Kebijakan Sebelah Mata, Mampukah Meraih Pilar Ketakwaan?

Oleh: Henyk Nur Widaryanti, S.Si., M.Si.

MuslimahNews.com, OPINI – Hari Idulfitri telah tiba. Setiap muslim bergembira menyambut seruannya. Normalnya, mereka saat ini berbahagia dengan datang bersama sanak keluarga untuk salat id berjamaah. Namun, berbeda dengan tahun ini. Corona telah mengubah kebiasaan itu dengan beragam perubahan.

Dengan pertimbangan keamanan, akhirnya diputuskan di daerah yang zona merah diimbau untuk tidak beribadah di masjid ataupun di musala. Ini berlaku sejak Ramadan tiba hingga akhirnya. Bahkan salat id pun dilakukan di rumah masing-masing.

Bagi daerah yang belum zona merah, dengan beberapa pertimbangan ada yang masih mengizinkan beribadah dengan mengikuti protokol kesehatan. Bahkan saf salat pun diberi jarak kurang lebih satu meter.

Rasanya sedih bukan? Kita tak bisa leluasa beribadah sebagaimana biasanya. Tak bisa bebas salat id berjamaah, bersalaman dan silaturahmi. Bahkan di hari raya ini diimbau untuk mengadakan gerakan tutup pintu. Bukannya tidak mau menerima tamu, tapi semua dilakukan atas nama menjaga keamanan. Bukankah mencegah lebih baik dari mengobati?

Sayangnya, aturan macam ini tidak berlaku di pasar-pasar, mal-mal, atau tempat belanja lainnya. Sebagaimana kita ketahui, menjelang lebaran di 10 hari terakhir kemarin, kala masjid banyak yang ditutup, justru pasar, mal, dan tempat belanja ramainya luar biasa.

Seperti mal Roxy Square Jember yang sempat viral di media sosial. Atau Pasar Anyar Bogor yang ramai hingga Bima Arya pun ikut sidak. Mal CBD Ciledug yang membuat macet hingga akhirnya pun ditutup. Serta masih banyak lagi tempat belanja di kota maupun pasar daerah yang tak sepi dari pengunjung.

Mereka rela berdesak-desakan demi membeli baju lebaran baru, perhiasan emas baru, atau sekadar membeli banyak kebutuhan pokok saat lebaran. Kondisi ini memperlihatkan masyarakat yang bisa jadi kalap karena dua bulan tak bisa ke mana-mana.

Baca juga:  Zakat untuk Penanggulangan Covid-19, Sudahkah Sesuai Hukum Syariat?

Jadi, ketika ada kesempatan pusat perbelanjaan dibuka, mereka menyerbu untuk memenuhi kepuasan materi yang selama ini ditekan karena pandemi. (liputan6, 19/5/20)

Penuh Keprihatinan

Fenomena semacam ini membuat keprihatinan yang mendalam. Di satu sisi, tempat ibadah ditutup demi mencegah penularan. Namun, di sisi lain pasar dan tempat transportasi dibuka demi perekonomian.

Hal ini sangat disayangkan. Sebagaimana yang disampaikan Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abbas yang menyesalkan perbedaan kebijakan ini. Menurutnya pemerintah hanya tegas pada penutupan tempat ibadah, tapi justru longgar di tempat perbelanjaan dan transportasi. (inibaru.id, 19/5/2020)

Padahal, selama ini MUI berusaha mendukung pemerintah agar pandemi ini segera berakhir. Namun, kenyataannya dukungan itu seakan sia-sia. Bahkan beberapa waktu yang lalu, Anggota Komisi Agama DPR RI John Kennedy Azis mengkritik pemerintah atas ketidaktegasan PSBB. Ia meminta agar kondisi semacam ini bisa dikendalikan. Rasanya tidak adil, saat masjid ditutup, mal justru dibuka. (cnn, 12/5/20)

Jika kondisi ini terus berlangsung, hal yang menakutkan akan terjadi. Menurut epidemiolog Universitas Padjajaran, Panji Fortuna Hadisoemarto pandemi ini bisa saja baru bisa diatasi setelah tiga tahun. Hal ini tentu akan membuat catatan panjang penanggulangan pandemi corona. Dan menambah daftar korban yang berjatuhan akibat penanggulangan yang kurang serius.

Menanggapi hal ini, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo hanya bisa prihatin. Padahal masa PSBB masih berlaku. Tapi masyarakat justru banyak yang tidak peduli dan tidak mau ikut peraturan. Di satu sisi setiap hari ia harus menerima penambahan pasien yang banyak, di sisi lain masyarakatnya juga tak bisa diajak kerja sama. (inisiatifnews, 21/5/20)

Baca juga:  Amankah Pembukaan Pariwisata di Era "New Normal Life"?

Ketakwaan Penyokong Keberhasilan Menghadapi Pandemi

Dalam menghadapi pandemi ini, fasilitas kesehatan dan teknologi saja tak akan cukup. Diperlukan fondasi sebagai dasar bangunan yang akan menyelesaikan semua masalah ini. Dasar itu adalah ketakwaan. Sebagaimana tujuan utama puasa Ramadan adalah menambah ketakwaan terhadap Allah SWT. Jika tujuan puasa berhasil kita dapat, insya Allah tidak akan lama lagi kita akan bisa melewati pandemi.

Namun, ketakwaan ini perlu ada kolaborasi dari tiga aspek.

Pertama, ketakwaan individu. Tidak bisa dipungkiri, ketakwaan individu memiliki kedudukan yang penting. Individu yang bertakwa mampu memilih aktivitas mana yang dibolehkan agama mana yang tidak. Termasuk dalam menghadapi pandemi.

Ia akan memutuskan tindakan tersebut membahayakan dirinya atau tidak. Ia pun akan memaksimalkan skala prioritas. Sehingga, di musim pandemi sekaligus merayakan Idulfitri akan memilih aktivitas yang bisa mendatangkan pahala sekaligus tidak mengancam jiwa. Ia akan memilih diam di rumah daripada pergi berdesak-desakan di pasar. Untuk ibadah pun akan memperhatikan keselamatan.

Kedua, ketakwaan masyarakat. Sejatinya ketakwaan individu saja tak akan cukup. Perlu dukungan dari ketakwaan masyarakat. Masyarakat yang bertakwa akan berbondong-bondong saling menjaga, memperhatikan dan mengingatkan.

Jika ada individu yang menyalahi aturan, masyarakat segera mengingatkan. Masyarakat akan bersama menjaga kondisi tetap terkendali. Mereka tidak akan berdesak-desakkan di pusat niaga. Atau mudik di tengah pandemi demi menjaga keamanan sanak keluarga. Jika masyarakatnya bertakwa, mereka akan mengikuti aturan negara pula. Sehingga mudah diatur.

Ketiga, ketakwaan negara. Ketakwaan negara adalah mahkota dari dua ketakwaan sebelumnya. Tidak bisa dipungkiri negara mengambil peran paling urgen dalam masalah ini. Ketakwaan individu sewaktu-waktu bisa luntur mana kala tak ada bentengnya. Pun ketakwaan masyarakat suatu saat bisa sirna jika tak ada penjaganya. Benteng dan penjaga ketakwaan itu adalah negara.

Baca juga:  Tanya-Jawab: Dampak Virus Corona (Covid-19) [Bagian 1/4]

Negara memiliki andil dan kewajiban dalam penerapan aturan. Jika pemimpinnya bertakwa, tapi negaranya tidak berlandaskan akidah Islam, maka sia-sia. Pasalnya, manusia bisa berubah. Pemimpin adalah individu. Jika lingkungannya tidak baik, maka pemimpin bisa ikut arus.

Begitu pula sebaliknya, tak cukup menggunakan negara berlandaskan akidah Islam tanpa pemimpin yang bertakwa. Meskipun aturannya benar, bisa saja ada penerapan yang diselewengkan.

Maka, ketakwaan negara hanya dapat dicapai jika pemimpinnya bertakwa dan aturan negara juga berdasarkan akidah Islam. Pemimpin yang bertakwa hanya akan menjalankan aturan sesuai dengan perintah Alquran dan Sunah. Ia akan melaksanakan dengan sungguh-sungguh. Karena paham bahwa kepemimpinan yang ada di pundaknya adalah amanah yang kelak akan diminta pertanggungjawaban.

Kebijakan Negara menjadi Payung Ketakwaan dalam Menghadapi Pandemi

Negara yang bertakwa inilah yang akan mampu menghadapi pandemi. Sebagaimana yang dilakukan para pemimpin sebelumnya di negara Islam, Rasul dan para Sahabat telah memberikan contoh cara menghadapinya.

Maka, pemimpin saat ini harusnya tinggal mengikuti contoh itu. Dengan landasan mengurusi urusan umat, ia harus mengeluarkan kebijakan yang sesuai hukum syara. Bukan sesuai takaran pikiran manusia. Sebagaimana membuka perdagangan dan transportasi demi jalannya pertumbuhan ekonomi.

Jika masalah pandemi sudah merambah ke mana-mana, buah ketakwaan dari pemimpin harusnya taubatan nasuha. Minta maaf kepada Allah sebanyak-banyaknya. Dan mengubah segala kebijakan disesuaikan dengan pandangan Islam.

Rasanya memang berat, tapi jika pemimpinnya memperlihatkan keseriusannya berubah, sekaligus tata aturannya, maka masyarakat sekaligus individu pasti mendukung. Pertanyaannya, mampukah ketakwaan itu diraih sempurna saat ini? [MNews]

2 thoughts on “Kebijakan Sebelah Mata, Mampukah Meraih Pilar Ketakwaan?

  • 26 Mei 2020 pada 16:53
    Permalink

    Islam solusi tuntas negeri

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *