Pandemi Covid-19 dan Kehadiran Peradaban Baru

(Komplikasi Kelalaian Rezim dan Cacat Permanen Kapitalisme, serta Kebutuhan pada Khilafah)

Oleh: Dr. Rini Syafri (Doktor Biomedik dan Pengamat Kebijakan Publik)

MuslimahNews.com, ANALISIS – Kapitalisme dengan rezimnya yang berkuasa semakin tampak lelah dan renta. Dunia juga Indonesia pun berharap pandemi Covid-19 (Coronavirus Disease-19) segera berakhir.

Namun itu akan sulit terwujud dalam waktu dekat, selama penyebabnya masih berlangsung. Yakni, komplikasi kelalaian rezim dalam penanganan wabah dan cacat permanen peradaban kapitalisme.

Karena bagi kapitalisme kepentingan ekonomi di atas segalanya, bahkan terhadap kesehatan dan keselamatan nyawa manusia sekalipun. Sementara, sistem kesehatannya tidak lebih dari industri bisnis yang digerakkan oleh uang.

Di Indonesia, tampak dari diabaikannya penguncian areal wabah (lockdown). Padahal ia satu-satunya upaya pencegahan yang efektif/ampuh. Sebaliknya, wilayah Indonesia justru dibiarkan terbuka, sehingga wabah masuk dengan mudah melalui kasus impor (imported case).

Hal ini diperparah kelalaian menyediakan pelayanan kesehatan yang baik untuk tes, isolasi, maupun perawatan. Akibatnya, wabah meluas dengan cepat melalui kasus impor antardaerah dan transmisi lokal. Pencegahan melalui Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) terbukti tidak ampuh.

Semua itu dibayar mahal dengan penderitaan masyarakat. Berupa tekanan sosial-ekonomi yang sangat memberatkan, karena pemerintah juga lalai menjamin pemenuhan kebutuhan dasar.

Bersamaan dengan itu, wabah meluas dengan cepat bagaikan kobaran api, hingga ke areal 34 provinsi. Puluhan ribu jiwa terinfeksi dan ribuan diantaranya terbunuh. Sementara ratusan juta jiwa lain dalam ancaman kuman SARS-Cov-2 yang mematikan.

Dinyatakan pada laman covid19.go.id, “Per 2 Mei 2020 ada 10.843 kasus yang terkonfirmasi positif covid-19, ada 831 di antaranya meninggal[1], dan meninggal dalam gejala lebih dari 2200.[2] Menurut para ahli ini adalah fenomena gunung es, sehingga angka yang sesungguhnya jauh lebih besar.

Akibat Rezim Abaikan Penguncian dan Dominasi Ekonomi

Pengabaian penguncian areal wabah, jelas tindakan pemerintah yang sangat berbahaya. Sebab, faktanya bagaimanapun penguncian areal asal wabah (China, episentrum pertama) adalah cara paling efektif.

Terutama karena SARS-Cov-2 (Severe Acute Respiratory SyndromeCoronaVirus-2) adalah kuman baru yang masih diteliti karakteristik klinisnya. Sementara waktu yang tersedia lebih dari cukup.

Yakni, dari akhir Desember 2019, hingga awal Januari 2020. Juga, sudah diketahui bahwa sifat penularannya antar manusia, sehingga semestinya membuat pemerintah melakukan tindakan penguncian segera.

Benar saja, pengabaian penguncian meski dilakukan pengujian dan pemeriksaan di bandara, tetap tidak mampu mencegah wabah masuk. Karena dalam kondisi belum ada gejala atau gejala ringan tidak terdeteksi thermal scanner. Sementara contact tracing (penelusuran kontak) juga sulit dilakukan[3]. Dan, juga terjadi perubahan masa inkubasi yang lebih lama[4].

Padahal, semua orang yang berasal dari areal wabah berpeluang sebagai sumber wabah/penular. Baik yang sudah terinfeksi tanpa gejala, maupun yang dengan gejala. Akibatnya, kasus impor mengawali wabah di negeri ini[5] dan mendominasi pada awalnya3. Ironisnya, pengabaian itu terus berlanjut hingga kini, meski sudah terbukti bahayanya.

Sebagai pelajaran, pada Januari 2020, pada hal wabah mulai meluas dari Wuhan – China ke berbagai penjuru dunia, warga negara asing masih leluasa berlalu lalang masuk wilayah Indonesia, bahkan angkanya jutaan.

Hal ini sebagaimana dipaparkan Yasonna-Menkum HAM, “’Data perlintasan pada bulan Januari 2020 Pak Ketua, dari 10 terbesar warga negara asing yang masuk ke Indonesia, yang pertama itu adalah RRT China sebesar 188 ribu, diikuti Australia 120 ribu, Singapore 130 ribu, Malaysia, India, Jepang, korea Selatan, Amerika Serikat, Inggris, Rusia 772 ribu orang’.”

Pada Maret 2020, “’Yang masuk terbesar justru Australia, Malaysia, Singapura, Jepang, India, Inggris, Amerika serikat, Rusia, Jerman. Tetapi jumlahnya dalam angka yang lebih kecil’”[6]

Alasan ekonomi sebagai penyebabnya, dapat dilihat dari keberadaan WNA tersebut sebagai wisma (wisatawan mancanegara)[7], yang sektor wisata sendiri menjadi sektor bisnis penting pemerintah.

Sangat terlambat, pelarangan kedatangan WNA khususnya dari pusat wabah baru dilakukan akhir Maret, melalui Permenkum HAM Nomor 11 Tahun 2020 tentang Pelarangan Sementara orang Asing Masuk Wilayah Negara Republik Indonesia[8].

Meski demikian, dengan alasan kepentingan ekonomi dan bisnis, izin masih diberikan. Seperti tampak pada Peraturan Menteri Perhubungan No 25 Th 2020 Tentang Pengendalian Transportasi Selama Musim Mudik Idul Fitri 1441 H dalam rangka Pencegahan Penyebaran Covid-19[9]. Dalam Pasal 20 Ayat 1 disebutkan ada pengecualian termasuk bagi pebisnis.[10]

Pengecualian lain, izin khusus repatriasi[11], bila ditelaah juga tidak ada hubungan langsung dengan kemaslahatan masyarakat dan agar wabah segera berakhir. Juga, masuknya gelombang Tenaga Kerja Asing (TKA), tentu tidak lepas dari alasan bisnis. Akibatnya, imported case terus berlangsung.[12]

Tidak hanya lalai terhadap penguncian wabah dari luar negeri, tetapi juga lalai dalam penguncian areal wabah di dalam negeri. Sehingga, wabah meluas dengan cepat melalui kasus impor antar daerah.

Yakni dari Jakarta sebagai episentrum-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi ke berbagai wilayah di Indonesia, bagaikan api membakar rerumputan kering. Seperti Ponorogo[13], Riau[14], Jogjakarta,[15] Sumbar,[16] dan ke berbagai daerah lain.

Fakta ini, yakni wabah masuk dengan mudah melalui kasus impor antar negara dan meluas dengan mudah dan cepat melalui kasus impor dalam negeri, sekaligus membuktikan kebijakan PSBB tidak ampuh.

Karenanya, meski pelaksanaannya yang telah memakan waktu lebih dari dua periode masa inkubasi terlama virus, namun belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Bahkan wabah semakin meluas dan mengganas, yang tampak dari semakin banyak daerah yang melaksanakan PSBB.

Kelalaian demi kelalaian itu dilakukan rezim karena dominasi ekonomi, sebagaimana ditegaskan Presiden Jokowi sendiri. Dimuat pada laman kompas.com, saat menjelaskan alasannya mengapa tidak menjalankan kebijakan penguncian wilayah atau lockdown, “Kita ingin tetap aktivitas ekonomi ada, tapi masyarakat kita semua harus jaga jarak aman, social distancing, physical distancing itu yang paling penting.[17]

Akibat Lalai Menjamin Pelayanan Kesehatan dan Dominasi Industri Bisnis Sistem Kesehatan

Kelalaian rezim yang tak kalah serius adalah dalam menjamin akses setiap orang terhadap pelayanan kesehatan berkualitas secara gratis. Tarif bagi pasien Covid-19 dibanderol pemerintah hingga puluhan juta rupiah[18].

Sementara itu, meski ditanggung pemerintah, namun sistem kesehatan kapitalis yang menjadi pembiayaan kesehatan berbasis bisnis asuransi, dalam hal ini asuransi wajib – BPJS Kesehatan[19], telah menghalangi masyarakat mendapatkan haknya.

Diperburuk oleh keberadaan fasilitas kesehatan, meski milik pemerintah, sebagai komponen industri (bisnis). Sehingga, tunggakan pemerintah terhadap ratusan rumah sakit[20], jelas semakin memperburuk keadaan.

Dalam hal ketersediaan fasilitas kesehatan dengan segala kelengkapan yang dibutuhkan, tetap saja minim[21]. Upaya tambal sulam berupa pembangunan rumah sakit darurat dan rumah sakit khusus Covid-19 di Pulau Galang tetap tidak menyelesaikan masalah.

Demikian pula pemberian izin kepada sejumlah laboratorium untuk melakukan pemeriksaan[22]. Seiring peningkatan kasus covid – 19 yang bersifat eksponensial. Ditambah lagi tekanan mafia impor sehingga rumah sakit kesulitan memperoleh alat kesehatan dan obat yang begitu dibutuhkan, seperti kit PCR, ventilator, APD, dan obat-obatan. Kalaupun ada, harus bersaing[23].

Akibatnya, cakupan pemeriksaan spesimen selain rendah juga sangat lambat. Sehingga banyak rumah sakit memulangkan pasien positif Covid-19 meski dalam perawatan di ruang isolasi[24]. Bahkan, banyak yang tidak mendapat perawatan sama sekali[25].

Hal ini tidak saja mengancam kesehatan dan membahayakan keselamatan jiwa penderita, tapi juga jutaan jiwa yang sehat karena dibiarkan menjadi sumber penularan.

Hal ini diperparah oleh rantai penularan dari pasien dalam pengawasan (PDP), sebagaimana diberitakan pada sejumlah laman media[26],[27],[28], sementara jumlahnya puluhan ribu. Per 26 April 2020 ada 19.648[29].

Sebab, mereka harus segera diisolasi dan diberi perawatan sesuai pedoman yang dikeluarkan Kemenkes[30], namun tidak demikian faktanya, sehingga banyak yang meninggal dunia[31].

Hal ini juga tidak lepas dari lambatnya pengujian dan keterbatasan fasilitas kesehatan[32]. Ini belum lagi penularan oleh orang dalam pengawasan (ODP) yang terus terjadi[33], akibat isolasi mandiri yang gagal. Sementara jumlahnya ada ratusan ribu.

Mudah disaksikan, puluhan juta orang dalam ancaman kuman mematikan, sekaligus berpotensi menularkan. Dan, dokter serta staf medis adalah yang paling beresiko pada kondisi ini. Puluhan dokter dan staf medis terinfeksi dan banyak diantaranya yang terbunuh. Sementara peran mereka begitu penting dalam keberhasilan penangan wabah, khususnya untuk pemeriksaan dan perawatan.

Kebijakan PSBB yang terus memakan korban dan menuntut aktivitas screening dan pengobatan yang lebih banyak lagi, pada akhirnya hanyalah menjadi pelumas bagi bisnis industrialisasi pelayanan kesehatan. Para korporasi adalah pihak yang paling diuntungkan. Diberitakan pada laman biopharmadive.com bahwa perusahan farmasi raksa dunia telah mengalami kenaikan keuntungan pada kuartal pertama. Yakni, Johnson & Johnson 1%, Eli Lilly $ 250 juta, Sanofi sekitar $ 280 juta, Novartis $ 400 juta, Pfizer $ 150 juta, Merck&Co dan Roche.[34]

Inilah fasad, akibat komplikasi kelalaian rezim neolib dan cacat permanen kapitalisme. Karenanya, agar pandemi segera berakhir, mengakhiri komplikasi ini, dan keberadaan peradaban kapitalisme itu sendiri mutlak harus dilakukan, Allah Subhanahu Wata’ala menegaskan, yang artinya, “Telah nyata kerusakan di darat dan lautan akibat perbuatan tangah manusia, supaya mereka merasakan sebagian dari akibatnya agar mereka kembali.” (TQS [30]: 41).

Pandemi Berakhir Berkah pun Hadir

Penanganan pandemi COVID-19 berkaitan langsung dengan kesehatan dan keselamatan jiwa miliaran orang di dunia, dan ratusan juta jiwa di negeri ini. Karenanya, harus dilakukan secara efektif. Yakni, berlangsung di atas prinsip secepatnya dengan zero kesakitan dan kematian. Ini berarti perkara penanganan pandemi bukanlah persoalan teknis medis semata, tetapi perkara yang berkaitan erat dengan cara pandang terhadap manusia, kesehatan dan keselamatan jiwanya. Pada tataran inilah kehadiran peradaban Islam sangat dibutuhkan.

Sebab, hanya Islam yang memberikan perhatian dan penghargaan tertinggi pada kesehatan dan keselamatan jiwa manusia, melebihi aspek apapun termasuk ekonomi. Sebagaimana ditegaskan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang artinya, “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.”(HR Nasa’i); Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya, “Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya,” (TQS Al Maidah [5]:3).

Lebih dari pada itu, Islam merupakan din yang sempurna (sistem kehidupan), dan negara (khilafah) adalah bagian darinya. Hal ini menjadikan negara berfungsi secara sehat dan penguasanya hadir dengan karakter yang kuat sebagai pemelihara urusan rakyat. Termasuk kesehatan dan keselamatan jiwa ketika terjadi wabah.

Sebab, ditegaskan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang artinya, “Imam/ Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya.” (HR Muslim dan Ahmad).

Ada tiga prinsip Islam dalam penanggulangan wabah sehingga segera berakhir tanpa korban lebih banyak lagi.

Pertama, penguncian areal wabah sesegera mungkin. Ditegaskan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Apabila kalian mendengarkan wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu, dan apa bila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu maka janganlah keluar darinya.” (HR Imam Muslim).

Kedua, pengisolasian yang sakit. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menular mendekati yang sehat.” (HR Imam Bukhari). Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Hindarilah orang yang berpenyakit kusta seperti engkau menghindari singa.” (HR Abu Hurairah).

Ketiga, pengobatan segera hingga sembuh. Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang artinya, “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan diadakan-Nya bagi tiap-tiap penyakit obatnya maka berobatlah kamu, tetapi janganlah berobat dengan yang haram.”

Di samping itu, kesehatan adalah kebutuhan pokok publik. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda yang artinya, “Siapa saja yang ketika memasuki pagi hari mendapati keadaan aman kelompoknya, sehat badannya, memiliki bahan makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah menjadi miliknya.” (HR Bukhari) (HR Abu Daud)

Prinsip sahih Islam ini dalam pelaksanaannya didukung sepenuhnya oleh sistem kesehatan Islam yang merupakan resultant (hasil) dari sistem kehidupan Islam. Khususnya sistem ekonomi dan politik Islam berikut sekumpulan konsep sahihnya.

Sehingga memampukan negara melakukan tindakan penguncian sebagai tindakan paling efektif dalam memutus rantai wabah. Bahkan, mampu menjamin akses setiap orang terhadap tes dan pengobatan gratis berkualitas.

Yakni ketika fasilitas kesehatan dikelola di atas prinsip sosial dan unit teknis pelaksana fungsi negara, sistem pendidikan sebagai pilar dari fungsi negara yang sehat, politik riset, dan industri dilandaskan pada paradigma sahih Islam, sementara pembiayaan berbasis baitulmal dengan anggaran bersifat mutlak.

Seperti keharusan melakukan screening epidemiology. Berupa pemeriksaan yang cepat dan akurat terhadap semua orang dengan gejala klinis, semua orang yang berdasarkan contact tracing (penelusuran kontak) berisiko terinfeksi dan sudah terinfeksi namun belum menunjukkan gejala (suspect).

Artinya, dalam waktu 12 jam bahkan kurang sudah diketahui siapa yang positif dan negatif. Selanjutnya semua yang positif terinfeksi segera diobati hingga benar-benar sembuh.

Ketiga prinsip ini hanya akan mendapat ruang pelaksanaannya dalam sistem kehidupan Islam, yang telah didesain Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai pemeliharaan kesehatan dan kehidupan insan, bahkan penyejahtera bagi seluruh alam.

Hal ini ditegaskan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya, yang artinya, “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (TQS Al Anbiya’[21]:107). [MNews]

Karenanya, kehadiran Islam sebagai peradaban baru adalah kebutuhan mendesak bagi Indonesia dan dunia hari ini. Tidak hanya sebagai pembebas dari pandemi, namun juga dari semua kerusakan akibat komplikasi akut kelalaian rezim neoliberalisme dan cacat pemanen sistem kapitalisme. Sebagai keberkahan yang pasti ketika Islam diterapkan secara kafah di atas dorongan takwa.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Alquran Surah Al A’raf [7]:96. “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” Allahu A’lam. [MNews]

[1] https://www.covid19.go.id/

[2] https://www.reuters.com/article/us-health-coronavirus-indonesia-casualti-idUUSKCN22A04N.

[3] https://nasional.kompas.com/read/2020/03/12/08091431/kasus-covid-19-terus-bertambah-sulitnya-deteksi-di-bandara-dan-tracing?page=all#page3

[4] https://www.cnbcindonesia.com/news/20200304200634-4-1425-67/kebobolan-kemenkes-akui-virus-corona-tak-terdeteksi–masuk-ri

[5] https://nasional.kompas.com/read/2020/04/13/21145001/pakar-epidemiologi-ragukan-dugaan-wn-jepang-tularkan-covid-19-ke-kasus/page=?

[6] https://m.detik.com/news/berita/d-4960981/menkum-ham-beberkan-data-keluar-masuk-wna-ke-indonesia-selama-wabah-corona?single=1

[7] https://m.liputan6.com/bisnis/read/4191791/dampak-corona-belum-terlihat-jumlah-wisman-di-januari-2020-capai-127-juta-orang.

[8] https://m.detik.com/news/berita/d-4961147/menkum-ham-jelaskan-kedatangan-49-tka-china-di-kendari.

[9] http://jdih.dephub.go.id/index.php/produk-hukum/view/VUUwZ01qVWdWRUZJVIU0Z01qQXINQT09.

[10]https://katadata.co.id/berita/2020/04/28/grup-lion-air-terbang-lagi-dengan-izin-khusus-per-3-mei-ini-syaratnya. Corporate Communication Strategic Lion Air Grup, “Untuk melayani pebisnis, bukan dalam rangka mudik”.

[11] https://m.detik.com/travel/travel-news/d-4994999/ini-alasan-penerbangan-internasional–masih-diperbolehkan-di-langit-ri.

[12] https://m.liputan6.com/regional/read/4230712/pilot-maskapai-asing-positif-corona-covid-19-terdeteksi-di-bali

[13]https://ponorogo.go.id/2020/04/24/pasien-covid-19-ponorogo-bertambah-satu-tertular-di-jakarta

[14] https://sumbar.antaranews.com/berita/345594/satu-positif-corona-di-riau-karena-tertular-di-jakarta.

[15] https://m.solopos.com/tertular-di-jakarta-4-tenaga-medis-rsup-dr-sardjito-jogja-positif-covid-19-1057326

[16] https://m.cnnindonesia.com/nasional/20200426202230-20-497446/kasus-virus-corona-di-sumbar-didominasi-penularan-lokal. Kasus impor dari Malaysia; “Induk transmisi lokal…tertular dari narasumber Jakarta.”

[17] https://amp.kompas.com/nasional/read/2020/04/02/05405561/jokowi-akhirnya-blak-blakan-soal-alasan-tak-mau-lockdown

[18] https://amp.kontan.co.id/news/mau-tahu-biaya-perawatan-pasien-covid-19-simak-yuk.

[19] https://amp.kompas.com/nasional/read/2020/03/23/20200031/pemerintah-akan-tanggung-biaya-pasien–covid-19-lewat-bpjs-kesehatan

[20] https://m.cnnindonesia.com/ekonomi/20200421134821-78-495669/mhki-pemerintah-belum-bayar-biaya-tagihan-rs-pasien-corona.

[21]https://m.cnnindonesia.com/nasional/20200328193450-20-487867/persi-rs-daerah-kaget-hadapi-lonjakan-pasien-corona

[22] http://amp.kompas.com/megapolitan/read/2020/0317/19353761/kemenkes-tetapkan-lab-ini-untuk-periksa-spesimen-covid-19.

[23] https//m.cnnindonesia.com/ekonomi/20200419112701-92-494951/asosiasi-rs-respon-tudingan-erick-thohir-soal-mafia-alkes.

[24] https://regional.kompas.com/read/2020/04/22/17102461/hasil-swab-tak-kunjung-keluar-pasien-positif-covid-19-dipulangkan-rumah?page=all#page3.

[25] https://regional.kompas.com/read/2020/04/21/13150031/rumah-sakit-penuh-buruh-panggul-pasar-positif-corona-di-bali-isolasi-mandiri?page=1

[26] https://amp.kompas.com/regional/read/2020/04/25/12130071/bocah-7-tahun-positif-corona-dan-sang-ibu-berstatus-pdp-tertular-ayah-yang.

[27] https://www.tintahijau.com/megapolitan/peristiwa/19976-tertular-dari-pdp,-perawat-rsud-di-cirebon-asal-majalengka-positif-covid-19.

[28] https://amp.kompas.com/regional/read/2020/04/25/12130071/bocah-7-tahun-positif-corona-dan-sang-ibu-berstatus-pdp-tertular-ayah-yang.

[29] https://m.detik.com/news/berita/d-4991895/data-corona-di-indonesia–26-april-pdp-19648-orang-odp-209040

[30] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Coronavirus Disease (Covid-19). Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Februari 2020.pdf. Diakses dari https://www.persi.or.id Senin, 27 April 2020.

[31] https://banten.suara.com./read/2020/04.13/160446/hasil-rapid-test-negatif-4-pdp-corona-meninggal-dalam-waktu-sepekan

[32] https://detiknews.com/news/berita/d-4985982/idi-rekomendasikan-pdp-diperlakukan-seperti-positif-covid-19

[33] https://m.ccindonesia.com/nasional/20200403144254-20-490045/rk-ke-maruf-ada-lansia-corona-tertular-anaknya-dari-jakarta.

[34] https://www.biopharmadive.com/news/pharma-covid-19business-earnings/576907

Bagaimana menurut Anda?

56 tanggapan untuk “Pandemi Covid-19 dan Kehadiran Peradaban Baru

  • 1 Juni 2020 pada 20:44
    Permalink

    Pesan dibalik pandemi peradaban selain islam nyata tlh gagal menanggulangi wabah.
    Peradaban islam satu”nya harapan dlm mengatasi segala keadaan

    Balas
  • 17 Mei 2020 pada 20:10
    Permalink

    KHILAFAH adalah peradaban yg diharapkan umat utk hidup yg lebih sejahtera dunia-akhirat

    Balas
  • 10 Mei 2020 pada 16:24
    Permalink

    Tegakkan khilafah

    Balas
  • 9 Mei 2020 pada 23:13
    Permalink

    Komplikasi akibat kelalaian rezim neolib ini harus segera diakhiri dengan mengganti sistem yg ada dgn sistem Islam yg mulia.

    Balas
  • 9 Mei 2020 pada 20:17
    Permalink

    Masya allah semoga allah menyegerakan peradaban baru yak ni adanya khilafah

    Balas
  • 9 Mei 2020 pada 17:53
    Permalink

    Insya Allah, kemenangan islam di depan mata

    Balas
  • 9 Mei 2020 pada 15:27
    Permalink

    Bahasa komplikasi, bahasa intelek banget yaah

    Balas
  • 7 Mei 2020 pada 00:02
    Permalink

    Ketika kesombongan atas kecerdasan diri meluhuri keMahaSempurnaan Allah swt, Rabb yang tahu apa yg terbaik utk alam, manusia, kehidupan…maka inilah yang sedang terjadi.

    Meminggirkan hukum Illahi dalam mengatasi pandemi, berbuntut problem dimensional.

    Tidakkah para penguasa negeri muslim, di bulan suci ini, terketuk utk melirik hukum syar’i ?

    Balas
  • 6 Mei 2020 pada 19:44
    Permalink

    Kapitalis membuat rakyat menangis sungguh miris….

    Balas
  • 6 Mei 2020 pada 07:48
    Permalink

    Sudah saatnya sistem yg rentan n rapuh ini diganti dg yg kokoh n kuat yaitu islam dh khilafahnya

    Balas
  • 6 Mei 2020 pada 06:45
    Permalink

    Saatnya meninggalkan sistem bobrok kapitalisme dan berganti sistem Islam

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 17:27
    Permalink

    masyaallah islam adalah solusi pling tepat

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 15:40
    Permalink

    Semua nya disebabkan negara ditopang olrg utang. Dan negara tdk punya apa2 krn semua masuk ketangan individu atau golongan bukan utk rakyatnya

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 15:37
    Permalink

    Umat bituh khilafah

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 14:46
    Permalink

    Kami butuh Khilafah ya Allah

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 10:00
    Permalink

    Keberkahan akan datang jika diterapkan Islam kaffah

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 08:25
    Permalink

    Allahu Akbar…Islam Best…

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 06:51
    Permalink

    Hanya Islam yang sangat menghargai kesehatan dan keselamatan jiwa manusia

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 06:24
    Permalink

    Astaghfirullahh ,sangat bobrok pemerintah skrng bahkan keadilan pun sangat sulit kita dpatkan.
    We Need khilafah,yg menylesaikan masalah tanpa masalah!!!

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 05:37
    Permalink

    Mashaa Allah, hanya Islam solusi

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 00:16
    Permalink

    Khilafah rasyidah yg dinanti…moga segera hadir kembali

    Balas
  • 5 Mei 2020 pada 00:10
    Permalink

    sungguh Islam aturan yg sempurna, yg mengatur sgl urusan shg menyelesaikan berbagai permasalahan dgn tuntas.

    Balas
  • 4 Mei 2020 pada 23:30
    Permalink

    Khilafah yang dinanti, segera tegak kembali, dan Kapitalis semakin menunjukkan kelemahannya.

    Balas
  • 4 Mei 2020 pada 22:30
    Permalink

    Hikmah dibalik Covid 19, tumbangnya kapitalis berganti @KhilafahJanjiAllah

    Balas
  • 4 Mei 2020 pada 22:27
    Permalink

    Berharap bisa menyaksikan tegaknya Khilafah. Aamiin…

    Balas
  • 4 Mei 2020 pada 20:28
    Permalink

    Islam memberikan solusi yang solutif, telah mencontohkan Rosul dan para sahabat dalam penanganan wabah, tinggal kita terapkan aja

    Balas
  • 4 Mei 2020 pada 20:22
    Permalink

    Semoga Allah berikan kekuasaan pada pemimpin yang soleh agar dunia kembali normal dan manusiawi

    Balas
  • 4 Mei 2020 pada 19:55
    Permalink

    Semoga semua kembali normal, dan khilafah terbit kembali Allahhu Akbar

    Balas
  • 4 Mei 2020 pada 18:48
    Permalink

    Masya Allah Islam sungguh solusi hakiki…
    #RinduIslamditerapkan

    Balas
  • 4 Mei 2020 pada 18:36
    Permalink

    Semoga pandemi ini cepat berakhir dan muncullah peradaban islam yakni Khilafah islamiyah , Allahu Akbar

    Balas
  • 4 Mei 2020 pada 18:35
    Permalink

    Semoga pandemi ini cepat berakhir dan muncullah peradaban islam yakni Khilafah islamiyah

    Balas
  • 4 Mei 2020 pada 18:30
    Permalink

    Yuk pelajari kehadiran peradaban baru yang akan jadi pembebas dari masalah dunia yang udah lama membelenggu

    Balas
  • 4 Mei 2020 pada 18:04
    Permalink

    Smoga dibalik pandemi ada hikmah dibalik musibah…. Smoga kejayaan islam segera terwujud… Aamiin

    Balas
  • 4 Mei 2020 pada 17:29
    Permalink

    masyaAllah.. Allahuakbar..

    Balas
  • 4 Mei 2020 pada 17:24
    Permalink

    Kapitalisme melahirkan kesulitan demi kesulitan….sudah saatnya kembali pada Islam…pada peradaban yang mulia

    Balas
  • 4 Mei 2020 pada 17:23
    Permalink

    MaasyaaAllah, insyaaAllah Khilafah akan segera tegak di bumi Allah ini

    Balas
  • 4 Mei 2020 pada 17:17
    Permalink

    Kapitalisme sudah tak sanggup menanggulah corona ya udh roboh aja

    Ada *KHILAFAH Sudah siap utk mengantiMu yg siap melayani umat seprti yg dicontohkan umar

    Balas
  • 4 Mei 2020 pada 16:58
    Permalink

    Smg peradaban Islam segera bisa memimpin dunia lagi

    Balas
  • 4 Mei 2020 pada 15:59
    Permalink

    Ya Allah… Sungguh saya merindukan kekhilafahan Rasyidah, khilafah ala min Hanjin nubuwwah

    Balas
  • 4 Mei 2020 pada 15:45
    Permalink

    Kehadiran Islam sebagai peradaban baru adalah kebutuhan mendesak bagi Indonesia dan dunia hari ini. Tidak hanya sebagai pembebas dari pandemi, namun juga dari semua kerusakan akibat komplikasi akut kelalaian rezim neoliberalisme dan cacat pemanen sistem kapitalisme. Sebagai keberkahan yang pasti ketika Islam diterapkan secara kafah di atas dorongan takwa.

    Balas
  • 4 Mei 2020 pada 15:41
    Permalink

    Jelas beda penanganan sistem kapitalis dengan islam..

    Balas
  • 4 Mei 2020 pada 15:37
    Permalink

    Harapan umat akan brakhirnya wabah covid-19 sptnya sulit terwujud dlm waktu dekat, sebab penyebab utamanya msh ttp ada yaitu komplikasi kelalaian rezim dlm penanganan wabah serta cacat bawaan peradaban kapitalisme yang diterapkan saat ini.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *