Menjadikan Alquran sebagai Cahaya Kehidupan

Oleh: Siti Nafidah Anshory

MuslimahNews.com, NAFSIYAH — Sesungguhnya, Ramadan punya banyak nama. Salah satunya adalah “Syahr al-Qur’an” atau bulan Alquran. Di bulan inilah Alquran diturunkan. Di bulan ini pula Alquran menjadi kitab yang paling banyak dibaca dan diperdengarkan.

Nyaris setiap muslim terdorong mengkhatam Alquran selama ramadan. Karena yakin kemuliaan Ramadan menjadikan bacaan Alquran membawa berkah dan pahala berlipat ganda.

Namun ada hal yang menarik untuk direnungkan. Dari Ramadan ke Ramadan, fenomena seperti ini nyaris berlangsung tak ada beda. Alquran selalu dibaca, tapi tak mampu menjadi cahaya kehidupan. Alquran diperdengarkan tapi tak lebih dari lantun siulan.

Banyak kaum muslim yang meyakini kesucian Alquran dan bersikap takzim di hadapannya. Tapi sayang, sebagian mereka menjadikan Alquran tak lebih dari kitab mujarobat dan mantra-mantra.

Bahkan ada yang menganggap bacaan Alquran sebagai pengusir setan dan pemancing rezeki semata. Hingga sebagian ayatnya jadi hiasan dinding yang ditempel di pintu-pintu rumah mereka atau digantung di leher anak-anak mereka.

Sebagian dari mereka ada pula yang berkhidmat menjadi penghafalnya. Namun sayangnya, tak sedikit dari mereka tak terdorong menjadi penjaga dan pembelanya.

Mungkin ini dikarenakan, apa yang dibaca tak benar-benar dipahami maknanya. Hingga apa yang diperdengarkan tak berpengaruh dalam realitas kehidupan mereka.

Maka lihatlah. Mereka pasti membaca ayat tentang haramnya dusta, zalim, dan aniaya. Tapi nyatanya mereka kerap melakukannya. Mereka baca tentang haramnya riba dan zina, tapi keseharian mereka bergelimang dengannya.

Mereka juga membaca tentang haramnya khamr, judi, dan berhala. Tapi nyatanya, keharaman ini pun ada di mana-mana. Mereka baca tentang wajibnya penerapan Islam kafah, tapi tak banyak yang tergerak untuk memperjuangkannya.

Bahkan yang lebih parah, mereka cenderung tak acuh saat melihat Alquran berulang dinodai dan dihinakan musuh-musuh Islam. Mereka pun tak peduli, saat melihat isinya dicampakkan dari pengaturan kehidupan.

Malah mereka diam saat hukum-hukum kufur diterapkan atas mereka. Atau diam saat aturan-aturannya sengaja direka ulang karena dianggap usang, tak relevan dengan peradaban masa sekarang.

Padahal sejatinya, Alquran adalah tuntunan bagi kita umat islam, bahkan bagi manusia secara keseluruhan. Karena di dalamnya ada petunjuk bagaimana hidup ini harus dijalankan. Dan dengannya pula kita dituntun bagaimana setiap masalah dipecahkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran. Sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu. Serta pembeda antara yang hak dan yang batil.” (QS Al-Baqarah: 185)

Dan Firman-Nya:

وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS An-Nahl: 89)

Wajar ketika umat tak menjadikan Alquran sebagai tuntunan, kehidupan mereka begitu jauh dari keberkahan. Kesempitan demi kesempitan, krisis demi krisis, menjadi demikian lekat dengan kehidupan umat Islam. Bahkan wibawa mereka hilang di hadapan umat yang lainnya.

Sungguh hanya dengan berpegang teguh pada Alquran, kita akan beroleh jaminan rahmat dan kemuliaan. Dan keteguhan ini sejatinya adalah wujud takwa dan keimanan.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ جِئْنَاهُمْ بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَىٰ عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Alquran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; Menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS Al-A’raf: 52)

Karena keimanan terhadap Alquran merupakan wujud ketaatan, dan kecintaan terhadapnya butuh bukti berupa ketundukan, maka merealisasikan isinya sebagai jalan hidup dan undang-undang menjadi sebuah kemestian. Dan memperjuangkannya juga merupakan keniscayaan.

Walhasil, momen Ramadanlah saat yang tepat untuk merevisi keimanan sekaligus membangun semangat perjuangan membumikan Alquran. Karena di bulan inilah, dia diturunkan sebagai mata air kehidupan.

Semoga Ramadan kali ini, benar-benar bermakna buat kita. Dan menghantarkan kita menjadi hamba Allah yang taat bertakwa, sebenar-benar takwa. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

5 tanggapan untuk “Menjadikan Alquran sebagai Cahaya Kehidupan

  • 17 Mei 2020 pada 06:45
    Permalink

    Postingan di atas sebatas ilustrasi belaka tanpa adanya solusi konkret yg bisa ditiru dan diamalkan.

    Balas
  • 15 Mei 2020 pada 17:54
    Permalink

    Semoga kita senamtiasa diistiqomahkan untuk memperjuangkan penerapan hukum2 Allah dalam al-qur’an

    Balas
  • 15 Mei 2020 pada 06:54
    Permalink

    Menjadikan Al Quran sebagai tuntunan/pedoman dalam kehidupan scr individu,masyarakat dan bernegara

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *