Memisahkan Cara Beragama dari Agama = Mutilasi Agama

Oleh: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, TSAQAFAH – Para pengusung Islam Moderat terus berupaya keras untuk menjauhkan umat Islam dari pemahaman Islam yang lurus dengan berbagai macam cara. Tidak hanya sekadar menjadikan hukum buatan manusia lebih tinggi dari hukum Allah, tetapi lebih jauh dari itu.

Dengan cara yang sangat halus mereka terus mengopinikan bahwa semua agama benar, karena semua agama mengajak kepada kebaikan, mereka melarang menyebut kafir kepada selain Islam.

Padahal telah jelas dalam Alquran bahwa selain muslim adalah kafir. Seorang muslim dituntut harus bertoleransi dengan pemeluk agama lainnya, bahkan mengucapkan selamat di hari raya selain agamanya pun tidak dianggap sebagai penyimpangan dari Islam.

Propaganda-propaganda dan jargon-jargon yang nampaknya bijaksana atau menyejukkan sengaja disebarkan ke tengah-tengah umat, semisal “Islam damai”, “Islam mencintai perdamaian”, “Islam mengajarkan kerukunan” dan sebagainya, sesungguhnya merupakan racun berbalut madu yang bisa membunuh karakter din Islam yang sesungguhnya dari benak kaum muslimin.

Beberapa waktu yang lalu propaganda semacam ini pun kembali muncul:

“Moderasi agama sama sekali bukan terletak pada apakah agamanya. Melainkan terkait dengan cara bagaimana beragama yang lebih menekankan pada sikap tengah-tengah atau wasathiyah. Pada akhirnya, cara keberagamaan demikian akan berdampak pada sikap toleran. Dan secara langsung akan berefek pada pengurangan Islamofobia di dunia.”

Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Agama Republik Indonesia (Menag RI) Jenderal TNI Purn Fachrul Razi ketika jadi pembicara pada Seminar Pra Muktamar Muhammadiyah ke-48 bertajuk “Ekstremisme Sosial-Keagamaan dan Perdamaian Semesta”, yang berlangsung di UHAMKA, Sabtu (14/03/2020).

Sepintas memang pernyataan ini sepertinya baik-baik saja, seperti tidak ada yang salah, bahkan bisa jadi sebagian kalangan menilai pernyataan tersebut sebagai pernyataan yang ‘positif’. Akan tetapi, jika kita perhatikan dengan seksama, maka kita akan temukan bahwa pernyataan ini bukan pernyataan biasa-biasa saja.

Ini adalah pernyataan yang membahayakan umat, racun berbalut madu lagi. Pernyataan ini mengandung pengertian memisahkan agama dan cara bagaimana cara beragama, dengan kata lain menekankan pemisahan kehidupan beragama dari agamanya, yang intinya tidak lain adalah sekuler, sekulerisasi Islam.

Jika pernyataan ini ditujukan kepada Islam, maka ini sama saja dengan mutilasi agama Islam. Bagaimana mungkin Islam sebagai diin syamilan wa kaamilan, yang datang dari Allah SWT dianggap tidak mengatur bagaimana cara beragama umatnya?

Sekali lagi… pernyataan yang sembrono, sama saja dengan mutilasi agama Islam, mengerat-kerat Islam.

Islam Diin Sempurna, Mengatur Seluruh Aspek Kehidupan

Innadiina ‘indallaahi al-Islam. Hanya Islam din yang diridai Allah. Islam merupakan din yang sempurna, yang seluruh ajarannya bersumber dari wahyu Ilahi yang tidak akan berubah sampai kapan pun, telah memberikan aturan-aturan dengan terperinci, sehingga seluruh problematik hidup makhluk-Nya dalam situasi dan kondisi apa pun dapat diselesaikan dengan memuaskan tanpa ada satu pun yang dirugikan, karena aturan-aturan tersebut senantiasa memuaskan akal dan sesuai dengan fitrah manusia.

Dan pada ahirnya menentramkan jiwa. Mengapa? Karena Islam lahir dari Dzat yang menciptakan manusia yang Maha Mengetahui hakikat makhluk yang diciptakannya, bukan buatan manusia.

Mahaadilnya Allah telah memberikan aturan yang sedemikan rinci untuk hamba-Nya, yang dengan aturan-aturan tersebut manusia dapat menjalani kehidupan ini dengan benar dan teratur, dan pada akhirnya akan bisa membawa kepada kebahagiaan.

Aturan-aturan ini dijadikan sebagai pijakan sehingga kita mampu terus melangkah tanpa ragu atau bingung, tetapi justru bersemangat dalam menjalani kehidupan. Karenanya Allah memerintahkan kita, umat Islam untuk masuk ke dalam Islam secara keseluruhannya, kaaffah sehingga akan membawa kepada kebahagiaan yang sesungguhnya.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِين

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 208)

Telah sangat jelas sesungguhnya tidak ada satu pun aspek kehidupan yang luput, seluruhnya diatur oleh Islam, dari mulai bersuci hingga pun penyelenggaraan negara, seluruhnya diatur oleh Islam.

Kita diajarkan oleh Islam ketika masuk kamar mandi dengan kaki kiri sambil membaca doa tertentu, diajarkan cara bersuci seperti apa, kemudian keluar kamar mandi dengan kaki kanan dan membaca doa tertentu pula.

Kita pun diajarkan bagaiman bermuamalah dengan sesama manusia hingga kita diajarkan oleh Rasulullah SAW bagaimana seharusnya membangun negara, mendirikan khilafah dan bagaimana seharusnya memperjuangkan tegaknya Khilafah serta bagaimana penyelenggaraan sebuah negara, tugas-tugas khalifah sebagai kepala negara, fungsi aparatur negara, dan sebagainya.

Masyaa Allah… luar biasa! Sungguh beruntung kita sebagai seorang muslim. Seluruh aspek kehidupan diatur oleh Islam. Artinya, tidak ada satu pun aspek kehidupan yang terpisah, yang lepas dari Islam.

Demikian hal dengan cara beragama, bagaimana mungkin dipisahkan dari agamanya, jika berkaitan dengan bersuci saja diatur. Islam mengatur sedemikian rinci bagaimana seharusnya bersikap dengan sesama muslim dan juga dengan para penganut selain Islam.

Islam Mengatur Cara Beragama Secara Rinci

Tidak ada satu aspek kehidupan pun yang lepas dari aturan Islam, demikian halnya dengan kehidupan beragama. Islam mengatur bagaimana seharusnya seorang muslim bergaul dalam hidup bermasyarakat, baik dengan sesama muslim maupun dengan selain muslim.

Dalam negara Islam -daulah khilafah- setiap warga negara baik muslim maupun nonmuslim (kafir dzimmiy), mendapat hak yang sama. Negara tidak membeda-bedakan individu rakyat dalam aspek hukum, peradilan, maupun dalam jaminan kebutuhan rakyat dan semisalnya. Seluruh rakyat diperlakukan sama tanpa memperhatikan ras, agama, warna kulit, dan lain-lain (Pasal 6 Masyru’ud dustuur).

Tidak ada paksaan bagi nonmuslim untuk memeluk Islam, sebagaimana firman Allah dalam QS al-Baqarah 256: “Laa ikraaha fiddiin, qod tabayyana rusydu minal ghayyi.” (“Tidak ada paksaan untuk memeluk Islam, sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat”).

Hanya saja, negara memberlakukan syariat Islam atas seluruh rakyat yang berkewarganegaraan (Khilafah) Islam, baik muslim maupun nonmuslim. Nonmuslim dibiarkan memeluk akidah dan menjalankan ibadahnya di bawah perlindungan peraturan umum. Dalam hal makanan minuman, dan pakaian, diperlakukan sesuai dengan agama mereka, sebatas apa yang diperbolehkan hukum-hukum syara’.

Demikian halnya terkait nikah dan talak antara sesama nonmuslim diselesaikan sesuai dengan agama mereka. Dan jika terjadi diselesaikan menurut hukum Islam.

Inilah yang dimaknai sebagai “tasamuh” (toleransi) dalam Islam. Bukan ikut merayakan hari raya mereka, menganggap agama selain Islam benar, atau bentuk toleransi yang kebablasan lainnya.

Islam memberi batasan-batasan bagaimana bersikap terhadap orang-orang kafir. Allah SWT telah mengharamkan berloyalitas terhadap orang-orang kafir, tidak boleh mengikuti ajaran mereka dan ikut merayakannya, serta menjadikan mereka sebagai teman ataupun sahabat.

Karena mereka adalah musuh-musuh Islam dan kaum muslimin, sekaligus Allah SWT telah mewajibkan untuk berloyalitas hanya kepada Allah dan RasulNya serta terhadap orang-orang yang beriman serta mencintai mereka.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ}

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang yahudi dan Nasrani sebagai kekasih/teman dekat(mu); sebagian mereka adalah kekasih bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu menjadikan mereka sebagai kekasih/teman dekat, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka” (QS al-Maa-idah:51)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الإِيمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُون

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu sebagai kekasihmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan siapa yang di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai kekasih, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS at-Taubah:23).

Sabda Rasulullah SAW:

“Janganlah kalian tinggal bersama orang-orang musyrik, jangan pula bergabung dengan mereka. Barang siapa tinggal dan bergabung bersama mereka, dia bagian dari mereka.” (HR al-Hakim 2/141—142, dari Samurah bin Jundub)

Allah berfirman yang artinya:

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut agama Allah itulah yang pasti menang”. (QS Al-Maidah: 55-56).

Demikian pula sabda Rasulullah SAW:

“من أحب لله وأبغض لله وأعطى لله ومنع لله فقد استكمل الإيمان”

Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan tidak memberi karena-Nya, maka sungguh telah sempurna keimanannya.” (HR Abu Dawud (no. 4681) dan al-Hakim (no. 2694)

Namun, meskipun Islam memerintahkan untuk memusuhi orang-orang dan bangsa kafir yang jelas-jelas memusuhi Islam dan kaum muslimin, dan selanjutnya tidak boleh bekerja sama dengan mereka, akan tetapi Islam pun mengharamkan berbuat zalim terhadap mereka tanpa alasan yang haq.

Islam menghormati hak-hak orang-orang kafir mu’ahad (yang sedang dalam perjanjian damai), dzimmiy (orang-orang kafir yang tinggal sebagai warna negara khilafah dengan membayar jizyah), musta’man (orang kafir yang meminta perlindungan dari khilafah).

Islam mengharamkan darah dan harta benda mereka. Islam juga memberikan hak-hak dan kewajiban yang sama kepada mereka, sebagaimana hak dan kewajiban kaum Muslimin.

Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya. (QS An-Nahl: 91). “Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggunganjawabannya”. (QS Al-Isrâ’: 34).

Demikianlah, Islam telah dengan sangat rinci mengatur bagaimana kehidupan beragama, sama sekali tidak memisahkannya dan tidak boleh memisahkannya dari Islam. Karenanya upaya memisahkan kehidupan beragama dari agama Islam sama saja dengan mutilasi agama Islam. Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

73 tanggapan untuk “Memisahkan Cara Beragama dari Agama = Mutilasi Agama

  • 13 April 2020 pada 18:01
    Permalink

    Islam solusi yang tuntas dan sempurna

    Balas
  • 11 April 2020 pada 22:27
    Permalink

    Islam memiliki aturan dari ranah pribadi, berkeluarga, bermasyarakat hingga bernegara. Kalau aturan dipilah pilih mana yang suka, sama dengan mengundang murka Allah, wajarlah jika keberkahan dari langit dan bumi belum Allah turunkan.

    Balas
  • 11 April 2020 pada 22:04
    Permalink

    Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dgn slogan2 racun berbalut madu. Namun yakinlah, Allah akan mnympurnakan cahaya-Nya.

    Balas
  • 11 April 2020 pada 18:55
    Permalink

    Islam adalah solusi yang paling baik sempurna

    Balas
  • 11 April 2020 pada 18:23
    Permalink

    Sekulerisme merusak kehidupan manusia

    Balas
  • 11 April 2020 pada 15:30
    Permalink

    Allahu akbar , semoga alah membukabcara pndang umat agar kembali ke jalan yg lurus

    Balas
  • 11 April 2020 pada 11:20
    Permalink

    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
    Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al Maidah : 3)

    Balas
  • 11 April 2020 pada 05:00
    Permalink

    Hadzaa diinul Islam.. sistem kehidupan yg berasal dari Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Islam dapat diterapkan dlm seluruh aspek kehidupan, khususnya dalam kehidupan bernegara agar menjadi rahmat bg seluruh alam, aamiin.

    Balas
  • 10 April 2020 pada 21:46
    Permalink

    Hanya Islam agama yang haq

    Balas
  • 10 April 2020 pada 20:50
    Permalink

    Ya, mengapa ada orang Islam yg moderat, sebenarnya tidak ada Islam moderat, mereka bisa mengstatement seperti itu, wajarlah karena walaupun mereka agamanya Islam ternyata aqidah nya fashluddin ‘anil hayah. Walau pun itu terjadi sama ulama sekalipun

    Balas
  • 10 April 2020 pada 15:03
    Permalink

    Masyaa Allah… luar biasa! Sungguh beruntung kita sebagai seorang muslim

    Balas
  • 10 April 2020 pada 14:01
    Permalink

    Tantangan kaum muslimin di masa saat ini ketika berhadapan dengan saudaranya sendiri namun saudara kita tersebut mengusung ide Islam moderat yang hal ini justru menjauhkan kaum muslimin dari Islam yang sesungguhnya.

    Saatnya umat cerdas dengan Islam dengan tidak terarus oleh tsaqofah asing dan hanya mengemban ideologi Islam semata.

    Balas
  • 10 April 2020 pada 13:41
    Permalink

    Memisahkan agama dari kehidupan seperti mati tapi bergerak..entaahlah seperti apa perumpamaannyaa…
    kita bisa analisa dan lihat tanpa sensor sekarang

    Balas
  • 10 April 2020 pada 09:40
    Permalink

    Islam rahmatalil alAamiin islam satustunya agama yang benar shohih

    Balas
  • 10 April 2020 pada 09:39
    Permalink

    Islam rahmatalil alAamiin

    Balas
  • 10 April 2020 pada 08:59
    Permalink

    Islam agama yang sempurna, Islam mengatur seluruh aspek kehidSitiupan

    Balas
  • 10 April 2020 pada 08:33
    Permalink

    Sekuler versus Islam Kaffah.Allahu Akbar!the winner is Islam Kaffah..

    Balas
  • 10 April 2020 pada 08:06
    Permalink

    Tinggalkan sekulerisma, maka negara akan damai tanpa konflik

    Balas
  • 10 April 2020 pada 07:46
    Permalink

    Jelaslah, moderasi agama ini adalah proyek orang² yg menjual agamanya demi dunia. Na’udzubillah

    Balas
  • 10 April 2020 pada 07:24
    Permalink

    Ide sekulerisme terus mereka gulirkan dengan berbagai slogan berbalut, jika tanpa pemikiran yang mustanir maka kebusukannya tidak akan terbongkar…maka para pengemban ideologi Islam harus terus berjuang mengungkap ide busuk ini pada umat agar mereka tahu keburukannya Dan semakin yakin dengan Islam sebagai diin syamilan yang di ridhoi Allah

    Balas
      • 2 Mei 2020 pada 13:25
        Permalink

        Satu-satunya yang benar, Ukhti. 🙂

        Balas
  • 10 April 2020 pada 07:04
    Permalink

    Ya Allah smoga kami istiqomah bjuang d jln mu

    Balas
  • 10 April 2020 pada 07:03
    Permalink

    Alloh hu akbar.kami semua rindu khilafah,krn dengan khilafahlah kehidupan umat akan mudah segalax.

    Balas
  • 10 April 2020 pada 06:56
    Permalink

    Subhanallah Islam adalah agama yg sempurna yg menenangkan bagi pemeluknya

    Balas
  • 10 April 2020 pada 06:50
    Permalink

    Masuklah kalian kpd Islam secara kaffah..
    Islam rahmatan Lil alamin..

    Balas
  • 10 April 2020 pada 06:39
    Permalink

    Islam merupakan din yang sempurna, yang seluruh ajarannya bersumber dari wahyu Ilahi yang tidak akan berubah sampai kapan pun, telah memberikan aturan-aturan dengan terperinci

    Balas
  • 10 April 2020 pada 06:31
    Permalink

    Bismillah “Para pengusung Islam Moderat terus berupaya keras untuk menjauhkan umat Islam dari pemahaman Islam yang lurus dengan berbagai macam cara”.. Menurut pembacaan saya pernyataan seperti ini serampangan dalam arti generalisasi.

    Balas
  • 10 April 2020 pada 05:52
    Permalink

    Indonesia mayoritas muslim tetapi aturan kehidupannya mengadopsi negara Demokrasi..jadi jelas segala aturan yg diterapkan dipisahkan dari Agama..cuma ritual semata..

    Balas
  • 10 April 2020 pada 05:38
    Permalink

    Selalu ada saja cara untuk bisa menjauhkan umat dari Islam ya

    Balas
  • 10 April 2020 pada 05:32
    Permalink

    Islam agama yg paling sempurna,
    Rindu di atur oleh sistem islam..

    Balas
  • 10 April 2020 pada 05:24
    Permalink

    Masyaa Allah… luar biasa! Sungguh beruntung kita sebagai seorang muslim.

    Balas
  • 10 April 2020 pada 05:10
    Permalink

    Tak ada sistem yang mampu memberi solusi secara tepat kecuali islam, namun kaum muslim saat ini selalu dijauhkan dari agamanya sendiri bahkan takut dengan agamanya sendiri.

    Balas
  • 10 April 2020 pada 04:51
    Permalink

    Segala aspek kehidupan selalu terikat dg aturan Islam

    Balas
  • 10 April 2020 pada 04:42
    Permalink

    Pendapat saya, moderasi agama, dalam hal ini ISLAM, tidak lain adalah jalan menuju liberalisasi agama.

    Balas
  • 10 April 2020 pada 04:29
    Permalink

    Maa Syaa Allah
    TabarokAllah

    Balas
  • 10 April 2020 pada 03:56
    Permalink

    Tidak ada agama yg diridhoi oleh Allah selain Islam

    Balas
  • 10 April 2020 pada 03:25
    Permalink

    Inilah pangkal kerusakan pada dunia

    Balas
  • 10 April 2020 pada 02:38
    Permalink

    Islam mengatur sangat rinci dalam mengatur beebagai persoalan kehidupan

    Balas
  • 10 April 2020 pada 01:51
    Permalink

    Aturan islam bukan meja prasmanan

    Balas
  • 10 April 2020 pada 00:17
    Permalink

    Agama Islam adalah agama yang Paling dan Sudah pasti KeBenarannya

    Balas
  • 9 April 2020 pada 22:53
    Permalink

    Islam adalah sistem (aturan) yg sempurna,ygdpt mengatur seluruh persoalan manusia,MK kembalilah KPD sistem Islam yaitu aturan yg bersumber dari Allah SWT yg akan membuat manusia itu teratur hidupnya.

    Balas
  • 9 April 2020 pada 22:48
    Permalink

    Islam sangat rinci dlm mengatur kehidupan beragama

    Balas
  • 9 April 2020 pada 22:37
    Permalink

    naudzubillah upaya kaum kafir barat bahkan sudah merasuk ke bbrp kaum muslimin dengan adanya ide sekularisme yg menjadikannya jauh dari Islam yang sebenarnya

    Balas
  • 9 April 2020 pada 22:33
    Permalink

    islam adalah rahmatan lil aalamin

    Balas
  • 9 April 2020 pada 22:17
    Permalink

    Islam adalah agama yg sempurna yg mengatur seluruh aspek kehidupan…

    Balas
  • 9 April 2020 pada 22:09
    Permalink

    Manusia aja klo dimutilasi, betapa kejamnya. Apatah lagi agama yg dimutilasi. Lebib kejam lagi

    Balas
  • 9 April 2020 pada 22:09
    Permalink

    Islam mengatur setiap rinci kehidupan manusia.. Masih ada yg ragu??
    Terapkan Islam scr Kaffah.. Maka akan nampak kebaikan yg terpancar dr Islam..

    Balas
  • 9 April 2020 pada 22:06
    Permalink

    Islam mengatur setiap rinci kehidupan manusia.. Masih ada yg ragu???

    Balas
  • 9 April 2020 pada 22:02
    Permalink

    MasyaaAllah😍

    Balas
  • 9 April 2020 pada 21:58
    Permalink

    Ya Allah hancurkan makar orang² yg hendak menyesatkan umat Islam dan menyimpangkann ajaran Islam..

    Balas
  • 9 April 2020 pada 21:45
    Permalink

    Allah adalah sang kholiq sekaligus sebagai mudabbir pengatur, maka kt hrs tunduk kepada apa yg Allah atur

    Balas
  • 9 April 2020 pada 21:42
    Permalink

    “Islam agama sempurna, maka sempurnakanlah dengan berislam kaffah”
    الله اكبر ✊

    Balas
  • 9 April 2020 pada 21:41
    Permalink

    Tulisan ini sangat mencerahkan. Semoga siapapun yang membacanya terbuka hatinya utk memahami Islam secara menyeluruh. Tidak terjebak dalam narasi islam sekuler. Wallahu alam

    Balas
  • 9 April 2020 pada 21:38
    Permalink

    Musuh2 Islam akan selalu melalukan segala macam cara untuk memalingkan kaum muslimin dari agamanya

    Balas
  • 9 April 2020 pada 21:28
    Permalink

    Menteri agama hanya ada di negara sekuler. Tugas kementrian agama di negara sekuler; meramu agama fusion; agama yang sudah disesuaikan dengan selera setempat (negara sekuler)

    Balas
  • 9 April 2020 pada 21:28
    Permalink

    Islam adalah agama yang sempuran dan lengkap yang mampu mengatur kehidupan manusia meliputi seluruh aspek kehidupan dan sudah terbukti dalam sepanjang sejarah islam.
    Dan sistem kapitalisme lah yang memisahkan agama dlm. kehidupan sehingga manusia dalam menjalani kehidupan bebas mengunakan aturan manusia yang bersumber pada kepentingan. Sehingga manusia mengalami berbagai persolan yang komplek dalam. Kehidupan.
    Saatnya kembali pada sistem shohih khilafah islamiyah.

    Balas
  • 9 April 2020 pada 21:21
    Permalink

    Islam agama yg sempurna. Sungguh celaka org yg berusaha mengkerdilkannya

    Balas
  • 9 April 2020 pada 21:15
    Permalink

    Sekulerisme menyengsarakan ummat dan menjauhkan dr ridho Allah.. Semoga Khilafah segera tegak, Allahu akbar!!

    Balas
  • 9 April 2020 pada 21:08
    Permalink

    Meski orang-orang liberal, moderat, munafik, kafir bersatu padu memisahkan kaum muslimin dengan Islam…, mereka tidak akan mampu. Selalu saja ada orang-orang yg lurus yg meluruskan. Semoga kita termasuk orang-orang yg lurus.

    Balas
  • 9 April 2020 pada 21:06
    Permalink

    Meski orang-orang liberal, moderat, munafik, kafir bersatu padu memisahkan kaum muslimin dengan Islam…, mereka tidak akan mampu. Selalu saja ada orang-orang yg lurus yg meluruskan.

    Balas
  • 9 April 2020 pada 21:02
    Permalink

    Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Kebenaran mutlak hanya milik Islam.

    Balas
  • 9 April 2020 pada 20:51
    Permalink

    Dalam Islam, Kehidupan dan agama tidak bisa dapat dipisahkan. Apabila dipisahkan maka tidak bisa sempurna dalam menjalankan syariat Islam.

    Balas
  • 9 April 2020 pada 20:35
    Permalink

    Islam agama sempurna, orang2 kafir terus berusaha merusak kesempurnaannya.. justru makin terlihat kesempurnaan.

    Balas
  • 9 April 2020 pada 20:26
    Permalink

    Islam itu sudah sempurna, jadi tidak usah di otak-atik lagi.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *