Perempuan dan I’tikaf di Masa Pandemi

Oleh: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, FIKIH – Sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan adalah hari-hari yang sangat dinanti kaum muslimin, karena di salah satu malam dari sepuluh malam terakhir tersebut terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam lailatul qadar.

Dalam beberapa hadis dijelaskan bahwa malam lailatul qadar jatuh pada salah satu malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Tak terkecuali para muslimah, mereka pun mengincar pahala besar yang disimpan dalam malam mulia tersebut.

Karenanya, di sepuluh malam terakhir ini biasanya kaum muslimin baik laki-laki maupun perempuan memperbanyak ibadah-ibadah sunah di sepuluh malam terakhir ini, salah satunya adalah melakukan i’tikaf di masjid, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.

Lalu bagaimana dengan i’tikaf perempuan muslimah?

Dengan kondisi kita yang saat ini tengah dilanda Covid-19, dan sebagian besar umat Islam lebih banyak beribadah di rumah, lantas bagaimana dengan i’tikaf-nya?

Ada sebagian berpendapat, karena tujuan i’tikaf adalah introspeksi dan perenungan, maka boleh dilakukan di rumah di tempat tertentu yang jauh dari gangguan, seperti di ruangan tertentu atau di tempat khusus untuk salat atau musala di dalam rumah, karena situasi covid ini (kompas.com/13 Mei 2020).

Makna I’tikaf dan Hukumnya

Secara syar’i, i’tikaf adalah al-lubtsu fî al-masjid muddat[an] ‘alâ shifah makhshûshah ma’a niyyah at-taqarrub ilalLâh, yaitu diam di masjid selama jangka waktu tertentu dalam kondisi yang spesifik, disertai niat taqarrub/mendekatkan diri kepada Allah SWT. (Syaikh Mahmud bin Abdul Lathif ‘Uwaidhah, Al-Jâmi’ li Ahkâm ash-Shiyâm).

Hukum i’tikaf adalah sunah, baik bagi laki-laki maupun perempuan, berdasarkan hadis-hadis Rasulullah Saw..

Aisyah ra. menyatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ber-i’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadan hingga wafatnya kemudian istri-istri beliau pun ber-i’tikaf setelah kepergian beliau.” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary no. 2026)

Dari Abu Said al-Khudzri menuturkan, Rasulullah saw. bersabda, “Aku ber-i’tikaf sepuluh hari pertama mencari malam ini (lailatulkadar). Lalu aku ber-i’tikaf sepuluh hari pertengahan. Kemudian aku didatangi dan dikatakan kepadaku bahwa itu di sepuluh hari terakhir. Karena itu, siapa di antara kalian yang suka (mau) ber-i’tikaf hendaklah ia ber-i’tikaf.”

Abu Said berkata, “Lalu orang-orang ber-i’tikaf bersama beliau.” (HR Muslim, al-Bukhari, Ahmad, Abu Dawud, an-Nasai dan Malik).

Rasul Saw. menyandarkan pelaksanaan i’tikaf itu kepada kesukaan (kemauan) orang-orang. Ini menunjukkan bahwa i’tikaf hukumnya sunah.

Bagaimana dengan Perempuan Muslimah?

Tentang i’tikaf kaum perempuan, maka hukumnya sama dengan i’tikaf kaum laki-laki. ‘Aisyah ra. menuturkan, “Sesungguhnya Nabi Saw. telah melakukan itikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan hingga Allah SWT mewafatkan beliau, kemudian istri-istri beliau pun melakukan itikaf sepeninggal beliau.” (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ahmad).

Perempuan sah ber-i’tikaf. Jika ia bersuami, maka i’tikaf-nya harus atas izin suaminya. Ia boleh ber-i’tikaf bersama suaminya ataupun tidak, asal i’tikaf-nya itu atas izin suaminya.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ ، وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِى اعْتَكَفَ فِيهِ – قَالَ – فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ

Rasulullah Saw. biasa beri’tikaf pada bulan Ramadan. Apabila selesai dari salat subuh, beliau masuk ke tempat khusus i’tikaf beliau. Dia (Yahya bin Sa’id) berkata: Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meminta izin untuk bisa beri’tikaf bersama beliau, maka beliau mengizinkannya.” (HR Bukhari)

Ini membuktikan, bahwa perempuan boleh i’tikaf, tentu dengan tempat yang terpisah dari kaum laki-laki; jika perempuan tersebut melakukan i’tikaf bersama-sama suaminya atau mahramnya. Jika tidak, maka dia harus meminta izin suaminya.

Suami juga boleh mengizinkan, boleh juga tidak. Karena i’tikaf ini hukumnya sunah. Kalau saja hukumnya wajib bagi perempuan tersebut, maka suaminya tidak boleh melarang dia.

Namun, ia tidak boleh ber-i’tikaf jika dia punya suami atau anak yang masih kecil yang tidak ada yang merawat/melayani mereka, sebab hal itu adalah wajib bagi dirinya, sementara i’tikaf adalah sunah. Jika keduanya berbenturan, yang wajib tentu harus didahulukan.

Perempuan boleh ber-i’tikaf di masjid asalkan memenuhi syarat: (1) Suci dari haid dan nifas; (2) Meminta izin suami; (3) Ditemani mahram atau bersama suaminya walaupun di tempat terpisah; (4) Kewajibannya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga tidak terbengkalai; (5) Harus menutup aurat dan memakai pakaian muslimah yang sempurna (jilbab) dan juga tidak memakai wewangian; dan (6) Aman dan tidak menimbulkan fitnah.

Bolehkah I’tikaf di Rumah?

I’tikaf perempuan tidak ada perbedaan dengan i’tikaf laki-laki, harus dilakukan di masjid. Dalam hal ini tidak ada perbedaan, di masjid mana pun seorang muslim boleh ber-i’tikaf. Banyak hadis yang menyebutkan bahwa Nabi saw ber-i’tikaf hanya di masjid.

Abu Said al-Khudri menuturkan, Rasul saw. pernah bersabda, “Aku diperlihatkan lailatulkadar, tetapi aku dilupakan (waktu persisnya). Karena itu, carilah di sepuluh hari terakhir pada malam ganjil. Aku diperlihatkan bahwa aku sujud di atas air dan tanah. Maka dari itu, siapa saja yang telah ber-i’tikaf bersama Rasulullah saw. hendaklah kembali.” (HR al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Malik, Ibn Hibban dan al-Baihaqi).

Jika i’tikaf itu tidak harus di masjid, niscaya Nabi saw. tidak menyuruh para Sahabat untuk kembali ke masjid. Semua ini menunjukkan bahwa tempat i’tikaf itu di masjid. Kata al-masâjid atau al-masjid dalam hadis-hadis tentang i’tikaf merupakan kata umum, dan tidak ada nas yang mengkhususkan masjid tertentu saja. Karena itu, i’tikaf boleh dilakukan di masjid mana saja, selama itu adalah masjid.

Ketika saat pandemi sekarang ini, memang tidak semua orang akhirnya bisa melakukan i’tikaf, karena di beberapa tempat bisa jadi menimbulkan dharar (bahaya) ketika beribadah di masjid.

Maka sesungguhnya kita tidak perlu berkecil hati, karena masih banyak amalan sunah lainnya yang bisa kita lakukan di rumah dan di tempat lain yang aman. Misalnya, bersedekah, menyampaikan pemahaman Islam melalui media apa pun, lebih memperbanyak lagi membaca Alquran, memperbanyak qiyamul lail, mengisi dengan banyak salat sunah, banyak berzikir dan mengingat Allah, serta banyak lagi amalan-amalan kebaikan lainnya.

Semoga Allah memudahkan kita untuk melalui akhir Ramadan ini dengan sebanyak-banyaknya amal kebaikan. Aamiin… Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

10 thoughts on “Perempuan dan I’tikaf di Masa Pandemi

  • 16 Mei 2020 pada 13:53
    Permalink

    . Alhamdulillah, Ilmu baru lg buat Ana. Jazakillah khoir ustaza 🙏

    Balas
  • 16 Mei 2020 pada 13:50
    Permalink

    masyaAllah meski tdk bisa i’tikaf di masjid namun masih banyak pahala amalan sunah lain nya yg bisa diraih dr rumah

    Balas
  • 16 Mei 2020 pada 13:34
    Permalink

    Semoga amalan yang lainnya bisa menjadi amalan terbaik kita aamiin

    Balas
  • 16 Mei 2020 pada 13:33
    Permalink

    Semoga kita dapat menjalankan sunah rosullah

    Balas
  • 16 Mei 2020 pada 13:29
    Permalink

    Semoga kita dapat mengambil contoh sunah Rosul

    Balas
  • 16 Mei 2020 pada 13:28
    Permalink

    Semoga kita dapat menjalankan syariat Nabi,walau keadaan pandemi ini aamiin

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *