[Editorial] Rakyat, kok, Selalu Jadi Tumbal Kepentingan Para Naga?

MuslimahNews.com, EDITORIAL – Meski menuai kritik keras, keputusan pemerintah untuk membuka pintu bagi TKA Cina di tengah wabah tampaknya tak bisa lagi diganggu gugat.

Rupa-rupanya, urusan investasi bagi pemerintah +62 jauh lebih penting dibanding dengan kemaslahatan rakyat yang kini nyawanya sedang terancam oleh penyebaran wabah Covid-19, sekaligus ekonominya terdampak dengan maraknya pengangguran dan gelombang PHK.

Sikap pemerintah ini seakan menjawab pertanyaan masyarakat, mengapa selama ini gelombang kedatangan TKA Cina seakan dibiarkan saja. Bahkan saat gelombang virus Wuhan baru mencuat ke permukaan dan negara-negara lain menutup pintu rapat-rapat “rumah” mereka, Indonesia malah jor-joran mendorong masuknya wisman dan investasi dari Cina.

Seperti ramai diberitakan, beberapa waktu lalu Kementerian Ketenagakerjaan Indonesia telah menerbitkan izin kerja bagi 500 TKA Cina di Konawe Sulawesi Tenggara. Padahal di saat sama, pemerintah sedang menggencarkan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mengingat angka kasus corona tiap hari terus meningkat. Bahkan hingga kini, Indonesia masih tercatat sebagai negara yang memiliki kasus Covid-19 terbanyak di Asia Tenggara.

Pemerintah sendiri, diwakili Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan beralasan, langkah itu ditujukan membantu ekonomi negara yang terus melemah karena pandemi Covid-19. Jika investasi jalan, maka roda ekonomi pun lancar berputar. Demikian dalihnya.

Masalahnya, jika roda ekonomi berputar, siapa yang diuntungkan? Karena selama rezim investasi dan impor Cina ini berkuasa, kondisi ekonomi masyarakat Indonesia nyatanya dalam keadaan tak baik-baik saja. Bahkan semakin hari, semakin berat saja.

Betul bahwa di periode kekuasaan rezim ini proyek-proyek mercusuar digenjot sedemikian rupa. Bahkan kawasan-kawasan pertumbuhan ekonomi baru, berikut berbagai perangkat kebijakan, sistem dan suprasistemnya rajin diciptakan demi menarik modal luar.

Namun apa yang didapat rakyat? Kawasan-kawasan ekonomi khusus, ribuan kilo jalan tol, modernisasi pelabuhan dan bandara, pelonggaran aturan birokrasi, termasuk tarif bea masuk dan permodalan, serta proyek-proyek mercusuar lainnya, hanyalah menyisakan kesedihan bagi rakyat banyak.

Karena nyatanya, tak ada yang mereka dapat selain cerita kebanggaan tentang kenaikan angka pertumbuhan ekonomi dan gambar-gambar tentang kemegahan proyeknya saja.

Adapun yang jelas-jelas diuntungkan adalah para pemilik modal dan para pejabat yang tak malu nyambi menjadi broker proyeknya. Dan tentu saja, negara asal investor yang kian menghegemoni dan beroleh loyalitas bahkan submission dari negara yang masih bermental pengemis dan dependen semacam Indonesia.

Dalam kasus izin 500 TKA Cina ini, simpulan tadi tampak sangat jelas. Sudah sejak 2014, Konawe Sulawesi Tenggara, ditetapkan sebagai Kawasan Industri yang memfokuskan pada industri Forrenikel dengan seluas area sekitar 5.500 Ha.

Dan investor yang berhasil merebut lahan basah itu tentu bukan investor lokal. Melainkan dua perusahaan bernama  PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) dan PT Obsidian Stainless Steel yang merupakan bagian korporasi besar asal Cina. Yakni, Jiangsu Delong Nickel Industry, satu dari dua perusahaan raksasa Cina yang bergerak dalam produksi logam, khususnya baja.

Sejak masuk di Indonesia, Virtue Dragon sendiri telah menginvestasikan $1 miliar untuk membangun smelter nikel, pembangkit listrik, juga pelabuhan jetty di ujung tenggara pulau Sulawesi ini. Dan hingga 2020, direncanakan akan mengucurkan US$ 5 miliar untuk membangun kapasitas tambahan dana bagi pabrik baja stainless steel.

Memang ada ribuan tenaga yang bekerja di sana. Namun tak salah lagi, sebagian besarnya, adalah TKA dari Cina. Adapun penduduk asli, justru sulit mendapat akses. Bahkan mereka harus menanggung berbagai problem ikutan, mulai dari dampak lingkungan, dampak sosial budaya, serta dampak-dampak lainnya. Hingga tak jarang terjadi demonstrasi oleh masyarakat di sana.

Namun di tengah berbagai keresahan sosial yang terjadi, pihak perusahaan asing terus mengeruk kekayaan milik rakyat. Pada September 2017, Virtue Dragon misalnya diketahui telah berhasil mengangkut 7.733 metrik ton feronikel pertama ke Cina. Logam ini dibawa menuju perusahaan induknya, Jiangsu Delong Nickel Industry untuk diolah menjadi produk baja berkualitas, dan mengekspornya ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Mirisnya, kasus TKA Cina di Konawe ini hanya satu dari sekian banyak kasus gelombang impor tenaga kerja asal Cina di Indonesia. Di hampir semua titik pengembangan kawasan strategis nasional yang dicanangkan pemerintah, para investor naga dan TKA Cina nyaris selalu menjadi rajanya. Dan ini niscaya, karena rezim penguasa memang telah lama memberi karpet merah kepada mereka.

Yang paling menyakitkan ketika semua itu terjadi di tengah ancaman wabah yang mengerikan. Pemerintah tampaknya ingin menutup mata bahwa Cina adalah episentrum bahkan sumber penyebaran corona. Dan lantas demi alasan ekonomi, mereka biarkan rakyatnya terancam nyawa.

Sungguh, begitulah pandangan rezim pemerintahan sekuler demokrasi kapitalisme terhadap kedudukan rakyatnya. Meski rakyat dianggap pemilik daulat dan kuasa, tapi faktanya hanya menjadi tumbal bagi kepentingan kolaborasi segelintir orang dari kalangan penguasa-pengusaha.

Bahkan keduanya tak sungkan mengooptasi harta milik rakyat dengan segala cara. Berkomplot dengan para naga hingga tak tersisa bagi rakyatnya selain harapan kosong dan rasa kecewa yang tak ada hentinya.

Beda jauh dengan sistem pemerintahan atau kepemimpinan Islam.

Dalam Islam, rakyat dipandang sebagai amanah yang harus diurus dan dijaga. Hartanya, akalnya, kehormatannya, agamanya, bahkan nyawanya semuanya menjadi tanggung jawab siapa pun yang berani menerima amanah kekuasaan.

Bahkan para penguasa wajib memastikan, semua kebutuhan rakyatnya, mulai dari urusan sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan, terpenuhi dengan baik, melalui penerapan sistem aturan Islam, termasuk sistem politik ekonominya. Dan jaminan ini, terkena bagi rakyat orang per orang, yang harus siap dipertanggungjawabkan.

Jika ada penguasa yang berani mengabaikan rakyatnya di dunia, maka dia harus siap-siap diajukan ke mahkamah mazhalim dan di-impeach. Sementara kelak di akhirat, dia harus siap dibelenggu di lubang neraka.

Itulah kenapa, para penguasa dalam sistem pemerintahan atau kepemimpinan Islam, dikenal dengan sikap takutnya dalam urusan rakyat. Hingga mereka selalu berusaha mendahulukan rakyatnya dibandingkan diri dan keluarganya.

Sayangnya, umat telah lama terlepas dari sistem kepemimpinan dan pemerintahan Islam ini. Saat mereka mencampakkan aturan Islam sebagai sistem kehidupan. Lalu mereka jatuh dalam sistem kepemimpinan sekuler yang menghinakan. Yang penguasanya rela melakukan kecurangan pada rakyatnya, bahkan pada agama yang dianutnya.

Maka, benarlah sabda Rasulullah Saw:

“Akan datang sesudahku penguasa-penguasa yang memerintahmu. Di atas mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dengan bijaksana, tetapi bila telah turun mimbar mereka melakukan tipu daya dan pencurian. Hati mereka lebih busuk dari bangkai.” (HR Ath-Thabrani) [MNews | SNA]

Bagaimana menurut Anda?

72 tanggapan untuk “[Editorial] Rakyat, kok, Selalu Jadi Tumbal Kepentingan Para Naga?

  • 29 Mei 2020 pada 19:31
    Permalink

    Bukti nyata rezim demokrasi adalah pelayan sejati para korporasi meski harus korbankan rakyat sendiri.

    Balas
  • 22 Mei 2020 pada 18:48
    Permalink

    Semakin lama kita semakin diperbudak oleh negara kapitalis ini.
    SAATNYA KEMBALI KPD SISTEM KHILAFAH YG SELALU DIRINDU.

    Balas
  • 18 Mei 2020 pada 15:59
    Permalink

    Rakyat kecil mjd korban atas kebijakan penguasa antek kapitalisme

    Balas
  • 16 Mei 2020 pada 07:41
    Permalink

    Seharusnya rakyat sbg pemegang kedaulatan tapii faktanya hanya dijadikan tumbal bagi kepentingan kolaborasi segelintir org dr penguasa-pengusaha

    Balas
  • 14 Mei 2020 pada 13:13
    Permalink

    Pengadilan Allah Subhanahu wa ta’ala yang akan dihadapi pemimpin dzalim.. Semoga jalan menuju sistem Islam dipermudah oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

    Balas
  • 14 Mei 2020 pada 07:23
    Permalink

    Demokrasi menjadi jalan para naga berkuasa di Indonesia..

    Balas
    • 14 Mei 2020 pada 21:13
      Permalink

      Menumbangkan sistem inilah solusinya, upgrade dgn islam, pemberi solusi yg solutif dalam daulah khilafah islmiyah

      Balas
  • 14 Mei 2020 pada 06:20
    Permalink

    Sistem Kapitalis harus segera dibuang, kembali ke Sistem Islam.

    Balas
  • 14 Mei 2020 pada 00:16
    Permalink

    Kapitalisme tdk menjamin rakyat

    Balas
  • 13 Mei 2020 pada 17:13
    Permalink

    Kisah asmara penguasa & pengusaha, korbannya rakyat jelata. Oh dunia. Semoga kisah ini segera berakhir. Diganti dengan kisah kasih sayang penguasa & rakyatnya….

    Balas
  • 13 Mei 2020 pada 09:46
    Permalink

    urusan investasi bagi pemerintah +62 jauh lebih penting dibanding dengan kemaslahatan rakyat.
    Na’udzubillah
    Pemimpin yg disabdakan Rasulullah SAW..
    WE NEED KHILAFAH✊

    Balas
  • 13 Mei 2020 pada 07:00
    Permalink

    Wajah asli kapitalisme. Selamanya akan selalu berpihak pada pemilik modal dan tdk pernah peduli pada rakyat.
    Saatnya kapitalisme dibuang dan diganti dg sistem Islam

    Balas
  • 13 Mei 2020 pada 06:39
    Permalink

    Semakin memperlihatkan lemahnya pemerintahan dalam demokras-kapitalisme, dan dzhalimnya penguasa terhadap rakyatnya. Saatnya kembalikan pemerintahn islam dalam bingkai syariah dan khilafah

    Balas
    • 16 Mei 2020 pada 15:28
      Permalink

      Emang hanya islam ini solusi yg pas.

      Balas
  • 13 Mei 2020 pada 05:31
    Permalink

    Inilahbkata pembangunan dan perkembangan yg semu. Membangun menara gading, tapi sebenarnya ini adalah utang, walaupun mereka menyebutnya investasi. Bagi mereka yg mengutangkan adalah suatu keuntungan karena mereka menganut faham ribawi. Mereka terjamin hidupnya sampai ratusan tahun. Tapi yg berutang dikeruk kekayaannya dengan bayar bunga. Ini adalah penjajahan yg terselubung dengan istilah investasi….Semoga Allah melaknat kalian….

    Balas
  • 13 Mei 2020 pada 01:40
    Permalink

    Sungguh, begitulah pandangan rezim pemerintahan sekuler demokrasi kapitalisme terhadap kedudukan rakyatnya. Meski rakyat dianggap pemilik daulat dan kuasa, tapi faktanya hanya menjadi tumbal bagi kepentingan kolaborasi segelintir orang dari kalangan penguasa-pengusaha.

    Balas
  • 13 Mei 2020 pada 00:47
    Permalink

    Sudah sangat jelas sistem ini sistem rusak dan dzalim, hanya mementingkan keuntungkan tanpa mempedulikan keselamatan manusia…

    Balas
    • 13 Mei 2020 pada 04:57
      Permalink

      Mata sudah terbutakan oleh dunia dan kekuasaan hingga mengorbankan rakyat menjadi tumbalnya

      Balas
  • 12 Mei 2020 pada 22:09
    Permalink

    Rakyay jadi tumbal keganasan sistem kapitalisme. Sudah saat y kita kembali pada Islam yg membawa kebaikan dunia akhirat.

    Balas
    • 13 Mei 2020 pada 13:53
      Permalink

      Sistem Dzalim ini tdk boleh berlama lama….segera tumbangkan

      Balas
    • 13 Mei 2020 pada 07:20
      Permalink

      Astaghfirulloh selalu ada kepentingan tangan2 borjuis yg tujuannya hanya utk memperkaya diri sendiri tanpe memperdulikan rakyat. Hanya daulah solusi nya umat akan di riayah

      Balas
      • 17 Mei 2020 pada 05:56
        Permalink

        Astaghfirullah…
        Begitulah sistem Kapitalisme demokrasi. Hanya akan menguntungkan penguasa dan pengusaha

        Balas
  • 12 Mei 2020 pada 21:53
    Permalink

    Astaghfirullah.. Butuh Khilafah

    Balas
  • 12 Mei 2020 pada 21:53
    Permalink

    Astagfirullah benar -benar kedzoliman secara nyata n sistematis

    Balas
  • 12 Mei 2020 pada 21:03
    Permalink

    Nauzubillah
    Dalam sistem kapitalisme hanya untung dan rugi yg mereka utamakan dan bahayax penguasa2 saat ini rela menjual rakyatnya hanya dgn kepentingan mereka sendiri…

    Balas
    • 13 Mei 2020 pada 08:28
      Permalink

      Miris bgt nasib rakyat di sistem kapitalis

      Balas
  • 12 Mei 2020 pada 20:49
    Permalink

    Rindu sistem islam yg merupakan sistem terbaik

    Balas
    • 12 Mei 2020 pada 21:38
      Permalink

      Rakyat selalu jadi tumbal, dn ditindas terus

      Balas
    • 12 Mei 2020 pada 22:39
      Permalink

      Astaghfirullahal’adziim… Innalillahi Yaa Allah… Segerakan pertolongan mu pada umat yang sedang terdzolomi…

      Balas
    • 12 Mei 2020 pada 22:53
      Permalink

      Indo tak bisa lepas dari ketiak cina. Mental terjajah selamanya akan melekat selama dia gak mau melawan untuk berubah.

      Balas
  • 12 Mei 2020 pada 20:30
    Permalink

    Ngga ada solusi lain selain ganti sistem! #WeNeedKhilafah

    Balas
    • 12 Mei 2020 pada 22:49
      Permalink

      Astaghfirullah…rezim Ruwaibidhah….semoga disegerakan pemimpin Khalifah yg mampu meriah rakyat SBG bentuk tanggung jawab kpda Allah dan Rasulnya,,aamiin

      Balas
  • 12 Mei 2020 pada 20:11
    Permalink

    Rindu kepemimpinan Islam. Rezim kalitalis hanya mementingkan tuannya..

    Balas
  • 12 Mei 2020 pada 20:10
    Permalink

    Betapa jahatnya rezim ini.. ditengah merebak nya covid19, bukannya melakukan lockdown dg menjamin kebutuhan rakyat, malah membuka lebar-lebar pintu utk Aseng masuk Indonesia

    Balas
  • 12 Mei 2020 pada 20:06
    Permalink

    Laa haulaa wa laa quwwata billaah.. Yaa Rabb Hanya Engkau yg pantas membalas kedzholiman para pemimpin negeri ini, Anta Maulaanaa Fanshurnaa ‘alal qawmil kaafiriin

    Balas
    • 13 Mei 2020 pada 20:18
      Permalink

      Buah sistem kapitalis..rindu akan hadirx aturan islam

      Balas
      • 13 Mei 2020 pada 05:38
        Permalink

        Astaghfirullah, penguasa pemerintahan yg menganut sistem kapitalis sekuler
        ini makin menjadi njadi dlm menyesangrakan rakyatnya. Yaa Allah tolonglah kami . Atas izinmu semoga khilafah segera bisa tegak kembali di bumi ini. Aamiin

        Balas
    • 13 Mei 2020 pada 17:10
      Permalink

      Kisah asmara penguasa & pengusaha, korbannya rakyat jelata. Oh dunia. Semoga kisah ini segera berakhir. Diganti dengan kisah kasih sayang penguasa & rakyatnya….

      Balas
  • 12 Mei 2020 pada 19:19
    Permalink

    Ya Allah, Tunjukilah Para Pemimpin Negeri ini untuk menerapkan syariat Islam. Agar hidup berkah dan mendapat Ridho Allah. Aamiin

    Balas
    • 12 Mei 2020 pada 21:40
      Permalink

      Rezim membuka pintu kejatuhannya sendiri.. Dan memang inilah tabiat kapitalisme.. Membawa fasad..

      Balas
    • 12 Mei 2020 pada 21:55
      Permalink

      Astaghfirullah..rakyat akan terus menjadi korban ketika hegemoni kapitalisme masih merongrong negeri ini

      Balas
  • 12 Mei 2020 pada 18:27
    Permalink

    Nyawa rakyat seakan tak berharga

    Balas
  • 12 Mei 2020 pada 18:12
    Permalink

    Astagfirullah… Sakit kali hati ku sama sistem demokrasi kapitalis sekuler ni…
    Tak diragukan lagi memang sudah jelas sekali bahwa mereka lebih kepentingan ekonomi daripada kepentingan rakyatnya Astagfirullah, sungguh dzalim pemimpin sekarang ini dan jelas udah memang sistem Islam yang sempurna yang bisa menyelesaikan semua problematika umat.

    Balas
  • 12 Mei 2020 pada 17:57
    Permalink

    Tidak lama lagi sekuler kapitalis komunis akan runtuh. Dan ideologi islam akan bakit sebentr lgi.

    Balas
  • 12 Mei 2020 pada 17:36
    Permalink

    Semoga semakin pekatnya malam semakin datangnya fajar

    Balas
    • 12 Mei 2020 pada 22:20
      Permalink

      Sudah saatnya diterapkan sistem Islam yg aturannya akan melahirkan cahaya dalam kehidupan bukan kegelapan seperti sistem sekuler saat ini.

      Balas
      • 16 Mei 2020 pada 06:08
        Permalink

        Demi profit dan investasi, rela mengorbankan rakyat sendiri. Ciri khas pemimpin tak bernurani, penghamba kapitalisme sejati.

        Balas
  • 12 Mei 2020 pada 17:16
    Permalink

    Astaghfirullah
    Rakyat menderita di bumi kelahirannya sendiri

    Balas
  • 12 Mei 2020 pada 17:10
    Permalink

    Saatnya kembali terhadap aturan islam yang mengatur semua aspek dan melindungi rakyatnya.

    Balas
  • 12 Mei 2020 pada 16:58
    Permalink

    Ya Allah segerakanlah tegaknya khilafah

    Balas
  • 12 Mei 2020 pada 16:37
    Permalink

    Dalam Islam, rakyat dipandang sebagai amanah yang harus diurus dan dijaga. Hartanya, akalnya, kehormatannya, agamanya, bahkan nyawanya semuanya menjadi tanggung jawab siapa pun yang berani menerima amanah kekuasaan.

    Balas
  • 12 Mei 2020 pada 16:32
    Permalink

    Benar-benar penguasa yang zalim semoga Allah segera menggulingkan kekuasaannya dan menggantikannya dengan tegaknya kembali Khilafah Aamiin..

    Balas
  • 12 Mei 2020 pada 16:23
    Permalink

    Udah khilafah aja…nyesek kondisi umat disistem kapitalisme ini…

    Balas
  • 12 Mei 2020 pada 15:59
    Permalink

    Tidak ada pemerintahan yang layak dan serius mengurusi rakyat kecuali pemerintahan Islam

    Balas
  • 12 Mei 2020 pada 15:58
    Permalink

    Tidak ada pemerintahan yang layak dan serius mengurusi rakyat kecuali pemerintahan Islam

    Balas
  • 12 Mei 2020 pada 15:53
    Permalink

    Karena kita hidup di sistem kapitalis, menghalalkan segala cara

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *