[Editorial] Aroma Busuk di Balik Narasi “A New Normal Life”

MuslimahNews.com, EDITORIAL – Bagi umat muslim di dunia, Ramadan tahun ini menjadi batu uji yang sangat besar. Wabah corona, telah memaksa mereka menjalani bulan mulia ini dengan cara yang superistimewa.

Bagaimana tak istimewa? Wabah ini, mengharuskan siapa pun membatasi pergaulan sosial mereka. Dan eksesnya, ekonomi benar-benar ambruk, hingga umat Islam harus melewati Ramadan tahun ini di tengah berbagai kesulitan hidup.

Parahnya, sepanjang wabah ini terjadi, semua negara nyaris tak mampu berbuat banyak. Apatah lagi negeri serapuh Indonesia. Para penguasa di negeri Pancasila ini sungguh nampak gagap. Hingga kebijakan-kebijakannya seringkali membingungkan, bahkan menyakiti hati rakyat.

Hari-hari terakhir ini, kalimat berdamai dengan corona intens dinarasikan. Para pejabatnya terus mengajak rakyat agar terus bersiap menerima fakta, bahwa kehidupan tak mungkin kembali seperti semula. Mereka meminta rakyat menjalani hidup “normal” di tengah ancaman wabah corona.

Inilah rupanya rahasia di balik kebijakan plinplan penguasa. Mereka minta rakyat berdiam, tapi bantuan kebutuhan dasar minim datang. PSBB diberlakukan, tapi bandara dibebaskan. Rumah ibadah minta dikosongkan, tapi mal-mal dibiarkan ramai. Kebijakan mudik pun tak serius ditegakkan hingga lalu lintas orang tak bisa dikendalikan.

Rupa-rupanya penguasa kian lugas memilih opsi angkat tangan. Karena melawan wabah ternyata butuh effort yang tak ringan dan waktu yang berkepanjangan. Sementara kekuasaan mereka selama ini tegak di atas satu kepentingan: Melanggengkan sekularisme dan hegemoni liberalisme kapitalisme global.

Bisa dibayangkan, saat wabah tetap dianggap bencana, maka rakyat harus ada di bawah tanggung jawab mereka. Sementara semua sumber daya sudah nyaris tak ada. Sampai-sampai menteri keuangan “terbaik sedunia” pun begitu kebingungan mengatur anggaran negara. Berkali-kali mengambil jalan pintas membebani rakyat dengan kebijakan-kebijakan yang tak pantas.

Maka tak heran, jika bagi para penguasa, “berdamai dengan corona” menjadi pilihan “terbaik” di tengah rasa putus asa atas ketidakmampuan memberi jalan keluar. Dalihnya, wabah corona adalah wabah tak biasa. Dia merebak sejalan dengan pergerakan manusia. Maka apa boleh buat, kita harus berdamai, bahkan bersahabat dengan corona.

Baca juga:  Bagaimana Dunia Menjadi Sangat Tergantung pada Amerika

Kondisi ini nyatanya bukan hanya di Indonesia saja. Tengoklah negara sebesar Amerika. Di tengah melesatnya korban positif dan kematian akibat corona, Trump presidennya, terus mengambil langkah kontroversial.

Alih-alih meminta rakyatnya tetap di rumah, Trump malah meminta rumah-rumah ibadah dibuka sebagaimana sektor esensial lainnya. Toko obat, restoran, supermarket, rumah sakit, dan klinik kesehatan termasuk klinik aborsi, serta toko alkohol memang sebelumnya sudah lebih dulu bebas dibuka.

Trump menandaskan, “Dengan atau tanpa vaksin, kita kembali beraktivitas!” Padahal fakta saat ini, AS masih menjadi negara dengan kasus corona terbanyak di dunia, 1,6 juta orang positif dan 338 ribu orang meninggal dunia.

Rupa-rupanya, memutar roda perekonomian AS alias menormalisasi sistem ekonomi kapitalisme yang mandek dipandang jauh lebih penting dibanding menyelamatkan nyawa rakyatnya. Apalagi November mendatang pemilu presiden akan digelar. Ada kepentingan bagi Trump mengakomodir suara-suara demonstran di daerah pemilihan yang menuntut pelonggaran.

Namun sudah bukan rahasia, bahwa gurita kapitalisme global memang berkepentingan membuat kesehatan masyarakat tak benar-benar terjaga. Bahkan ada yang curiga, di balik keputusan Lembaga Kesehatan Dunia WHO soal darurat kesehatan global akibat corona, ada kepentingan “Big Farma” dan “Big Money” yang menyetirnya.

Entah Cina atau Amerika. Yang jelas, kepanikan massal akibat corona faktanya telah menjadi “peluang” tersendiri bagi kapitalis farmasi dan asuransi untuk mendulang keuntungan tiada tara.

Maka ketika wabah terbukti meluluhlantakkan perekonomian global di berbagai sektor lainnya, adalah niscaya bagi kekuatan “big money” mengambil keputusan yang lebih brutal: Mempropagandakan narasi new normal life dan membiarkan rakyat dunia “bekerja” menyambung nyawa. Karena apa pun dampaknya, toh artinya keuntungan buat mereka.

Baca juga:  Ada Apa dengan THR?

Mirisnya, sebagai negara pengekor, Indonesia dengan mudah ikut termakan propaganda. Narasi berdamai dengan corona seolah-olah menjadi satu-satunya pilihan.

Padahal sejatinya, narasi ini adalah sebuah jebakan. Agar rakyat tertutup mata, bahwa ada begitu banyak persoalan, yang berujung pada kerusakan sistem yang dijalankan, disertai hadirnya rezim ruwaibidhah yang tak berperasaan.

Namun ‘ala kulli haalin, wabah corona memang telah memberi kita banyak pelajaran. Salah satunya bahwa kekuasaan yang tak berbasis pada akidah Islam hanya akan melahirkan kefasadan. Bahkan kefasadan yang jauh di luar nalar.

Berbeda jauh dengan kekuasaan yang tegak di atas landasan iman. Kekuasaan Islam telah terbukti membawa kebaikan dan keberkahan bagi seluruh alam. Karena sistem hidup yang diterapkannya berasal dari Sang Maha Pencipta Kehidupan.

Kekuasaan Islam yang disebut sebagai Khilafah, senantiasa menempatkan urusan umat sebagai urusan utama. Harta, kehormatan, akal, dan nyawa rakyatnya dipandang begitu berharga. Pencederaan terhadap salah satu di antaranya, dipandang sebagai pencederaan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Karena semuanya adalah jaminan dari penegakan hukum syara’.

Fakta akan hal ini akan tampak saat negara dalam keadaan ditimpa kesulitan. Baik karena bencana maupun karena serangan musuh-musuhnya. Di situasi seperti ini, kekuasaan selalu tampil sebagai perisai utama. Di mana penguasa siap membela rakyat dan mendahulukan kepentingan-kepentingan mereka dibanding kepentingan dirinya.

Tak heran jika benih-benih peradaban cemerlang bermunculan demi memberi jalan keluar terhadap berbagai persoalan. Berbagai penelitian, teknologi, sistem administrasi, pembangunan superstruktur dan infrastruktur, semua didedikasikan khilafah Islam untuk kepentingan mengurus dan menjaga umat serta demi kemuliaan agama mereka. Bukan demi memuaskan kerakusan para pemilik modal sebagaimana dalam sistem sekarang.

Itulah yang sempat digambarkan sejarawan Will Durant secara jelas dan lugas dalam bukunya:

“Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang bagi siapa pun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka.

Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa; yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.” (Will Durant – The Story of Civilization).

Baca juga:  Saat Indonesia “Ditakuti” Dunia

Khusus di bidang jaminan kesehatan, dia juga menuliskan,

“Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak sekaligus memenuhi keperluannya. Contohnya adalah al-Bimaristan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahun 1160, telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis. Para sejarawan berkata bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun.” (Will Durant – The Story of Civilization).

Maka alangkah naif, jika umat Islam hari ini masih belum sadar juga dari tidur panjangnya. Berlama-lama mengharap sistem kapitalisme ini akan memberi kebaikan pada mereka. Padahal berbagai bukti bertebaran di depan mata, bahwa sistem ini jelas-jelas hanya menempatkan maslahat umat sebagai ladang untuk mencari keuntungan semata.

Bahkan sekularisme yang menjadi asasnya telah menjadikan negara dan rezim penguasanya kehilangan rasa welas. Hingga tega menempatkan rakyat hanya sebagai objek pemerasan dan seolah nyawa pun siap “diperdagangkan”.

Sudah saatnya umat kembali ke pangkuan sistem Islam. Yang negara dan penguasanya siap menjalankan amanah sebagai pengurus dan perisai umat dengan akidah dan syariat. Hingga kehidupan akan kembali dilingkupi keberkahan dan kemuliaan. Sebagaimana Allah SWT telah memberi mereka predikat bergengsi, sebagai sebaik-baik umat. [MNews | SNA]

 

67 thoughts on “[Editorial] Aroma Busuk di Balik Narasi “A New Normal Life”

Tinggalkan Balasan