Menelisik Kesenjangan Gaji Perempuan

Oleh: Pratma Julia Sunjandari

MuslimahNews.com, ANALISIS – WFH –Work From Home– menjadi idiom yang mendadak tenar di tengah pandemi Covid-19. Tak sedikit perempuan karier dan profesional mulai mengakrabi kebiasaan baru ini. Bagi ASN, aparatur sipil negara kebijakan WFH diberlakukan hingga 21 April 2020 oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB).

Yang lantas menjadi persoalan adalah, ketika work from home, bagaimana penghasilan mereka? Kesenjangan penghasilan perempuan (gender pay gap) memang masih menjadi persoalan yang ‘membebani’ para pegiat gender. Pemerintah, melalui Kepala Biro Humas Kementerian Tenaga Kerja R Soes Hindharno menjelaskan, gaji saat WFH diatur berdasarkan Surat Edaran (SE) Menaker Nomor M/3/HK.04/III/2020 tentang Pelindungan Pekerja/Buruh dan Kelangsungan Usaha Dalam Rangka Pencegahan dan Penanggulangan Covid-19.

Poin penting penyesuaian penghasilan adalah pertimbangan kelangsungan usaha. Sehingga perubahan besaran dan cara pembayaran upah pekerja negotiable, tergantung perundingan antara perusahaan dan karyawan. Beberapa perusahaan membayar full gaji, ada pula perusahaan yang tidak membayar uang transport dan uang makan karena tidak masuk kantor. [1]

Realitas ini tentu menjadi sasaran empuk para pegiat gender untuk kembali membuktikan ketidakberpihakan dunia kerja pada perempuan. Gender equality in the workplace dianggap masih menjadi masalah internasional. Bahkan salah satu kegagalan implementasi Beijing Platform for Action (BPfA) adalah ketika gaji perempuan dibayar 16 persen lebih rendah daripada gaji laki-laki.

Di Indonesia, data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Laporan Perekonomian 2019 mencatat, kesenjangan antara upah laki-laki dan perempuan selama periode 2015-Februari 2019, selisihnya mencapai Rp 492,2 ribu.[2] Temuan BPS mendukung pernyataan Menkeu Sri Mulyani Indrawati (SMI) ketika memberi Keynote Speech pada ABAC Women’s Luncheon dengan tema “Pushing Growth of Woman-LED Social Enterprise.

SMI mengatakan perempuan menerima gaji 23 persen lebih rendah daripada laki-laki. Penyebabnya, persepsi (patriarkis red.)-lah yang menjadi penghalang bagi banyak perempuan di Indonesia untuk berpartisipasi dalam pasar kerja adalah.[3]

Fenomena itu tentu meresahkan industrialis karena fokus kapitalisme adalah menghilangkan hambatan besar bagi peluang keuntungan yang bakal diterima korporasi global untuk mendapatkan SDM potensial. Imbalan besar akan mereka dapatkan saat perempuan dihilangkan semua hambatannya dalam ‘menumbuhkan ekonomi.’

Apalagi penjajah dunia, menggunakan PBB demi mengejar keberlangsungan (sustainable) ‘penjajahan korporasi multinasional’ melalui kedok Sustainable Development Goals (SDGs) yang memprovokasi semua negara untuk mengejar kesetaraan gender.

Maka women’s economic empowerment menjadi senjata ampuh untuk menggerakkan diversifikasi lapangan usaha kapitalis. Laura D’Andrea Tyson – mantan ketua Dewan Penasihat Ekonomi presiden Bill Clinton- berpendapat mengabaikan setengah dari tenaga kerja dunia [baca: perempuan] berarti hanya menyadari setengah dari potensi ekonomi dunia.[4]

Prof. Ramola Kumar, Dekan The Delhi School of Communication menguatkan bahwa kontribusi perempuan itu yang sekitar 50 % dari total populasi dunia akan berdampak pada perkembangan ekonomi secara keseluruhan.

Karenanya, mereka harus menjadi peserta aktif dalam kegiatan ekonomi dan juga harus memiliki kekuatan pengambilan keputusan yang sama. Bahkan banyak ibu rumah tangga, bisa beriringan menjalankan peran sebagai manajer dalam memimpin dan mengarahkan suatu organisasi.[5]

Karena itu, wajar jika perempuan harus mendapatkan remunerasi sepadan. Apalagi laporan Australian Department of Families, Housing, Community Services and Indigenous Affairs pada tahun 2009 meng-klaim penurunan kesenjangan upah gender dari 17% menjadi 16% bakal meningkatkan PDB per kapita sekitar $ 260.[6]

Semua kampanye itu dideraskan Barat, karena mereka menyadari sulit menghapus naluri seorang perempuan untuk bertahan dalam rumah dan mendampingi buah hatinya. Karena itu harus ada iming-iming sepadan yang mampu menyeret mereka keluar dari ‘habitat’ ternyamannya, menjadi ibu full time.

Dan ternyata, hidup di era kapitalisme –saat negara cuma berfungsi bagai wasit pertandingan dan tak peduli dengan jaminan pemenuhan kebutuhan rakyatnya- memaksa para ibu untuk berpikir tentang ‘mendapatkan penghasilan’. Di posisi seperti inilah, kebutuhan finansial para ibu bertemu dengan kepentingan para kapitalis.

Namun ternyata, remunerasi yang diberikan perusahaan pemberi kerja, belum mampu memobilisasi sejumlah besar perempuan. Atau, para perempuan belum mengeluarkan semua potensi yang dibutuhkan dunia kerja. Salah satunya disebabkan gender pay gap itu.

Dan sah saja bagi mereka untuk melegitimasi kampanye menghilangkan kesenjangan pendapatan. Seperti penelitian Universitas Columbia AS pada tahun 2016 yang menyimpulkan, ketika perempuan menghasilkan lebih sedikit upah, mereka 2,4 kali lebih mungkin mengalami depresi dan 4 kali lebih mungkin mengalami kecemasan.[7]

Padahal, tentu saja depresi itu bukan hanya disebabkan kesenjangan upah, namun hidup dalam masa kapitalisme tentu membawa pada ketidakpastian dan kecemasan dalam menjalani kehidupan.

Kapitalisme pulalah yang terbiasa mengatasi ‘semua problem’ termasuk problem yang dihadapi perempuan itu dengan besarnya imbalan materialistis yang mereka terima. Dan membiarkan perempuan tanpa penghasilan atau tanpa penghasilan sepadan, akan menyebabkan mereka bergantung pada pembayaran kesejahteraan, terutama di usia tua.

Karena itu dunia beramai-ramai mengkampanyekan perimbangan gaji antara laki-laki dan perempuan, agar mereka tidak akan membebani negara dengan tunjangan gratis di hari tua karena tak memiliki tabungan atau asuransi.

Dunia lantas menawarkan berbagai cara untuk menghilangkan kesenjangan. World Economic Forum misalnya, menyarankan kolaborasi publik-swasta untuk mempercepat peningkatan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja, membantu lebih banyak perempuan berperan dalam kepemimpinan dan mengembangkan keterampilan sesuai permintaan pasar.[8]

Yang paling mendasar, bagi ‘perjuangan’ kesetaraan jelas meruntuhkan paradigma yang menghalangi keterlibatan penuh perempuan. Mitos bahwa perempuan kurang ambisius dan kurang percaya diri harus diruntuhkan. Beban dan tanggung jawab dalam rumah tangga harus dikurangi, termasuk meniadakan pembatasan peran sosial dan ekonomi perempuan serta potensi penindasan dan pelecehan di rumah dan di tempat kerja.

Semua itu adalah kalimat-kalimat klise yang selalu digaungkan kaum feminis untuk membenakkan ide yang mereka paksakan untuk diadopsi siapa pun.

Justru itulah pangkal mula kesalahan berpikir pengasong ide gender. Kesenjangan penghasilan antara laki-laki dan perempuan bukan disebabkan perbedaan gender. Apalagi mengaitkannya dengan persepsi tertentu, yang lagi-lagi menempatkan Islam sebagai sasaran tembak.

Islam yang menempatkan peran utama perempuan sebagai ibu dan manajer rumah tangga, tentu kontraproduktif dengan kampanye gender yang memobilisasi perempuan meraih penghasilan setara laki-laki. Padahal hukum Islam memperbolehkan perempuan bekerja dengan syarat dan ketentuan sesuai syariat, sesuai kekhususan peran dan posisinya.

Alhasil, jika perempuan bekerja, maka berlaku hukum syariat tentang ijaratul ajir (kontrak kerja) yang secara umum tidak berbeda antara laki-laki dan perempuan. Islam telah menjelaskan secara terperinci bagaimana kontrak kerja pengusaha-pekerja melalui hukum-hukum yang menyangkut jenis pekerjaan, waktu, termasuk besaran gaji.

Bila pekerja perempuan memiliki kemampuan yang lebih unggul daripada laki-laki pada pekerjaan yang sama, tak menutup kemungkinan besaran penghasilannya melebihi laki-laki-laki. Jadi tak ada kezaliman dalam hal penghasilan sebagaimana yang biasa terjadi di dunia kapitalis.

Negara Khilafah, pasti akan mencegah tindak kezaliman yang dilakukan satu pihak kepada pihak lainnya, termasuk dalam akad pekerjaan sebagai penerapan keseluruhan hukum syariat seperti dalam hadits qudsi berikut.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda, Allah Swt. berfirman,

Tiga orang yang Aku musuhi pada hari kiamat nanti adalah orang yang telah memberikan (baiat kepada khalifah) karena Aku, lalu berkhianat; orang yang menjual (sebagai budak) orang yang merdeka, lalu dia memakan harga (hasil) penjualannya; serta orang yang mengontrak pekerja, kemudian pekerja tersebut menunaikan pekerjaannya, sedangkan orang itu tidak memberikan upahnya.” (HR Ahmad, Bukhari, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Jadi, masalah penghasilan dalam pandangan syariat Islam, tidak berhubungan dengan kecukupan akan kebutuhan hidup, perbedaan jenis kelamin, hingga jaminan hari tua. Sedangkan di negara kapitalis, negara cuci tangan akan jaminan kesejahteraan warganya. Mereka harus membayar semua layanan demi memenuhi hajat publiknya.

Karena itu dengan jumlah gaji relatif tetap, tidak akan mampu membiayai semua kebutuhan hidup yang selalu bertambah. Karena itu muncul tuntutan untuk menghilangkan gender pay gap, agar perempuan mandiri secara finansial dalam memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menjamin hari tuanya.

Tentu saja fenomena tersebut tak bakal terjadi dalam Khilafah Islamiyah, yang memastikan peran negara terjadi secara paripurna dalam menjamin kebutuhan rakyat. Maka persoalan besar-kecilnya penghasilan tidak akan menimbulkan masalah, karena hajat publik dipenuhi secara thayyib oleh negara, murah pembiayaannya bahkan gratis. Masih tak mau hidup dalam naungan negara yang mulia ini? [MNews]

[1] https://economy.okezone.com/read/2020/03/19/20/2185973/karyawan-kerja-dari-rumah-apa-gaji-dibayar-penuh

[2] https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/10/11/kesenjangan-upah-antar-gender-semakin-melebar

[3] https://www.cnbcindonesia.com/news/20190424154951-4-68602/sri-mulyani-gaji-perempuan-23-lebih-rendah-dibanding-pria

[4] https://www.mckinsey.com/business-functions/organization/our-insights/promoting-gender-parity-in-the-global-workplace

[5] https://www.thehighereducationreview.com/opinion/in-my-view/women-empowerment-a-fair-play-to-persistent-paradoxes-of-our-times-fid-104.html

[6]https://web.archive.org/web/20101201110158/http://www.actu.org.au/Images/Dynamic/attachments/6895/NATSEM_report.pdf

[7]https://money.kompas.com/read/2020/04/02/093100426/kesenjangan-gaji-bisa-pengaruhi-kesehatan-mental-wanita#utm_source=insider&utm_medium=web_push&utm_campaign=kesenjangangajikaryawanwanita&webPushId=NDc1MT.

[8] http://www3.weforum.org/docs/WEF_GGGR_2020.pdf

Bagaimana menurut Anda?

65 tanggapan untuk “Menelisik Kesenjangan Gaji Perempuan

  • 18 April 2020 pada 05:26
    Permalink

    Selama perempuan hidup di kapotalis maka hoax kesejahteraan itu didapatkan apalagi dg embel2 kesetaraan gender, malah menjauhkan perempuan dari fitrahnya.

    Balas
  • 15 April 2020 pada 12:06
    Permalink

    Islam memuliakan wanita.

    Balas
  • 11 April 2020 pada 22:46
    Permalink

    Kemiskinan teratasi jika perempuan bekerja adalah omong kosong

    Balas
  • 11 April 2020 pada 18:34
    Permalink

    Islamlah yang memuliakan perempuan sesuai fitrahnya

    Balas
  • 11 April 2020 pada 11:29
    Permalink

    Hidup dalam sistem kapitalis mau laki-laki atau perempuan semuanya akan merasa terdzalimi.

    Balas
  • 11 April 2020 pada 11:20
    Permalink

    Hanya Islam solusi hakiki

    Balas
  • 11 April 2020 pada 08:02
    Permalink

    Maasya Allah ♥️

    Balas
  • 11 April 2020 pada 07:26
    Permalink

    Inilah watak kapitalisme,,hanya mementingkan si kaya dan mengabaikan yang miskin

    Balas
  • 11 April 2020 pada 06:44
    Permalink

    Penerapan sistem Islam dg hukum Alloh akan selalu terjaga keadilannya

    Balas
  • 11 April 2020 pada 06:04
    Permalink

    Sudah menjadi alamiah nya seorang perempuan menjadi madrasatul ula/ madrasah pertama bagi anaknya sehingga urusan mencari nafkah seharusnya dilakukan oleh para lelaki saja… Islam telah mengatur kehidupan antara perempuan dan laki-laki sehingga perempuan tetap terjaga iffah dan Izzah nya

    Balas
  • 11 April 2020 pada 05:49
    Permalink

    Jazakillah Khoiron Katsiron Ustadzah…sy setuju, dan sangat mau diterapkannya Syariat Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyyah.

    Balas
  • 11 April 2020 pada 05:41
    Permalink

    gender adalah agenda penjajahan barat

    Balas
  • 11 April 2020 pada 04:37
    Permalink

    Peremouabt butuh PD aturan Islam untuk kesejahteraan mereka

    Balas
  • 11 April 2020 pada 03:52
    Permalink

    Islam solusi paripurna tuk kehidupan Manusia.

    Balas
  • 11 April 2020 pada 03:51
    Permalink

    Setuju atas pendapatnya. Gaji perempuan lebih rendah dari laki2 karena mereka memang punya kewajiban lain yang utama, yaitu sebagai ibu pendidik anak2..

    Balas
  • 10 April 2020 pada 22:26
    Permalink

    Hukum dasar bekerja seorg wanita dlm islam adalah mubah, tp mubah nya ini yg kadang bnyk d’jadikan alasan u/ bekerja,, feminisme hny ada d’sistem kufur yakni kapitalisme, sedangkan dlm islam perempuan sangat d’hormati & d’muliakan derajatny,, smoga khilafah sgera bangkit kembali,krn itu janji Allah SWT,janji Allah pasti…

    Balas
  • 10 April 2020 pada 22:00
    Permalink

    Negara khilafah Islam akan menjamin kebutuhan setiap individu rakyatnya sampai tuntas sehingga TDK ada lg yg menderita…

    Balas
  • 10 April 2020 pada 21:13
    Permalink

    Saya jg wanita pekerja. Sistem kapitalis benar2 memaksa wanita untuk bekerja, karena kebutuhan yg harganya terus melambung tinggi 😥

    Rindu khilafah

    Balas
  • 10 April 2020 pada 21:07
    Permalink

    MasyaAllah jazakillah khoir, islam memuliakan wanita dan seluruh makhluk hidup

    Balas
  • 10 April 2020 pada 21:06
    Permalink

    MasyaAllah jazakillah khoir

    Balas
  • 10 April 2020 pada 21:06
    Permalink

    Islam memuliakan wanita.

    Balas
  • 10 April 2020 pada 20:16
    Permalink

    Semoga khilafah segera tegak kembali. Aamiin

    Balas
  • 10 April 2020 pada 19:56
    Permalink

    Kalau rezim saat ini gajinya berdasarkan upah Minimum. Mungkin, tidak dipungkiri lagi pada saat daulah Islam Insyaa Allah bukan Minimum tapi upah Maksimal, paling maksimal.

    Balas
  • 10 April 2020 pada 19:04
    Permalink

    Sebenarnya bekerja bagi perempuan itu boleh tpi untk skr mah perempuan bekerja krn harus menjadi tulang punggung

    Balas
  • 10 April 2020 pada 18:46
    Permalink

    Hanya Islam yg mampu memuliakan perempuan

    Balas
  • 10 April 2020 pada 17:15
    Permalink

    Dlm sistem kapitalisme yg rusak ni smw dijadikan brg dagang yg bernilai, bahkan kemuliaan wanita pun bs berharga bagi dunia kerja. Biarlah melepaskan izzah diri asalkan bernilai materi,, naudzubillah smg Allah mengembalikan kemuliaan wanita sebagaimana Islam memuliakan nya.

    Balas
  • 10 April 2020 pada 14:41
    Permalink

    Islam memperlakukan perempuan sangat adil

    Balas
  • 10 April 2020 pada 14:15
    Permalink

    Hanya aturan Islam yang dapat memuliakan perempuan, bukan kesetaraan gender/feminisme!

    Balas
  • 10 April 2020 pada 13:56
    Permalink

    Lagi2 Islam selalu di depan. Islam is the best

    Balas
  • 10 April 2020 pada 13:53
    Permalink

    Keadaan sistem kapitalisme lah yang membuat para wanita bekerja, Karena kebutuhan hidup yang semakin mahal, sekolah mahal, kebutuhan pokok mahal,menyebabkan perempuan terpaksa bekerja. Berbeda pada Masa Islam, pendidikan dan kebutuhan hidup mendapat jaminan kesejahteraan.

    Balas
  • 10 April 2020 pada 13:40
    Permalink

    Di sistem kapitalisme, wanita memikul beban ganda, terpaksa menjadi tulang punggung keluarga dan dituntut menjadi pendidik anak anaknya..

    Balas
  • 10 April 2020 pada 13:34
    Permalink

    hanya Islam solusi tuntas

    Balas
  • 10 April 2020 pada 13:33
    Permalink

    Hanya Khilafah yg mampu menuntaskan segala problematika hidup dng syariat islam

    Balas
  • 10 April 2020 pada 13:30
    Permalink

    Yaa Allah smoga Khilafah segera tegak
    aamiiin

    Balas
  • 10 April 2020 pada 13:29
    Permalink

    Dalam negara kapitalis, negara cuci tangan akan jaminan kesejahteraan warganya.

    Balas
  • 10 April 2020 pada 13:26
    Permalink

    dengan islam wanita di muliakan

    Balas
  • 10 April 2020 pada 13:13
    Permalink

    Syari’at Islam memperlakukan pria dan wanita secara adil. Tidak berlaku dzolim apalagi membenci dan merendahkan wanita seperti yang dilakukan kapitalisme. Wanita sejahtera dalam khilafah tanpa dibebani kewajiban menafkahi. Islam menjamin pemenuhan kebutuhan asasi baik bagi laki-laki maupun perempuan.

    Balas
  • 10 April 2020 pada 13:10
    Permalink

    Semoga opini mampu sampai ke khalayak umum
    . Aamiin

    Balas
  • 10 April 2020 pada 13:05
    Permalink

    islam adalah solusi tuntas

    Balas
  • 10 April 2020 pada 12:42
    Permalink

    Dalam Islam tidak bada perbedaan pembayaran upah,namun yang harus dilihat ialah untuk apa sebenarnya perempuan bekerja dan dibidang apa yg boleh perempuan bekerja,itu sudah diatur dalam Islam,jadi tidak terjadi eksploitasi perempuan dalam Islam, bahkan Islam sangat memuliakan perempuan

    Balas
  • 10 April 2020 pada 12:32
    Permalink

    Solusi tuntas segala problem adalah sistem islam kaffah

    Balas
  • 10 April 2020 pada 12:27
    Permalink

    Gender adalah kedok busuk kapitalis

    Balas
  • 10 April 2020 pada 12:17
    Permalink

    sistem islam itu adil karena dari yang maha adil

    Balas
  • 10 April 2020 pada 11:45
    Permalink

    Hanya Islam yg memuliakan perempuan

    Balas
  • 10 April 2020 pada 11:43
    Permalink

    Politik ekonomi islam adalah terpenuhinya kebutuhan pokok individu perindividu.

    Balas
  • 10 April 2020 pada 10:55
    Permalink

    Cuma Islam yang memuliakan perempuan. Buktikan! Terapkan syari’ah dan tegakkan khilafah. Allahu Akbar !

    Balas
  • 10 April 2020 pada 10:52
    Permalink

    Hanya yg sdh terbukti memuliakn perempuan

    Balas
  • 10 April 2020 pada 10:40
    Permalink

    Feminisme adalah candu

    Balas
  • 10 April 2020 pada 10:40
    Permalink

    Kembali ke islam karena hanya Islam yg dpat memuliakan perempuan!!!

    Balas
  • 10 April 2020 pada 10:28
    Permalink

    Semua itu adalah kalimat-kalimat klise yang selalu digaungkan kaum feminis untuk membenakkan ide yang mereka paksakan untuk diadopsi siapa pun.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *