Benturan Peradaban hingga Liberalisasi Keluarga

Oleh: Ummu Naira (Forum Muslimah Indonesia/ ForMind)

MuslimahNews.com, OPINI – Benturan peradaban atau clash of civilizations (CoC) adalah teori bahwa identitas budaya dan agama seseorang akan menjadi sumber konflik utama di dunia pasca-Perang Dingin.

Teori ini dipaparkan oleh ilmuwan politik Samuel P. Huntington dalam pidatonya tahun 1992 di American Enterprise Institute, lalu dikembangkan dalam artikel Foreign Affairs tahun 1993 berjudul The Clash of Civilizations?, sebagai tanggapan atas buku karya mahasiswanya, Francis Fukuyama, berjudul The End of History and the Last Man (1992).

Huntington kemudian mengembangkan tesisnya dalam buku The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (1996) (id.wikipedia.org).

Jika Francis Fukuyama dalam bukunya The End of History mengatakan bahwa berakhirnya perang dingin menandai kemenangan liberalisme sebagai ideologi terakhir dari sejarah kehidupan manusia, Huntington kemudian muncul dengan bukunya dengan judul The Clash of Civilization sebagai bentuk penolakan terhadap argumentasi Fukuyama.

Bagi Huntington, liberalisme bukanlah akhir kehidupan manusia, ia kemudian mengaitkan masalah tersebut menggunakan teori Hegel yang menyatakan bahwa liberalisme hanyalah sebuah tesis dari sebuah sintesis dan akan ada antitesis baru setelah liberalisme.

Jika sebelumnya konflik yang terjadi adalah ideologi, ekonomi, dan politik, maka berbeda dengan kondisi sekarang karena konflik tidak lagi mengenai hal tersebut akan tetapi konflik peradaban.

Peradaban tidak hanya mengenai agama atau kebudayaan akan tetapi elemen yang lebih luas baik itu ekonomi, politik, agama, dan budaya dijadikan menjadi satu kesatuan.

Bagi Huntington, Barat dalam hal ini liberalisme tidak lagi menjadi kekuatan utama karena telah muncul kekuatan baru yang menandingi Barat yakni peradaban Asia dan peradaban Islam.

Peradaban Asia muncul sebagai kekuatan baru dunia terlihat dari banyaknya negara-negara Asia yang memiliki pertumbuhan Ekonomi yang sangat signifikan seperti Cina, Jepang dan India. Sementara di satu sisi Islam juga muncul sebagai suatu peradaban yang menandingi peradaban Barat.

Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor yakni Islam telah memasuki sebuah fase di mana Islam memiliki kekuatan dalam politik, ekonomi, dan budaya.

Hal ini terlihat di beberapa negara yang dalam kebijakannya selalu mempertimbangkan posisi kaum Muslimin, umat Islam di daerah yang minoritas juga mulai terlibat dalam perpolitikan negara (hidayatullah.com, 25/09/2015).

Teori Benturan Peradaban oleh Samuel P. Huntington masih satu paket dengan tujuan Barat guna memperkenalkan Islam sebagai musuh Barat. Dengan lantang Huntington menyebut peradaban Islam dan Barat pada akhirnya akan berbenturan.

Tidak mau kalah, para pemimpin negara-negara Barat juga menggunakan segala cara untuk menjadikan Islam sebagai musuh Barat. Dengan mudahnya mereka akan langsung menuding umat Islam berada di balik setiap aksi perusakan dan terorisme di berbagai belahan dunia, sekaligus menyebut Timur Tengah sebagai pusat terorisme dan ekstremisme. (Indonesian Radio, 18 Oktober 2008).

Kebencian Barat terhadap Bangunan Keluarga Muslim

Perlu kita ingat kembali, dalam memperjelas benturan Islam-Barat, Perdana Menteri Inggris Tony Blair pernah menyebut ideologi Islam sebagai ‘ideologi setan’ (swamedium, 27/10/2019).

Dalam pidatonya pada Konferensi Kebijakan Nasional Partai Buruh Inggris, Blair menjelaskan ciri ideologi setan, yaitu: (1) Menolak legitimasi Israel; (2) Memiliki pemikiran bahwa syariat adalah dasar hukum Islam; (3) Kaum Muslimin harus menjadi satu kesatuan dalam naungan Khalifah; dan (4) Tidak mengadopsi nilai-nilai liberal dari Barat.

Dari sini dapat kita lihat bahwa permusuhan Barat terhadap Islam telah sampai pada ranah yang paling kecil yaitu keluarga, hingga ranah terbesar yaitu negara (Khilafah Islamiyah).

Upaya pendidikan dalam keluarga saat ini telah terganjal oleh ciri kehidupan kapitalistik liberal dari Barat yang telah nyata membuat permasalahan besar yang menimpa hampir semua unsur masyarakat.

Dengan prinsip menjunjung tinggi kebebasan individual, liberalisme membolehkan setiap orang melakukan apa saja sesuai kehendaknya. Manusia tidak lagi harus memegang kuat aturan-aturan agama.

Bahkan, kalau memang aturan agama yang ada tidak sesuai dengan kehendak manusia, maka yang dilakukan kemudian adalah menafsir ulang ayat-ayat Tuhan agar tidak bertabrakan dengan prinsip-prinsip dasar liberalisme.

Wajar jika kemudian, berbagai tindakan amoral pun –sebagaimana yang terjadi pada kasus-kasus homoseksual, seks bebas, dan aborsi– bisa dianggap legal karena telah mendapatkan justifikasi ayat-ayat Tuhan yang telah ditafsir ulang itu.

Hal tersebut sesuai dengan firman Allah SWT: “Orang-orang kafir tidak henti-hentinya berusaha memerangi kalian hingga mereka berhasil mengeluarkan kalian dari agama kalian –jika saja mereka mampu.” (TQS Al Baqarah [2]: 217)

Mengapa konspirasi penghancuran ini dilakukan? Tidak lain karena Islam dan umat Islam memiliki potensi ancaman bagi hegemoni peradaban Barat (kapitalisme global). Selain potensi sumber daya manusia yang sangat besar berikut sumber daya alamnya yang melimpah, Islam dan umat Islam juga memiliki potensi ideologis yang jika semua potensi ini disatukan akan mampu menandingi sistem kapitalisme global.

Barat berusaha sekuat tenaga merusak bangunan keluarga muslim sebagai benteng pertahanan terakhir, yang menjaga sisa-sisa hukum Islam terkait keluarga dan individu, setelah hukum-hukum Islam lainnya menyangkut aspek sosial dan kenegaraan berhasil mereka hancurkan.

Barat takut keluarga muslim mampu menjaga hukum-hukum Islam yang berpotensi besar dalam melahirkan generasi-generasi pejuang yang menjadi harapan umat di masa depan. Mereka cemas jika dari keluarga-keluarga muslim ini akan lahir sosok muslim militan yang siap menghancurkan hegemoni mereka atas dunia.

Itulah kenapa, mereka sungguh-sungguh berupaya menghancurkan keluarga muslim dengan berbagai cara. Di antaranya, dengan berupaya menjauhkan para muslimah dari cita-cita menjadi ibu atau dari penyempurnaan peran ibu.

Selain itu, secara sistematis diciptakanlah kemiskinan struktural melalui penerapan sistem ekonomi kapitalis yang memaksa para ibu bekerja untuk menutupi kebutuhan keluarga dan karenanya peran ibu tidak bisa optimal.

Selain itu, mereka racuni benak para muslimah dengan berbagai pemikiran yang merusak semisal ide emansipasi atau keadilan dan kesetaraan gender dan kebebasan, sehingga para muslimah lebih tertarik mengaktualisasikan diri di ranah publik dan pada saat yang sama merasa rendah diri akan peran-peran domestik mereka. Dampak lanjutannya, lahir generasi tanpa bimbingan dan pengasuhan optimal para ibu.

Penyebab Terjadinya Liberalisasi Keluarga

Terwujudnya keluarga ideal atau keluarga Islami tentu merupakan dambaan setiap orang. Siapa pun akan berharap rumah tangga yang dibangunnya dipenuhi suasana sakinah mawaddah dan rahmah, dengan pasangan yang saleh atau salihah, suami atau istri yang menyejukkan mata dan jiwa, serta anak-anak yang cerdas dan berbakti.

Terlebih jika berbagai kebutuhan hidup bisa dicukupi dengan mudah, atau setidaknya tidak sesulit yang kita rasakan saat ini. Tentulah kehidupan yang dijalani akan begitu indah bagaikan di surga dunia.

Sayangnya, mewujudkan keluarga ideal semacam ini bukan sesuatu yang mudah. Sistem sekuler kapitalistik yang mengungkung masyarakat kita saat ini membuat kehidupan serba sempit. Berbagai krisis terus mewarnai kehidupan masyarakat, mulai dari krisis politik yang berujung konflik, krisis ekonomi, krisis moral dan budaya, krisis sosial, dan lain-lain.

Hal ini diperparah dengan adanya benturan-benturan nilai akibat berkembangnya pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan Islam.

Kenyataan ini mau tidak mau berdampak pula pada kehidupan keluarga muslim. Jarang ditemui keluarga muslim yang benar-benar bisa menegakkan nilai-nilai Islam. Keluarga muslim bahkan ikut terjebak pada kehidupan yang materialistik dan individualistik.

Tak sedikit pula keluarga muslim yang turut goyah bahkan terguncang, hingga angka perceraian dan tren single parent terus meningkat. Dampaknya bisa ditebak. Kenakalan anak dan remaja juga menjadi potret buram umat Islam saat ini yang tentu saja akan menjadi ancaman serius bagi nasib umat Islam di masa depan.

Setidaknya ada dua faktor penyebab kenapa kondisi di atas bisa terjadi. Pertama, faktor internal umat Islam yang lemah secara akidah sehingga tidak memiliki visi-misi hidup yang jelas. Hal ini diperparah dengan lemahnya pemahaman mereka terhadap aturan-aturan Islam, termasuk tentang konsep pernikahan dan keluarga, fungsi, dan aturan-aturan main di dalamnya.

Kedua, faktor eksternal, berupa adanya upaya konspirasi asing untuk menghancurkan umat Islam dan keluarga muslim melalui serangan berbagai pemikiran dan budaya sekuler yang rusak dan merusak, terutama paham liberalisme yang menawarkan kebebasan individu, baik dalam berpendapat, berperilaku, beragama, maupun dalam kepemilikan.

Paham ini secara langsung telah mengeliminasi peran agama dari pengaturan kehidupan manusia, menjadikan manusia menjadi Rabbul ‘Alamin yang bebas menentukan arah dan cara hidupnya, termasuk yang terkait dengan relasi antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan keluarga.

Dengan paham ini, umat Islam dikondisikan untuk ‘merasa malu’ terikat dengan hukum-hukum Islam. Terlebih hukum-hukum Islam memang sengaja dipropagandakan oleh musuh-musuh Islam sebagai aturan-aturan yang kolot, antikemajuan, ekslusif, bias gender, dan gambaran-gambaran buruk lainnya.

Sebagai gantinya, umat Islam justru menuntut penerapan berbagai aturan yang menjamin kebebasan individu, sekalipun mereka tahu, bahwa aturan-aturan itu bertentangan dengan syariat agama mereka.

Konspirasi ini secara masif dilakukan ke dunia Islam melalui peran lembaga-lembaga Internasional terutama PBB yang hakikatnya merupakan alat penjajahan Barat. Melalui berbagai event, PBB, atas pesanan negara-negara Barat kapitalis mengeluarkan berbagai konvensi dan kesepakatan internasional terkait dengan isu HAM, kesetaraan gender, dan lain-lain.

Semisal Deklarasi Universal HAM (DUHAM), Konvensi tentang Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan (CEDAW=Convention on the Elimination of all forms of Discrimination Against Women), Konvensi Internasional tentang hak-hak sipil dan politik, kesepakatan Konferensi Kependudukan (ICPD), Sustainable Development Goals (SDGs), Beijing Platform for Action (BPFA), dan lain-lain yang spiritnya sama-sama menuntut kebebasan dan kesetaraan laki-laki dan perempuan.

Berbagai konvensi dan hasil kesepakatan ini kemudian dipaksa untuk dirativikasi/diadopsi oleh seluruh negara-negara di dunia melalui blow up opini, tekanan politik, syarat bantuan dan lain-lain. Hanya saja, tak sedikit negara-negara di dunia yang dengan sukarela mengadopsi dan menjadikannya sebagai “kitab suci” atau rujukan bagi peraturan-peraturan publik yang diterapkan atas masyarakatnya, termasuk di dunia Islam.

Benteng Liberalisasi Keluarga

Konspirasi Barat dalam mempropagandakan liberalisme sudah masuk pada tataran individu dan keluarga. Ini berarti, individu dan keluarga, sadar atau tidak, telah dengan mudah bisa mengakses dan mengadopsi pemikiran-pemikiran liberal.

Tanpa dipaksa, mereka menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai gaya hidup modern. Lihatlah bagaimana media cetak, elektronik, dan maupun audio visual yang dengan efektif dimanfaatkan untuk mempromosikan budaya liberal kepada masyarakat.

Ini adalah bahaya yang harus segera disadari dan dilawan oleh seluruh umat Islam. Kerusakan liberalisme telah demikian nyata sehingga tidak boleh diberi tempat sedikit pun dalam tubuh umat Islam.

Upaya praktis yang harus terus digencarkan adalah memulihkan kesadaran kaum muslim untuk senantiasa terikat dengan syariat Islam dan tidak silau dengan nilai-nilai sekuler yang mengusung kebebasan semu dan justru memorak-perandakan keluarga muslim.

Tak cukup itu, kita membutuhkan peran dari negara yang akan menjadi pelindung keluarga muslim dari ancaman liberalisasi keluarga. Khilafah Islamiyah mutlak kita butuhkan untuk memelihara nilai-nilai Islam pada diri seorang muslim, pada ranah keluarga dan masyarakat.

Khilafah Islamiyah adalah “wadah” bagi peradaban Islam Dengan hancurnya Khilafah, hingga saat ini kita bisa merasakan dan menyadari bagaimana peradaban Islam telah kehilangan kekuatan dan vitalitasnya.

Dapat dikatakan, peradaban Islam nyaris musnah dari realitas kehidupan, karena Khilafah yang menopangnya telah tiada. Sebagai gantinya, peradaban Barat sekulerlah yang kemudian mendominasi kaum Muslim saat ini hingga ranah paling kecil yaitu keluarga.

Hanya syariat Islamlah –yang berlandaskan pada petunjuk Allah- dengan penjagaan oleh Khilafah Islamiyah yang akan mampu mengembalikan umat manusia ke derajat kemuliaannya dan menjadi benteng utama dari liberalisasi keluarga. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

19 tanggapan untuk “Benturan Peradaban hingga Liberalisasi Keluarga

  • 8 April 2020 pada 00:27
    Permalink

    Allahu akbar smga keluarga kita allah selalu beri hidayah agr teguh dalam ketaatan pada allah

    Balas
  • 7 April 2020 pada 12:03
    Permalink

    Keluarga butuh pemahaman Islam dan hanya Islam yang dapat melindungi umat manusia

    Balas
  • 7 April 2020 pada 09:27
    Permalink

    Tak akan aku tahu, hal ini maka beruntunglah diriku terikat dengan Islam kaffah, dimana jadi tahu bahwa hari ini terjadi perang istilah dan tdk baik2 saja.
    #WeNeeedKhilafah

    Balas
  • 7 April 2020 pada 08:29
    Permalink

    Selamatkan keluarga dan seluruh masyarakat dunia dengan syariah kaffah

    Balas
  • 6 April 2020 pada 23:16
    Permalink

    Kita butuh syariah Islam

    Balas
  • 6 April 2020 pada 20:28
    Permalink

    Setuju..hanya dg islam manusia menjadi mulia

    Balas
  • 6 April 2020 pada 20:21
    Permalink

    Hilangkan racun racun kapitalisme dalam diri kita & masyarakat

    Balas
  • 6 April 2020 pada 18:33
    Permalink

    Kuatkan keluarga dengan Pemahaman Islam, Paham Sekulerisme sudah sampai ke sendi-sendi paling dalam di tatanan keluarga kita…

    Balas
  • 6 April 2020 pada 16:58
    Permalink

    Jazakumullah khair

    Balas
    • 6 April 2020 pada 20:52
      Permalink

      Benar, Kuatkan pemahaman tentang Islam dalam keluarga.

      Balas
  • 6 April 2020 pada 16:57
    Permalink

    MasyaAllah khilafah adalah solusi tuntas permasalahan umat…saat ini umat butuh khilafah

    Balas
  • 6 April 2020 pada 16:27
    Permalink

    Hanya Islam ideologis yang mampu menangkal perusakan secara sistematis hingga rumah-rumah kaum Muslim

    Balas
  • 6 April 2020 pada 14:16
    Permalink

    MasyaAllah penjelasannya. Kita sudah terlalu lama tertidur, dibuai kenikmatan semu, angan-angan yg diciptakan barat atas nama Kebebasan

    Balas
  • 6 April 2020 pada 13:40
    Permalink

    Saatnya khilafah memimpin dunia

    Balas
  • 6 April 2020 pada 13:17
    Permalink

    jangan mau diperbudak liberal

    Balas
  • 6 April 2020 pada 13:03
    Permalink

    Alhamdulillah Allah izinkan sy memahami hal ini :’)

    Balas
  • 6 April 2020 pada 12:59
    Permalink

    Betul liberalisme ancaman keluarga

    Balas
  • 6 April 2020 pada 12:38
    Permalink

    Kebencian terhadap umat muslim luar biasa merusak ketatan kelrg muslim sehingga keluarga setiap muslim terancam ide kebebasan setiap anggota klrg bebas melakukan apapun

    Balas
  • 6 April 2020 pada 12:28
    Permalink

    Konspirasi ini secara masif dilakukan ke dunia Islam melalui peran lembaga-lembaga Internasional terutama PBB yang hakikatnya merupakan alat penjajahan Barat menghancurkan bangunan kelurga muslim

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *