[Editorial] Berdamai dengan Corona, Demi Apa?

MuslimahNews.com, EDITORIAL – Setelah lantang menyatakan perang melawan corona, tiba-tiba rezim berubah haluan. Ini tampak saat narasi berdamai dan bersahabat dengan corona, justru kian nyaring  diperdengarkan.

Upaya pencegahan dan penanganan wabah pun memang tampak mulai longgar. Kebijakan transportasi, kebijakan mudik, PSBB, work from home, semuanya nyaris ambyar. Wajar jika pergerakan masyarakat pun makin tidak bisa dikendalikan.

Lihatlah situasi stasiun, bandara, jalan-jalan, pasar, dan mal-mal. Hari ini tak ubahnya dengan kondisi sebelum wabah. Semuanya dipenuhi masyarakat yang tak peduli lagi akan ancaman corona. Entah karena bodoh atau nekat demi keadaan dan keinginan.

Pemerintah sendiri memang terus berupaya meyakinkan bahwa sebentar lagi wabah akan usai, kurva Covid-19 akan melandai. Padahal faktanya, jumlah kasus positif corona malah terus meningkat tajam. Dan yang harian resmi diumumkan itu, hanyalah data yang tertulis di catatan!

Bagi masyarakat yang sadar, situasi ini tentu dirasa sangat memprihatinkan. Banyak politisi, pengamat, aktivis, akademisi, dan praktisi yang protes keras akan sikap rezim yang mencla-mencle dan gampangan dalam urusan nyawa rakyat.

Bagaimana bisa narasi berbahaya ini diaruskan?

Terlebih bagi kalangan nakes yang selama ini selalu ada di garda terdepan. Nyaris setiap saat mereka berkalang nyawa demi kesembuhan pasien corona yang terus berjatuhan.

Wajar jika mereka mempertanyakan, jika risiko penularan sengaja makin diperbesar, berapa lama lagi mereka harus berjuang, menahan diri jauh dari keluarga dan ketat melakukan physical distancing demi keamanan?

Itulah kenapa di medsos kini viral tagar #IndonesiaTerserah. Para nakes ini memang benar-benar layak marah.

Bagaimana tak marah? Tampak sekali rezim pemerintah kian tak peduli dan kehilangan rasa empati. Mereka seolah ingin lepas tangan dari kewajiban mengurus rakyat terutama yang terdampak wabah. Dan lantas membiarkan para nakes berlama-lama bertarung nyawa.

Lalu pemerintah pun beralasan, roda ekonomi sudah nyaris lumpuh dan saatnya kembali diputar. Namun mengapa strategi exit-nya –konsep semacam herd immunity– yang jadi pilihan jalan? Benar-benar jahat bukan?

Selama ini pemerintah memang sudah cenderung abai dari tugasnya mengurus dan melindungi rakyat. Apalagi di saat wabah, pemerintah benar-benar kehilangan akal. Ekonomi amblas, negara seolah tak punya pegangan.

Menyerahkan penyelesaian pada mekanisme seleksi alam, jelas merupakan sebesar-besarnya bentuk kezaliman. Demi alasan ekonomi, rakyat dibiarkan bebas tertular. Pikirnya, yang kuat toh pasti akan bertahan.

Tak heran jika ada yang berpandangan, rezim hari ini sesungguhnya sedang berdiri di sisi kepentingan kapitalisme global. Karena roda ekonomi yang sedang coba kembali diputar hakikatnya adalah roda ekonomi kapitalisme global. Bukan roda ekonomi rakyat yang di situasi wabah semestinya jadi tanggungan pemerintah.

Konklusi ini tentu bukan tanpa dasar. Karena faktanya, selama ini rezim pemerintah telah setia menjalankan protokol ekonomi kapitalisme neoliberal. Hingga kekayaan alam milik rakyat pun nyaris seluruhnya dikuasai korporasi lokal dan internasional. Bahkan hajat hidup orang banyak pun habis dibisniskan.

Terlebih jika ditelusuri, konsep berdamai dengan corona sejatinya adalah turunan dari narasi “a new normal life” yang dicanangkan PBB. Sementara tak bisa dipungkiri, PBB selama ini selalu menempatkan diri sebagai corong kepentingan negara adidaya pengusung kapitalisme global.

Dalam artikel yang dirilis situs resmi PBB bertajuk A new normal: UN lays out roadmap to lift economies and save jobs after Covid-19 disebutkan bahwa situasi “normal yang dulu (old normal)” tak akan pernah kembali lagi.

Hal ini sejalan dengan statement Sekjen PBB Antonio Guterres yang dimuat di artikel, bahwa wabah Covid-19 telah menciptakan resesi paling sulit dalam sejarah. Tak hanya di bidang kesehatan, tapi juga krisis kemanusiaan, krisis pekerjaan, dan krisis pembangunan.

Maka demi mendukung negara menuju pemulihan sosial dan ekonomi, dia menyerukan pentingnya meningkatkan solidaritas global dan komitmen politik yang luar biasa agar setiap orang di mana pun dipastikan memiliki akses ke layanan esensial dan perlindungan sosial.

Caranya, melalui perlindungan terhadap pekerjaan, bisnis, dan mata pencaharian untuk menggerakkan pemulihan masyarakat dan membangun ekonomi baru yang setara, inklusif, dan berkelanjutan yang aman dan lebih tangguh daripada “old normal“. (https://www.un.org/africarenewal/news/coronavirus/new-normal-un-lays-out-roadmap-lift-economies-and-save-jobs-after-covid-19)

Padahal dalam rilis terakhirnya, WHO menyebut bahwa situasi ini bisa jadi berlangsung hingga lima tahun ke depan. Sehingga bukankah beradaptasi dalam “a new normal life” ini berarti beradaptasi dengan ketidaknormalan alias beradaptasi dengan wabah yang berkepanjangan?

WHO sendiri sebetulnya sempat menyebut bahwa konsep herd immunity adalah konsep yang berbahaya. Namun siapa nyana, ternyata konsep ini seolah bersembunyi di balik narasi “a new normal life” yang diaruskan PBB dan kemudian tampak ingin diadopsi rezim penguasa di negeri ini.

Betapa tidak? Bukankah membangun ekonomi baru atau memutar roda ekonomi di tengah wabah, berarti berkonsekuensi mendorong masyarakat untuk masuk ke tengah kancah? Dan lalu membiarkan yang lemah menjadi pihak yang kalah?

Bagi peradaban kapitalisme, penerapan konsep jahat seperti ini memang sah-sah saja. Karena dalam peradaban ini semua aspek, termasuk aspek kemanusiaan harus tunduk pada kepentingan modal.

Itulah kenapa selama ini rakyat banyak selalu menjadi pihak yang dikorbankan. Bahkan di tengah krisis ini pun para kapitalis tetap berusaha meraup sebesar-besar keuntungan. Mulai dari industri farmasi, alat kesehatan, telekomunikasi, industri layanan berbasis online, hingga industri asuransi, infrastruktur, dan yang lainnya.

Adapun negara dalam peradaban ini bertindak sebagai “supporting system” bagi tumbuhnya gurita industri kapitalisme. Maklum, kursi kekuasaan di sistem sekarang harganya super mahal, hingga dukungan modal dari para sponsor pun menjadi kemestian.

Tentu semua ini berbeda sekali dengan peradaban Islam.

Dalam Islam, urusan nyawa rakyat menjadi hal yang diutamakan. Bahkan keberadaan syariat dan negara dalam Islam (yakni khilafah) salah satunya berfungsi untuk penjagaan nyawa manusia dan penjamin kesejahteraan hidup mereka.

Wajar jika saat peradaban khilafah ini belasan abad tegak, umat manusia hidup dalam kedamaian sesungguhnya. Apa yang dibutuhkan manusia, mulai dari kebutuhan dasar termasuk kesehatan, kehormatan, keamanan, benar-benar dipenuhi negara.

Hal ini niscaya, karena peradaban Islam tegak di atas paradigma bahwa amanah kekuasaan tak hanya berdimensi dunia, tapi juga berdimensi akhirat. Maka bisa dipastikan, negara dan penguasanya akan sungguh-sungguh menuaikan kewajiban. Menjadi pengurus umat sekaligus menjadi penjaganya.

Mereka benar-benar paham, bahwa setiap kebijakan yang menzalimi rakyat akan menuai laknat dan adzab. Sebagaimana sabda Rasulullah saw,

وَإِنَّهَا أَمَانَةُ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا

“Sungguh jabatan ini adalah amanah. Pada Hari Kiamat nanti, jabatan itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambil jabatan itu dengan hak dan menunaikan amanah yang menjadi kewajibannya.” (HR Muslim).

أَيُّمَا رَاعٍ اسْتُرْعِيَ رَعِيَّةً فَغَشَّهَا فَهُوَ فِي النَّارِ

“Siapa pun yang diangkat memegang tampuk kepemimpinan atas rakyat, lalu dia menipu mereka, maka dia masuk neraka.” (HR Ahmad).

Pertanyaannya, apa rezim sekuler ini siap menanggung akibatnya? [MNews | SNA]

Bagaimana menurut Anda?

54 thoughts on “[Editorial] Berdamai dengan Corona, Demi Apa?

  • 13 Juli 2020 pada 06:53
    Permalink

    Rezim hari ini takkan berfikir sejauh itu. Jangankan yang tak nampak seperti dimensi akhirat, sumpah di bawah Al-Qur’an saja mereka langgar. Semoga rezim hari ini segera sadar dan bertaubat.

    Balas
  • 29 Juni 2020 pada 21:22
    Permalink

    Astaghfirullah………kedzliman yg sangat NYATA di depan MATA.
    Saatnya Kembali pada sistem KHILAFAH Rosyidah alaa minhajinnabi.

    Balas
  • 26 Juni 2020 pada 21:08
    Permalink

    Rakyat lagi rakyat lagi yg jadi korban dr kejamnya pemerintah kapitalis saat ini.
    Saatnya kembali Pada KHILAFAH Islamiyah ala minhajinnabi.

    Balas
  • 20 Juni 2020 pada 17:56
    Permalink

    omong kosong pancasila yang selama ini digaungkan, apakah kebijakan yang diambil pemerintah terkait pandemi covid 19 ini bisa disebut kemanusiaan yang adil dan beradab? astaghfirullah

    Balas
  • 4 Juni 2020 pada 22:59
    Permalink

    Semakin hari semakin tdk jelas sistem ini😯ya Allah segerakanlah angkat wabah ini dan kembalikan kembali pd kami KHILAFAH Rosyidah alaa minhajinnabi. Aamin….

    Balas
  • 24 Mei 2020 pada 03:44
    Permalink

    Astaghfirullah…
    Hidup di sistem manusia hifup tambah sengsara.

    Rindu sistem islam kaffah diterapkan dlm semua lini kehidupan. Hidup tenang dan sejahtera.

    Balas
  • 23 Mei 2020 pada 21:23
    Permalink

    Astagfirullah…
    Benar2 dzalim…

    Balas
  • 22 Mei 2020 pada 15:26
    Permalink

    Astaghfirullah..
    Lagi-lagi rakyat jadi korban.

    Balas
  • 22 Mei 2020 pada 10:45
    Permalink

    Inilah potret asli kapitalisme. Nyawa manusia tdk ada harganya. Smua dikalahkan kepentingan pemilik modal. Pemerintah yg seharusny menjadi pelindung, mlh bekerja utk kepentingan kapital. Dzalim !!!

    Balas
  • 21 Mei 2020 pada 15:08
    Permalink

    Ya Allah… smoga Khilafah segera tegak…
    Smoga penderitaan umat ini berskhir…aamiin

    Balas
  • 21 Mei 2020 pada 07:03
    Permalink

    Demi ekonomi, pebisnis..pemerintah tlh dg nyata mengabaikan jutaan nyawa rakyat..

    Balas
  • 20 Mei 2020 pada 20:33
    Permalink

    Dalam kapitalisme nyawa manusia tdk ada harganya, astagfirullah’adzim

    Balas
    • 23 Mei 2020 pada 12:53
      Permalink

      Masya Allah.. kedzaliman kini semakin tampak nyata. Keagungan Islam harus segera ditegakkan

      Balas
  • 20 Mei 2020 pada 11:52
    Permalink

    Dengan berkuasa rezim ini, saya nggak ngerti apakah masyarakat semakin pintar atau semakin bodoh 🙏
    Saya akuin mereka begitu semangatnya ingin beribadah, dengan selalu berkoar-koar dimana-mana kok Pasar, Mall, tempat pembelajaan dibuka eh malah masjid ditutup..

    Dengan dibukanya pasar, Mall atau pusat perbelanjaan lainya malah ini akan semakin bahaya.?
    Penularan akan semakin merjala rela.?
    Darisana seharusnya kita berfikir, Islam memang bener² mementingkan nyawa seseorang..

    Ya Allah, wabah ini bener² menjadi fitnah yg besar bagi umat Islam ..

    Semoga fitnah dan wabah ini cepat berlalu 🤲🤲🤲

    Balas
    • 23 Mei 2020 pada 15:20
      Permalink

      Perang lalu damai padahal kondisi masih seperti ini. Bahkan isu kurang jelas juga berkembang di masyarakat. Bingung dibuatnya. Astaghfirullaah.

      Balas
  • 20 Mei 2020 pada 07:48
    Permalink

    Rakyat diminta berdamai dengan corona demi negara berlepas tangan dari kewajiban mengurus rakyat. Inilah konsep Sistem Kapitalisme. Berbeda dengan Islam, Konsep sistem Islam dalam hal kepemimpinan, negara adalah pelayan umat yang hadir dalam rangka melindungi umat.

    Balas
    • 21 Mei 2020 pada 17:24
      Permalink

      Berdamai dengan corona?….kejahatan model apa lagi ini…rezim yg tak pernah peduli dg rakyatnya….hanya peduli pd program dunia saja yang tak pernah berpihak pada kebaikan umat manusia

      Balas
    • 21 Mei 2020 pada 19:27
      Permalink

      Astaghfirullah, benar2 kedzaliman yang nyata

      Balas
      • 23 Mei 2020 pada 15:13
        Permalink

        Astagfirullah. Sebegitu tidak berharganya rakyat di sistem kapitalisme ini….

        Balas
  • 20 Mei 2020 pada 06:49
    Permalink

    Demi para investor bukan demi rakyat

    Balas
    • 20 Mei 2020 pada 16:50
      Permalink

      Saya nggak mau berdamai dengan corona, silahkan saja pakde berdamai sendiri dengan corona

      Balas
    • 21 Mei 2020 pada 11:41
      Permalink

      Astaghfirullah

      Balas
  • 20 Mei 2020 pada 03:24
    Permalink

    Sistem selain Islam memang tak beradab demi sebuah nominal yang tak guna di hadapan Allah, memuaskan nafsu para pejabat dan membunuh yang lemah tak berdaya… Benarlah Islam satu-satu nya sistem yang diridhoi Allah sebagai sistem yang rahmatan Lil’Alamin… Semakin rindu akan tegak nya sistem Islam di muka bumi ini….:'( Allahu Akbar

    Balas
  • 20 Mei 2020 pada 02:48
    Permalink

    Hanya sistem islam yang akan menjadi solusi setiap persoalan , Khilafah ala minhaji nubuwah…

    Balas
  • 20 Mei 2020 pada 02:40
    Permalink

    Apakah masih menjadi narasi untuk menghadang a new life with Islam? Peradaban Khilafah 2020

    Balas
  • 19 Mei 2020 pada 23:30
    Permalink

    kejahatan kapitalisme global kian ambyar. Hanya khilafah harapan tunggal

    Balas
      • 20 Mei 2020 pada 12:52
        Permalink

        Pada Point tulisan ” Wajar jika saat peradaban khilafah ini belasan abad tegak, umat manusia hidup dalam kedamaian sesungguhnya. Apa yang dibutuhkan manusia, mulai dari kebutuhan dasar termasuk kesehatan, kehormatan, keamanan, benar-benar dipenuhi negara ”

        Pernahkah Indonesia mengalami peradaban Khilafah, pd pemrintahan siapakah

        Sy sdh bosan melihat, mendengar bny yg hny berani menulis, mengkritik, beropini. Maunya perubahan tp tanpa action kapan brubahnya. Berarti keberanian org yg beharap syariat Islam, yg butuh berubah sdh mati surikah.

        Ayolah kalo hny sibuk BERANI LANTANG beropini TANPA ACTION hny mimpi di siang bolong

        Balas
        • 28 Mei 2020 pada 21:10
          Permalink

          Izin menanggapi kak

          Opini adalah bentuk action yang bisa kita lakukan, sebab dengan opini akan melahirkan action

          Opini yang kebanyakan diterima Masyarakat saat ini adalah yang buruk tentang islam, maka tugas kita memperkenalkan dan menunjukkan bagaimana indahnya Islam yang sebenarnya, yang kemudian bisa menjadi the real solution

          Balas
  • 19 Mei 2020 pada 22:59
    Permalink

    Dalam sistem kapitalisme ekonomi menjadi pertimbangan utama dari nyawa manusia astaghfirullah

    Balas
  • 19 Mei 2020 pada 22:25
    Permalink

    Ya Allah tumbangkanlah segera rezim yg dzalim ini.
    Segerakanlah pertolongan-Mu,islam segera tegak di muka bumi aamiin

    Balas
  • 19 Mei 2020 pada 22:05
    Permalink

    Damai sama corona, tapi corona malah balik nyerang:((( dan ketika bilang ke pemerintah malah dibales “itu bukan urusan saya” :(((

    Balas
  • 19 Mei 2020 pada 21:19
    Permalink

    Masya Allah.. Kezaliman rezim tidak lg bs ditutupi. Kami rindu Khilafah! Allahu Akbar!

    Balas
  • 19 Mei 2020 pada 21:18
    Permalink

    Astaghfirullah… Innalillah…

    Balas
  • 19 Mei 2020 pada 20:58
    Permalink

    Astaghfirullah, sistem kufur ini sudah sangat merusak dan menyusahkan rakyat. Padahal seharusnya politik itu mengurus urusan umat, tapi ini malah memberikan kebijakan yang mencla-mencle ☹️

    Balas
      • 30 Mei 2020 pada 21:13
        Permalink

        Kezaliman yg nyata didepan mata kita yaitu kebijakan” pemerintah yg menyeleneh dr syari’at Allah.
        Saatnya kembali pada sistem Khilafah Rosyidah alaa minhajinnabi

        Balas
    • 20 Mei 2020 pada 06:13
      Permalink

      Umat dan rakyat negeri ini sudah seharusnya sadar bahwa tidak ada lagi harapan untuk terus mempertahankan sistem dan rezim sekuler ini yang acuh terhadap kepentingan bahkan nyawa rakyatnya sendiri. Saatnya kita sudahi dan menggantinya dengan peradaban islam yang akan menjadi penyelamat dan perisai umat.. Sudah saatnya,, tunggu apalagi? Sadarlaah…..

      Balas
  • 19 Mei 2020 pada 20:21
    Permalink

    Setiap orang nanti akan mempertanggungjawabkan setiapa amanah yang telah di bebankan kepada mereka

    Balas
  • 19 Mei 2020 pada 20:12
    Permalink

    Kenyataannya rezim sekuler dibutakan oleh gemerlap dunia 😢 smga taubat dan kembali kpd aturan yg Haq yakni Hukum Allah. Aamiin

    Balas
  • 19 Mei 2020 pada 19:57
    Permalink

    Astaghfirullah..
    Lagi-lagi rakyat jadi korban.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *