Tanya-Jawab: Dampak Virus Corona (Covid-19) [Bagian 4/4]

Pertanyaan keempat: (Selama masa wabah) Apakah boleh melarang penyelenggaraan salat Jumat dan salat jamaah di masjid-masjid?

Jawaban oleh Syekh ‘Atha’ Abu Rasytah

MuslimahNews.com, Tanya-Jawab – Sesungguhnya meninggalkan salat jamaah dan salat Jumat dalam kondisi tersebarnya wabah penyakit menular tidaklah dilakukan secara umum. Tetapi, orang yang sakit diisolasi dan tidak diizinkan masuk ke masjid untuk salat jamaah dan salat Jumat, kemudian dilakukan langkah-langkah seperti kebersihan dan sterilisasi, dan jika perlu mengenakan masker dan sebagainya.

Kemudian orang-orang yang sehat tetap melaksanakan salat Jumat dan salat jamaah. Jika diperlukan, disiapkan tim medis di masjid-masjid untuk memeriksa siapa saja yang diduga sakit di antara para jamaah, sehingga bisa diambil tindakan atasnya, tanpa menghentikan salat Jumat dan salat jamaah bagi kaum muslimin yang sehat.

Maka sesungguhnya dalil yang ada tentang salat jamaah dan salat Jumat tidaklah termasuk penghentian yang bersifat terus-menerus, melainkan tidak dituntut jumlah (jamaah) yang besar untuk menunaikannya sebagaimana yang akan kami jelaskan.

Dan alasan sebagian kaum muslimin diberikan uzur (kelonggaran) dari melaksanakannya adalah karena sebab-sebab khusus untuk mereka, yaitu:

1- Berkaitan dengan salat jamaah, maka itu adalah fardu kifayah:

Salat jamaah merupakan fardu kifayah yang wajib ditampakkan untuk masyarakat. Abu Darda’ telah meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

«مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ لَا تُقَامُ فِيهِمْ الصَّلَاةُ إِلَّا قَدْ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمْ الشَّيْطَانُ، عَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْخُذُ الذِّئْبُ مِنَ الْغَنَمِ الْقَاصِيَةَ» رواه أبو داود بإسناد حسن

“Tidaklah ada tiga orang di satu kampung dan pedalaman, di mana tidak ditegakkan di tengah mereka salat, kecuali setan telah menguasai mereka. Kamu harus berpegang kepada jamaah. Sesungguhnya serigala memakan domba yang menyendiri.” (HR Abu Dawud dengan sanad hasan).

Hadis ini tentang salat jamaah, dan salat jamaah itu fardu kifayah. Sebagian dari kaum Muslim terlambat salat jamaah bersama Rasul Saw, maka Rasul Saw meninggalkan mereka setelah mengancam akan membakar (rumah) mereka.

Imam al-Bukhari telah meriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Saw bersabda,

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيَؤُمَّ النَّاسَ ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ يَعْلَمُ أَحَدُهُمْ أَنَّهُ يَجِدُ عَرْقاً سَمِيناً أَوْ مِرْمَاتَيْنِ حَسَنَتَيْنِ لَشَهِدَ الْعِشَاءَ»

“Demi Zat yang jiwaku berada di genggaman tangan-Nya, sungguh aku ingin memerintahkan tukang pencari kayu lalu dikumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan salat lalu dikumandangkan azan, kemudian aku perintahkan seorang laki-laki untuk mengimami orang-orang, kemudian aku pergi ke para laki-laki dan aku bakar rumah mereka, demi Zat yang jiwaku berada di genggaman tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian mengetahui, bahwa dia mendapati kuah berlemak atau daging kambing yang baik niscaya dia tetap ikut jamaah Isya’.”

Seandainya fardu ‘ain atas tiap muslim, niscaya beliau tidak membiarkan mereka, dan itu tentang salat jamaah karena disebutkan salat Isya’. Dan paling sedikit jamaah itu dua orang: imam dan makmum. Hal itu sesuai hadis Malik bin al-Huwairits, dia berkata,

«أَتَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَنَا وَصَاحِبٌ لِي فَلَمَّا أَرَدْنَا الْإِقْفَالَ مِنْ عِنْدِهِ قَالَ لَنَا إِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَأَذِّنَا ثُمَّ أَقِيمَا وَلْيَؤُمَّكُمَا أَكْبَرُكُمَا»، أخرجه مسلم

“Aku datang kepada Nabi Saw, aku dan temanku, ketika kami ingin pergi dari hadapan beliau, beliau bersabda, “Kami, jika telah tiba waktu salat maka kami tunaikan, kemudian tunaikan oleh kalian berdua salat dan hendaknya yang menjadi imam yang lebih tua dari kalian berdua.” (HR Muslim).

(Salat) jamaah tidak gugur kecuali dengan uzur syar’i yang ada nas tentangnya, seperti malam yang dingin atau hujan lebat, sebagaimana hadis Imam Bukhari bahwasanya Rasulullah Saw pernah memerintahkan muazin untuk mengumandangkan azan, kemudian beliau berkata, yang intinya tidak (diharuskan) salat pada perjalanan malam yang dingin atau hujan lebat.

2- Adapun mengenai salat Jumat, maka itu fardu ‘ain, tidaklah gugur kecuali dengan uzur, dan dalil-dalil atas hal itu sangatlah banyak, di antaranya:

Firman Allah SWT:

﴿إِذَا نُودِي لِلصَّلاَةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ﴾

“Apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (TQS al-Jumu’ah [62]: 9).

Perintah di dalam ayat ini adalah untuk mewajibkan dengan dalil qarinah larangan dari yang mubah, yang menunjukkan thalab jazm (perbuatan yang pasti). Al-Hakim telah meriwayatkan di al-Mustadrak ‘alâ ash-Shahîhayn dari jalur Thariq bin Syihab dari Abu Musa dari Nabi Saw, beliau bersabda,

«الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةٌ: عَبْدٌ مَمْلُوكٌ، أَوِ امْرَأَةٌ، أَوْ صَبِيٌّ، أَوْ مَرِيضٌ»

“Jumat merupakan hak wajib atas tiap muslim di dalam jamaah kecuali empat orang: hamba sahaya, wanita, anak-anak, atau orang yang sakit.” Al-Hakim berkata: hadis sahih menurut syarat syaykhayn (al-Bukhari dan Muslim).

Dan tidaklah diwajibkan bagi orang-orang yang takut, sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Abbas ra bahwa Nabi saw bersabda,

«مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يُجِبْهُ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إلَّا مِنْ عُذْرٍ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا الْعُذْرُ؟ قَالَ: خَوْفٌ أَوْ مَرَضٌ» أخرجه البيهقي في السنن الكبرى

“Siapa saja yang mendengar seruan (azan) dan tidak menjawabnya, maka tidak ada salat untuknya kecuali karena uzur.” Mereka berkata, “Ya Rasulullah, apa uzurnya?” Beliau bersabda, “Takut atau sakit.” (HR al-Baihaqi di Sunan al-Kubrâ).

Demikianlah, salat Jumat adalah wajib atas setiap muslim, kecuali bagi mereka yang dikecualikan oleh nas syar’i. Selain mereka, di antara orang yang tidak ada nas syar’i yang mengecualikannya, maka salat Jumat fardu ain atasnya.

Ini adalah uzur syar’i dan tidak bisa diqiyaskan atasnya. Uzur syar’i adalah apa yang dinyatakan nas syar’i. Dan qiyas tidak masuk dalam ibadah, sebab di dalamnya tidak dinyatakan nas yang disertai ‘illat sehingga bisa dilakukan qiyas padanya.

Salat Jumat wajib dilaksanakan di sejumlah kaum muslimin. Para sahabat telah berijmak bahwa harus ada sejumlah orang untuk salat Jumat. Maka salat Jumat itu harus dilakukan oleh sejumlah orang. Tidak disyaratkan jumlah tertentu.

Jumlah berapa pun yang bisa disebut jamaah, maka dinilai sebagai jumlah yang dengannya salat Jumat itu sah, selama jumlah itu dinilai sebagai jamaah. Sebab keberadaannya sebagai jamaah ditetapkan dengan hadis Thariq di atas:

«الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ »

“Jumat merupakan hak wajib atas tiap muslim di dalam jamaah.”

Dan karena jumlah tersebut ditetapkan dengan ijmak sahabat, dan tidak ada hadis yang menunjukkan jumlah tertentu dalam salat Jumat. Hanya saja, karena harus jamaah dan sejumlah, dan hal itu tidak bisa terpenuhi kecuali dengan tiga orang atau lebih, karena dua orang tidak disebut jamaah karena tidak adanya sejumlah orang bersama jamaah.

Atas dasar itu maka harus tiga orang yang padanya wajib Jumat sehingga sah salat Jumat itu. Jika kurang dari jumlah itu maka tidak sah disebut Jumat karena tidak adanya sejumlah orang. Telah terakadkan ijmak sahabat bahwa harus ada sejumlah orang untuk salat Jumat.

Begitulah, di dalam daulah al-Khilafah, salat Jumat dan jamaah tidak ditelantarkan. Tetapi orang yang punya uzur syar’iy, dia tidak menghadiri, sedangkan orang yang lain menghadiri.

Adapun pendapat bahwa telah menjadi dugaan kuat (ghalabah azh-zhann) bahwa semua orang berpotensi tertular dan tidak mungkin mencegahnya bagaimana pun langkah-langkah dan kehati-hatian diambil, maka itu merupakan kemungkinan yang lemah, khususnya bahwa jumlah minimal untuk jamaah adalah dua orang dan untuk salat Jumat adalah tiga orang. Ini menurut yang lebih rajih.

Seandainya kita asumsikan adanya kemungkinan ini, maka itu diambil di wilayahnya saja. Dari sini maka perkara itu wajib ditetapkan (diverifikasi) dengan sangat rinci dan amanah. Jika jumlah itu terpenuhi menurut ghalabah azh-zhann, maka salat Jumat dan salat jamaah tidak boleh ditiadakan, tetapi diambil semua langkah dan tindakan kehati-hatian.

Jadi tindakan pencegahan itu tidak berarti meninggalkan kewajiban, melainkan kewajiban itu ditunaikan disertai mengambil kehati-hatian dan langkah-langkah untuk mencegah penularan.

Ini adalah hukum yang rajih dalam masalah tersebut. Jika negara menutup masjid-masjid tanpa mengerahkan segenap upaya dalam memverifikasi ghalabah azh-zhann sebagaimana yang kami jelaskan di atas, dan berikutnya melarang masyarakat mendatangi masjid untuk salat Jumat dan jamaah, maka negara berdosa dengan dosa besar karena menelantarkan (meniadakan) salat Jumat dan jamaah.

Di akhir, sungguh sangat menyedihkan, para penguasa di negeri kaum muslim mengikuti langkah-langkah kaum kafir penjajah sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Jika negara-negara kafir penjajah itu bermasalah dalam mengatasi penyakit tertentu, para penguasa itu pun mengikuti mereka.

Jika mereka menyodorkan solusi, meskipun kondisinya berbeda, para penguasa negeri kaum Muslim berjabat tangan dengan musuhnya, dan menganggap telah sehat dan pulih!

Sungguh menyakitkan, wabah corona ini menambah resesi dan kejumudan terhadap negeri dan penduduknya sehingga hampir-hampir kehidupan publik berhenti, padahal negeri kaum muslim telah berlalu atasnya banyak hal.

Telah diuji dengan Tha’un, sementara negeri kaum Muslim sedang mengarungi perang menentukan melawan Romawi di Syam pada tahun 18 H.

Demikian juga, Umat telah diuji pada pertengahan abad keenam hijriyah dengan wabah asy-Syaqfah yang sekarang disebut cacar yang menyebar dari Syam hingga Maroko. Dan itu sekarang dinilai sebagai bagian dari luka kulit yang disebabkan oleh sejenis bakteri.

Demkian juga kaum Muslim telah diuji pada pertengahan abad ke-8 hijriyah (749 H) dengan apa yang disebut Tha’un al-a’zham di Damaskus. Dan dalam semua kondisi itu, masjid-masjid tidak ditutup dan salat Jumat dan jamaah tidak dihentikan.

Orang-orang juga tidak dikurung di rumah mereka. Tetapi, orang yang sakit diisolasi. Orang-orang yang sehat tetap menjalankan aktivitas mereka dengan jihad dan memakmurkan bumi.

Mereka pergi ke masjid, salat, dan berdoa kepada Allah agar melindungi mereka dari penyakit ini. Ini ditambah dengan pengobatan yang mereka adopsi dalam merawat orang yang sakit. Inilah yang benar.

﴿فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ﴾

“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan.” (TQS Yunus [10]: 32). [MNews | gz]

2 Sya’ban 1441 H / 26 Maret 2020 M

Sumber: http://www.hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer/political-questions/66945.html

Bagaimana menurut Anda?

8 thoughts on “Tanya-Jawab: Dampak Virus Corona (Covid-19) [Bagian 4/4]

  • 11 April 2020 pada 04:36
    Permalink

    Butuh aturan Islam untuk mengatasi wabah ini segera

    Balas
  • 10 April 2020 pada 12:19
    Permalink

    Kembali kepada aturan Islam

    #AllahuAkbarr

    Balas
  • 10 April 2020 pada 12:15
    Permalink

    Ya Allah kami rindu khilafah yg dimana aturan2 engkau yg dipakai di dalamx😢

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *