Kebijakan “Quantitative Easing” (Menambah Jumlah Uang Beredar) Saat Pandemi, Solusi atau Ironi?

Oleh: Nida Saadah

MuslimahNews.com, ANALISIS – Di saat pandemi Covid-19, sektor pariwisata adalah yang pertama kali ambruk di Indonesia. Berikutnya, yang dikhawatirkan menyusul ambruk adalah sektor transportasi. Mungkin berikutnya bisa jadi disusul sektor-sektor lainnya, sehingga gelombang PHK massal mulai terjadi.

Lantas KADIN meminta pemerintah memberi suntikan Rp1.600 triliun melalui kebijakan “quantitative easing untuk menggerakkan dunia usaha.

Quantitative easing adalah instrumen kebijakan moneter yang dilakukan bank sentral untuk menambah JUB (Jumlah Uang Beredar). Yakni dengan cara BI (Bank Indonesia) membeli surat berharga milik pemerintah dan swasta.

Ketika tersedia banyak kas di bank dan tingkat suku bunga diturunkan, dalam teori ekonomi kapitalis sekuler, masyarakat dan perusahaan banyak yang akan mengambil pinjaman.

Teorinya demikian. Maka, diharapkan konsumsi dan produksi meningkat dengan banyaknya yang mengambil kredit. Namun, ada beberapa yang perlu dicermati, meliputi:

Pertama, kebijakan ini berbasis ribawi, yakni berpola menaik-turunkan suku bunga. Sementara sudah terbukti selama ini tingkat suku bunga inilah yang menjadi beban dalam perekonomian.

Kedua, quantitave easing dilakukan saat ekonomi dalam situasi inflasi, sehingga dikhawatirkan akan makin memperparah keadaan. Berakibat pada makin turunnya daya beli masyarakat.

Ketiga, apakah ada dana pemerintah untuk itu? Sedangkan pekan lalu saja pemerintah malah menerbitkan Global Bond yang terbesar dan terlama sepanjang sejarah Indonesia.

Keempat, kalau resep ini hendak meniru Jepang di tahun 2001 dan Amerika di 2008, maka situasi dunia sekarang tidak sama. Pandemi Covid-19 terjadi secara global dan melumpuhkan satu demi satu berbagai sektor dalam perekonomian.

Situasi ini memerlukan perubahan fundamental.

Merevolusi sistem keuangan negara dengan sistem baitulmal adalah solusi yang ditawarkan syariat Islam. Dengan sistem baitulmal, hibah, atau bantuan pinjaman, tidak perlu berjenjang melewati dua sektor –ke sektor nonriil terlebih dulu lalu ke sektor riil–. Itupun dalam bentuk pinjaman.

Berbeda dengan hal tersebut, dalam sistem baitulmal (sistem keuangan negara berbasis syariah) bantuan bisa langsung diberikan ke yang bersangkutan, melalui penelaahan dalam sistem baitulmal. Mana pihak yang membutuhkan hibah (pemberian), dan mana yang bisa diberikan pinjaman (tentu tanpa bunga).

Pemasukan dalam baitulmal juga sangat besar. Dunia usaha tidak perlu dibebani pungutan pajak apa pun, yang tentu sangat menyulitkan dalam situasi hari ini.

Revolusi keuangan juga perlu dilakukan dalam sistem moneter. Mengganti mata uang berbasis kepercayaan dengan mata uang riil (emas dan perak) adalah jawaban dari tidak stabilnya sistem mata uang hari ini.

Pemakaian emas dan perak sebagai mata uang adalah hal yang realistis. Sebab, emas yang diciptakan Allah tersedia secara cukup untuk seluruh umat manusia. Laju pertumbuhan emas sebesar 1,5-4% per tahun, sedangkan laju pertambahan penduduk secara umum adalah 1,2% per tahun.

Emas memang menjadi tidak cukup digunakan sebagai mata uang jika ada yang menimbunnya. Karena itulah negara Khilafah akan menerapkan hukum sanksi tegas bagi pelakunya.

Dalam sejarah peradaban manusia, sistem mata uang emas tidak pernah mengalami inflasi. Sebagai abstraksi, harga 1 ekor kambing di masa Rasulullah Saw ketika menerapkan sistema mata uang emas dan perak, seharga 1-2 dinar. Sama sebesar harga kambing hari ini jika dikurskan ke satuan dinar. Yakni 1 dinar setara 4,25 gram emas. Harga kambing hari ini yang senilai di atas 2 juta rupiah, jika dihitung dalam satuan dinar akan senilai 1-2 dinar juga.

Artinya, dinar tidak mengalami inflasi, tidak mengalami penurunan nilai mata uang. Ini berdampak pada kualitas hidup masyarakat yang baik karena daya beli masyarakat tidak turun.

Ketersediaan emas sebagai mata uang jika disimulasikan untuk Indonesia kita hitung sebagai berikut:

Per 2019 cadangan devisa negara dalam emas sejumlah 78,5 ton atau setara 56.441 triliun rupiah. Jumlah M1 (uang yang dipakai transaksi) sekitar 1500-1600 triliun rupiah. Adapun M2 (uang dalam bentuk surat berharga dll) sejumlah 5000-6000 triliun rupiah.

Dengan perhitungan tersebut, konversi mata uang bisa dilakukan. Belum lagi jika memasukkan deposit sumber daya emas yang akan ditata ulang kepemilikannya jika diterapkan syariat kafah.

Emas dan perak yang ada di masyarakat juga bisa digunakan sebagai alat transaksi. Terlebih lagi, Islam melarang praktik riba, sehingga penerapan bunga dalam M2 tentu akan dihilangkan.

Melakukan pemberlakuan moneter Islam pun sangat memungkinkan. Namun, yang juga penting diperhatikan, penerapan aturan ekonomi Islam membutuhkan sistem politik yang kompatibel dengannya: Yakni Negara Khilafah.

Karena dengan negara Khilafah, akan diterapkan secara serempak berbagai mekanisme hukum yang berpengaruh pada stabilitas emas dan perak, dan ketersediaan depositnya. Melalui penataan ulang pengelolaan sumber daya alam, memberi sanksi bagi penimbun emas, serta memberi sanksi bagi pelaku riba. Karena hal-hal tadi menimbulkan kegoncangan ekonomi.

Mempraktikkan satu bagian hukum ekonomi Islam –misal menerapkan mata uang emas perak– di luar tatanan negara Khilafah, berbuah kegagalan penerapan.

Seperti yang pernah dilakukan Amerika ketika melanjutkan penerapan mata uang emas pascajatuhnya negara Khilafah Utsmaniyah, namun di saat yang sama Amerika mempraktikkan sistem ekonomi ribawi dan membebaskan penimbunan emas. Sistem mata uang emas yang dilakukan Amerika dengan model seperti itu berbuah kegagalan dalam menjaga stabilitas nilai tukar mata uang.

Sejatinya sistem mata uang emas dan perak hanya kompatibel jika diterapkan dalam sistem negara Khilafah Islam. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

58 tanggapan untuk “Kebijakan “Quantitative Easing” (Menambah Jumlah Uang Beredar) Saat Pandemi, Solusi atau Ironi?

  • 18 Mei 2020 pada 16:10
    Permalink

    Kebijakan “Quantitative Easing” (Menambah Jumlah Uang Beredar) Saat Pandemi, Solusi atau Ironi? = ironi tatanan demokrasi akibatkan diperinflasi yg membuat kehidupan rakyat setengah mati.

    Balas
  • 10 Mei 2020 pada 12:49
    Permalink

    Mohon dijelaskan lagi ustadzah perbandingan ketika ekonomi menggunakan baitulmal akan bisa menjamin beredarnya uang fi masyarakat. Dan justru yang membuat kondisi kita sulit saat ini adalah karena basis peredaran uang dikensalikan oleh sistem perbankan yang ribawa. Sehingga masyarakat faham untuk benar2 meninggalkan sistem perbankan (bukan hanya menghindari riba scara individu) dan menggantinya dengan sistem baitul mal dibawah sistem khilafah.

    Balas
  • 9 Mei 2020 pada 20:19
    Permalink

    Ya allah stiap rezim membuat solusi bukan malah menyelesaikan tapi menambah masalah

    Balas
  • 9 Mei 2020 pada 17:56
    Permalink

    Masya Allah… Hanya kembali ke islam.. Jalan teebaik yang bisa di tempuh

    Balas
  • 9 Mei 2020 pada 16:25
    Permalink

    Dengan islam baru solusi selain islam namanya ironi.

    Balas
  • 8 Mei 2020 pada 22:16
    Permalink

    Selalu memberi ilmu yg mencerdaskan..

    Balas
  • 8 Mei 2020 pada 22:08
    Permalink

    Sungguh dhalim manusia dalam sistem kapitalis

    Balas
  • 8 Mei 2020 pada 22:06
    Permalink

    Solusi yang hanya ilusi untuk kepentingan pribadi

    Balas
  • 8 Mei 2020 pada 20:37
    Permalink

    Back to Islam kaffah,

    Balas
  • 7 Mei 2020 pada 15:03
    Permalink

    Hanya Islam sbg solusi

    Balas
  • 7 Mei 2020 pada 13:55
    Permalink

    Menyelesaikan masalah dengan masalah ini mah…
    Islam sejatinya solusi satu-satunya dalam setiap permasalahan kehidupan manusia di bumi ini. Dengan cara penegakkan Khilafah Rasyidah berdasarkan Manhaj Kenabian

    Balas
  • 7 Mei 2020 pada 11:36
    Permalink

    Kembali ke sistem islam👍🏻

    Balas
  • 7 Mei 2020 pada 09:58
    Permalink

    Sungguh, segala sesuatu uang berasal dari hawa napsu memang akan menimbulkan masalah baru.
    Dan apa2 yang berasal dari pencipta manusia (Allah) pastilah sangat pas untuk manusia.

    Balas
  • 7 Mei 2020 pada 05:34
    Permalink

    Solusi tuntas by dg Islam kaffah

    Balas
  • 6 Mei 2020 pada 23:00
    Permalink

    Hemmmm tinggal tunggu tumbangnya kapitalis n will rise again khilafah

    Balas
  • 6 Mei 2020 pada 22:13
    Permalink

    Kebijakan quantitative easing saat pandemi bukan solusi,tp suatu hal yg ironis.
    #Backtoislamkaffah

    Balas
  • 6 Mei 2020 pada 20:29
    Permalink

    Allahu Akbar

    Balas
  • 6 Mei 2020 pada 20:18
    Permalink

    Islam solusi semua permasalahan hidup manusia

    Balas
  • 6 Mei 2020 pada 15:49
    Permalink

    MasyaaLlah Islam telah mengatur semuanya, sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana

    Balas
  • 6 Mei 2020 pada 12:01
    Permalink

    Tambal sulam kapitalisme..bukan solusi

    Balas
  • 6 Mei 2020 pada 10:34
    Permalink

    Bukan solusi tapi ironi, rezim semakin bringas

    Balas
  • 6 Mei 2020 pada 08:21
    Permalink

    Sistem keuangan negara seharusnya jangan berdasarkan ribawi dan utang. Tetapi harus berdasarkan pada emas atau perak yg sifatnya adalah tetap. Tetapi para kapitalis tidak mau krn hal ini tidak menguntungkan individu mereka

    Balas
  • 6 Mei 2020 pada 06:44
    Permalink

    sistem ekonomi ayariah hanya kompatibel jika dterapkan dalam sistem negara khilafah

    Balas
  • 6 Mei 2020 pada 06:43
    Permalink

    Solusi khas kapitalis, mengatasi masalah dg masalah.
    Saatnya kembali pd Islam

    Balas
  • 6 Mei 2020 pada 06:21
    Permalink

    Sistem ekonomi yg stabil dan solutif hy ada pada Islam….
    #WeNeedKhilafah

    Balas
  • 6 Mei 2020 pada 04:53
    Permalink

    Hanya islam solusi sempurna dari setiap problematika

    Balas
  • 6 Mei 2020 pada 04:53
    Permalink

    Satu-satunya sistem yang sesuai dengan fitrah manusia hanyalah sistem Islam…
    Allahu Akbar!!

    Balas
  • 6 Mei 2020 pada 04:13
    Permalink

    Astagfirullah…. Solusi islam NO KWKWKWKW( KAWE-KAWE) ya guys.
    #Udah ganti sistem aja

    Balas
  • 6 Mei 2020 pada 02:37
    Permalink

    Revolusi keuangan juga perlu dilakukan dalam sistem moneter. Mengganti mata uang berbasis kepercayaan dengan mata uang riil (emas dan perak) adalah jawaban dari tidak stabilnya sistem mata uang hari ini.

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 23:13
    Permalink

    Ya Allah sangat merindukan negara khilafah Islam….Allahu Akbar…

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 22:37
    Permalink

    Hukum terbaik adalah hukum islam

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 21:48
    Permalink

    Padahal keharaman riba sdh jelas ….dan dosanya itu luar biasa…

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 21:43
    Permalink

    Rindu penerapan syari’ah kaffah

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 21:40
    Permalink

    Perekonomian, jika di atur menggunakan sistem Demokrasi akan hancur
    We need khilafah

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 21:39
    Permalink

    Hanya islam yang dapat memberi solusi tuntas atas segala problematika.

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 21:05
    Permalink

    Khilafah semoga cepat bangkit..

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 20:29
    Permalink

    Selama kebijakan hanya memikirkan kemanfaatan, maka yang akan didapat bukan kemaslahatan.. Saatnya Islam menggantikan Kapitalisme.

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 20:22
    Permalink

    Benar2 ironi… Hm… Di sistem kapitalis, solusi yang berikan malah tidak solutif.

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 20:09
    Permalink

    Betapa kejinya sistem kapitalisme ini😠. Marilah kita kembali kepada sistem rahmatan Lil aalamiin… Sistem Islam…

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 18:58
    Permalink

    جزاك الله خيرا أستاذة

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 18:51
    Permalink

    Lagi2 riba gk menyelesaikan masalah

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 18:41
    Permalink

    Sistem Kapitalis mengatasi masalah dg menambah masalah baru.
    Islam solusi tuntas problematika umat

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 18:36
    Permalink

    Penerapan negara khilafah

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 18:04
    Permalink

    Ma syaa Allah, bener2 syariat-Nya yg terbaik

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 17:49
    Permalink

    Menyelesaikan masalah dengan mencoptakan masalah baru sdh mnjadi trrn rezim saat ini dlm mengambil kputusan.dan pd akhirnya rakyat yg sllu di korbankan.
    #gantiRezimGantiSistem

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 17:49
    Permalink

    Sistem kapitalis sistem yang cacat sejak kelahirannya

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 17:45
    Permalink

    Rezim semakin mempercepat keruntuhannya sendiri. Khilafah segera datang.. Allahu Akbar ✨

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 17:42
    Permalink

    Masyaallah semakin Rindu dengan khilafah

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *