Lelang Keperawanan, Pansos Machiavellis Berdalih Donasi

Oleh: Ragil Rahayu, S.E.

MuslimahNews.com, OPINI – Dengan berurai air mata, selebgram itu mengucap maaf di akun instagramnya. Sarah Keihl –nama perempuan itu–membuat heboh karena sebelumnya mengunggah video dirinya dan menyatakan ingin melelang keperawanannya untuk membantu melawan Covid-19.

Usai videonya viral dan mendapat respons dari masyarakat, Sarah menghapus konten videonya, mengklarifikasi dan meminta maaf kepada publik. Ia mengaku bahwa konten video yang dibuatnya tersebut bertujuan menyindir masyarakat yang tidak patuh terhadap protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Sarah menyatakan bahwa konten tersebut hanya candaan. (kompas, 22/5/2020).

Harus diakui, di era digital saat ini, aksi nyeleneh demi panjat sosial (pansos) makin marak saja. Adanya pandemi corona tak menyurutkan aksi mereka, bahkan justru dimanfaatkan untuk mendulang like dan subscribe. Demi konten, aneka tindakan aneh dan tak sesuai norma mereka lakukan.

Sebelum aksi Sarah ini, viral YouTuber Ferdian Paleka yang melakukan prank pemberian sembako yang ternyata isinya sampah -sesampah kontennya-. Menyusul lagi YouTuber Indira Kalistha yang meremehkan corona, di mana dia menyebut corona sebagai “B ajah”.

Berbagai konten unfaedah mereka unggah demi mengejar subscribe. Mulai dari aksi membahayakan orang lain, mempermalukan diri sendiri, hingga prank yang berujung celaka.

Sebagian masyarakat mulai resah dengan perkembangan negatif ini. Seringkali upaya mengejar pendapatan via media sosial tersebut mengabaikan syariat Islam, norma masyarakat, bahkan keselamatan jiwa. Misalnya saja aksi joget di tengah jalan yang ramai, mandi di atas motor, hingga menakuti warga dengan kostum pocong.

Berdalih membuat kelucuan dan menghibur masyarakat, konten serupa marak di tengah masyarakat. Suara protes seolah tenggelam oleh hiruk pikuknya tayangan. Hilang tanpa pernah terdengar.

Demi Dolar

Profesi menjadi YouTuber, selebgram, dan artis medsos lainnya memang sangat menggiurkan. Dolar mengalir deras dari setiap konten yang mereka unggah. Salah satu yang sukses menjadi YouTuber adalah keluarga Gen Halilintar. Berbagai fasilitas wah bisa mereka nikmati dari profesi ini. Jadilah profesi YouTuber lebih diminati kaum milenial dan post-millennial daripada profesi lainnya.

Tentu tak masalah menjadi YouTuber jika konten yang diproduksi positif dan bermanfaat untuk umat. Seperti qari’ Muzammil Hasballah, dai Felix Siauw, atau pengusaha muslim seperti Dewa Eka Prayoga. Menjadi masalah ketika yang menjamur adalah prank (mengerjai, ed.) dan konten unfaedah sejenisnya.

Mengenai ini, Allah SWT telah melarang berbohong, meski dengan dalih hanya prank. Allah SWT berfirman,

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللّهِ وَأُوْلـئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (QS An-Nahl [16]: 105)

Islam melarang bohong, meski untuk melucu dan bercanda. Rasulullah SAW bersabda,

“Celakalah orang yang berbicara, padahal ia berbohong untuk sekadar membuat orang-orang tertawa, celakalah dia, celakalah dia.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).

Rasulullah SAW juga bersabda,

“Seorang hamba tidak beriman dengan sempurna, hingga ia meninggalkan berkata bohong saat bercanda dan meninggalkan debat walau ia benar.” (HR Ahmad).

Sikap melampaui batas ini bisa dikatakan termasuk sikap kaum machiavellis (makiavelis), yang diadopsi dari sikap penguasa Italia Niccolò Machiavelli. Nama Machiavelli kemudian diasosiasikan dengan hal yang buruk, yakni menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

Demi meraih tujuan atau menggemukkan pundi dolar, makiavelis akan melakukan segala cara meski harus membanting harga diri dan menggadaikan agama. Selain sarat kebohongan, sikap hidup makiavelis telah menguasai para pendulang subscribe tersebut. Sebuah prinsip hidup yang berbahaya.

Prinsip makiavelis ini bertolak belakang dengan prinsip Islam, di mana Islam mengajarkan ketaatan pada Allah SWT. Akidah Islam harus dijadikan qaidah fikriyah (landasan berpikir) yang menjadi asas tegaknya semua pemikiran kita.

Rida Allah SWT harus menjadi tujuan dari amal perbuatan kita. Kita berbicara dan berbuat demi meraih rida-Nya, bukan demi konten, demi like, subscribe, ataupun dolar. Bila rida-Nya menjadi tujuan amal, maka media sosial akan menjadi lahan dakwah dan amal saleh. Bukan lahan berbohong dan berbuat sia-sia.

Akibat Sistem

Maraknya prank dan tayangan unfaedah adalah hasil dari penerapan sistem kapitalisme sekuler yang menjadikan manusia menuhankan uang. Tak peduli meski haram, meski dosa, atau mencelakakan orang.

Sikap masyarakat ini merupakan copas ‘copy-paste’ dari sikap penguasa yang juga makiavelis. Penguasa yang suka bohong, hobi nge-prank rakyat, dan plinplan dalam membuat kebijakan akhirnya menjadi “teladan” bagi rakyat untuk berbuat hal serupa.

Kalimat “tapi bo’ong” menjadi diksi yang “merakyat”. Tanpa sadar, masyarakat menjadi terbiasa menerima kebohongan. Sikap penguasa yang korup demi meraih kekuasaan juga akhirnya ditiru masyarakat dengan menoleransi tindak korupsi jika jumlahnya “tak seberapa”. Negeri yang diliputi kebohongan dan tipu muslihat seperti ini akan jauh dari keberkahan dan rahmat Allah SWT. Na’udzubillah!

Kasus Sarah Keihl, Ferdian Paleka, atau Indira Kalistha seharusnya menjadi bahan muhasabah bagi kita semua. Sudahkah kita menjadi masyarakat yang menjadikan rida Allah SWT sebagai tujuan? Atau jangan-jangan kita ikut terjebak dalam permainan makiavelis?

Jika tidak segera tobat, kita patut khawatir Allah SWT akan mencabut keberkahan dari muka bumi. Semoga pandemi corona segera berlalu. Dan semoga kita tetap selalu bisa bersikap benar meski pandemi sungguh menguras emosi.

Mari kita isi jagat medsos dengan aneka konten Islami, dakwah, dan hal bermanfaat lainnya. Semoga ikhtiar kita dibalas Allah SWT dengan limpahan kebaikan. Aamiin. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

4 tanggapan untuk “Lelang Keperawanan, Pansos Machiavellis Berdalih Donasi

  • 26 Mei 2020 pada 19:23
    Permalink

    Aamiin..semoga corona segera berakhir

    Balas
  • 26 Mei 2020 pada 18:58
    Permalink

    Rindu diterapkannya kehidupan Islam ditengah umat

    Balas
  • 26 Mei 2020 pada 17:04
    Permalink

    semoga Allah SWT menjauhkan kita dr beramal yg buruk.aamiin

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *