
    Dan oara pemimpin kita mendapat hidayah Allah SWT

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *