Konser Corona Demi Cari Dana, Ini Negara atau Yayasan, sih?

Oleh: Rindyanti Septiana, S.Hi.

MuslimahNews.com, OPINI – Ada-ada saja kebijakan penguasa negeri +62. Gelar konser amal di tengah pandemi demi cari sumbangan dari rakyat. Konser tersebut digagas Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bersama MPR dan BNPB bertajuk “Berbagi Kasih Bersama Bimbo, Bersatu Melawan Corona” pada Minggu (17/5/2020) malam.

Konser ini dihadiri sejumlah selebritas hingga Ketua MPR Bambang Soesatyo dan Ketua Kadin Roesan Roslani. Konser tersebut dibuka pula melalui video oleh Presiden Joko Widodo. Dalam sambutannya ia menyampaikan agar warga menjaga persatuan dan kesatuan serta kepedulian pada sesama yang terdampak corona. (cnnindonesia.com, 18/5/2020)

Ia juga sempat mengatakan untuk menjaga diri, peduli dengan sekitar, serta bersama-sama perangi pandemi Covid-19.

Publik jangan “kagetan” apalagi “baperan” mendengar setiap pernyataan kepala negara +62. Sudah menjadi hal yang biasa jika kita selalu dibingungkan dengan kata-katanya. “Perang-damai-jangan putus asa”, dan kemarin dalam sambutannya membuka konser, ia kembali katakan, “kita perangi bersama”.

Beginikah jika dipimpin oleh pemimpin yang “asbun” alias asal bunyi? Tidak memikirkan setiap ucapan yang akan disampaikan pada rakyatnya.

Jadilah konser amal ini disambut publik dengan berbagai kritikan pedas. Bukannya publik antusias menyambut baik, namun mempertanyakan hati nurani para penguasa yang bernyanyi riang bersama para artis di tengah berbagai kesulitan serta kelaparan yang menimpa rakyatnya.

Apakah ini sikap terbaik yang ditunjukkan para penguasa pancasilais? Apakah ini pemimpin yang mengutamakan kepentingan rakyat di atas segalanya? Apakah ini wajah sebenarnya pemimpin ruwaibidhah? Serta sederet pertanyaan lainnya.

Keluhan dan kritikan pun banyak disampaikan warganet di Twitter, bahkan hingga senin pagi (18/5/2020), tagar #StopKonserUnfaedah menjadi trending topic ketiga Indonesia dengan sementara mencapai 24 ribu twit.

Jurnalis senior Farid Gaban juga turut bersuara dalam tweet-nya:

“Ketua DPR dan BPIP bikin konser narik sumbangan rakyat. Sebelumnya, Ketua MPR bikin platform donasi via HP dan Menteri Keuangan buka rekening sumbangan. Ini negara atau yayasan, sih? Tugas utama membuat kebijakan publik yang benar untuk menangani wabah justru diabaikan,” tulisnya.

Publik sudah lelah untuk terus menyaksikan setiap episode drama dari berbagai penyataan dan kebijakan yang diambil penguasa. Tak ada satu pun yang dapat menenangkan serta menyenangkan hati rakyat di tengah kesulitan. Justru para penguasa sedang menghibur diri mereka sendiri tanpa peduli rakyatnya.

Menaikkan iuran BPJS dengan alasan negara sedang sulit. Menggelar konser amal dengan alasan untuk saling memupuk kepedulian antarsesama, namun kata lainnya ialah meminta sumbangan rakyat (saweran) untuk menangani kesulitan rakyat.

Lalu, di mana tanggung jawab negara? Di mana posisi kepala negara dan para punggawanya menyelesaikan beban derita rakyatnya?

Padahal sebelumnya ada pejabat negeri +62 yang menyatakan “rakyat sebagai beban negara”. Kini saat virus corona masih menyebar patut untuk publik katakan “negara sebagai beban bagi rakyatnya”.

Selalu menuntut rakyat memahami kondisi kesulitan negara dan para pejabatnya, tapi apakah mereka sadar bahwa mereka ialah pemimpin yang seharusnya mengurusi bukan diurusi?

Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat dalam demokrasi sejatinya, ambil uang rakyat untuk penuhi kebutuhan rakyat. Mungkin para penguasanya sudah tak memiliki rasa malu lagi. Hingga menjadikan rakyat terus menjadi korban atas ketidakbecusan mereka memimpin negeri.

Pemimpin Negara bukan Pemimpin Yayasan

Sepertinya mereka harus terus diingatkan lagi soal apa saja yang menjadi peran dan fungsi kepala negara juga tugas-tugas para pejabatnya.

Jika Ketua MPR, Bambang Soesatyo mengatakan partisipasi para pejabat tinggi negara dalam konser tersebut semata-mata untuk menunjukkan kekompakan, sikap solid dan wujud tak melupakan para seniman serta pekerja seni, para petani dan peternak, guru mengaji dan marbot masjid, juga kelompok masyarakat lainnya yang terdampak corona, rakyat justru kecewa. Sebab, mereka buang-buang duit dengan percuma. Bukankah sebaiknya uang tersebut untuk membantu rakyat miskin, menalangi defisit BPJS? Hal ini diungkapkan Rachland Nashidik politikus Demokrat.

Bisa dibayangkan, jika setiap bencana datang negara hanya gelar berbagai konser amal, minta sumbangan pada rakyatnya. Mereka terlatih untuk meminta pada rakyat tanpa merasa bersalah karena justru telah abai terhadap tanggung jawabnya mengurusi rakyat.

Terlebih ini dikomandoi oleh pemimpin negara. Tak salah bisa kita sebut ini bukan cerminan seorang pemimpin negara melainkan pemimpin yayasan. Cari dana ke sana ke sini untuk menghidupi orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya. Masihkah rakyat mau bergantung pada pemimpin seperti ini?

Perwakilan dari Koalisi Masyarakat Sipil, Asfinawati turut mengungkapkan kekecewaannya pada pemerintah. Ia menilai konser amal tersebut tidak sejalan dengan fungsi dan kewenangan MPR dan BPIP. Mencari dana semua bisa, tapi mengawasi eksekutif tidak semua bisa.

Asfin menduga konser tersebut adalah salah satu agenda pemerintah dalam membuka kembali aktivitas-aktivitas ekonomi dan politik di ruang publik dengan dalih “new normal”, padahal menurutnya itu semua hanya atas dasar pertimbangan politis, bukan kajian ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Kebijakan tanpa basis data seperti ini, misalnya memutuskan melonggarkan PSBB adalah bentuk nyata kegagalan pemerintah melindungi warga. (tirto.id,19/5/2020)

Publik bisa melihat dengan jelas setiap tindak tanduk para penguasa. Jika kritikan pedas yang mereka dapatkan, janganlah dianggap sebagai upaya untuk melecehkan ataupun menghina penguasa juga para pejabatnya. Melainkan sebagai bentuk nasihat untuk menyadarkan mereka agar kembali pada Islam. Karena telah terbukti para pemimpin dalam Islam bertanggung jawab menjalankan peran dan fungsinya pada rakyat.

Hal yang paling menyedihkan, kepala negara hingga para pejabatnya sebagian besar muslim. Pada Ramadan ini, bukannya berburu malam lailatulkadar, meraih ampunan Allah, juga berdoa agar pandemi segera berakhir, malah disibukkan dengan konser. Astaghfirullah.

Pemimpin Islam Peka terhadap Kesulitan Rakyat

Dalam sejarah kepemimpinan Islam, Khalifah Umar bin Khaththab menjadi sosok pemimpin yang selalu mendengar keluhan rakyat, bahkan hujan kritikan pun tak pernah diabaikannya.

Amirul Mukminin tak segan-segan untuk memohon maaf jika telah merasa lalai. Ia lalu menuntaskan hajat rakyat yang sudah menjadi kewajibannya. Sebagai Khalifah, ia bahkan pernah memikul sendiri karung gandum dan menyerahkannya pada seorang janda di ujung kota.

Seorang pemimpin hendaknya mempunyai pendengaran yang peka terhadap keluhan, bahkan kritikan rakyatnya. Ia menyadari betul, kekuasaannya hanyalah amanah yang harus ia tunaikan kepada para pemiliknya, yaitu rakyat yang dipimpinnya. Bukan sebaliknya, justru menindak tegas dan dipenjarakan jika menyampaikan kritikan pada penguasa.

Khalifah Umar bukanlah tipe pemimpin yang haus sanjungan. Sebab, ia selalu mengingat firman Allah SWT,

“Janganlah sekali-kali kamu menyangka, orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.” (QS Ali ‘Imran: 188).

Khalifah Umar pun pernah kelelahan sebab mengurus rakyatnya seharian. Beliau beristirahat di atas tumpukan tanah dan kerikil berlinangan keringat. Khalifah Umar memanjatkan doa yang amat menyentuh hati. Beliau meminta kepada Allah dengan sesuatu yang tak banyak dilakukan oleh pemimpin selepasnya.

Beliau meminta agar usianya yang semakin uzur dan tubuh yang semakin tua, serta rakyat yang sudah semakin banyak. Kembalikan beliau pada Allah dalam kondisi tidak menyia-nyiakan rakyatnya dan kondisi tidak termakan fitnah.

Beliau juga meminta agar ditetapkan baginya kematian sebagai syahid di jalan-Nya, serta wafat di tanah Rasul-Nya.

Begitulah kepemimpinan yang dicontohkan seorang sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah saw. Ia mengajarkan, kekuasaan dan jabatan bukanlah media untuk mencari kekayaan. Amanah yang terpikul di pundaknya bukanlah alat untuk mengumpulkan harta. Memimpin rakyatnya semata-mata untuk menjalankan amanah.

Pemimpin dalam Islam tak pernah disibukkan mencari sumbangan pada rakyatnya, melainkan memenuhi segala kebutuhan rakyat tanpa sedikit pun menyulitkan. Karena ia tahu memimpin berarti melayani bukan justru membebani. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

8 tanggapan untuk “Konser Corona Demi Cari Dana, Ini Negara atau Yayasan, sih?

  • 23 Mei 2020 pada 05:02
    Permalink

    Negara yang tidak punya dana.

    Balas
  • 22 Mei 2020 pada 21:46
    Permalink

    Astakhfirullah,hanyalah Kepemimpinan daula khilafah yg dapat mengurus rakyat dengan baik.

    Balas
  • 22 Mei 2020 pada 19:28
    Permalink

    Tanpa konser pun,banyak rakyat Indonesia yang sudah menggalang dananya untuk covid 19

    Balas
  • 22 Mei 2020 pada 14:51
    Permalink

    Pemimpin yg bijak adalah pemimpin yang takut kepada hukum Allah

    Balas
  • 22 Mei 2020 pada 12:30
    Permalink

    Astaghfirullah penguasa dholim … Tidak mengurusi rakyatnya secara adil

    Balas
  • 22 Mei 2020 pada 12:14
    Permalink

    Astaghfirullah

    Balas
  • 22 Mei 2020 pada 11:25
    Permalink

    Hanya dgn kepemimpanan / daulah khilafah islamiyah rakyat akan diurus dg baik

    Balas
  • 22 Mei 2020 pada 10:55
    Permalink

    Pemerintah kacau!! Pantas phobi Islam… Krn mereka takut TDK bisa bersenang2 lg dan bersewenang2….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *