Belajar di Rumah Tanpa Keluh Kesah

Oleh: Noor Afeefa

MuslimahNews.com, FOKUS – Dunia tak pernah menghendaki wabah penyakit. Apa daya, penyebaran Covid-19 pun menggucang dunia pendidikan. Berdasarkan data Kemdikbud, lebih dari 160 pemerintah kabupaten/kota dan provinsi mengeluarkan surat edaran meniadakan KBM di kelas. Siswa dan guru diminta melakukan aktivitas belajar mengajar dari rumah.

Diawali hanya untuk dua pekan, beberapa daerah akhirnya memperpanjang masa belajar di rumah. Bahkan Dinas Pendidikan Kabupaten Tengerang memperpanjang masa belajar di rumah hingga dua bulan, terhitung sejak pertengahan Maret lalu.

Tentu menjadi waktu yang tidak sebentar. Lantas, bagaimana nasib pendidikan anak-anak? Dan apa solusi terbaiknya?

Sejarah baru proses pendidikan abad milenial harus mulai. Belajar jarak jauh bisa dilakukan dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Untuk ini, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menyediakan aplikasi dan laman Rumah Belajar sebagai sarana pendukung belajar di rumah.

Tak hanya itu, setidaknya ada 12 aplikasi pembelajaran daring gratis yang bekerja sama dengan Kemendikbud. Harapannya pembelajaran tatap muka dari guru dapat tergantikan.

Di lapangan, proses belajar di rumah penuh dinamika. Sebagian besar guru ternyata hanya memberikan tugas kepada siswa, tanpa bimbingan. Memang, siswa terbantu oleh internet dalam mencari rujukannya. Namun, tugas kepada siswa tidaklah sedikit.

Banyak orang tua yang merasa keberatan atas tugas yang begitu banyak dari para guru sehingga anak-anak merasa stres. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) akhirnya meminta pemerintah pusat dan daerah mengevaluasi sistem belajar di rumah ini.

Menurut KPAI, sistem belajar di rumah yang diterapkan sekolah tidak efektif karena belum ada pemahaman yang baik oleh para guru. (https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200318222319-20-484760/sekolah-libur-karena-corona-kpai-sebut-guru-buat-siswa-stres).

Para guru gagap, ketika kondisi di luar kebiasaan harus mereka hadapi. Padahal beban kurikulum (bahan ajaran) yang harus diberikan kepada siswa begitu padat. Di sisi lain, upaya pembelajaran daring juga tidak mudah dilakukan.

Sebab, semua itu membutuhkan biaya (internet) tidak sedikit. Apalagi kemampuan orang tua siswa juga beragam. Mereka sendiri sudah terdampak secara ekonomi karena wabah ini.

Mendikbud Nadiem Makarim menegaskan agar proses belajar di rumah tidak menimbulkan beban baru bagi para siswa. Menurutnya, proses belajar di rumah bagi siswa selama wabah korona ini harusnya memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa.

Jangan sampai hanya karena ingin menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan para guru malah memberikan berbagai tugas yang ujungnya malah membebani siswa selama proses mereka belajar di rumah. Yang menjadi problem, mampukan guru melakukan itu semua?

Di sisi lain, belajar di rumah disikapi dengan santai oleh sebagian siswa. Satpol PP Jakarta Barat menemukan seratusan anak yang tersebar di 55 warnet. Dengan santai mereka bermain game.

Itulah sebagian kondisi pendidikan dalam sistem kapitalis sekarang akibat wabah Covid-19 ini.

Haruskah anak-anak kehilangan banyak kesempatan belajar hanya karena wabah? Padahal belajar di rumah adalah keharusan. Bisakah mereka menjalaninya tanpa keluh kesah? Berikut beberapa catatan atas kegaduhan yang menimpa program belajar di rumah saat ini.

Kompetensi Guru

Gagapnya guru dalam mengelola pembelajaran di masa wabah layak disorot. Sebab, pembelajaran daring seharusnya sudah menjadi kompetensi yang dimiliki guru sebelum wabah. Sehingga guru tidak boleh berhenti melaksanakan tanggung jawabnya hanya karena tidak mahir mengoperasikan media online.

Di masa wabah, guru harus mengubah cara berpikir tentang bagaimana mendidik tanpa tatap muka. Guru juga harus mampu mengelola komunikasi jarak jauh, baik dengan siswa maupun orang tua siswa. Ini merupakan kompetensi standar yang harus dimiliki guru, baik pada saat wabah maupun bukan.

Bagaimana pun, peran guru pun tak bisa digantikan oleh platform media belajar online yang ditawarkan sejumlah pihak. Sebab, tugas guru bukan hanya memberikan materi pembelajaran. Kompetensi siswa yang diharapkan bukan hanya dari sisi kognitif saja.

Pembentukan sikap dan lifeskill, tentu tak bisa didapat kecuali dengan interaksi yang menggugah dari para guru. Dan hal ini sebenarnya juga bisa dilakukan secara daring, meski ada sedikit keterbatasan.

Namun, berapa banyak guru yang saat ini masih enggan menyapa murid-muridnya. Menanyakan kabar mereka. Apalagi menasihati dan membimbing. Memang, siswa kini berada di rumah. Dan diharapkan, orang tuanyalah yang paling mudah mengontrol dan membimbing anak.

Namun, mereka sebenarnya masih berada pada jam sekolah. Apalagi, tidak semua orang tua menemani anak-anak di rumah. Sebagiannya masih sibuk bekerja di luar rumah karena tuntutan ekonomi.

Maka guru tetap harus tampil, menyapa, mengarahkan dan membimbing siswa agar senantiasa tercipta suasana belajar menjadi lebih baik, baik dalam sikap maupun kemampuan akademik.

Kompetensi guru dalam mengelola tugas belajar di rumah juga layak disorot. Kreativitas guru masih lemah. Pada umumnya mereka hanya memindahkan tugas sekolah ke rumah. Padahal kondisi rumah berbeda dengan sekolah.

Siswa di rumah tidak berkelompok. Mereka bahkan ada yang tak punya pendamping, baik orang tua, saudara, atau asisten rumah tangga. Kondisi ini makin membuat anak stres ketika beban belajar di rumah amat banyak.

Sikap empati guru masih kurang. Mereka sering terjebak oleh beratnya beban administrasi kependidikan yang selama ini digunakan dalam proses belajar hingga evaluasi. Kekakuan dalam mengelola pembelajaran di kelas menunjukkan lemahnya guru dari semangat mendidik yang seharusnya dilandaskan pada dorongan ruhiyah.

Yakni, mendidik karena landasan akidah Islam. Mendidik untuk menjadikan siswa semakin salih, semakin taat kepada Allah Subhanahu wa taala di samping menguasai berbagai bidang ilmu (baik tsaqofah Islam maupun ilmu pengetahuan lain) dengan penuh perhatian, kasih sayang dan terus mengispirasi.

Itulah beberapa catatan bagi lemahnya kompetensi guru saat menghadapi wabah. Tentu, itu semua tak lepas dari sistem pendidikan kapitalis selama ini. Dalam kondisi bukan wabah saja mereka lemah.

Apalagi dalam kondisi wabah. Jika saat ini mereka gagap, maka layak dipertanyakan kehandalan sistem pendidikan yang seharusnya bisa melahirkan guru kompeten dalam kondisi apa pun.

Beban Kurikulum

Wabah Covid-19 juga memberi catatan bagi kurikulum pendidikan selama ini. Betapa pendidikan di Indonesia telah terjebak pada dominasi muatan akademik atau kognitif semata. Kurikulum pendidikan yang rusak telah memformat guru dan target-target pendidikan secara keliru.

Hanya di saat wabah saja -yakni selama kondisi belajar di rumah- mereka baru memikirkan muatan karakter (sikap) dan life skill. Itu pun ternyata tidak dapat dilakukan secara instan, cepat, dan tepat oleh para guru. Hanya guru-guru yang memiliki visi mendidik sahih saja yang mau berkreasi memberikan pendidikan life skill dan pembentukan sikap secara tepat dan sahih.

Selama ini kurikulum pendidikan tak memberi ruang cukup bagi pembentukan kepribadian dan life skill. Meski dalam Kompetensi Inti (KI) dimasukkan Spiritualitas. Faktanya, hanya dalam Pendidikan Agama Islam saja hal itu nampak. Itu pun lebih menonjolkan teori dari pada pembentukan sikap.

Adapun dalam mata pelajaran lain (di luar pendidikan agama), konten spiritualitas amat minim. Baik materi ajar maupun guru hingga lingkungan sekolah tak mampu membentuk suasana spiritualitas yang melahirkan ketaatan total kepada Sang Pencipta.

Hal tersebut terjadi karena pendidikan kapitalis memang tidak dirancang dengan landasan pembentukan kepribadian Islami. Inilah yang dinamakan pendidikan sekuler. Tak hanya dari sisi pribadi guru yang sekuler (produk pendidikan keguruan yang sekuler). Namun, kurikulumnya juga sekuler.

Ketika asas pendidikan tidak didasarkan pada akidah Islam, implementasi dalam kurikulum dan tata kelola pendidikan pun akan sekuler. Capaian pendidikan lebih mengutamakan aspek kognitif daripada afektif maupun psikomotorik.

Bahan ajaran yang sangat padat. Bahkan beberapa saling tumpang tindih. Hingga model evaluasi (ujian dan ulangan) yang sangat menonjolkan aspek nilai.

Dampaknya, guru kebingungan ketika kondisi ‘luar biasa’ terjadi. Maka, platform sekolah dibawa ke rumah. Tak hanya materi (kurikulum), namun juga metode pengajaran. Memang, pembelajaran jarak jauh memberikan efek berbeda dibandingkan tatap muka.

Namun, jika kurikulum maupun guru sudah terbiasa dengan pembelajaran yang sahih, maka tidak akan sekaget saat ini. Yakni, hanya siswa yang mempunyai uang saja yang bisa belajar daring dengan guru dan memperkaya ilmu dari berbagai platform pendidikan yang tersedia. Itulah yang menunjukkan rapuhnya kurikulum pendidikan sekuler saat ini.

Rusaknya Sistem Kapitalis

Kedua aspek di atas (lemahnya guru dan rapuhnya kurikulum) sebenarnya merupakan produk lanjutan dari pengelolaan negara yang sekuler kapitalis. Bencana wabah dalam sistem rusak ini telah menimbulkan kerusakan lebih banyak.

Kondisi politik pemerintahan yang lemah, ekonomi yang rapuh, telah membuat berbagai penanganan musibah di masa wabah menjadi semakin sulit. Dampaknya pun kepada dunia pendidikan.

Ketidakmampuan negara menanggung beban ekonomi tiap keluarga –ketika harus lockdown- menyebabkan sebagian besar orang tua tetap bekerja mencari nafkah. Kondisi ini amat tidak mendukung proses belajar di rumah. Walhasil, anak-anak tidak tertangani secara baik.

Di sisi lain, kemiskinan dan pola kehidupan kapitalistik pun telah membentuk orang tua yang hanya mampu mencari uang. Mereka gagap ketika harus menghadapi anak, menemani belajar, bahkan mendidiknya. Ibu telah kehilangan fungsi sebagai madrasah bagi anak-anak.

Kapitalisme juga telah meminimalisir perhatian negara pada dunia pendidikan. Rendahnya anggaran pendidikan membuat biaya pendidikan –terutama pendidikan tinggi- amat membebani rakyat.

Maka, tuntutan bagi bebasnya biaya kuliah yang diajukan sejumlah mahasiswa baru-baru ini menjadi sangat wajar. Begitulah, sistem kapitalisme telah menyebabkan kegaduhan dalam dunia pendidikan saat wabah sekarang.

Pendidikan Masa Wabah dalam Khilafah

Dalam kondisi wabah, Islam menetapkan kebijakan lockdown atau karantina wilayah. Sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya, “Apabila kalian mendengar wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu maka janganlah keluar darinya.” HR Imam Muslim).

Berdasar hal ini, belajar di rumah pun menjadi kebijakan yang harus diambil dalam daulah Khilafah. Meski demikian, kondisinya tentu tidak seperti pelaksanaan belajar di rumah saat ini yang banyak menimbulkan kegaduhan, baik dari siswa, orang tua hingga guru.

Kebijakan belajar di rumah dalam sistem khilafah tidak sampai mengurangi esensi pendidikan. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Pertama, negara Khilafah berasaskan akidah dan syariah Islam. Berdasarkan asas ini, Negara menegaskan tujuan pendidikan baku yang harus diemban seluruh pemangku pendidikan baik negara, siswa, guru, tenaga kependidikan, hingga oleh orang tua siswa.

Sebab, belajar di rumah melibatkan orang tua. Asas pendidikan juga akan sangat menentukan dalam penentuan materi ajaran (kurikulum) saat siswa belajar di rumah.

Kesadaran yang dimiliki orang tua juga sangat berpengaruh. Mereka akan mendidik sesuai target dan tujuan pembelajaran dalam Islam. Mendidik dengan penuh kasih sayang karena berangkat dari kesadaran terhadap kewajiban dari Allah SWT.

Berdasarkan tujuan tersebut, maka saat belajar di rumah dalam, bagian pembentukan kepribadian Islam dan life skill bisa 30%, konten materi tsaqofah Islam 30%, sedangkan materi sains dan teknologi 40%. Bentuk penyampaian pun tidak akan keluar dari tujuan dan landasan akidah Islam.

Misalnya, guru tidak bersifat kaku dan memaksa atas tugas-tugas yang dibebankan kepada siswa. Dalam kondisi wabah, maka materi pembelajaran terutama untuk menguatkan ketaatan kepada Sang Pencipta yang menguasai manusia.

Kedua, negara Khilafah menguasai ilmu dan teknologi komunikasi yang handal. Maka, keterbatasan guru, siswa dan orang tua untuk melakukan pembelajaran daring bisa diminimalisir. Berbeda dengan kondisi saat ini, masih banyak guru, siswa, dan orang tua yang gagap teknologi komunikasi.

Padahal, pembelajaran jarak jauh telah cukup jamak digunakan di berbagai belahan dunia. Hanya saja, kapitalisme telah membelenggu banyak kalangan dari mengenal dan menggunkan teknologi ini. Baik karena keterbatasan ekonomi untuk memiliki alat (media) dan akses internet, maupun keterbatasan ilmu.

Dalam sejarah, negara Khilafah dikenal sebagai negara maju yang menguasai jagad teknologi. Berbagai penemuan teknonogi dilakukan oleh kaum muslim. Hal ini karena Islam mendorong setiap muslim untuk terus belajar dan mengembangkan ilmunya. Negara pun mendukung sepenuhnya.

Ketiga, belajar di rumah dalam Khilafah ditopang oleh perekonomian yang stabil bahkan maju. Dengan kondisi tersebut, negara mampu menopang kehidupan ekonomi rakyat yang membutuhkan bantuan akibat lockdown. Orang tua tak perlu bekerja di luar. Mereka bisa optimal membantu proses belajar di rumah dengan sebaik-baiknya.

Tak hanya dalam pemenuhan kebutuhan pokok, negara Khilafah juga mampu memberikan berbagai fasilitas pendukung pembelajaran. Negara menyediakan platform pendidikan gratis dan sarana pendukungnya, seperti internet gratis dan media (alat komunikasinya).

Mahasiswa pun tak perlu teriak meminta keringanan biaya pendidikan. Karena dalam kondisi tidak wabah mereka dibiayai oleh negara. Walhasil, semua kebutuhan belajar di rumah tidak ada kendala, karena negara men-support penuh semua kebutuhan tersebut. Hal itu hanya terjadi jika negara kuat, maju dalam perekonomian. Yakni, negara yang menerapkan syariat Islam.

Demikianlah, hanya negara Khilafah Islam yang mampu memberikan pelayanan pendidikan optimal lagi sahih kepada rakyatnya baik pada kondisi wabah maupun tidak. Belajar di rumah saat wabah pun tak perlu keluh kesah. Semoga wabah kali ini membawa spirit kuat bagi kaum muslim untuk berjuang menegakkan Khilafah. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

68 tanggapan untuk “Belajar di Rumah Tanpa Keluh Kesah

  • 12 April 2020 pada 04:09
    Permalink

    Selalu rindu pada sistem Islam yang meriayah umat selaras dg kebutuhan fitrah …

    Balas
  • 11 April 2020 pada 19:11
    Permalink

    Sistem pendidikan sekarang dinilai kurang, banyak generasi2 muda yang merasa bingung dan tertekan, sangat berbeda sistem pendidikan Islam yang mampu melahirkan generasi2 emas

    Balas
  • 9 April 2020 pada 20:28
    Permalink

    Sistem Islam yang dirindukan seluruh kaum Muslim..

    Balas
  • 9 April 2020 pada 17:49
    Permalink

    Pendidikan dalam sistem khilafahlah yg akan membentuk pribadi yg unggul

    Balas
  • 9 April 2020 pada 14:59
    Permalink

    hanyalah negara khilafah yang dapt mengatasi semua ini. Rindi Khilafah

    Balas
  • 9 April 2020 pada 12:28
    Permalink

    Rindu Rasulullah hiks

    Balas
  • 9 April 2020 pada 09:12
    Permalink

    Semua prsoalan yang muncul di dunia pendidikan lahir dari rahim kapitalisme yang membawa derita bagi siswa, guru dan orangtua.

    Balas
  • 9 April 2020 pada 08:54
    Permalink

    Masyaa Allah dapat ilmu baru. Belajar di rumah dlm Islam kontennya 30% untuk meningkatkan kepribadian Islam & life skill, 30 % untuk Tsaqofah Islam & 40% untuk sains & teknologi

    Balas
  • 9 April 2020 pada 06:38
    Permalink

    Pendidikan menjadi salahsatu Dampak wabah yg saat ini terjadi, membuktikan lemahnya sistem kapitalis dalam mengoperasikan, semakin nampak bobroknya sistem kapitalis saat ini yg tak lama lagi. Apalagi lemahnya dlaam bidang politik dan kesehatan

    Balas
  • 9 April 2020 pada 04:52
    Permalink

    Penguasa kapotalis semakin radikal. Kebijakan yg dibuat tak sedikitpun memperlihatkan rasa sayangnya kepada rakyat. Mereka lebih mementingkan ekonomi di banding nyawa rakyatnya.

    Balas
  • 9 April 2020 pada 03:43
    Permalink

    Kami rindu Khilafah, gerbang seluruh kebaikan. Ya Rabb, ijinkan kami menjadi pejuangnyabyang istiqomah di jalan ini.

    Balas
  • 9 April 2020 pada 02:50
    Permalink

    Sistem Pendidikan Islam sebagai sistem pendidikan terbaik sepanjang masa.

    Balas
  • 8 April 2020 pada 23:05
    Permalink

    Pendidikan kapitalis berorientasi pada Kerja semata

    Balas
  • 8 April 2020 pada 22:35
    Permalink

    saat ini ditengah mewabahnya virus covid19 semua stay at home, begitupun dalam proses belajar para siswa libur total dengan catatan belajar dirumah tanpa bimbingan guru sehingga membuat anak bingung bgtupun orang tua dengan kurikulum yang tak di mengerti. Tanpa arahan terkadang membuat anak justru berkeluh kesah..
    Dalam hal pendidikan saja sistem ini gagal.
    Rindu di berlakukannya sistem islam. Yaang sempurna dan shohih. Karena sistem islamnya yang mengatasi masalah apapun tanpa masalah.

    Balas
  • 8 April 2020 pada 22:08
    Permalink

    Namanya juga negara kapitalis, ya mengurusi rakyatnya hitungannya untung rugi. Berbeda sekali dg sistem khilafah saat mengurus rakyatnya seperti seorang ayah mengurusi anak kandungnya betul2 dipastikan apakah rakyatnya terpenuhi semua kebutuhan hidupnya! Saatnya Khilafah memimpin dunia!

    Balas
  • 8 April 2020 pada 22:04
    Permalink

    Sebagai guru memang saya merasakan dunia pendidikan kita kurang dalam membekali anak untuk life skillnya

    Balas
  • 8 April 2020 pada 21:47
    Permalink

    Islam memang sistem terbaik.. masyaAllah

    Balas
  • 8 April 2020 pada 21:27
    Permalink

    Alhamdulillah nambah tsaqofah baru:)
    insyaa Allah khilafah tegak sebentar lagi…

    Balas
  • 8 April 2020 pada 20:38
    Permalink

    MasyaAllah, jazakillah khoir

    Balas
  • 8 April 2020 pada 20:26
    Permalink

    Guru bingung, murid bingung, ortu bingung, plajaran gak bisa masuk ke pikiran.

    Balas
  • 8 April 2020 pada 20:15
    Permalink

    Hanya dengan sistem Islam, metode belajar-mengajar akan tetap berjalan dengan lancar, menyenangkan tanpa memberi beban kepada anak didik & orang tua baik dalam kondisi normal ataupun dalam kondisi tidak normal seperti saat ini. Karena dari seluruh aspek yg menopang berjalan lancarnya sistem pendidikan didalam negara, akan diurus sepenuhnya oleh negara Islam, yaitu Khilafah.

    Balas
  • 8 April 2020 pada 20:05
    Permalink

    Guru bukan hanya profesi. Tapi seorang guru adalah pendidik genersdi yg mempunyai kreativitas utk dapat mendidik anak2 nya dlm kondisi apapun

    Balas
  • 8 April 2020 pada 19:59
    Permalink

    MaasyaAllah, rindu sistem Islam

    Balas
  • 8 April 2020 pada 19:52
    Permalink

    Masya Allah, pendidikan Islam memang Yes. .

    Balas
  • 8 April 2020 pada 18:40
    Permalink

    masya allah begitu sistematis sistem pendidikan dalam islam

    Balas
  • 8 April 2020 pada 18:37
    Permalink

    Sistem kapitalis yang lemah dan rusak, saat kembali kekehidupan islam secara kaffah.

    Balas
  • 8 April 2020 pada 18:13
    Permalink

    MasyaAllah. Islam Rahmatan lil alamin

    Balas
  • 8 April 2020 pada 18:06
    Permalink

    Pendidikan dalam Sistem Khilafah terbaik di sepanjang masa.

    Balas
  • 8 April 2020 pada 17:34
    Permalink

    Manusia diciptakan diatas muka bumi ini, hanyalah untuk menegakkan negara Alloh dan menerapkan hukumNya, itulah solusi terbaik

    Balas
  • 8 April 2020 pada 17:13
    Permalink

    Wajar saja semua terkejut ketika belajar di rumah. Semua tidak siap, karena tidak didukung negara. Khususnya kaum ibu2 yang harus melek IT sementara selama ini hanya disibukkan dengan urusan dapur tanpa ada pendidikan dari negara.

    Balas
  • 8 April 2020 pada 17:13
    Permalink

    Berawal dari satu sistem maka mempengaruhi semua segi.Disini sistem kapitalis nampak jelas ketidak layakannya.

    Balas
  • 8 April 2020 pada 17:01
    Permalink

    Masya Allah Islam adalah Solusi setiap permasalahan…

    Balas
  • 8 April 2020 pada 16:40
    Permalink

    Jauh sekali jika pendidikan berdasar akidah islam dalam bingkai khilafah, dibandingkan dengan pendidikam sekuler saat ini. Maka pendidikan sekuler sungguh jauh lebih buruk.

    Balas
  • 8 April 2020 pada 16:27
    Permalink

    Sistem pendidikan yang ideal hanya ada ketika daulah tegak

    Balas
  • 8 April 2020 pada 15:59
    Permalink

    B3K Benar Benar Butuh Khilafah

    Balas
  • 8 April 2020 pada 15:33
    Permalink

    inilah solusi sistem pendidikan yang sesungguhnya. Andai orang-orang mau jujur pada diri sendiri….mereka tidak punya pilihan selain Khilafah.

    Balas
  • 8 April 2020 pada 15:21
    Permalink

    Alloh menguji hambaNya dengan berbagai cara
    Wabah adalah salah satunya
    Mampukah kita sebagai guru mengambil peran dengan benar
    Sebagai orang tua mampukah menjadi guru yang baik bagi putra-putri nya?

    Balas
  • 8 April 2020 pada 15:17
    Permalink

    Hanya khilafah yang akan menyelesaikan persoalan pendidikan

    Balas
  • 8 April 2020 pada 15:16
    Permalink

    Hanya islamlah solusi terbaik,negara kapitalis gagal.

    Balas
  • 8 April 2020 pada 14:41
    Permalink

    Masyaallah.. Luar biasa sistem Islam mengatur setiap lini kehidupan manusia

    Balas
  • 8 April 2020 pada 14:39
    Permalink

    Rindu sistem pendidikan Islam

    Balas
  • 8 April 2020 pada 14:29
    Permalink

    Serindu itu dgn Khilafah.. Allahu Akbar!!

    Balas
  • 8 April 2020 pada 14:25
    Permalink

    Guru itu ruh nya pendidikan dan Islam yang mengendalikan nya

    Balas
  • 8 April 2020 pada 14:12
    Permalink

    Hanya Khilafah yang mampu meberikan pelayanan pendidikan terbaik. Apalagi di saat ada wabah yg melanda.

    Balas
  • 8 April 2020 pada 14:01
    Permalink

    We need Khilafah..

    Balas
  • 8 April 2020 pada 13:59
    Permalink

    YaAllah rasanya ingin sekali daulah khilafah cepat tegak

    Balas
  • 8 April 2020 pada 13:54
    Permalink

    Tulisan yg mencerahkan jadi tergambar bgmn islam menangani

    Balas
  • 8 April 2020 pada 13:45
    Permalink

    Sistemnya ada bobrok bagaimn mau berharap kl pendidiknnya pasti bobrok jg
    Kembali keislam sesuai dgn fitroh manusia krn yg menjdkan asas pendidikan adalah aqidah islam

    Balas
  • 8 April 2020 pada 13:38
    Permalink

    MasyaAllah…
    Sungguh sgt berbeda islam mengatur kehidupan manusia jik dibandingkan dgn sistem yg sekarang.

    Balas
  • 8 April 2020 pada 13:37
    Permalink

    Gadget oke,
    Sinyal oke,
    Kuota oke,
    Syalalala.. Skrg mah boro2..

    Balas
  • 8 April 2020 pada 13:26
    Permalink

    Aamiin..

    Ma syaa-a Allah .. Indah sekali sistem pendidikan Khilafah .. Selain berkah juga menyejahterakan dan menghasilkan output pendidikan yang shaleh .. Generasi yang kuat .. Baik pada saat sehat atau pun saat wabah melanda ..

    Balas
  • 8 April 2020 pada 13:21
    Permalink

    Ibarat pepatah mengatakan karena nila setitik rusak susu seberang,, inilah dia sistem kapitalisme yg nyata kerusakannya. Naudzubillah!!
    Smg saya pribadi n sahabat muslimah smw dpt menjadi ibu teladan yg jd madrasatul ula bagi anak2 nya.

    Balas
  • 8 April 2020 pada 12:59
    Permalink

    Semoga kita istiqomah dalam menegakkan negara khilafah Islamiyyah. Aamiin..

    Balas
  • 8 April 2020 pada 12:52
    Permalink

    Maa Syaa Allah TabarakAllah

    Balas
  • 8 April 2020 pada 12:29
    Permalink

    Sungguh sangat menyayangkan rezim saat ini. Semoga segera tegak khilafah ala minhajin nubuwwah. Aamiin.

    Balas
  • 8 April 2020 pada 12:14
    Permalink

    Hanya Islam satu²nya solusi untuk negeri ini

    Balas
  • 8 April 2020 pada 11:48
    Permalink

    Islam selalu yang terdepan dalam mengatur rakyatnya dalam pendidikan atau dalam hal apapun.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *