Situasi Sulit Dunia Hadapi Pandemi

Oleh: Pratma Julia Sunjandari

MuslimahNews.com, FOKUS – Pandemi Covid-19 memang memberi kesulitan bagi dunia modern. Tetapi sebagai muslim, kita mesti berbaik sangka atas qadha yang ditimpakan Allah SWT atas seluruh dunia.

Menyitir kalimat Ustaz Ismail Alwahwah, “… kullun khoir ...” Semua kehendak Allah pasti akan memberikan kebaikan bagi orang-orang beriman. Pesan politis pandemi Covid-19 ini tentu semakin menguatkan keimanan atas kebesaran Allah SWT.

Sedangkan yang kedua, kian membuktikan bahwa kapitalisme makin tak mampu mengatasi krisis ini. Peradaban batil itu kian renta dan siap menyongsong kematiannya.

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka.” (QS Al-Baqarah: 26).

Ayat itu menjadi pembuktian bahwa partikel renik berdiameter 50–200 nanometer itu sanggup mengguncang raksasa dunia. Kesombongan Cina –yang ekonominya berjaya, tumbuh rata-rata 9,4 persen sejak 1978-, usai lockdown 76 hari saja, kini harus nyungsep di kisaran 4 persen.[1]

Demikian pula negara nomor satu, Amerika Serikat. Hingga Presiden AS, Donald Trump berkata masyarakat AS harus bersiap-siap hadapi hari-hari sulit melawan wabah corona. Korban di AS meningkat melampaui angka resmi yang dilaporkan Cina.[2]

AS telah mencatat lebih dari 9.100 kematian dan 321.000 kasus virus corona yang dikonfirmasi. Para pejabat memprediksi pada akhirnya 100.000 sampai 240.000 orang bisa meninggal dunia akibat pandemi ini.[3]

Sebagai ideologi yang bertumpu pada capaian materialistis, tentu yang paling mengguncang dan pertama kali dipikirkan para pemimpin di dunia kapitalis adalah implikasi ekonomi akibat Covid-19. Bahkan keselamatan ataupun jaminan sosial pun bakal dikaitkan dengan pemulihan ekonomi setelah krisis.

Karena hanya peduli pada ekonomi, pandemi ini dianggap sebagai badai hingga beberapa ekonom AS menyebutnya sebagai The Great Cessation[4]. Kemandekan yang luar biasa.

Kendati demikian, mental AS sebagai adikuasa yakin mampu mengatasi krisis global dengan melibatkan dunia. Sejarah ekonomi perang menawarkan pelajaran dalam pengelolaan solidaritas selain perencanaan ekonomi, mobilisasi sumber daya, dan kebijakan industri.[5]

Mengadopsi kapitalisme, membuat AS sudah terbiasa berhadapan dengan krisis. Sejak akhir PD II, utang AS terhadap PDB adalah 121 persen, dan AS berhasil mengatasinya.[6]

Demikian pula setelah krisis subprime mortgage kredit rumah tahun 2008, AS mereformasi sektor perbankan dan keuangan sehingga memberikan stabilitas sementara. Tindakan institusional dan kebijakan dapat membuat AS menjalankan kepemimpinan[7] demi kepentingannya sendiri.

AS sungguh percaya diri untuk membalik posisi ekonominya yang menjadi bulan-bulanan Cina sejak meletus perang dagang Januari 2018. Wabah corona ini memang menempatkan ekonomi AS dalam pukulan besar.

Akan tetapi, pemulihan domestik Cina juga terhambat. Riset Pew Research Center Februari lalu menunjukkan posisi Cina jauh di bawah AS dan bahkan di belakang Jepang. AS yakin, keputusan yang dibuat kepemimpinan AS, hasil pemilihan pilpres AS, dan keberhasilan penelitian vaksin dianggap mampu “memutar sejarah” kebangkitan ekonomi Cina[8].

Ekonomi memang terganggu karena Bank Dunia menyatakan pandemi Covid-19 merusak pertumbuhan ekonomi di Cina, Asia Timur, dan Pasifik dengan memproyeksikan tingkat pertumbuhan hanya 2,1 persen. [9]

Karena itu, untuk mendongkrak kawasan utama yang menyangga 70 persen pertumbuhan ekonomi dunia itu, paket stimulus ekonomi harus segera dimajukan. Prioritas pemulihan adalah kawasan Asia dan Eropa yang akan pulih bersamaan dengan AS.[10]

Bukan sekadar tanggung jawab sebagai adikuasa seperti Khilafah Utsmaniyah di bawah perintah Khalifah Abdul Majid I untuk mengirimkan bantuan ke Irlandia saat terkena kelaparan akibat serangan Phytophthora infestans yang menyerang kentang pada tahun 1845-1849 M. Tapi strategi pemulihan itu terkait kepentingan bisnis korporasi AS yang butuh lahan baru, sekaligus memulihkan pasar potensial yang bakal menggerakkan ekonomi.

Makin jelas keberpihakan hanya pada pasar, ketika CSIS (Centre for Strategic and International Studies) “membiarkan” Afrika dan banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah “sengaja dibiarkan” mengalami penyebaran yang terus-menerus dan dapat dikelola sampai vaksin tiba.[11]

Demikianlah watak kapitalisme. Keserakahannya untuk menggenggam dunia, tidak bakal mampu menolong secara tulus. “Bantuan” hanya diberikan jika itu menguntungkan.

Jadi negara pengekor seperti Indonesia jangan Ge-eR jika USAID (United States Agency for International Development) memberikan bantuan darurat senilai US$2,3 juta (Rp36 miliar) untuk memperkuat kapasitas laboratorium, mempercepat pengujian, dan meningkatkan pelacakan penyakit di tingkat komunitas.[12] Bagaimana pun, SDA dan pasar Indonesia masih menjadi daya tarik bagi AS untuk menjarahnya.

Bahkan untuk rakyatnya sendiri, negara kapitalis tak pernah tulus. Seperti Trump yang meminta Kongres mengesahkan RUU stimulus $2 triliun untuk membangkitkan perekonomian, di antaranya membantu industri penerbangan puluhan juta dolar.[13] Paket bantuan itu untuk memberikan dana tunai kepada lebih dari 90 persen warga AS dan banyak bisnis.[14]

Maka jangan heran jika negara-negara Barat demikian “sayang” pada warganya. Selain “amanah” pajak tinggi yang harus dikembalikan kepada rakyat, semua itu demi menjaga daya beli rakyat agar bisnis tetap produktif.

Defense Production Act (DPA) memprioritaskan sumber daya untuk membantu memperluas industri swasta di sektor strategis untuk membangun basis produksi massal medis. Maka AS tetap menyasar Asia Timur[15] sebagai lokus utama untuk membangun produksi usai wabah.

Tak mustahil AS akan mengendalikan Cina yang dianggap lebih berpengalaman untuk berproduksi. Kurt M. Campbell –asisten Menlu untuk Asia Timur dan Pasifik di masa Obama– berkata, status AS sebagai pemimpin global selama tujuh dekade dibangun tidak hanya pada kekayaan dan kekuasaan tetapi juga pada kemampuan mengoordinasikan respons global terhadap krisis.

Ketika virus ini dikalahkan, kebangkitan ekonomi Cina akan memainkan peran penting dalam membangun ekonomi global yang hancur. Cina juga merupakan produsen besar peralatan medis dan barang sekali pakai seperti masker, pakaian pelindung, dan manufaktur medis dunia[16] di bawah kendali AS.

Bisnis adalah pertimbangan utama kapitalis tetap berdenyut. Rival bebuyutan AS, Inggris juga tak mau kalah. Negara ini telah mengembangkan tes deteksi virus corona (SARS-CoV-2) secara massal dan murah berwujud perangkat yang bisa digenggam seharga US$120 (Rp1,9 juta) yang dikembangkan peneliti Brunel University London, Lancaster University, dan University of Surrey.[17]

Yang tak kalah seksi adalah bisnis vaksin. Tak hanya produsen farmasi global macam Pfizer Inc., GlaxoSmithKline, Novavax, atau Takeda Pharmaceutical Company Ltd.,[18] sejumlah negara akan patungan hingga US$4 miliar (Rp64 T) untuk melakukan riset vaksin di bawah kendali G20 yang akan bekerja sama dengan WHO dan Global Alliance for Vaccines and Immunization (GAVI).[19]

Dan bisnis yang menguntungkan dalam situasi krisis adalah utang. IMF dan Bank Dunia membuka peluang restrukturisasi utang bagi negara pendapatan rendah yang memiliki utang tinggi (highly indebted low income country). [20] IMF menyiapkan pendanaan sebesar US$1 triliun, serta mengusulkan tambahan US$500 miliar sebagai fasilitas swap[21] bagi seluruh anggota IMF.[22]

Indonesia yang biasa berutang, segera menyambut mekanisme itu. Dan Bank Dunia baru saja menyetujui pinjaman US$300 juta (Rp4,95 triliun) untuk Indonesia.[23] Sebelumnya Asian Development Bank/ADB turut memberikan ‘hibah’ senilai US$3 juta (Rp48 miliar) untuk membeli ventilator dan alat pelindung diri (APD) seperti sarung tangan, apron, dan masker bagi tenaga medis.[24]

Itulah kapitalisme. Lantas, sampai kapan mereka mampu bertahan dalam deraan krisis yang berputar setiap 10 tahun sekali? Hingga kapan mereka berhasil keluar dari krisis tanpa memanfaatkan rakyat demi memutar industri, perdagangan bebas, restrukturisasi utang dan lain-lain?

Sekalipun peradaban pongah kapitalisme masih merasa mampu bertahan dari krisis, namun the normal people ‘masyarakat umum’ pasti kian merasakan keanehan dan kezaliman yang dilakukan oleh penguasa mereka di seluruh dunia.

Partikel renik Covid-19 itu mampu membuka mata hati rakyat bahwa sistem Kapitalisme telah gagal mengatasi wabah sejak pertama kali muncul. Tidak hanya memanfaatkan krisis dan kebutuhan rakyat demi kepentingan kelompok elite global saja, kapitalisme “sukses” membawa manusia pada krisis kepercayaan.

Di AS contohnya, ketidakpercayaan publik akibat kebohongan yang sering dipertontonkan penguasa, ditambah dengan kegagalan raksasa dunia itu dalam mengelola krisis Covid-19. Bagaimana tidak, jika produsen utama dan kapitalis medis nomor satu dunia ini tak mampu menjawab keluhan banyak gubernur Amerika akan kekurangan ventilator, masker, dan peralatan medis lain yang diperlukan di negara-negara bagian untuk merawat korban corona?[25]

Kota tersibuk sedunia, New York, kini justru sibuk menyambut kematian yang mencapai 800 orang dalam sehari. Bahkan ketika serangan 11 September 2001, yang “hanya” makan korban 2.753 jiwa, kalah jauh oleh virus corona yang sudah menewaskan lebih dari 7.000 orang. Rumah sakit tak cukup menampung mereka hingga harus didirikan tenda putih raksasa di taman itu untuk menampung puluhan pasien Covid-19.[26]

Semua itu jelas mengecewakan rakyat. Pembayar pajak dengan nominal yang amat tinggi, yang mengongkosi kesehatan dengan kantongnya sendiri melalui mekanisme batil asuransi.

Demikianlah tabiat kapitalisme. Sistem yang hanya memikirkan penimbunan dolar tanpa pernah tulus memberikan kesejahteraan rakyat secara cuma-cuma. Berharap akan “kemurahhatian” pemimpin di era kapitalistik serasa bagai pungguk merindu sang bulan.

Itu mustahil, karena mereka akan selalu minta kompensasi atas servis yang mereka berikan pada rakyat. Pengharapan akan ketulusan pemerintah dalam mengurus urusan rakyat hanya terealisasi jika Islam yang menjadi pengatur atas kehidupan manusia.

Pemenuhan harapan itu niscaya terjadi karena setiap Khalifah itu dipilih demi menjalankan tugas memenuhi kebutuhan seluruh rakyat. Mereka tak bakal mengingkari amanahnya karena sungguh takut akan implikasinya di akhirat.

Tidak seorang hamba pun yang diberi kekuasaan oleh Allah untuk memimpin rakyat, lalu dia tidak memperhatikan mereka dengan nasihat, kecuali dia tidak akan mendapatkan surga.” (HR Bukhari).

Khilafah Islamiyah, sekalipun sebagai adikuasa, tidak akan pongah dan berani memanfaatkan kelemahan rakyat. Khilafah juga steril dari kepentingan bisnis, apalagi memberi keistimewaan bagi raksasa korporasi yang bakal menangguk untung besar di saat seluruh rakyat menestapa. Itu hina dan haram bagi Khilafah.

Pesan politis dari sang virus semestinya memberi kesadaran bahwa kapitalisme hanyalah peradaban sampah yang tak mampu mengatasi masalah, bahkan pasti melahirkan masalah berikutnya.

Saatnya bagi masyarakat untuk menjadikan sistem alternatif yang mampu mengatasi krisis secara bermartabat, yakni Khilafah Islamiyah. Tidak cukup hanya mengimani janji Allah akan tegaknya negara tersebut, tapi turutlah jalan terjal untuk memperjuangkannya. [MNews]

[1] https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4926295/sejauh-mana-corona-menggerogoti-ekonomi-Cina

[2] https://www.voaindonesia.com/a/trump-bersiaplah-untuk-hadapi-hari-hari-sulit-virus-corona-/5354878.html

[3] https://www.voaindonesia.com/a/pejabat-tinggi-kesehatan-as-akan-hadapi-lonjakan-kematian-mengejutkan/5361378.html

[4] https://www.rand.org/blog/2020/03/the-economic-wallop-of-covid-19-qa-with-rand-experts.html

[5] https://foreignpolicy.com/2020/03/26/the-coronavirus-war-economy-will-change-the-world/

[6] https://www.rand.org/blog/2020/03/the-economic-wallop-of-covid-19-qa-with-rand-experts.html

[7] https://www.rand.org/blog/2020/04/after-the-coronavirus-america-needs-to-reengage-with.html

[8] https://www.csis.org/analysis/geopolitical-scenarios-asia-after-covid-19

[9] https://www.voaindonesia.com/a/bank-dunia-pandemi-corona-perlamban-ekonomi-Cina-dan-kawasan-asia-timur-pasifik/5353277.html

[10] https://www.csis.org/analysis/which-covid-19-future-will-we-choose

[11] Ibidem 9

[12] https://www.liputan6.com/global/read/4224614/as-kucurkan-rp-36-miliar-untuk-bantu-indonesia-lawan-virus-corona-covid-19

[13] https://www.voaindonesia.com/a/trump-imbau-kongres-sahkan-ruu-stimulus-ekonomi/5346123.html

[14] https://www.voaindonesia.com/a/para-pemimpin-as-setujui-paket-bantuan-ekonomi-wabah-corona/5344525.html

[15] https://foreignpolicy.com/2020/03/26/the-coronavirus-war-economy-will-change-the-world/

[16] https://www.bbc.com/indonesia/dunia-52044493

[17] https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200326102356-199-486994/inggris-buat-alat-tes-virus-corona-massal-dan-murah

[18] https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200403165533-199-490118/17-perusahaan-di-dunia-berlomba-lomba-bikin-vaksin-covid-19

[19] https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200327071522-532-487360/negara-di-dunia-patungan-us-4-miliar-demi-riset-vaksin-corona

[20] https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200327064106-532-487342/imf–bank-dunia-bakal-restrukturisasi-utang-negara-miskin

[21] Transaksi pertukaran dua valas melalui pembelian tunai dengan penjualan kembali secara berjangka, atau penjualan tunai dengan pembelian kembali secara berjangka. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kepastian kurs (kurs bersifat tetap selama kontrak), sehingga dapat menghindari kerugian selisih kurs.

[22] https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200324183549-532-486628/efek-corona-imf-prediksi-pertumbuhan-ekonomi-global-negatif

[23] https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200323140101-532-486059/di-tengah-corona-ri-tarik-utang-rp495-t-dari-bank-dunia

[24] https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200321150352-532-485599/adb-beri-hibah-rp48-m-demi-tangani-wabah-corona-di-ri

[25] https://www.voaindonesia.com/a/para-gubernur-as-protes-kekurangan-peralatan-medis/5356532.html

[26] https://www.bbc.com/indonesia/dunia-52244914

Bagaimana menurut Anda?

46 tanggapan untuk “Situasi Sulit Dunia Hadapi Pandemi

  • 18 April 2020 pada 01:03
    Permalink

    Selamanya sistem buatan manusia(Kapitalisme-sekuler)tdk becus menyelesaikan masalah umat &Hanya Khilafah satu2nya Solusi menghadapi wabah ini

    Balas
  • 15 April 2020 pada 22:43
    Permalink

    Bahkan untuk rakyatnya sendiripun tidak pernah tulus :”)

    Balas
    • 18 April 2020 pada 22:41
      Permalink

      Mari perjuangan sistem Islam, hanya Islam yang dapat menyelesaikan permasalahan manusia secara tuntas dan solutif

      Balas
  • 15 April 2020 pada 11:45
    Permalink

    Makin membuktikan kapitalisme adl sistem gagal.

    Balas
  • 15 April 2020 pada 05:44
    Permalink

    Maasyaallah…islam akan segera bangkit !!

    Balas
  • 14 April 2020 pada 20:27
    Permalink

    MasyaaAllah, Islam akan segera bangkit InsyaAllah

    Balas
  • 14 April 2020 pada 17:45
    Permalink

    Kapitalisme sudah nyata gagalnya..umat harus bangkit..

    Balas
  • 14 April 2020 pada 17:09
    Permalink

    Terima kasih benar2 mencerahkan pandangan sy trkait dunia dan Kapitalisme

    Balas
  • 14 April 2020 pada 15:42
    Permalink

    Allahu Akbar!!!
    Kutipan dari tulisan:
    “Peradaban batil itu kian renta dan siap menyongsong kematiannya.”

    Dan Datanglah kembali Islam sebagai Sistem yang paripurna untuk memberikan setiap solusi dalam masalah kehidupan, yaitu Khilafah

    Balas
  • 14 April 2020 pada 14:05
    Permalink

    Kapitalis tegak atas dasar manfaat,campakkan dan buang kapitalis.
    Saatnya Islam memimpin dunia.

    Balas
  • 14 April 2020 pada 13:03
    Permalink

    Semoga Indonesia berkah..Aamiin

    Balas
  • 14 April 2020 pada 11:42
    Permalink

    Ya Allah… , jasad renik Covid 19 ciptaan Allah ini luar biasa mampu menumbangkan perekonomian negara super power dunia. Jzkl khoir atas tulisannya yang luar biasa ustadzah

    Balas
  • 14 April 2020 pada 10:43
    Permalink

    Semoga ummat semakin sadar kebobrokan kapitalisme dan solusi hakiki hanyalah islam

    Balas
  • 14 April 2020 pada 09:43
    Permalink

    Khilafah lah solusi utama

    Balas
  • 14 April 2020 pada 09:28
    Permalink

    Taada sistem yg sempurna kecuali Islam

    Balas
  • 14 April 2020 pada 08:36
    Permalink

    Barakallahu fik Ustazah.

    Balas
  • 14 April 2020 pada 07:48
    Permalink

    Keserakahan Kapitalisme hanya bisa dihapus dengan kekuatan Khilafah…

    Balas
  • 14 April 2020 pada 07:00
    Permalink

    Maa syaa Allah,luar biasa penjelasannya, kapitalisme di ambang kehancuranny…islam akan sgera bangkit kembali.. Allahu Akbar

    Balas
  • 14 April 2020 pada 06:52
    Permalink

    Solusinya terapkan syariat Islam dan tegakkan Khilafah Islam yg menerapkan syariat

    Balas
  • 14 April 2020 pada 06:28
    Permalink

    Hanya Khilafah yang akan menjadi negara adikuasa

    Balas
  • 14 April 2020 pada 06:27
    Permalink

    NIC telah memprediksikan bahwa dunia akan di kuasai oleh salah satu prediksikan yaitu oleh KHILAFAH. dan hanya Khilafah yang dapat memajukan perekonomian dunia bukan hanya di sektor perekonomian tapi di sektor yang lainnya.

    Balas
  • 14 April 2020 pada 06:24
    Permalink

    Terbukti sistem kapitalisme sudah menampakkan kebobrokannya dalam menangani pandemi wabah corona, maka kita umat islam sudah selayaknya mengambil sistem dari Allah yang sudah pasti mensejahterakan manusia. Semoga khilafah segera tegak. Aamiin

    Balas
  • 14 April 2020 pada 06:00
    Permalink

    Politik korporasi era demokrasi membawa kesengsaraan umat

    Balas
  • 14 April 2020 pada 05:17
    Permalink

    Kapitalisme dipimpin AS terseok menuju kehancurannya, Indonesia seharusnya tidak bersandar pada AS supaya tidak ikut jatuh. Tumbangnya AS akan menjadi peradaban baru dunia dipimpin Islam.

    Balas
  • 14 April 2020 pada 05:13
    Permalink

    itulah sebabnya kita harus back to islam ajah.

    Balas
  • 14 April 2020 pada 04:34
    Permalink

    Memang saat inilah ketika pandemi membuktikan kpd manusia kerapuhan kapitalisme, sehingga saat yg tepat untuk tegaknya Khilafah.
    InsyaAllah.

    Balas
  • 14 April 2020 pada 04:10
    Permalink

    Apabila Allah telah mengerahkan tentara tentaranya, tidak ada seorang pun yg mamou utk terhindar dari nya. Amounilah kami ya Allah. Semoga kami adalah menjadi orang orang yang selalu berada di jalan mu ya Allah

    Balas
  • 14 April 2020 pada 03:47
    Permalink

    Masya’Allah….Betapa Maha Besarnya Allah yang menghancurkan kesombongan dunia hanya dengan makluk super mini. Namun hanya mata hati yang terjernihkan dengan Aqidah yang mampu melihat dan menerima pesan politis ini.

    Balas
  • 14 April 2020 pada 02:19
    Permalink

    Uninstall kapitalisme

    Balas
  • 14 April 2020 pada 01:37
    Permalink

    Aaminnn ya allah semoga allah segerakan perjuangan ini

    Balas
  • 13 April 2020 pada 23:06
    Permalink

    Hanya Islam yang mampu memberikan solusi bgi seluruh persoalan negeri, pun masalah pandemi yang tengah dihadapi rakyat kini.

    Balas
  • 13 April 2020 pada 22:24
    Permalink

    Virus pun berpolitis

    Balas
  • 13 April 2020 pada 22:11
    Permalink

    ALLAHU AKBAR..ALLAHU AKBAR..ALLAHU AKBAR

    Balas
  • 13 April 2020 pada 22:07
    Permalink

    Astagfirullah beginilah bobroknya sistem kapitalism

    Balas
  • 13 April 2020 pada 22:04
    Permalink

    Masya Allah
    Pilih salah satu jadi penonton atau pemain yang memainkan peran untuk menegakkan Islam kaffah!!!

    Balas
  • 13 April 2020 pada 21:50
    Permalink

    Kapitalisme bagai telur di ujung tanduk. Sambit munculnya tata dunia baru yakni bangkitnya Islam kembali..

    Balas
  • 13 April 2020 pada 20:58
    Permalink

    Astagfirullah
    Sistem kufur ini semakin membuktikan dirinya tidak mampu untuk menyelesaikan masalah.
    Semoga Allah menangkan kaum muslim dengan segera^_^

    Balas
    • 17 April 2020 pada 13:12
      Permalink

      semakin terbukti bahwa sistem ini adalah sistem kufur

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *