Penanganan Pandemi bukan Soal Teknis Medis Semata, namun Erat dengan Paradigma Kehidupan

Oleh: Dr. Rini Syafri (Doktor Biomedik dan Kebijakan Publik)

MuslimahNews.com, KOMENTAR POLITIK – Kelalaian pemerintah dalam penanganan pandemi Covid-19 (Coronavirus Disease-19) dan komplikasi cacat permanen sistem kehidupan kapitalisme telah berdampak serius. Kapitalisme telah menjadikan kepentingan ekonomi di atas kesehatan dan keselamatan jiwa manusia. Sementara sistem kesehatannya hanyalah industri bisnis yang digerakkan oleh uang.

Adapun kelalaian pemerintah, ini begitu nyata. Tampak dari pelalaian penguncian (lockdown), sedangkan lockdown adalah satu-satunya cara efektif pemutusan rantai wabah. Pemerintah malah mencukupkan dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Kelalaian pemerintah juga begitu nyata dalam penyediaan pelayan kesehatan, baik testing, isolasi yang sakit, dan perawatannya.

Akibatnya, wabah masuk dengan mudah ke wilayah Indonesia melalui kasus impor (imported case). Lalu meluas dengan cepat hingga ke 34 provinsi melalui kasus impor antardaerah dan penularan lokal.

Sedangkan buruknya pelayanan kesehatan telah mewujudkan penular-penular yang sering tidak disadari. Tidak sedikit dokter dan staf medis yang jadi korban, padahal keberadaan mereka sangat dibutuhkan terutama di saat wabah seperti ini.

Adapun PSBB, terbukti tidak efektif sebagai upaya pencegahan. Tampak dari wabah yang semakin meluas dan pelaksanaannya yang berlarut-larut hingga melebihi dua periode masa inkubasi terlama virus.

Belum lagi kelalaian pemerintah dalam menjamin kebutuhan pokok publik, di mana gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) menghantam hampir semua sektor usaha dan bisnis.

Wabah kelaparan pun di depan mata, di tengah buruknya ketahanan pangan dan kelalaian pemerintah mewujudkan kedaulatan pangan selama ini. Padahal sumber daya alam pertanian begitu berlimpah di negeri ini.

Berupa lahan yang subur, iklim tropis yang berlimpah, cahaya matahari, juga curah hujan yang memadai. Tidak kurang pula sumber daya alam genetik, berikut lautan dan perairan yang luas dengan potensi hayati berlimpah khususnya protein. Demikian juga para petani dan ahlinya.

Jelas, kezaliman dan penderitaan masyarakat ini harus segera diakhiri. Baik karena pandemi Covid-19 yang berlarut-larut, maupun akibat pandemi akut yang berpangkal dari kerusakan sistem kehidupan kapitalisme.

Namun, bisakah negeri ini dan dunia terbebas segera dari wabah dan semua keburukan hari ini?

Penanganan pandemi Covid-19 berkaitan langsung dengan kesehatan dan keselamatan jiwa miliaran orang di dunia dan ratusan juta jiwa di negeri ini. Karenanya, harus dilakukan secara efektif, yakni berlangsung di atas prinsip secepatnya dengan zero kesakitan dan kematian.

Ini berarti perkara penanganan pandemi bukanlah persoalan teknis medis semata, tetapi perkara yang berkaitan erat dengan cara pandang terhadap manusia, kesehatan, dan keselamatan jiwanya. Pada tataran inilah kehadiran Islam sangat dibutuhkan.

Sebab, hanya Islam yang memberikan perhatian dan penghargaan tertinggi pada kesehatan dan keselamatan jiwa manusia. Ditegaskan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang artinya:

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR Nasa’i); Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (TQS Al Maidah [5]:3).

Lebih dari pada itu, Islam merupakan din yang sempurna (sistem kehidupan), dan negara (khilafah) adalah bagian darinya. Hal ini menjadikan negara berfungsi secara sehat dan penguasanya hadir dengan karakter kuat sebagai pemelihara urusan rakyat. Termasuk kesehatan dan keselamatan jiwa ketika terjadi wabah.

Sebab, ditegaskan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya.” (HR Muslim dan Ahmad).

Ini di satu aspek, pada aspek lain sistem kehidupan Islam sendiri yang khalifah hadir sebagai pelaksananya, telah didesain Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai pemeliharan kesehatan dan kehidupan insan, bahkan penyejahtera bagi seluruh alam.

Hal ini ditegaskan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya, “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (TQS Al Anbiya’[21]:107).

Sementara itu, kebenaran sains seperti ilmu kedokteran, epidemiologi, ataupun biomedik benar-benar menemukan keharmonisan tertinggi dengan prinsip sahih Islam dalam penanganan wabah.

Ada tiga prinsip Islam dalam penanggulangan wabah sehingga segera berakhir tanpa korban lebih banyak lagi.

Pertama, penguncian areal wabah sesegera mungkin. Ditegaskan Rasulullah saw, “Apabila kalian mendengarkan wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu maka janganlah keluar darinya. (HR Imam Muslim).

Kedua, pengisolasian yang sakit. Sabda Rasulullah saw, “Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menular mendekati yang sehat.” (HR Imam Bukhari).

Sabda Rasulullah saw, “Hindarilah orang yang berpenyakit kusta seperti engkau menghindari singa.” (HR Abu Hurairah).

Ketiga, pengobatan segera hingga sembuh. Bersabada Rasulullah saw, “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan didiadakan-Nya bagi tiap-tiap penyakit obatnya maka berobatlah kamu, tetapi janganlah berobat dengan yang haram.”

Di samping itu, kesehatan adalah kebutuhan pokok publik. Rasulullah saw bersabda, Siapa saja yang ketika memasuki pagi hari mendapati keadaan aman kelompoknya, sehat badannya, memiliki bahan makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah menjadi miliknya.” (HR Bukhari, HR Abu Daud)

Prinsip sahih Islam ini dalam pelaksanaannya didukung sepenuhnya oleh sistem kesehatan Islam yang merupakan resultante (hasil) dari sistem kehidupan Islam. Khususnya, sistem ekonomi dan politik Islam berikut sekumpulan konsep sahihnya.

Sehingga memampukan negara melakukan tindakan penguncian sebagai tindakan paling efektif dalam memutus rantai wabah. Bahkan, mampu menjamin akses setiap orang terhadap tes dan pengobatan gratis berkualitas.

Yakni, ketika fasililitas kesehatan dikelola di atas prinsip sosial dan unit teknis pelaksana fungsi negara, sistem pendidikan sebagai pilar dari fungsi negara yang sehat, politik riset dan industri dilandaskan pada paradigma sahih Islam, sementara pembiayaan berbasis baitulmal dengan anggaran bersifat mutlak.

Seperti keharusan melakukan screening epidemiology, berupa pemeriksaan yang cepat dan akurat terhadap semua orang dengan gejala klinis, semua orang yang berdasarkan contact tracing (penelusuran kontak) berisiko terinfeksi dan sudah terinfeksi namun belum menunjukan gejala (suspect).

Artinya, dalam waktu 12 jam bahkan kurang sudah diketahui siapa yang positif dan negatif. Selanjutnya semua yang positif terinfeksi segera diobati hingga benar-benar sembuh.

Kehadiran Islam, yakni Khilafah, tidak saja sebagai pembebas segera Indonesia dan dunia dari pandemi, namun juga dari semua kerusakan akut akibat komplikasi kelalaian rezim neoliberalisme dan cacat pemanen sistem kapitalisme. Sebagai buah keberkahan yang pasti ketika Islam diterapkan di atas dorongan takwa.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Alquran Surah Al A’raf [7]:96. “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

11 tanggapan untuk “Penanganan Pandemi bukan Soal Teknis Medis Semata, namun Erat dengan Paradigma Kehidupan

  • 8 Mei 2020 pada 11:09
    Permalink

    Aneh nya PSBB Diberlakukan ko covid bertambah terus.dr pemerintah pusat dan daerah tdk sama kebijakannya,inilah wajah buram demokrasi.hanya islamlah dr atas hingga bawah sama krna brsumber dari hukum syara.

    Balas
  • 8 Mei 2020 pada 07:00
    Permalink

    Dg sistem Islam poiblematika umat bisa diselesaikan efektif dan tuntas. Allahu Akbar

    Balas
  • 8 Mei 2020 pada 04:08
    Permalink

    Hanya dengan islam tenaga medis di bantu dan di muliakan.

    Balas
  • 7 Mei 2020 pada 21:14
    Permalink

    MasyaaAllah

    Balas
  • 7 Mei 2020 pada 20:29
    Permalink

    “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS.Al A’raf:96)

    Balas
  • 7 Mei 2020 pada 16:36
    Permalink

    Hanya Islam yang memiliki aturan sempurna dalam menyelesaikan segala problematika umat

    Balas
  • 7 Mei 2020 pada 16:09
    Permalink

    Islam solusi semua masalah manusia

    Balas
  • 7 Mei 2020 pada 14:39
    Permalink

    Tidak adanya dana sehingga pemerintah hanya memcukupkan dng PSBB tanpa harus men loukdown yg nanti pemerintah yg akan menanggung kebutuhan rakyat…padahal dalam islam jelas bgmna menangani wabah ini.hnya sistem islam yg bs menyelesaikan permasalahan ino.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *