“New Normal Life”: Normal atau Abnormal?

Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si. (Koordinator LENTERA)

MuslimahNews.com, OPINI Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan pemerintah saat ini tengah bersiap untuk menghadapi kenormalan baru atau new normal di antaranya dengan mengerahkan aparat TNI dan Polri.

Pemerintah mengerahkan aparat TNI dan Polri di 1.800 titik pada empat provinsi dan 25 kabupaten/kota, seperti Sumatra Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Gorontalo, Surabaya, dan Malang. Meski khusus untuk Jawa Timur, dikutip dari detik.com, Gubernur Khofifah Indar Parawansa dalam kesempatan terpisah menyatakan bahwa Jawa Timur belum siap untuk “new normal life” (detik.com, 26/05/2020).

Berdamai dengan Corona

Sebelum “new normal life”, pemerintah telah lebih dahulu merilis istilah “berdamai dengan corona”. Menurut update yang dikutip dari Kompas.com (26/05/2020), “new normal” adalah nama lain dari “hidup berdamai dengan Covid-19”.

 

New normal” kembali digaungkan di tengah pandemi virus corona yang kian meluas dan menginfeksi jutaan orang di dunia, termasuk di Indonesia. Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga mengajak masyarakat untuk dapat hidup berdamai dengan Covid-19.

Akibat pandemi ini, masyarakat dunia dipaksa tinggal di rumah (stay at home). Bekerja, sekolah, hingga beribadah juga harus dilakukan di rumah. Terkecuali bagi mereka yang memang harus beraktivitas di luar rumah. Perubahan ekstrem ini telah memberi dampak yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat, serta bagi banyak sektor.

Di antara rencana mekanisme pelaksanaan “new normal life” adalah TNI dan Polri akan mengawasi pelaksanaan protokol kesehatan di lapangan, seperti penggunaan masker hingga menghindari kerumunan guna memastikan kegiatan masyarakat tetap aman dari virus corona.

Terkait hal ini, Jokowi menyatakan bahwa pemerintah ingin masyarkat tetap bisa produktif meski ada pandemi, dengan mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan.

Dalam keterangannya pula, Jokowi sempat memuji kota Bekasi yang telah menekan penularan virus Corona, yang ditunjukkan oleh kurva R0 di bawah angka 1. Jokowi berharap konsep new normal tetap memperhatikan angka penularan virus Corona.

New Normal” ala Barat

Inggris dan Amerika Serikat adalah dua negara simbol adidaya Barat yang tengah bersiap melaksanakan new normal.

Dikutip dari rmol.id (26/05/2020), Inggris melalui Menteri Luar Negerinya, Dominic Raab mengingatkan, saat angka kasus mereda dan wabah virus mulai melandai, orang-orang akan kembali kepada kehidupan normalnya lagi.

Namun, bukan “kehidupan normal” seperti sebelum wabah, melainkan “normal baru” atau kehidupan normal yang baru. Dan walau tidak lagi berada dalam isolasi atau penguncian, diharapkan masyarakat tetap menjalankan pola hidup sehat seperti tetap menjaga jarak untuk beberapa waktu.

Inggris berencana melakukan pelonggaran secara bertahap. Untuk taman telah dibuka tetapi untuk ruang ritel lainnya harus menunggu sampai 1 Juni. Sekolah-sekolah di Inggris juga akan dibuka kembali sebagian mulai 1 Juni, dengan peringatan bahwa harus dalam pengawasan dan dipastikan keamanannya.

Semua pekerjaan sebisa mungkin dilakukan dari rumah, kecuali misalnya pabrik dan gudang. Perubahan lain yang diharapkan menjadi kebiasaan baru pada era normal baru nanti adalah pertemuan bisnis yang dilakukan secara online.

Bagi yang harus kembali bekerja di kantor/tempat kerja, harus mematuhi jarak sosial minimal dua meter dengan langkah-langkah perlindungan yang diambil, seperti penggunaan penyanitasi tangan ‘hand sanitizer‘.

Banyak sekali hal-hal yang harus diterapkan dalam “normal baru” di Inggris. Diharapkan orang-orang mulai menerapkannya sejak saat ini, selain untuk melatih agar terbiasa dengan “normal baru” juga untuk menekan angka kasus agar tidak muncul lagi dan malah menjadi gelombang kedua.

Hal ini tak berbeda jauh dengan yang terjadi di Amerika Serikat (AS). Dikutip dari liputan6.com (26/05/2020), pemerintah AS telah melonggarkan lockdown sejak beberapa waktu lalu untuk membangkitkan kembali perekonomian yang sempat menurun.

Masyarakat pun telah banyak yang kembali beraktivitas seperti biasanya, namun dengan memperhatikan standar kesehatan dan keamanan, meski kondisi wabah belum sepenuhnya aman.

Ini sebagaimana data terkini, bahwa AS menjadi salah satu negara dengan kasus Covid-19 tertinggi di dunia. Dikutip dari Worldmeters (26/5/2020), terdapat 1.706.226 orang terinfeksi Covid-19 di AS dengan total kematian mencapai anggka nyaris 100 ribu jiwa.

Apa standar Barat hingga kemudian negara mereka berani mengambil kebijakan normal baru? Sebagai negara bermabda kapitalisme, tentu mereka berorientasi kapital. Alias ekonomi.

Apakah kebijakan mereka ini mengandung empati kemanusiaan? Tentu saja tidak! Lihat saja di Inggris, ketika Kate Middleton, sang Duchess od Cambridge yang tak lain adalah calon ratu Inggris di masa depan, justru lebih memilih untuk tetap tidak mengizinkan buah hatinya untuk pergi ke sekolah secara normal hingga wabah benar-benar berakhir.

Jadi, apakah normal baru versi Barat ini kemudian layak diterapkan di negeri Muslim terbesar di dunia ini? Tentunya juga tidak! Karena negeri Muslim membutuhkan identitas tersendiri yang berbeda dengan Barat. Negeri Muslim membutuhkan Islam sebagai mabda, bukan kapitalisme sebagai mabda.

Normal Atau Abnormal?

Sepintas, memang wacana “new normal” ini nampak memberikan secercah harapan. Tapi untuk kapan? Yakni ketika awal kali wabah terjadi. Yang mana, harusnya sejak awal pemerintah melakukan lockdown untuk daerah-daerah yang menjadi zona merah dalam waktu singkat. Artinya, daerah tersebut mengalami penyebaran virus Covid-19 dengan sangat cepat.

Sementara untuk saat ini, angka positif Covid-19 di Indonesia masih membumbung tinggi. Angka penambahan pasien positif saja masih pada kisaran ratusan, hingga adakalanya beberapa kali hampir menyentuh angka 1.000. Karenanya, tentu cita-cita normal baru sebagaimana yang berlaku di dunia Barat tadi sebaiknya disimpan dulu hingga waktu yang belum dapat ditentukan.

Namun jika rezim tetap memaksa pemberlakuan normal baru, terlebih tanpa peta jalan (roadmap) yang jelas serta potensi miskoordinasi birokrasi di sana sini, maka wacana normal baru tak ubahnya sekadar membebek pada tren global.

Seolah-olah negara ini sudah benar-benar siap menghadapi tantangan berikutnya, termasuk peluang gelombang kedua corona, padahal di ronde awal saja sudah babak belur begini. Pemerintah selaku pejabat dengan pengamanan berlapis mungkin tidak merasakan, tapi rakyat dan para tenaga kesehatan (nakes) adalah yang pihak berjibaku langsung dengan penyebaran Covid-19. Dengan demikian, wacana dan tindakan “new normal” semacam inilah yang justru abnormal.

Jadi intinya, apa pun istilah yang digunakan, tak perlu membuat bingung. Hingga benar-benar ada maksud dan niat tulus dari pemerintah untuk menangani pandemi Covid-19 ini dengan sebaik-baiknya. Tanpa ada pamrih apa pun, murni kebijakan pengurusan urusan rakyat.

Hanya saja kalimat terakhir tersebut di atas, tampaknya masih samar. Jika tak ingin disebut fatamorgana alias mimpi di siang bolong belaka. Tentunya selama negeri ini masih bernaung di bawah sistem demokrasi-kapitalisme-neoliberal.

Jangan kemudian sekonyong-konyong dikaitkan dengan pernyataan salah satu menteri, bahwa Jokowi dan Trump (Donald Trump, Presiden AS) adalah seperti “brother”. Seolah kebijakan penanganan wabah pun harus mengikuti kebijakan politik di negeri Trump. Padahal kondisinya jauh berbeda.

Roadmap Islam Menangani Pandemi

Firman Allah SWT:

مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم بَعْدَ ذَٰلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ

“… Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.” (QS Al-Maidah [5] : 32).

Juga sabda Rasulullah ﷺ berikut ini:

الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat diurusnya.” (HR Muslim dan Ahmad).

Demikianlah konsep utama roadmap penanganan wabah menurut Islam. Bahwa menjaga satu nyawa itu begitu berharga. Jangan menunda atau bahkan menunggu hingga angka sekian dan sekian.

Khilafah menangani pandemi berdasarkan ajaran Nabi ﷺ. Khilafah menerapkan karantina wilayah (lockdown) bagi kawasan zona merah. Melakukan proses isolasi serta pengobatan dan perawatan terbaik bagi yang sakit, sampai mereka sembuh. Serta menjamin warga yang sehat agar tetap sehat dan jangan sampai tertular wabah.

Jadi apa pun caranya, aturan Islam melalui sistem Khilafah akan berupaya sekuat mungkin agar angka korban tak bertambah. Karena bagi Khilafah, satu saja sumber daya manusia yang menjadi warganya, adalah aset yang harus dipertanggungjawabkan pengurusannya oleh penguasa di hadapan Allah SWT di akhirat kelak.

Ini pula yang seyogianya menjadi pelajaran penting agar negeri ini tak melulu membebek pada Barat. Allah SWT melarang memberikan jalan apapun bagi orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman dalam firman-Nya:

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

“Dan sekali-kali Allah tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin.” (QS Al-Nisâ’ [4]: 141).

Ayat yang agung ini ialah dalil larangan memberikan jalan apa pun bagi orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman secara mutlak, apa pun bentuk jalan yang menyampaikan pada penguasaan tersebut. Termasuk membebeknya negeri Muslim seperti Indonesia terhadap dunia Barat dalam hal politik penanganan pandemi.

Semestinya, dalam kondisi pandemi yang pastinya setiap negara menjadi terpojok, cobalah negeri kita ini sedikit saja membangun wibawa, baik nasional maupun internasional. Manfaatkan kebijakan pencitraan untuk membuktikan ketulusan hati dan menunjukkan empati menangani pandemi.

Mungkin kita bisa termotivasi dengan pernyataan Presiden Ghana, Nana Addo Dankwa Akufo-Addo –untuk sekadar mencontoh semangatnya- dalam pidatonya tentang virus corona yang telah memengaruhi 137 orang dan membunuh 4 orang warga Ghana,

Akufo-Addo mengatakan efek situasi Covid-19 pada ekonomi Ghana akan sangat mengerikan jika berlangsung untuk waktu yang lebih lama lagi. Lantas ia menyatakan, pemerintahnya memiliki apa yang diperlukan untuk kembali menghidupkan ekonomi Ghana jika wabah Covid-19 saat ini menyebabkan perekonomian negaranya mati suri dalam beberapa bulan mendatang. Namun pemerintah Ghana tidak tahu bagaimana cara untuk menghidupkan kembali orang yang sudah mati.

Bayangkan jika potret ini terlahir dalam sistem Khilafah. Maka sosok-sosok pemimpin yang jauh lebih tangguh hingga yang sekelas Khalifah Umar bin Khaththab ra akan mudah sekali ditemukan. Tak perlu sesumbar ingin seperti khalifah ini atau khalifah itu, agar program penanganan pandeminya bisa diakui publik yang ia pimpin.

Cukup buktikan dengan ganti demokrasi menjadi Khilafah, agar segala upaya kebijakan politik hanya berpihak demi menolong urusan agama Allah, tak terkecuali dalam langkah penanganan pandemi. Hidup dalam naungan Khilafah inilah yang semata-mata akan berbuah normal sesuai fitrah penciptaan manusia. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

7 thoughts on ““New Normal Life”: Normal atau Abnormal?

  • 29 Mei 2020 pada 08:39
    Permalink

    New normal life akan membuat masyarakat seperti hidup di hukum rimba

    Balas
  • 29 Mei 2020 pada 04:56
    Permalink

    Khilfah Adalah sistem yang dibutuhkan dunia saat ini

    Balas
    • 30 Mei 2020 pada 21:52
      Permalink

      Seandaikan khilafah yang memimpin negara ini, pastilah tidak akan begini jadinya..

      Balas
    • 29 Mei 2020 pada 15:53
      Permalink

      Negeri +62 memang luar binasanya

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *