Amalan Bernilai Pahala bagi Perempuan Haid di Bulan Ramadan

Oleh: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, TSAQAFAH – Telah kita ketahui bersama bahwa shaum/puasa di bulan Ramadan hukumnya diwajibkan bagi setiap muslim, demikian juga bagi muslimah adalah wajib hukumnya yang sudah balig dan berakal sehat.

Khusus bagi muslimah ada beberapa ketentuan yang diperbolehkan berbuka (tidak shaum) di siang hari pada bulan Ramadan, salah satunya yaitu ketika perempuan haid dan nifas.

Muslimah yang sedang kedatangan haid atau nifas di bulan Ramadan dilarang melaksanakan shaum dan diwajibkan meng-qadha-nya pada hari-hari lain. Kadang-kadang keadaan ini menjadikan perempuan tidak melakukan aktivitas apa pun di bulan Ramadan.

Ya, kaum perempuan yang sedang menstruasi ataupun nifas, tentunya tidak bisa sebulan penuh menjalani shaum Ramadan dan ibadah-ibadah tertentu seperti salat, mengaji Alquran pun tidak diperbolehkan. Pada akhirnya kita sebagai perempuan menjadi bersedih karena banyak amal saleh yang tidak bisa kita lakukan.

Pada dasarnya hal ini merupakan hal yang wajar, hal ini pun pernah dialami oleh Aisyah. Rasulullah SAW pernah menghibur Aisyah yang bersedih karena keburu datang bulan, padahal belum sempat menjalankan manasik haji.

Dari ‘Aisyah ra berkata, “Kami keluar (safar) bersama Nabi SAW, dan tujuan kami hanyalah ibadah haji. Sampai ketika kami tiba di Sarif atau dekat dengannya, aku mengalami haid. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masuk menemuiku sementara aku sedang menangis. Lalu beliau bertanya, ‘Apakah engkau mengalami nifas?’ [maksudnya adalah haid (menstruasi)]. Aisyah berkata, “Aku jawab, ’Iya.’ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang telah Allah tetapkan (takdirkan) bagi kaum wanita dari anak cucu Adam. Maka lakukanlah amalan-amalan haji, hanya saja janganlah engkau Tawaf di Kakbah sebelum engkau mandi (setelah suci dari haid).’ Aisyah berkata, ‘Kemudian Rasulullah SAW berkurban dengan menyembelih seekor sapi yang diniatkan untuk semua istrinya.’” (HR Bukhari – Muslim).

Perempuan yang ketika masuk di bulan Ramadan dalam keadaan haid atau sempat berpuasa Ramadan, lalu kemudian mendapat siklus bulanan, maka tidak perlu bersedih, karena ini adalah ketetapan Allah SWT.

Lagipula, ikhlas dan menjauhi larangan Allah juga termasuk ibadah. Terlebih lagi, perempuan yang sedang haid atau nifas, masih bisa melakukan berbagai aktivitas yang bernilai ibadah, untuk meraih berkah Ramadan, sebab aktivitas bernilai pahala di bulan Ramadan tidak hanya salat dan membaca Alquran saja.

Sikap pertama yang wajib dibangun perempuan yang sedang haid di bulan Ramadan adalah rida, karena seorang hamba yang beriman memang tidak boleh bersikap kepada Penciptanya selain rida dengan ketentuan-Nya.

Allah berfirman, yang artinya, “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukumi (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan Kami patuh”. Dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nur: 51)

Kesedihan karena tidak bisa berpuasa, salat, tarawih, membaca Alquran karena haid adalah hal baik, karena di antara ciri orang beriman adalah gembira ketika melakukan amal saleh dan susah ketika melakukan kemaksiatan.

At-Tirmidzi meriwayatkan, dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda, Barang siapa kebaikannya yang ia lakukan membuatnya bahagia, dan keburukannya membuatnya susah, maka dia adalah seorang mukmin.” (HR At-Tirmidzi)

Patut pula dipahami oleh kaum perempuan, bahwa ketika dia tidak berpuasa Ramadan karena haid maka hal itu bermakna dia sedang menjalankan perintah Allah, karena Allah melarang perempuan haid berpuasa. Artinya, ia sedang beramal saleh sebagaimana yang berpuasa tanpa ada perbedaan.

Justru perempuan haid tersebut sedang menjalankan perintah Allah dengan cara yang lebih ringan daripada yang berpuasa yang harus menahan lapar dan dahaga.

Dalilnya adalah hadis dari Abu Sa’id Al Khudri ia berkata, “Rasulullah SAW pada hari raya Iduladha atau Idulfitri keluar menuju tempat salat, beliau melewati kaum perempuan seraya bersabda, Wahai kaum perempuan! Hendaklah kalian bersedekahlah, sebab diperlihatkan kepadaku bahwa kalian adalah yang paling banyak menghuni neraka. Kami bertanya, Apa sebabnya wahai Rasulullah? Beliau menjawab, ‘Kalian banyak melaknat dan banyak kufur terhadap suami. Dan aku tidak pernah melihat makhluk yang kurang akal dan agamanya yang bisa mengalahkan lelaki yang kuat tekadnya selain kalian.Kami bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, apa tanda dari kurangnya akal dan lemahnya agama? Beliau menjawab, Bukankah persaksian seorang perempuan setengah dari persaksian laki-laki? Kami jawab, Benar. Beliau berkata lagi, Itulah kekurangan akalnya. Dan bukankah seorang perempuan bila dia sedang haid dia tidak salat dan puasa? Kami jawab, Benar.’ Beliau berkata, ‘Itulah kekurangan agamanya.’” (HR Bukhari)

Lafaz Bukankah seorang perempuan bila dia sedang haid dia tidak shalat dan puasa” Menunjukkan bahwa di zaman Rasulullah SAW sudah diketahui bahwa perempuan yang haid tidak berpuasa dan tidak salat.

Oleh karena salat lima waktu dan puasa Ramadan hukumnya wajib, sementara kaum perempuan di zaman Rasulullah SAW malah tidak melakukannya, maka hal ini bermakna bahwa puasa dan shalat memang dilarang bagi perempuan yang sedang haid.

Artinya, jika dilakukan, maka puasa dan salat tersebut tidak sah dan ia melakukan keharaman, malah melanggar perintah Allah dan berdosa.

Jadi, rida adalah sikap pertama yang harus dibangun. Sikap rida adalah bagian dari amal saleh, bahkan termasuk di antara amal saleh yang paling agung.

Lalu amal saleh apa yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan, ketika sedang haid di bulan Ramadan?

Banyak sekali aktivitas di bulan Ramadan yang bernilai pahala, yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan dalam keadaan haid.

Mari kita lihat petikan khotbah Rasulullah ketika akan memasuki bulan Ramadan.

Rasulullah SAW bersabda,

“Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; Bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’. Barang siapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardu di dalam bulan yang lain.

Ramadan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadan itu adalah bulan memberi pertolongan (syahrul muwasah) dan bulan Allah memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya.”

“Barang siapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”

Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah saw, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”

Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barang siapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka. Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya.”

“Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.

Barang siapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.” (HR Ibnu Huzaimah)

Dari khotbah Rasulullah ini, kita akan dapati setidaknya 4 (empat) amalan yang bisa dilakukan oleh perempuan yang sedang haid, yaitu:

  1. Melakukan kebajikan di bulan Ramadan sama dengan menunaikan suatu fardu di bulan yang lain;
  2. Memberikan makanan kepada yang berpuasa memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikit pun berkurang, bahkan hanya memberi sebutir kurma, seteguk air, atau sehirup susu;
  3. Meringankan beban budak sahayanya atau para pegawainya, niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka;
  4. Memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, maka Allah memberi minum kepadanya dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.

Selain itu banyak lagi aktivitas lainnya yang dijelaskan dalam ayat-ayat Alquran dan hadis-hadis Rasulullah, yaitu:

Pertama: Melakukan Khidmat (pelayanan/membantu) orang lain, terutama orang yang berpuasa.

Sesungguhnya Khidmat, seremeh apa pun adalah amal saleh. Dari Jabir bin Abdullah ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kebaikan adalah sedekah. Dan di antara bentuk kebaikan adalah kamu menjumpai saudaramu dengan wajah yang menyenangkan. Dan kamu menuangkan air dari embermu ke dalam bejana milik saudaramu.” (HR At-Tirmidzi).

Menuangkan air pada bejana saudara adalah jenis pelayanan. Rasulullah S’AW menyebutnya termasuk makruf sebagaimana berwajah ramah juga disebut makruf.

Sesuatu yang disebut makruf adalah amal saleh, sehingga bisa dikatakan khidmat adalah amal saleh. Lebih utama lagi jika yang dilayani adalah orang yang berpuasa, karena melayani orang yang berpuasa dan meringankan mereka bisa membuat yang melayani mendapatkan ganjaran sebagaimana orang yang berpuasa.

Kedua: Mendorong orang lain beramal saleh.

Hal ini termasuk amal saleh dan membuat pelakunya mendapatkan pahala sebagaimana orang yang beramal saleh tersebut.

Dari Abu Mas’ud Al Anshari dia berkata, seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW seraya berkata, “Wahai Rasulullah, jalan kami telah terputus karena hewan tungganganku telah mati, oleh karena itu bawalah saya dengan hewan tunggangan yang lain.” Maka beliau bersabda, “Saya tidak memilikinya.” Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berkata, “Wahai Rasulullah, saya dapat menunjukkan seseorang yang dapat membawanya (memperoleh penggantinya).” Maka beliau bersabda, “Barang siapa dapat menunjukkan suatu kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR Muslim)

As-Shon’ani menjelaskan “menunjukkan” bisa dilakukan dengan cara memberi saran kepada orang lain untuk melakukan kebaikan, atau memberitahu orang yang ingin melakukan kebaikan untuk mendatangi orang tertentu, atau memberi nasihat, memberi peringatan”. (Subul As-Salam vol.4 hlm 170).

Oleh karena itu wanita haid yang membangunkan orang lain untuk sahur dan berpuasa maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang sahur dan berpuasa.

Ketiga: Memperbanyak istigfar dan sedekah.

Secara khusus Rasulullah SAW merekomendasikan agar memperbanyak istigfar dan sedekah karena beliau diperlihatkan bahwa kaum perempuan adalah penghuni neraka yang paling banyak.

Saran Rasulullah SAW ini hendaknya mendapat perhatian lebih kaum perempuan, karena Rasulullah SAW adalah insan yang paling tahu sesuatu yang paling menyelamatkan umatnya di akhirat.

Istighfar dan sedekah lebih layak diperhatikan di bulan Ramadan karena bulan ini adalah bulan yang paling mulia di antara seluruh bulan.

Keempat: Memperbanyak zikir.

Kaum perempuan yang haid ketika Ramadan dianjurkan memperbanyak zikir baik dengan lisan maupun dengan hatinya.

Di antara dalil yang menunjukkan keutamaan zikir adalah firman Allah yang artinya: “Ingatlah Aku, niscaya aku akan mengingatmu” (Al-Baqarah: 152).

Di antara lafaz zikir yang bisa diistikamahkan adalah lafaz yang diajarkan Rasulullah SAW, dalam hadis dari Abu Hurairah menuturkan; Rasulullah SAW bersabda: “Ada dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan disukai Arrahman, Subhanallah wabihamdihi dan Subhaanallahul ‘azhiim.” (HR Bukhari)

Kelima: Memperbanyak doa.

Doa adalah ibadah. Ibadah termasuk amal saleh. Seorang perempuan bisa memperbanyak doa di bulan Ramadan ini.

Dari An-Nu’man bin Basyir dari nabi SAW beliau bersabda, “Doa adalah ibadah” (H.R. Abu Dawud). Terutama sekali berdoa pada sepertiga malam terakhir dan waktu antara azan dengan iqomah (ikamat), karena waktu tersebut adalah waktu mustajab.

Keenam, Tholabul ‘Ilmi.

Mencari ilmu termasuk amal saleh yang bisa dilakukan perempuan haid di bulan Ramadan baik dilakukan dengan mendatangi majelis ilmu maupun mempelajari isi buku ataupun dari medsos.

Banyak nas yang menunjukkan keutamaan mencari ilmu. Di bulan Ramadan biasanya bertaburan majelis ilmu. Tentu saja kita memilih kajian yang paling bermanfaat bagi din, dan mulailah mempelajari ilmu-ilmu islam yang fardu ain terlebih dahulu.

Allah berfirman, yang artinya: “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya, mereka Itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (Az-Zumar: 18)

Telah sangat jelas bahwa seorang perempuan ketika sedang haid, walaupun tidak berpuasa, tetapi banyak amal saleh yang bisa dikerjakan. Di antaranya menyediakan makanan untuk berbuka, memperbanyak sedekah, memperbanyak zikir, dan sebagainya.

Karenanya tidak perlu bersedih ataupun kecewa, karena tetap banyak ladang pahala yang bisa dilakukan. Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews]

65 thoughts on “Amalan Bernilai Pahala bagi Perempuan Haid di Bulan Ramadan

Tinggalkan Balasan