Membina Keluarga Menjadi Pejuang Dakwah

Oleh: Dedeh Wahidah Achmad

MuslimahNews.com, KELUARGA — Perjuangan dakwah bukanlah jalan mudah dan tidak pula gampang untuk dilalui. Berbagai kesulitan, rintangan, bahkan ancaman sering dihadapi. Wajar saja jika banyak orang merasa berat mengarungi medan dakwah.

Apalagi akan semakin membebani jika hambatan dakwah tersebut berasal dari keluarga, orang-orang yang berada di sekelilingnya yang semestinya menjadi pihak yang mendukung dan meringankan segala cobaan.

Kondisi keluarga para pejuang ini sering memengaruhi laju roda perjuangan yang sedang menggelinding. Tidak jarang kecepatan mengalami pelambatan bahkan stagnan manakala masalah keluarga cukup menyita waktu dan perhatian sang pejuang.

Sebaliknya, semangat muncul berlipat ganda tatkala mendapatkan dukungan, bantuan, dan kerja sama dari keluarga, sekalipun boleh jadi tantangan dan rintangan di medan dakwah justru luar biasa beratnya.

Semua kesulitan tersebut seolah-olah tak berarti sedikit pun, tidak menyurutkan semangat, juga tidak memalingkan arah dan langkah yang ditempuh. Tetap istikamah di jalan dakwah dan konsisten dalam medan perjuangan.

Betapa pentingnya peran keluarga bagi keberlangsungan perjuangan. Karena itu para pejuang Islam harus menyiapkan keluarga agar mereka juga berada dalam barisan dakwah, penerus estafet perjuangan, penguat dan pengukuh, pelindung juga pembela, atau paling tidak mereka tidak menghalangi dan menentang dakwah.

Apa yang harus dilakukan supaya keluarga kita menjadi pejuang?

Pertama: Memahamkan bahwa dakwah memperjuangkan Islam bukan semata pilihan, namun kewajiban dari Allah SWT yang harus dilaksanakan.

Berbahaya jika dakwah dianggap sebagai pilihan, karena akan ditempuh jika dirasa menyenangkan dan sesuai dengan keinginan. Sebaliknya, mungkin saja ditinggalkan ketika konsekuensinya akan mendapatkan kesulitan atau hambatan bagi pemenuhan berbagai kebutuhan hidup.

Penting juga digambarkan bahwa beragam kesulitan tidak mungkin dipisahkan dari kehidupan manusia, apa pun status dan aktivitasnya. Semua manusia pernah berhadapan dengan kesulitan hidup sekalipun tidak memilih dakwah sebagai poros utama jalan hidupnya (QS al-Baqarah [2]: 155-157). Hanya saja, jenis dan bentuk kesulitan yang dihadapi boleh jadi berbeda.

Karena itu jangan takut dan khawatir dengan rintangan dan kesulitan. Ketawakalan dan keyakinan terhadap pertolongan Allah adalah rahasia kesuksesan dari setiap kesulitan (QS ath-Thalaq [65]: 2-4).  Demikian juga janji Allah SWT, bahwa Dia akan menolong siapa saja yang menolong agama-Nya (QS Muhammad [47]: 7).

Penyampaian pemahaman dakwah bisa dimulai dengan pembahasan dalil-dalil terkait kewajiban dakwah, di antaranya Alquran surah Ali ‘Imran [3] ayat 104.

Kedua: Memahamkan urgensi dakwah.

Pemahaman tentang urgensi dakwah akan menjadi motivasi untuk terlibat di dalamnya. Keluarga harus paham bahwa dakwah bukan hanya dibutuhkan oleh pelaku dakwah, namun juga diperlukan untuk kelanjutan kehidupan manusia.

Tanpa dakwah Islam, manusia akan jauh dari cahaya kebenaran. Mereka akan tersesat di jalan yang menjerumuskan pada kesengsaraan hidup di dunia dan kecelakaan di akhirat kelak (QS Ali Imran [3]: 85).

Dengan aktivitas dakwah Islam, manusia akan terangkat derajatnya menjadi sebaik-baiknya umat yang dilahirkan untuk memimpin manusia sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Ali ‘Imran [3] ayat 110.

Tanpa dakwah Islam, nafsu dan kesesatan yang akan dipilih manusia sebagai rujukan.

Ketiga: Mendekatkan keluarga dengan realitas dakwah.

Perjuangan dakwah bukan sandiwara dan sinetron, yang adegannya bisa ditentukan sesuai dengan kehendak produser, bahkan bisa juga mengikuti selera penonton.

Dakwah adalah kehidupan nyata. Bukan hanya teori dan rangkaian kata-kata. Pahit-getirnya perjuangan dakwah hanya bisa dirasakan oleh orang yang menjalaninya. Demikian juga manis dan menyenangkannya amalan ini hanya akan ditemui oleh orang yang berkecimpung di dalamnya.

Tantangan dan kesenangan bermain bola hanya dialami oleh para pemain bola bukan dirasakan oleh penontonnya.  Karena itu jangan biarkan keluarga kita berada dalam jajaran penonton dakwah. Ajaklah mereka menghadiri berbagai acara dakwah. Pada akhirnya kita berharap mereka pun akan menjadi pelaku dakwah.

Keempat: Memahamkan keluarga tentang janji Allah SWT bagi para pejuang dakwah.

Banyak sekali dalil yang menjelaskan tentang berbagai kebaikan yang akan didapatkan sebagai buah di aktivitas dakwah. Pengemban dakwah digelari sebagai orang dengan sebaik-baiknya perkataan seperti yang disampaikan Allah SWT (QS Fushshilat [41]:  33).

Dakwah akan mendatangkan balasan yang luar biasa. Diriwayatkan:

قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم لِعَلِيٍّ : فَوَ اللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ الله بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ منْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

Rasulullah saw. bersabda kepada Ali bin Abi Thalib, “Demi Allah, sungguh Allah SWT memberikan hidayah kepada seseorang dengan (dakwah)-mu, maka itu lebih baik bagimu dari unta merah.” (HR al-Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Menurut Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani unta merah adalah kendaraan yang sangat dibanggakan oleh orang Arab saat itu.

Dakwah akan menyelamatkan kita dari ancaman Allah SWT berupa tidak adanya pengabulan doa. Padahal betapa besar harapan kita terhadap pengabulan doa dan permohonan yang kita panjatkan kepada Allah SWT.

Rasulullah saw. bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ الله أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ

“Demi Zat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian harus melakukan amar makruf nahi munkar, atau Allah akan menurunkan hukuman dari sisi-Nya, kemudian kalian berdoa kepada-Nya dan Dia tidak mengabulkan doa kalian.” (HR Tirmidzi).

Kelima: Melakukan kerja sama untuk membina keluarga.

Idealnya kita langsung melakukan dakwah kepada keluarga sendiri. Namun, kadang berbagai kendala dihadapi seperti kesempitan waktu, keterbatasan kesempatan, atau hambatan psikologis sehingga tidak jarang keluarga kita lebih mudah menerima pencerahan dari orang lain.

Ketika kita mengalami kesulitan-kesulitan tersebut jangan berkecil hati. Segeralah mencari kawan seperjuangan yang bisa membantu memberikan pembinaan kepada keluarga kita.

Jika teknis seperti ini yang dipilih, yakni mempercayakan pembinaan keluarga kepada pihak lain, maka kita tidak boleh begitu saja berlepas tangan. Kita tetap berkewajiban memantau dan mengevaluasi jalannya proses pembinaan. Apakah sudah sesuai dengan target dan harapan yang dicanangkan atau sebaliknya mengalami beberapa rintangan?

Penting sekali menjalin komunikasi intensif dengan orang/pihak yang membina keluarga kita. Memberikan apresiasi, ucapan terima kasih, dan sesuatu yang tidak boleh dilupakan memanjatkan doa tulus pada Allah SWT untuk keberkahan dan kemudahan urusan-urusan mereka.

Jangan seperti orang yang menyerahkan cucian kotor kepada pihak laundry. Berharap mendapat cucian bersih dan siap dipakai kembali hanya dengan membayarkan sejumlah uang dan tidak merasa berkepentingan terlibat dalam prosesnya.

Keenam: Membuka pintu langit dengan lantunan doa dan permohonan.

Manusia wajib berusaha, namun jangan lupa manusia punya keterbatasan. Sebesar apa pun usaha yang sudah kita curahkan untuk melakukan pembinaan, jika Allah SWT belum mengizinkan hidayah sampai kepada keluarga kita, boleh jadi berbagai upaya tersebut belum menampakkan hasil.

Seolah pembinaan yang dilakukan tidak memiliki pengaruh apa-apa. Keluarga kita masih jauh dari bi’ah dakwah, bahkan mungkin berada di pihak penentang dakwah yang kita perjuangkan.

Tidak usah gundah dan kecewa berkepanjangan. Cepatlah mengadu pada Pemilik hati, Penguasa jiwa. Dialah Allah Yang Mahakuasa. Bermohonlah kepada Allah agar melimpahkan kesabaran dan keistikamahan kepada kita dalam mengajak keluarga ke jalan dakwah; Melancarkan lisan kita dan memilihkan kata-kata yang tepat ketika menyampaikan pelajaran (Doa Nabi Musa: QS Thaha [20]: 25-28); Melembutkan hati dan membuka pikiran keluarga ketika sehingga mudah menerima kebenaran Islam.

Doa yang paling sering Nabi saw. panjatkan adalah:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Wahai Zat Yang Maha membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku atas agama-Mu.” (HR at-Tirmidzi).

Ketika membacakan doa ini, sebutkanlah nama keluarga yang ingin ditetapkan hatinya dalam kebenaran Islam. Doa yang perlu senantiasa dipanjatkan juga tercantum dalam QS al-Furqan [25] ayat 74, yakni meminta dikaruniai pasangan dan keturunan yang saleh juga bermohon dijadikan sebagai pemimpin orang bertakwa. WalLahu a’lam. [MNews] Sumber: https://s.id/iycDY

Bagaimana menurut Anda?

8 tanggapan untuk “Membina Keluarga Menjadi Pejuang Dakwah

  • 29 Mei 2020 pada 23:36
    Permalink

    MasyaAllah…semoga kita Istiqomah dan diikuti keluarga kita…aamiin

    Balas
  • 29 Mei 2020 pada 16:47
    Permalink

    Semoga semua saudara n kluarga q sllu mnjdi pengemban dakwah yg istiqomah n sllu d jln Allah.

    Balas
  • 28 Mei 2020 pada 23:55
    Permalink

    Dakwah adalah hukumnya wajib bagi seorang muslim

    Balas
  • 28 Mei 2020 pada 21:24
    Permalink

    Masyaallah… Suatu tantangan berat krn keluarga adalah tempat pertama mendapatkan pendidikan moral.

    Balas
  • 28 Mei 2020 pada 21:21
    Permalink

    sulit tapi selalu berusaha..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *