Qadha Puasa

Oleh: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com – Bulan Ramadan memang bulan istimewa yang diturunkan kepada umat Islam, di dalamnya diwajibkan kepada kita berpuasa selama sebulan penuh, ditambah dengan dilipatgandakan pahala jika kita melakukan amal saleh.

Teristimewa lagi, ketika seorang muslim memiliki uzur syar’i yang menghalanginya berpuasa, maka Allah memberikan keringanan, kemudian memerintahkannya untuk menggantinya di hari-hari yang lain selain bulan Ramadan.

Inilah yang disebut Qadha puasa.

Allah SWT berfirman, yang artinya: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (TQS Al-Baqarah 184)

Dari ayat ini telah jelas bagi kita, bahwa ada orang-orang yang diizinkan oleh syara’ untuk tidak berpuasa di bulan Ramadan karena ada uzur, tetapi mereka diperintahkan untuk mengganti puasa (qadha puasa) di hari-hari yang lain.

Mereka itu adalah:

(1). Orang sakit yang masih memungkinkan untuk sembuh

فمنْ كان منْكمْ مريْضا أوْ على سفر فعدّة منْ أيام أخر

 ” Maka siapa saja di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan, maka (wajib atas mereka berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain” (Al-Baqarah: 184)

(2). Orang Musafir atau dalam perjalanan yang bisa membahayakan dirinya jika berpuasa

Orang yang pergi atau melakukan perjalanan (musafir) dengan meninggalkan rumahnya dan kampung halamannya diberikan kelonggaran atau kemudahan (rukhshah) dalam mengerjakan berpuasa pada bulan Ramadan.

Orang yang sedang musafir di bulan Ramadan, dibenarkan meninggalkan puasanya, akan tetapi diwajibkan meng-qadha-nya pada waktu yang lain.

فمنْ كان منْكمْ مريْضا أوْ على سفر فعدّة منْ أيام أخر

“Maka siapa saja di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan, maka (wajiblah atas mereka berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain”

هِيَ رُخْصَةٌ مِنْ اللَّهِ فَمَنْ أَخَذَ بِهَا فَحَسَنٌ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَصُومَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ. (رواه مسلم)

Dari Hamzah bin Amru al-Aslami r.a., bahwa ia ada bertanya, (katanya), “Ya Rasulullah, saya rasa, saya tahan berpuasa dalam masa musafir, oleh itu adakah saya bersalah (kalau saya berpuasa)?” Rasulullah s.a.w. menjawab, “Itu adalah satu rukhsah (kemudahan) dari Allah Taala, barangsiapa menggunakan kemudahan itu (lalu ia tidak berpuasa dalam masa musafir), maka itu adalah baik, dan barangsiapa suka hendak berpuasa maka orang itu tidak dikira bersalah.”

(3). Perempuan yang haid dan nifas

Keluarnya darah haid dan nifas merupakan salah satu yang membatalkan puasa. Oleh karena itu perempuan yang mengalami haid dan nifas tidak diwajibkan untuk berpuasa di bulan Ramadan namun wajib mengganti di hari lain ketika ia telah suci.

Berbeda halnya dengan salat, maka perempuan yang haid tidak diperintahkan untuk meng-qadha salat mereka. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari:

أَلَيْسَإِذاحَاضَتْلَمْتُصَلِّوَلَمْتَصُمْقُلْنَ: بَلى،قَالَ: فَذَلِكَمِنْنُقْصانِدِينِها

“Bukankah jika wanita itu haid ia tidak salat dan tidak puasa?” Mereka menjawab, “Betul.” Beliau bersabda, “Demikianlah bentuk kekurangan agama mereka.” (HR Bukhari)

عَنْمُعَاذَةَقَالَتْسَأَلْتُعَائِشَةَفَقُلْتُمَابَالُالْحَائِضِتَقْضِىالصَّوْمَوَلاَتَقْضِىالصَّلاَةَفَقَالَتْأَحَرُورِيَّةٌأَنْتِقُلْتُلَسْتُبِحَرُورِيَّةٍوَلَكِنِّىأَسْأَلُ. قَالَتْكَانَيُصِيبُنَاذَلِكَفَنُؤْمَرُبِقَضَاءِالصَّوْمِوَلاَنُؤْمَرُبِقَضَاءِالصَّلاَةِ.

Dari Muadzah ia berkata: saya bertanya kepada Rasulullah saw: mengapa orang yang haid wajib meng-qadha puasanya sementara ia tidak wajib meng-qadha shalatnya. Ia balik bertanya: apakah engkau seorang Haruriyyah? Saya menjawab: bukan namun saya bertanya. Ia berkata: kami telah mendapati haid lalu kami diperintahkan untuk meng-qadha puasa namun tidak diperintahkan untuk meng-qadha shalat.” (HR Muslim)

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كُنَّا نَحِيضُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ نَطْهُرُ فَيَأْمُرُنَا بِقَضَاءِ الصِّيَامِ وَلَا يَأْمُرُنَا بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ. (رواه البخاري ومسلم)

Dari `Aisyah r.a., katanya: “Semasa kami kedatangan haid – dalam zaman Rasulullah s.a.w. – kami diperintahkan meng-qadha puasa tetapi kami tidak diperintahkan meng-qadha salat.”

Perempuan yang haid dan nifas tidak melaksanakan puasa hingga darah berhenti mengalir dari diri mereka. Jika darahnya berhenti maka ia tidak lagi dikategorikan sebagai orang yang haid dan nifas sehingga wajib menunaikan puasa pada saat itu.

Oleh karena itu, jika seorang wanita berhenti haid atau nifas sebelum fajar namun ia belum sempat mandi, maka ia wajib berpuasa. Hal ini karena syarat wajib berpuasa adalah suci dari haid dan nifas bukan bersuci dari keduanya. Namun demikian ia tetap wajib untuk mandi setelah masa haid dan nifas tersebut.

(4). Perempuan hamil dan menyusui

Sebagian ulama memasukkan perempuan hamil dan menyusui termasuk kepada orang yang sakit dan masih memungkinkan untuk berpuasa, sehingga ketika ia tidak berpuasa karena sedang mengandung dan menyusui, maka ia harus menggantinya di hari-hari yang lain ketika sudah tidak hamil lagi atau tidak menyusui lagi.

Dari Anas bin Malik, ia berkata: Kudanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami, aku pun mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku temukan beliau sedang makan pagi, beliau bersabda, “Mendekatlah, aku akan ceritakan kepadamu tentang masalah puasa. Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala menggugurkan 1/2 salat atas orang musafir, menggugurkan atas orang hamil dan menyusui kewajiban puasa.”

Bagi perempuan hamil dan menyusui maka mereka mendapatkan rukhsah untuk tidak berpuasa sebagaimana halnya seorang musafir namun mereka wajib meng-qadha puasa yang mereka tinggalkan di hari lain.

Ketentuan ini disandarkan kepada hadis yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim, di mana Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah azza wa jalla telah meletakkan (meniadakan) puasa dan membagi (membolehkan qashar) salat bagi musafir, serta meletakkan (meniadakan) puasa dari wanita yang sedang hamil dan menyusui”

Dalam hadis tersebut Rasulullah saw menjelaskan bahwa orang hamil dan orang yang menyusui diperbolehkan meninggalkan puasa tanpa menyebutkan ketentuan apapun. Itu artinya bahwa keringanan/rukhshah yang diberikan Allah adalah semata-mata karena hamil dan menyusui.

Sedangkan ketentuan harus meng-qadha sejumlah puasa yang ditinggalkannya –karena mereka adalah kelompok yang dibebani puasa akan tetapi pada saat perintah puasa itu harus dilaksanakan ternyata mereka berbuka– sehingga jadilah perintah itu merupakan utang yang dibebankan kepadanya dan harus dibayar.

Demikianlah beberapa keistimewaan hukum yang diberikan Allah kepada umat Islam, berkaitan dengan puasa, hal ini sekaligus menunjukkan kepada kita bagaimana kesempurnaan aturan Islam. Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

40 thoughts on “Qadha Puasa

  • 5 Mei 2020 pada 12:52
    Permalink

    Subhanallah Islam Din yang sempurna

    Balas
  • 2 Mei 2020 pada 22:37
    Permalink

    Masya Allah Islam memang sistem yang sempurna, mampu memecahkan semua masalah kehidupan, mem

    Balas
  • 2 Mei 2020 pada 20:16
    Permalink

    Rindu syariah dan khilafah

    Balas
  • 2 Mei 2020 pada 10:02
    Permalink

    Alhamddulillaah….jd lebih faham tentang qodho puasa.

    Balas
  • 2 Mei 2020 pada 09:57
    Permalink

    Jazakillah ilmunya ustadzah

    Balas
    • 2 Mei 2020 pada 21:54
      Permalink

      Masya Allah luar biasa hukum islam mengatur kehidupan manusia.

      Balas
  • 2 Mei 2020 pada 06:27
    Permalink

    Syariat Islam memahami apa yg bisa dikerjakan manusia dan apa yg tidak bisa dikerjakan manusia

    Balas
    • 2 Mei 2020 pada 15:43
      Permalink

      Masya Allah, banyak yang masih belum paham tentang Qadha puasa, dengan adanya tulisan ini sangat membantu

      Balas
  • 2 Mei 2020 pada 06:07
    Permalink

    Subhanallah, Islam adalah agama yang sempurna

    Balas
  • 2 Mei 2020 pada 04:42
    Permalink

    Smg kita bisa menjalankan ibadah puasa dg baik n Allah menerima semua amal ibadah kita di bln ramadhan

    Balas
  • 2 Mei 2020 pada 03:13
    Permalink

    maasyaAllah.. Islam memang sangat luar biasa mengagumkan, hal kecil saja diperhatikan✧

    Balas
  • 1 Mei 2020 pada 22:28
    Permalink

    Islam agama yg memudahkan

    Balas
  • 1 Mei 2020 pada 21:23
    Permalink

    Kalau hamil dan menyusui tetap puasa selama masih kuat tidak apa2 kan y?

    Balas
  • 1 Mei 2020 pada 21:08
    Permalink

    Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk hamba2Nya…….ketika itu berupa syariat ya harus dijalankan krn menjalankan syariat Allah adalah ibadah….

    Balas
  • 1 Mei 2020 pada 20:42
    Permalink

    Islam tidak hendak mempersulit kita.. Masya Allah, banyak kemudahan menyertai…

    Balas
  • 1 Mei 2020 pada 20:36
    Permalink

    Kesempurnaan hanya ada di dalam aturan Islam…

    Balas
  • 1 Mei 2020 pada 19:57
    Permalink

    MasyaAllah, sangat bermanfaat

    Balas
  • 1 Mei 2020 pada 18:42
    Permalink

    Maasyaa Allaah…

    Hanya syariat Islam yang paripurna..karena bukan berasal dari manusia, tapi dari Allaah, Yang Maha Tau Segalanya…

    Balas
  • 1 Mei 2020 pada 16:56
    Permalink

    Afwan, ingin bertany tdi di artikel ad pernyataan bahwa jik haid sdh berhenti sbkum fajar walaupun it blum mandi besar maka dwajibkannyh untk berpuasa, apakah bemar? Lalu bagaimana dngn kondisi shalatnyh?

    Balas
  • 1 Mei 2020 pada 16:15
    Permalink

    Alhamdulillah, terimakasih ilmunya sangat bermanfaat.

    Balas
  • 1 Mei 2020 pada 16:07
    Permalink

    Alhamdulillah dapat ilmu

    Balas
  • 1 Mei 2020 pada 15:32
    Permalink

    Sungguh, Islam mpy aturan yg sempurna…

    Balas
  • 1 Mei 2020 pada 15:25
    Permalink

    Masya allah

    Balas
  • 1 Mei 2020 pada 15:04
    Permalink

    Yuk pahami tata cara qadha puasa

    Balas
  • 1 Mei 2020 pada 14:49
    Permalink

    MasyaAllah…. Sungguh hukum Allah adalah terbaik bagi manusia maka bersegeralah menerapkan syariat Nya……

    Balas
  • 1 Mei 2020 pada 14:26
    Permalink

    Penjelasan ynag mencerahkan . Sukron ya ustadzah

    Balas
  • 1 Mei 2020 pada 14:17
    Permalink

    Bgmn kl setiap thn hamil dan menyusui? Mksdny, misal, thn kmrn hamil, thn ini msh menyusui bhkn thn depan ny lagi ada pula yg lanjut hamil, taruhlah 3 thn tdk mjlnkn ibadah puasa, bgmn hukumnya? Bolehkah mganti dtahun ke 4 ny?

    Balas
  • 1 Mei 2020 pada 14:12
    Permalink

    Begitu sempurnanya aturan islam

    Balas
  • 1 Mei 2020 pada 13:37
    Permalink

    Masyaa Allah… Sungguh Islam agama yang sesuai fitrah manusia.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *